
Batin Rendi, kemudian mengenggam tangan Indah dan berjalan secara bersamaan.
"Indah...." Sapa Nella sambil melambaikan tangan dari luar kampus, melihat kedatangan Indah.
Indah melepaskan genggaman tangan Rendi dan menghampiri Nella. "Welcome Indah Permatasari." Satu kata sambutan yang sangat manis keluar dari mulut Nella, sahabatnya, sambil melebarkan kedua lengangnya untuk menerima pelukan.
Tak lama Rio dan Dimas datang sambil mengucapkan kata itu juga. Membuat Indah tak ada hentinya menjadi terharu. Rendi tersenyum sendiri di arah sana, kini Rendi seperti berjarak di antara mahasiswa bertiga itu. Seperti ada tembok yang menghalangi.
Ngelihat pemandangan kayak gini, aku jadi inget pas zaman kuliah dulu.
Batin Rendi.
"Indah...." Panggil Rendi, berjalan menghampiri Indah.
Indah langsung melepaskan pelukan Nella. "Sekarang kita ke ruang Dekan." Ucap Rendi, mengajak.
"Temen-temen, aku ke ruang Dekan dulu ya." Kata Indah yang berlalu pergi, temannya tersenyum lebar dan mengangguk.
Indah berjalan di belakang Rendi, entah mengapa rasanya suasana di dalam kampus menjadi aneh. Mereka seakan menjadi pusat perhatian, hampir semua para mahasiswa dan mahasiswi di kampus itu memusatkan pandangan kearah mereka berdua, telinga Indah juga terdengar beberapa bisikin.
"Siapa laki-laki itu? Keren banget."
"Ganteng, suami idamanku banget."
"Itu Kakaknya Rio kan?"
"Siapa-siapa sih pria itu? Wajahnya kayak nggak asing?"
Terdengar bisikan suara perempuan, yang hampir mengarah untuk Rendi.
Dan.....
"Lho itu Indah kan?"
"Ngapain dia ke sini?"
"Kok bisa bareng kakaknya Rio?"
"Kok dia ke kampus? Bukannya sudah berhenti kuliah?"
"Bukannya Indah dulu deketin Rio? Kok sekarang dia deketin Kakaknya?"
"Dasar cewek ganjen!"
Bisikan terakhir menghentikan langkah kaki Rendi, dia berbalik dan menghampiri cewek-cewek itu.
"Coba bilang sekali lagi?" tanya Rendi sambil mengangkat dagunya dan menatap tajam. "Kalau kalian tidak niat kuliah dan hanya bergosip, kenapa kalian tidak pulang saja." Ucapnya mengusir.
__ADS_1
"Ma... Maaf Kak," jawab salah satu dari mereka sambil menurunkan pandangan dan merasa takut.
"Sekali lagi saya dengar salah satu dari kalian berbicara jelek tentang Indah." Kata Rendi sambil menunjuk-nunjuk. "Akan ku pastikan kalian semua di DO dari kampus ini!" Ancamnya, "Dan satu lagi, jangan pernah memanggilku Kakak, karena aku tidak Sudi punya adik macam kalian."
Barusan mas Rendi membelaku kan?
Batin Indah yang diam, tanpa expresi.
Rendi kemudian menghampiri Indah yang berdiri mematung, Rendi mengulurkan tangannya untuk mengajak Indah berjalan cepat masuk ke dalam lift, dia menekan nomor paling atas, karena ruangan dekan berada paling atas.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rendi sambil menyentuh kedua pipi Indah.
"Aku nggak apa-apa Mas." Jawabnya dengan senyuman manis.
"Apa tadi terdengar menyakitkan?" tanya Rendi lagi, penasaran.
Indah menggelengkan kepalanya, "Tidak Mas, aku nggak apa-apa kok." Rendi mengangkat sedikit dagu Indah dan kepala Rendi sedikit membungkuk. Mata Indah langsung terbelalak.
Sedikit saja Ren, kecup sedikit saja.
Batin Rendi.
Perlahan-lahan Rendi sudah makin mendekatkan bibirnya ke bibir Indah. Kali ini bibir Indah pun tidak bergetar sama sekali, malah sudah sedikit terganga. Bukankah ini kesempatan bagus? Dan...
Ting...
Bunyi suara pintu lift terbuka, dan ada 3 orang juga yang sudah stand by hendak masuk ke lift itu, mereka berdua syok dan langsung menghindar satu sama lain. Lalu berjalan keluar dengan malu-malu.
Aarrggghh.... Kenapa timingnya nggak pas banget, kenapa juga itu pintu cepat terbuka. Pada hal sedikit lagi.
Gerutu Rendi dengan frustasi sambil memalingkan wajahnya karena malu.
"Mas..." Panggi Indah.
"Ah iya..." Rendi langsung menenggok.
"Itu ruangan Dekan kan?" Kata Indah sambil menunjuk ke arah ruangan yang sudah tepat di depan mereka.
Tok... Tok... Tok, Rendi mengetuk pintu.
Ceklek, masuklah mereka di ruangan Dekan.
"Rendi..... Ah ma-maaf maksud saya Pak Rendi." Ucap pak Dekan ketika melihat Rendi masuk ke dalam.
"Tidak usah panggil pak, panggil yang biasa saja." Sahut Rendi mengulurkan tangan.
Pak Dekan langsung membalas uluran tangannya, "Bagaimana kabarmu Ren?" tanyanya, "Duduklah." Mereka berdua duduk.
__ADS_1
"Aku baik Pak, Bapak sendiri?"
"Saya baik juga, lho kok..." Pak Dekan langsung memusatkan pandangannya ke wajah Indah yang sudah duduk di samping Rendi. "Kamu Indah kan?" tanyanya yang baru sadar kalau Rendi datang bareng Indah.
Indah mengangguk, "Iya Pak."
"Langsung saja Pak..." Rendi menaruh kertas formulir itu di atas meja dan menggeser kan ke arah pak Dekan. "Indah akan masuk kuliah lagi di sini."
Pak Dekan itu mengambilnya, "Wah bagus sekali... Bapak juga berharap kamu bisa menyelesaikan kuliahmu di sini." Katanya yang ikut senang.
Pak Dekan lalu menceritakan beberapa hal yang harus Indah lakukan mengenai pelajaran dan materi yang sudah hampir 4 bulan tertinggal. Dia juga memutuskan untuk menaruh Indah di kelas jurusan Administrasi Perkantoran Khusus untuk mengejar materi yang tertinggal, kelas itu berisi mahasiswa dan mahasiswi pindahan dan sebagian juga sama dengan Indah, sempat berhenti kuliah lalu masuk lagi.
Mereka bertiga berjalan keluar dari ruangan itu dan mengantar Indah ke kelas barunya, tak lama seorang dosen datang menghampiri.
"Selamat pagi," sapa nya.
"Ah ada Pak Rendi juga, apa kabar Pak?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.
"Baik." Sahut Rendi berjabat tangan.
"Pagi... Pak Aryo ini Indah Permatasari, mahasiswi baru di kelas Bapak." Kata pak Dekan memperkenalkan Indah.
"Oh iya, silahkan masuk Ndah." Sahutnya mengajak Indah masuk, langkah Rendi pun mengikutinya.
"Ren kamu mau kemana?" tanya pak Dekan mencegah Rendi masuk. "Kamu mau kuliah lagi?"
"Ah tidak Pak," dia menghentikan langkah kakinya.
"Biarkan Indah masuk, kita ngopi-ngopi dulu yuk ke kantin. Sudah lama bukan?" Katanya sambil memainkan alis.
Rendi mengangguk dan mengikuti langkah pak Dekan itu sampai ke kantin, kantin yang sangat luas. Hampir semua jenis makanan dan minuman ada di sana. Mereka memesan dua cangkir kopi.
"Ehem, boleh Bapak tau hubungan kamu dengan Indah Ren?" tanyanya sambil tersenyum.
Tak masalahkan kalau aku bilang dia istriku?
Batin Rendi.
"Ren....." panggilnya lagi.
"Dia istriku."
Mata pak Dekan langsung terbelalak. "Kamu serius?"
"Ya...."
"Wah..... Hahahaha, Bapak tidak menyangka kamu bisa meluluhkan hati gadis kuliahan." Sahutnya sambil tertawa, Rendi hanya tersenyum simpul.
__ADS_1
Terlihat mereka sudah sangat akrab. Ya benar, karena memang Rendi sendiri juga Alumnus di kampus itu. Ayah Rendi juga satu-satunya donasi terbesar untuk pembangunan Universitas itu, mangkanya tidak heran, hampir semua orang-orang yang berada di kampus mengenal Rendi dan dia juga jadi di segani.
"Indah beruntung dapat kamu Ren, sudah tampan, kaya lagi." Katanya lagi sambil menyeruput secangir kopi.