
Kini mereka beralih duduk diatas sofa panjang dengan meja besar didepannya.
Andra melirik pada pria berkumis tipis yang tengah berdiri disampingnya.
"Kau suruh OB untuk buatkan kita bertiga secangkir kopi."
"Baik, Pak," jawab pria itu seraya membungkuk dan berjalan keluar dari ruangan Andra.
"Om, pria tadi siapa?" tanya Reymond.
Andra duduk ditengah. "Oh, dia asisten pribadiku."
"Bukannya asisten Om itu Anton?" tanya Rizky.
"Iya, itu dulu. Sekarang tidak lagi."
"Hmmm ... Bukannya Anton sudah lama bekerja dengan Om? Kenapa dia berhenti? Apa ....,"
"Kalian ini kesini mau meeting bersamaku atau bersama Anton? Heran deh, dari kemarin-kemarin si Bodoh itu banyak sekali yang mencari," serbu Andra, wajahnya terlihat begitu kesal.
"Ah. Maaf, Om. Aku hanya heran saja," jawab Rizky.
Tidak gampang juga tanya-tanya pada Om Andra. Mana bisa dia jujur, tapi Om Andra sudah lama kenal dengan Anton. Apa aku musti pakai cara lain?
Batin Reymond.
"Om, apa malam ini Om ada waktu?" tanya Rizky.
"Memangnya mau apa? Kau ingin ke rumahku?" tanya Andra.
"Tidak, kita sekali-kali nongkrong bolehlah Om, ke Bar. Kita sudah lama tidak pergi bersama," ajak Rizky.
"Aku tidak mau, Riz. Kan kau tahu aku sudah punya istri," tolak Andra.
"Memang kalau sudah punya istri kenapa? Lagian tidak masalah, cuma malam ini saja." Rizky masih berusaha untuk membujuknya.
"Tidak, istriku sedang hamil sekarang. Lain kali saja ya," tolak Andra dengan halus.
Ting.....
Bunyi suara notifikasi pesan masuk dari ponsel Reymond, sementara Rizky dan Andra tengah membahas masalah kerjaan. Ia membuka pesan itu.
💬
From: Hersa
35 AM
Pak Reymond, maaf saya menganggu Bapak. Saya sudah dapat informasi dari orang suruhan kita, mereka sudah tahu keberadaan Anton, dia ada di Bekasi. Nanti malam mereka akan menangkapnya.
💬
To: Hersa
38 AM
Bagus, sebaiknya kau tangkap dia dan langsung bawa ke Jakarta, kalau bisa besok. Sewa tempat untuk menyekapnya juga.
💬
From: Hersa
07.38 AM
Masalah tes DNA bagaimana, Pak?
💬
__ADS_1
To: Hersa
07.40 AM
Tes DNA tetap dilakukan, besok pagi aku dan Bayu akan melakukan tes DNA di rumah Rizky. Kau urus semuanya, Sa. Kalau ada apa-apa hubungi aku lagi.
💬
From: Hersa
07.40 AM
Baik, Pak.
***
Santi, Indah dan Bayu sudah masuk kedalam kantor. Tepatnya berada di lobby, tangan kiri Indah tengah membawa kantong plastik berisi beberapa cemilan dan minuman yang ia beli dari supermarket.
"Sayang, Mamah naik lift dulu. Kamu mau ikut, atau langsung ke ruangan Papah Antoni?" tanya Santi.
"Aku ke ruangan Papah saja, Mah," sahut Indah.
Santi membungkuk pada Bayu yang tengah berdiri sambil mengenggam tangan Indah.
"Kalau Bayu mau ikut kemana?"
"Bayu uga mau ketemu Opa Onni, Oma."
"Yasudah, kalian hati-hati. Kalau ada apa-apa telepon Mamah ya, sayang."
"Iya, Mah."
Santi mencium rambut Bayu dan kening Indah, ia berjalan menuju lift untuk masuk kedalam. Sebelum pintu lift tertutup, tangan melambai pada Bayu.
"Dadah Bayu."
"Dadah Oma," ucap Bayu.
Indah berjalan mengajak Bayu menuju ruangan HRD dan mengetuk pintu.
Tok ... Tok ... Tok.
Ceklek....
Indah membuka pintu, terlihat Antoni sedang bersama seorang wanita dewasa berparas cantik dan memakai pakaian rapih. Mereka tengah duduk berhadapan, terhalang oleh meja kerja Antoni.
"Opa ....," panggil Bayu seraya berlari menghampiri Antoni, ia bangun dan segera mengendong Bayu. Tidak lupa mencium rambutnya.
"Bayu, Indah. Kalian sudah pulang, syukurlah. Papah sudah rindu dengan kalian," ucap Antoni dengan hangat.
Ia menghampiri Indah yang masih berdiri di ambang pintu. "Sayang, ayok masuk. Kamu bawa apa itu?"
Antoni merangkul bahu anaknya dan mengajak untuk duduk di sofa bersamanya.
Wanita dewasa itu berdiri seraya berkata. "Yasudah, Pak. Kalau begitu saya permisi," ucapnya pamit.
"Iya, kalau ada apa-apa kabari saya saja," jawab Antoni.
Wanita itu tersenyum kearah Indah, Indah juga ikut membalas senyumannya.
Setelah kepergian wanita itu, barulah Indah bertanya. "Wanita tadi siapa, Pah? Apa pacar Papah?"
Antoni tersenyum dan menoel hidung mancung Indah. "Kau ini apaan sih, Papah tidak punya pacar, dia staff kantor disini."
"Aku 'kan hanya bertanya, Pah. Oya, aku bawa cemilan dan minuman buat kita bertiga." Tangan Indah perlahan menaruh kantong plastik itu diatas meja dan mengambil apa saja yang ia beli.
"Wah kayaknya enak. Papah mau dong."
***
Tok ... Tok ... Tok.
Santi sudah berada didepan pintu ruangan Rio, namun sedari tadi tak kunjung dibuka dan mendapat jawaban.
Tok ... Tok ... Tok.
__ADS_1
"Rio!" teriak Santi, ia memegang gagang pintu dan menurunkan kebawah. Tapi seperti terkunci dari dalam.
Tok ... Tok ... Tok.
Kemana si Rio? Apa dia tidak ada di ruangannya?
Batin Santi.
Melly tidak sengaja lewati ruangan Rio dan melihat ada Santi, ia menghentikan langkah.
"Bu Santi, selamat pagi Bu."
"Pagi, Rio ada didalam atau tidak, Mell?" tanya Santi kesal.
"Ada, Bu. Sebentar saya panggilkan."
Kini Melly yang beralih mengetuk pintu.
Tok ... Tok .... Tok.
"Maaf, Pak Rio. Ada ....,"
"Auw sakit, Pak!"
Deg.....
Terdengar suara jeritan seorang perempuan dari dalam ruangan Rio.
Kedua wanita yang berada didepan pintu saling melayangkan pandangan dan membelalakkan mata.
"Didalam ada siapa?" tanya Santi.
"Saya tidak tahu, Bu," sahut Melly.
Santi langsung mengetuk pintu itu kembali dengan keras.
Tok ... Tok ... Tok.
"Rio! Buka pintunya!" teriak Santi.
"Rio!"
"Pak, sudah hentikan ... Aaaahhh."
Lagi-lagi mereka mendengar suara perempuan yang tengah merintih dan mendesah tercampur menjadi satu. Membuat mereka yang di luar makin curiga.
"Melly, kau telepon satpam. Suruh dobrak pintu ini," perintah Santi.
"Baik, sebentar Bu."
Melly langsung menelepon satpam yang berada didepan kantor.
"Rio! Buka pintunya atau Mamah dobrak!" pekik Santi.
Si Rio bodoh! Sedang apa dia didalam sana? Dan dengan siapa? Apa jangan-jangan anak itu sedang memperkosa karyawannya?!
Batin Santi.
Tak lama kedua satpam itu datang dan menghampiri mereka berdua. "Ada apa, Bu?" tanya salah satu dari mereka.
"Kau dobrak pintu ini." Tangan Santi menunjuk kearah pintu, ia berjalan mundur bersama Melly kebelakang.
Kedua satpam itu sudah berancang-ancang ingin mendobrak pintu, namun pintu itu tiba-tiba dibuka oleh orang yang didalam.
Ceklek.....
Terlihat Rio yang membuka pintu, ia hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang. Tanpa dasi dan juga jas. Pakaian dari atas sampai bawah terlihat masih rapih, namun rambutnya acak-acakan. Wajah dan hampir seluruh tubuhnya berkeringat, dia juga seperti tengah mengatur nafas.
Santi langsung melayangkan tamparan mautnya pada Rio tanpa basa-basi.
Plakk.......
"Auw," rintih Rio seraya memegangi pipi dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Kedua satpam dan Melly sudah berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
^^^Kata : 1026^^^