Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 149. Rio pingsan


__ADS_3

Maaf bila ada yang kecewa dengan tindakan Mamah Santi, Mamah Santi melakukan hal itu karena ada alasannya, tapi memang tindakannya Mamah Santi tidak di benarkan apalagi di tiru. Atas nama Mamah Santi, Author minta maaf 🙏


***


"Apa Ibu sudah gila? Ibu tega sekali melakukan ini pada putriku! Ibu benar-benar wanita iblis!" umpat Aji dengan emosi yang membara, wajahnya sudah memerah dan sangat kesal, menatap wajah Santi.


Santi bangun dari duduknya sambil bersedekap. "Apa kau bilang? Aku wanita iblis? Kau yang Iblis!" bentak Santi.


"Tidak ada orang tua yang mau menjadikan anaknya perusak rumah tangga orang. Tapi kau!" Santi menunjuk wajah Aji sambil melotot. "Kau merelakan keperawanan putrimu untuk Rio, bukan? Kau dan Mawan ingin menjebak anakku untuk bisa memperkosa Mitha!"


"Ck!" Santi berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Apa anak gadismu ini sudah tidak laku? Sampai kau mau menyerahkannya pada pria beristri?"


"Tapi, Bu. Semuanya sudah berakhir, Rio juga sudah pulang! Ibu sangat berdosa melakukan hal ini!"


"Apa kau bilang? Cih! Kau bicara dosa padaku! Sok suci sekali kau, Aji! Aku melakukan hal ini juga atas kemauanmu!"


"Kemauan? Saya tidak mau, Bu! Saya tidak mau Ibu melakukan hal ini pada putri saya!"


"Kenapa? Kau tidak terima? Bukankah perawan anakmu untuk Rio, kan? Aku ini Ibunya, jadi aku boleh melakukannya."


"Tidak! Ibu tidak boleh melakukan hal ini, Ibu harus tanggung jawab!"


"Ya ... aku akan tanggung jawab."


"Rio, Rio harus menikah dengan Mitha, Bu!"


"Tidak! Mitha akan menikah dengan suamiku!"


Deg!


Aji membulatkan netranya. "Pak Mawan? Pak Mawan maksud Ibu?"


Santi mengangguk.


Aji menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, saya tidak mau! Bagaimana bisa Ibu menikahkan Mitha dengan Pak Mawan, dia itu suami Ibu!"


"Aku tidak peduli! Dia adalah orang yang harus bertanggung jawab!"


"Aku tidak mau menikah dengan Om Mawan, Pih. Aku ingin menikah dengan Mas Rio," sahut Mitha sambil menangis.

__ADS_1


"Bukannya kau ingin menjalin keluarga dengan Mawan? Kau juga mau menjadikan Mitha istri kedua, kan? Jadilah istri kedua suamiku, dengan senang hati aku menerimanya. Tapi ... jangan pernah merusak rumah tangga anakku!" tegas Santi seraya menunjuk-nunjuk wajah Aji.


"Rumah tangga Rio dan Wulan, aku yang ikut andil dalam kebahagiaan mereka berdua. Dan seenaknya kau dan Mawan, ingin merusaknya. Tentunya aku tak terima!" bentak Santi.


Santi memberi kode pada anak buahnya, supaya melepaskan Aji dan pergi bersama, meninggalkan kamar itu.


Setelah kepergian Santi, Aji mendudukkan bokongnya disisi tempat tidur, ia kembali memeluk putrinya.


"Pih ... Papih harus laporkan tindakan Tante Santi ke kantor polisi, aku tidak terima diperlakukan seperti ini," kata Mitha sambil menangis.


"Nanti Papih pikirkan Sayang. Tapi, bagaimana denganmu sekarang?"


"Kenapa Papih tanya padaku? Aku 'kan mengikuti saran Papih. Pokoknya aku tidak mau tau, Mas Rio harus menjadi suamiku! Papih ancam Tante Santi supaya dia mau menikahkan anaknya denganku! Aku tidak mau semuanya sia-sia, aku sudah berkorban untuk dia, Pih."


Aji terdiam, otaknya kembali bekerja untuk mencari ide baru.


***


Sampainya di rumah Wahyu, Mawan segera memarkirkan mobilnya di halaman depan. Ia langsung turun dari mobil dan membuka pintu belakang mobil dimana Rio berada, ternyata pria tampan itu belum sadarkan diri.


Melihat Mawan tengah mengangkat tubuh Rio keluar dari mobil, sontak Indra terperajat. Pria plontos itu masih berdiri stand by didepan rumah Wahyu.


"Pak Mawan, ada apa dengan Pak Rio?" tanya Indra dengan wajah cemas.


Tok ... tok ... tok.


Ceklek~


Ketukan pintu itu langsung dibuka oleh Wulan, karena ia juga belum tidur, masih menunggu Rio yang belum pulang.


Wulan terbelalak saat melihat Rio pingsan dalam gendongan Mawan, ia juga binggung kenapa Rio bisa bersama papahnya.


"Astaghfirullah, Mas Rio kenapa, Pah?" Wulan membukakan pintu itu dengan lebar. Tanpa menjawab, Mawan segera membawa Rio masuk kedalam kamarnya, merebahkan tubuhnya diatas kasur.


Indra dan Wulan ikut masuk kedalam kamar itu.


"Apa ada minyak angin?" tanya Mawan.


"Ada, Pah." Wulan mengambil tas selempang miliknya diatas meja rias, ia mengambil botol itu didalam sana. Segera Wulan oleskan pada hidung, dahi, leher, tangan dan kaki suaminya.

__ADS_1


"Papah, Mas Rio kenapa sebenarnya?" tanya Wulan cemas, ia sangat khawatir belum mendapatkan jawaban.


"Dia pingsan," jawab Mawan.


Wulan berlari kecil menuju dapur, ia mengambil baskom kecil dan membuka kulkas untuk menaruh batu es didalam sana. Wulan sempat merasakan tubuh Rio begitu panas, yang terpikir dalam dirinya mungkin Rio demam.


Wulan mencampurkan air sedikit didalam baskom itu. Lalu ia balik lagi menuju kamarnya, mengambil handuk kecil didalam lemari, lalu mengompres dahi Rio.


"Apa tidak sebaiknya kita bawa ke dokter saja?" usul Indra, ia juga ikut khawatir melihat kondisi Rio.


Mawan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak usah, dia baik-baik saja. Nanti juga bangun sendiri."


Mawan aslinya takut kalau Rio dibawa ke dokter. Bisa-bisa Wulan dan yang lain tau kalau dirinya memberikan obat perangs*ng dan obat bius. Namun nyatanya Rio tak kunjung sadarkan diri, Wulan menepuk-nepuk pipi Rio pelan.


"Mas ... bangun, apa Mas Rio baik-baik saja?" meskipun sudah diberitahu kalau Rio hanya pingsan, tapi dirinya sangat cemas. Berulang kali Wulan membangunkan Rio, ia menepuk-nepuk bahunya. Namun Rio tak bangun-bangun sedari tadi.


"Papah ... bagaimana ini? Mas Rio belum bangun juga? Aku ... aku takut, Pah."


Mawan melihat arloji pada pergelangan tangannya sudah lebih 30 menit semenjak Rio di bius. Harusnya ia sudah sadar.


Mawan menggoyang-goyangkan lengan Rio, sedikit mengguncang tubuhnya. "Rio! Bangun! Apa kau baik-baik saja? Bangun Rio!"


"Papah, kita bawa Mas Rio ke rumah sakit saja. Aku takut Mas Rio kenapa-kenapa," lirih Wulan dengan wajah sedih.


"Tidak! Dia akan bangun nanti!" Mawan masih berusaha untuk membangunkan, menepuk-nepuk kedua lengan anaknya.


Indra merasa gemas melihat Mawan yang berkukuh tidak mau membawa Rio ke rumah sakit. Tanpa berkata-kata, ia segera mengangkat tubuh Rio, berlari keluar dari rumah Wahyu dan memasukkannya kedalam mobil Mawan, di kursi belakang. Lalu, dirinya langsung masuk kedalam mobil, duduk di kursi stir.


"Kalau Bapak tidak mau bawa Pak Rio ke rumah sakit, biar saya saja. Saya pinjam mobil Bapak." Indra melihat ke arah Wulan. "Nona Wulan, ayok masuk kedalam. Kita antar Pak Rio ke rumah sakit!" ajaknya.


Wulan mengangguk, ia segera masuk kedalam pintu belakang mobil, tepat dimana Rio berada. Wulan menyangga kepala Rio diatas pahanya.


Dengan berat hati, Mawan juga ikut bersama mereka, duduk di kursi depan. lndra langsung menancapkan gasnya dengan full, menuju rumah sakit terdekat.


***


Dua puluh menit berlalu, mereka sudah sampai ke rumah sakit. Indra kembali mengangkat tubuh bosnya memasukkannya kedalam ruang UGD.


Beberapa menit berlalu, tak lama dokter pria berkacamata menghampiri mereka bertiga yang baru saja bangun dari duduknya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Wulan sambil menyeka air mata yang baru saja mengalir.


Jangan lupa like 💕


__ADS_2