Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 54. Aku ingin bicara denganmu


__ADS_3

Kedua bola mata Wulan langsung melotot, langkah kakinya terhenti sejenak lalu ia langsung berlari, mengindari pria itu. Tanpa menoleh pun dia kenal suara siapa itu.


"Wulan ... tunggu dulu!" panggilnya lagi.


Kak Dido?! Kenapa aku musti ketemu dia juga? Gawat.


Batin Wulan.


Ia mengulurkan tangannya pada taksi yang lewat pada jalan raya, kemudian langsung masuk kedalam.


"Wulan, sebentar aku ingin bicara denganmu!" pekik Dido seraya mengetuk jendela mobil.


"Jalan, Pak," titah Wulan.


"Baik, Mbak."


Mobil taksi itu langsung berjalan meninggalkan kantor Mawan. Namun Dido tak ingin menyerah, ia segera masuk kedalam mobilnya dan mengejarnya dari belakang.


"Kenapa kamu begitu sombong padaku, Wulan? Aku tau kamu dan Pak Rio akan bercerai. Jadi lebih baik kita balikkan saja," ucap Dido sambil menyetir mobil.


Wulan benar-benar tak ada arah dan tujuan hendak pergi kemana, rumahnya saja lumayan dekat dari kantor tadi. Mungkin Wulan hanya membuat celah supaya bisa menghindar dari Dido.


Ia memutar kepalanya kebelakang, melihat pada kaca belakang mobil. Mobil Dido masih mengikutinya dari belakang.


"Menyebalkan sekali Kak Dido! Kenapa dia terus mengejarku? Semoga saja dia tidak memberitahu Mas Rio," lirihnya pelan.


Tak lama suara ponselnya berdering, Wulan segera mengambil ponsel itu dari dalam tasnya. Teleponnya dari Ayahnya sendiri.


"Wulan, kamu ada dimana?" tanya Wahyu, suaranya terdengar begitu panik.


"Aku ada di jalan, kenapa Ayah?"


"Clara, Lan. Clara mimisan dan pingsan. Ayah membawanya ke rumah sakit."


Deg~


Bola mata Wulan membulat dengan sempurna dan tiba-tiba langsung berkaca-kaca, seperti hendak menangis.


"Kok bisa, Yah? Ayah di rumah sakit mana? Aku akan menyusul."


"Nanti Ayah kirim alamatnya lewat pesan."


Setelah menutup sambungan telepon, Wahyu segera mengirimkan pesan pada anaknya.


"Kita mau kemana, Mbak?" tanya sang sopir.


"Kita ke rumah sakit Medika, Pak."


"Baik."


Beberapa menit kemudian, Wulan sampai kedepan rumah sakit. Ia langsung membayar ongkos taksi dan keluar dari mobil.


Baru saja melangkah hendak masuk kedalam, lengannya tiba-tiba dipegang kuat oleh Dido yang berhasil mengejarnya.


"Wulan, aku ingin bicara denganmu."


Kepala Wulan menoleh kearah Dido, kedua pipi wanita itu sudah basah karena air mata. Dido sampai membulatkan kedua matanya.


"Wulan, kau kenapa?"


Tangan Dido segera Wulan tepis dari lengannya, "Clara masuk rumah sakit! Aku harus menemuinya sekarang."


Wulan berlari dan lagi-lagi Dido ikut mengejarnya dari belakang.

__ADS_1


Saat sampai didepan ruang UGD, Wahyu yang tadinya sedang duduk mendadak berdiri dan memeluk tubuh anak pertamanya.


"Ayah! Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Wulan pelan.


"Ayah juga tidak tau, kita do'akan Clara baik-baik saja, ya?"


"Iya, Yah."


Ceklek~


Seorang Dokter dengan memakai seragam putih keluar dari ruangan itu dan menghampiri ketiga orang didepan. Mereka yang berpelukan langsung melepaskan dirinya masing-masing.


"Pak Wahyu, Wulan ... kondisi Clara begitu kritis. Saat ini dia harus melakukan operasi transpalasi ginjal, kalau tidak nyawanya tidak tertolong."


Deg~


Mereka bertiga membuatkan kedua bola matanya. "Yasudah. Lakukan saja, Dok," ucap Wulan.


"Di rumah sakit ini belum ada yang cocok dengan ginjal Adikmu, Wulan," jelas Dokter.


"Lalu bagaimana, Dok? Tolong selamatkan anak saya," pinta Wahyu dengan wajah pilu.


"Maaf ...." Dido tiba-tiba berbicara. "Bagaimana kalau Clara dipindahkan rumah sakit saja, Dok? Saya sudah cari Dokter spesial ginjal dan mencari yang cocok untuk Clara, tapi bukan di rumah sakit ini, Dok."


"Tidak masalah, apapun yang penting Clara bisa selamat. Mari Bapak ikut saya sebentar," ajak Dokter itu pada Dido, pria itu mengikuti langkah kaki Dokter menuju ruangannya.


Kok Kak Dido bilang sudah mencari Dokter?! Masa sih dia bisa sepeduli itu pada Clara?


Batin Wulan.


"Wulan, kok kamu bisa bertemu dengan Dido?! Dia mantan pacar kamu, kan?" tanya Wahyu.


Wulan menoleh kearah Wahyu dan mengusap air mata pada pipi Ayahnya.


"Oh. Dia baik sekali mencarikan Clara Dokter, Ayah tidak menyangka kalau dia masih peduli padamu," ucap Wahyu.


"Iya, Ayah."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sebuah mobil ambulan melaju dengan kecepatan sedang, didalam mobil itu sudah ada Wahyu tengah duduk menemani Clara yang tengah berbaring dengan mata yang terpejam.


Sedangkan dibelakang sudah ada Wulan dan Dido menaiki mobil. Mereka semua berangkat menuju rumah sakit yang Dido beritahu.


"Kak Dido. Aku ingin tanya, apa Kakak disuruh Mas Rio untuk mencarikan Dokter untuk Clara?" tanya Wulan seraya menoleh kearah Dido yang masih fokus menyetir.


"Iya, Pak Rio dulu sempat menyuruhku dan baru tadi pagi aku diberitahu oleh Dokternya."

__ADS_1


"Lalu biayanya bagaimana? Apa Mas Rio juga sudah membayarkannya?"


"Biaya tentu belum, Wulan. Kan operasinya saja belum dimulai."


Aku tidak mau pakai uang dari Mas Rio, nanti dia mengungkit dan tidak ikhlas. Aku tidak suka kalau dia marah-marah lagi padaku. Tapi aku harus minta tolong siapa? Apa Mamah Santi?


Batin Wulan.


"Masalah biaya nanti biar pakai uangku saja, aku tau kau masih kesal sama Pak Rio. Nanti Pak Rio juga akan mengungkit masalah uang padamu, Wulan. Kau pasti sakit hati nantinya," usul Dido.


"Aku akan meminta bantuan sama Mamah Santi saja, Kak. Kakak tidak perlu membantuku," tolak Wulan.


"Bu Santi 'kan Ibunya Pak Rio, nanti kalau kau minta bantuan padanya sama saja Pak Rio mengungkitnya," tegur Dido.


Deg~


Ucapan Dido membuat Wulan termangu, ia merasa begitu binggung. Sejujurnya hanya Santi yang ingin ia mintai tolong. Tapi menurut Wulan, omongan Dido ada benarnya juga.


"Yasudah, biar Kakak saja yang membantuku, tapi aku anggap ini hutang ya, Kak. Setelah aku kerja ... nanti aku bayar nyicil."


Dido langsung menarik senyum bahagia. Ia merasa pintu untuk mendekati Wulan sudah mulai terbuka. Ya walau masih sedikit, tapi nyatanya Dido sangat berharap untuk bisa kembali pada wanita di masa lalunya itu.


"Apa aku harus kasih tau Pak Rio juga, kalau kamu sudah ketemu?" tanya Dido tiba-tiba.


Deg~


"Ketemu?! Apa maksudnya?"


Memang dia pikir aku hilang?


Batin Wulan.


"Iya, kau 'kan pergi meninggalkannya. Apa aku harus beritahu dia kalau aku bertemu denganmu?"


"Memangnya kalau aku minta Kakak untuk tidak memberitahunya, Kakak akan menurutiku? Bukannya dia adalah Bos Kakak."


"Iya, tapi aku bisa kok tidak memberitahunya. Aku tau kau masih kesal padanya, Wulan. Aku mengerti," ucap Dido sambil tersenyum sekilas kearah Wulan.


"Kalau Kakak tidak bilang, aku sangat berterima kasih pada Kakak."


"Iya sama-sama."


Ngapain juga aku bilang pada Pak Rio, biarkan aku saja yang menemuimu, Wulan.


Batin Dido dengan senyum menyeringai.


.


.


.


.


.


.


.


Kedua mobil itu sudah sampai didepan rumah sakit besar. Para perawat membukakan pintu belakang ambulan dan mendorong brankar yang sudah ada Clara tengah berbaring dengan mata terpejam.


^^^Kata: 1040^^^

__ADS_1


__ADS_2