Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 104. Seorang wanita dan Seorang ibu


__ADS_3

Aku langsung memakai semua seragamku dan duduk diatas toilet. Semuanya sudah hancur, aku benar-benar menjual tubuhku demi dua kantong darah. Aku berusaha menahan tangis, namun rasanya tidak sanggup.


Air mataku berjatuhan tiada henti, namun pikiranku masih dengan keadaan Clara.


Tiba-tiba aku mendengar suara berisik dari luar kamar mandi, suaranya sama seperti tadi. Suara seorang wanita, terdengar begitu lantang dan emosi.


Tok ... Tok ... Tok.


"Siapa kau didalam?! Cepat buka!"


Deg.....


"Mamah, Rio sudah bilang tidak ada siapa-siapa didalam."


Aku tau ini suara Pak Rio, apa katanya. Mamah? Apa dia adalah ibunya?!


"Jangan buat kesabaran Mamah habis! Kenapa sekarang kau begitu menyebalkan Rio!" teriak wanita itu lagi.


"Buka pintunya!"


Deg......


Itu suara Pak Rio, dia memintaku untuk membuka pintu kamar mandi. Aku segera turun dari toilet duduk dan berjalan secara perlahan membuka pintu.


Ceklek......


Aku melihat seorang wanita tengah berdiri di hadapanku, dia seperti sudah berumur tapi wajahnya terlihat sangat cantik. Aku yang masih muda saja kalah cantik dengannya. Mungkin namanya juga orang kaya, dia selalu perawatan.


"Apa yang Rio lakukan padamu? Apa dia melecehkanmu?" tanya wanita itu.


Deg.......


...{Flashback Off}...


...__________________________________...


"Jadi begitu ceritanya, Bu," ucap Wulan menghentikan cerita sambil menghapus air mata yang sempat terjatuh.


Santi terdiam dengan menghela nafas gusar dan menyenderkan punggungnya.


Aku tidak menyangka, kedua anakku bertingkah seperti Andra. Si Andra itu memang membawa aliran sesat.


Dulu Rendi, sekarang dia sudah tobat. Malah sekarang Rio yang seperti ini, memanfaatkan kekayaan demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Aku merasa gagal jadi seorang ibu, padahal aku mendidik anak sangat keras supaya mereka mengerti. Tapi nyatanya apa?! Mereka bodoh sekali.


Tapi dibalik semua yang sudah terjadi, bagaimana kalau aku nikahkan saja Rio dengan Wulan. Rio juga bisa bertanggung jawab dengan apa yang dia perbuat, aku tidak akan menanggung dosanya terlalu banyak.


Iya, aku juga tidak perlu capek mencarikannya calon istri. Walau Wulan tidak terlalu cantik, tapi dia cukup manis. Aku melihat dia juga perempuan baik-baik. Tidak akan bertingkah aneh-aneh.


Batin Santi.

__ADS_1


Santi melihat wajah Wulan yang terdiam.


"Wulan, bagaimana kalau kau dan Rio menikah?"


Deg.....


Mata Wulan terbelalak. "Menikah?! Apa maksud Ibu?! Itu tidak mungkin, Bu."


"Tidak mungkin?! Apanya yang tidak mungkin."


"Pak Rio, dia sangat tampan. Dia juga orang kaya, saya tidak ada apa-apa dibanding dia. Saya ... Saya juga sadar diri, Bu."


Santi mengenggam tangannya begitu hangat. "Jangan pernah bicara soal status, kita semua sama di mata sang pencipta," ucapnya dengan nada lembut.


"Aku juga kebetulan sedang mencarikan Rio jodoh, tapi kalau kondisinya sudah begini. Lebih baik kau saja yang menikah dengan anakku," lanjut Santi.


"Tapi saya tidak mau, Bu. Bukan saya menolak. Tapi saya tau, Pak Rio tidak mungkin mau dan menerima saya."


"Masalah Rio itu gampang. Sekarang aku tanya sama kamu, apa dalam hatimu tak ada rasa penyesalan? Aku tau kau melakukan ini demi Adikmu ... Aku juga seorang wanita dan seorang ibu. Wulan ... Kehormatan seorang wanita adalah nomor satu, memangnya kau tidak memikirkan di kemudian hari. Suatu saat kau menikah dengan seorang pria ... Tapi pada saat kau dan dia ingin melakukan malam pertama, dia sudah tau kau sudah tak suci lagi. Dia pasti sangat kecewa, bahkan lebih parahnya bisa meninggalkanmu ... Apa kau mau itu terjadi?"


Deg......


Awalnya niat Santi ingin menuturkan Wulan dan membujuknya supaya mau menikah dengan Rio, tapi sekarang ucapannya seperti menakut-nakuti Wulan. Wanita itu sudah berkeringat dan mengigit bibir bawahnya. Air matanya juga ikut berlinang.


Benar juga apa yang Ibunya Pak Rio katakan, bagaimana nasibku nanti?! Ini bukannya penawaran yang bagus untukku? Tapi aku tidak tau Pak Rio akan setuju atau tidak, dia saja bahkan tidak menganggapku ada.


"Hei! Bagaimana?" tanya Santi seraya menepuk salah satu pahanya.


"Ah! Iya, Bu."


"Bagaimana?! Anggap saja aku sedang berbaik hati menolongmu. Tapi kalau kau tidak mau, tidak masalah. Aku disini tidak dirugikan ... Kau yang rugi malah."


Santi sudah mengangkat bokongnya, Wulan juga ikut berdiri.


"Baik, Bu. Saya mau. Tapi bagaimana nantinya? Pak Rio ....,"


"Aku sudah bilang kau tenang saja, sekarang tugasmu adalah menuruti ucapanku saja. Aku tidak suka dengan orang yang tidak penurut!"


Semoga saja jalanku tidak salah, setidaknya aku bisa merubah statusku pada saat hilangnya kesucian ku.


Batin Wulan.


"Baik, Bu. Saya akan menuruti semua ucapan Ibu."


"Adikmu masih perlu ditunggu atau tidak?"


"Memang kenapa, Bu?"


"Itu bukan jawaban! Sekarang kau telepon Ayahmu untuk menunggunya disini. Kau harus ikut denganku." Wajah Santi terlihat begitu emosi, dia paling tidak suka dengan orang yang banyak bertanya.

__ADS_1


"Ah, baik Bu. Tunggu sebentar, saya akan telepon Ayah saya."


Wulan segera menelepon Ayahnya untuk datang menemani Clara. Setelah itu dia dan Santi meninggalkan rumah sakit, Santi ingin mengajaknya ke Butik miliknya.


***


Sore hari di rumah Hermawan.


Reymond sedang menggendong Bayu diatas dada, tangan kirinya juga mengenggam tangan Indah. Mereka bertiga tampak begitu senang dan berseri-seri, apalagi pria dewasa itu. Kalau sudah berhasil mengeluarkan apa yang sudah terpendam, seluruh beban dalam hidupnya terasa hilang.


Mereka kini berjalan keluar rumah tepat di halaman rumahnya, tiba-tiba masuklah sebuah mobil hitam milik Mawan. Ia sudah pulang dari kerja.


Glek.....


Reymond menelan salivanya begitu kasar, dia seperti bertemu dengan hantu saja. Bulu kuduknya seakan merinding seiring pria tua itu keluar dari pintu mobil dan berjalan menghampiri mereka bertiga.


"Sore, Papah. Papah sudah pulang?" tanya Indah seraya melepaskan genggaman tangan Reymond dan memeluk Mawan.


Mawan mencium kening Indah, namun matanya menatap tajam kearah pria yang sudah berkeringat pada dahinya.


"Sore sayang."


"Opa Wawan." Bayu merentangkan tangannya, ingin segera di gendong oleh sang Kakek.


"Iya, sayang."


Mawan mengambil Bayu dari tangan Reymond. Dia juga memperhatikan pakaian rapih yang mereka kenakan, seperti hendak pergi.


"Kamu mau kemana Indah?" tanya Mawan.


"Kami bertiga ingin jalan-jalan ke taman, Pah. Sejak dari siang aku ingin kesana," jawab Indah.


"Oh, kamu pergi saja berdua dengan Bayu. Nanti ditemani Irwan. Papah ada urusan dengan Reymond."


Deg.......


Urusan denganku?! Apa ini?! Wajah Papah terlihat begitu garang. Indah juga tadi sempat bercerita mengenai Rio yang mengadu, apa aku akan di bunuh?!


Sayang ... Kau jangan pergi meninggalkanku dengan Papah di rumah saja, bisa-bisa suamimu ini kehilangan nyawa.


Batin Reymond.


"Urusan apa, Pah?" tanya Indah seraya melepaskan pelukan.


Wajah yang tadinya masam melihat Reymond, kini sudah berubah. Mawan sudah menarik senyum pada bibirnya dan melihat wajah Indah.


"Biasa, masalah pekerjaan," jawab Mawan santai.


^^^Kata: 1029^^^

__ADS_1


__ADS_2