Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 83. Kenapa pakai roboh segala?!


__ADS_3

"Tidak perlu takut, bukankah kita tidak pernah sekali melakukannya? Tenang saja, Wulan. Serahkan semuanya padaku, kita akan sama-sama menikmati," ucap Rio seraya tersenyum manis padanya.


Wanita itu hanya mengangguk pelan dan memegangi seprei.


Secepat kilat, Rio melepaskan pakaian pada tubuh istrinya, hingga saat ini keduanya menjadi sama-sama polos.


Rio kembali membenamkan ciuman, mengajak Wulan untuk ikut terhanyut. Kedua tangan nakalnya sudah menyentuh bagian-bagian sensitif milik istrinya.


Tok ... tok ... tok.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah, namun mereka berdua seakan tidak mendengar apa-apa. Mereka masih sibuk melakukan pemanasan.


"Wulan ... Rio, apa kalian ada didalam?" tanya Wahyu.


Pria tua itu datang sambil membawa tas jinjing yang berisi pakaian kotor. Niatnya memang ingin mencuci, mangkanya pulang ke rumah.


Tok ... tok ... tok.


Karena terlalu lama tidak ada sahutan dari dalam, Wahyu meraih gagang pintu dan menurunkannya kebawah.


Ceklek~


Ternyata pintunya memang tidak di kunci. Ia segera masuk dan menutup pintu kembali.


Kemana mereka?


Wahyu melihat sarapan diatas tikar. Sarapan itu bahkan belum habis dan terabaikan.


"Rio ... Wulan? Kalian dimana?" Wahyu melangkahkan kakinya menuju dapur, sekalian ingin memasukkan pakaian kotornya kedalam mesin cuci.


'Ayah? Ada Ayah?' batin Wulan.


Tubuhnya sampai menggelinjang tak karuan. Namun, Wulan masih sibuk menutup mulutnya mengunakan salah satu tangan. Ia menahan suara seksi itu keluar, karena menikmati sensasi merinding pada miliknya akibat ulah lidah Rio yang lincah.


"Ssstt ... Mas ...." Wulan memegang kepala Rio, ia mencoba untuk menghentikan aksi suaminya. Tapi pria itu justru makin rakus bermain disana.


Kenapa dia selalu melakukan itu? Geli rasanya.


Beberapa menit merasa puas, Rio langsung bangun dan memposisikan tubuhnya untuk berancang-ancang pada tujuannya yang utama.


Ia meraba milik Wulan yang sudah basah, kini juniornya ia dekatkan pada pasangannya. Menggesek-geseknya terlebih dahulu sampai ia dorong untuk masuk kedalam.


"Aaa."


"Eemm ...."


Baru saja Rio hendak bergoyang, tiba-tiba ia merasa guncangan pada kasur. Ranjang kayu yang sudah rapuh itu mendadak roboh dan patah.


Kreekkk ... kreeekkk.


"Aaaa!" jerit Wulan tersentak kaget, ia malah mengira terjadi gempa bumi.


Dengan sigap Rio mengendong Wulan dan turun dari kasur, sebelum dipan itu menimpa kepala istrinya.


Brukkkkkk~


Kayu dipan itu sudah menimpa atas kasur, bahkan keempat kaki ranjangnya ambruk dan rusak.


Rio memeluk tubuh Wulan yang kini berada di pangkuannya. Ia duduk di lantai dekat pintu, masih dalam penyatuan.


Tok ... tok ... tok.

__ADS_1


"Wulan ... Rio! Apa kalian ada didalam? Ada apa?" tanya Wahyu berteriak dari balik pintu. Ia dari dapur sampai berlari karena mendengar sesuatu yang roboh.


'Sial! Kenapa pakai roboh segala?! Mana lagi enak-enaknya!' gerutu Rio.


Tok ... tok ... tok.


"Rio! Kau apakan Wulan? Kalian sedang apa didalam?" Wahyu kembali memekik, ia sangat kesal karena belum mendapatkan jawaban.


Apa Rio sedang menganiaya putriku?


"Kami sedang bercinta, Ayah!" sahut Rio tanpa basa-basi.


Deg~


Mata Wahyu membelalak kaget.


Apa katanya, bercinta? Masih pagi begini?


"Apa kau bohong? Lalu suara apa tadi? Kenapa seperti ada yang roboh?"


"Ranjang! Ranjangnya Wulan yang roboh!"


"Lalu Wulan? Apa dia baik-baik saja? Apa ada yang terluka?"


"Aku baik-baik saja, Ayah," lirih Wulan dengan kedua pipi yang bersemu merah karena malu.


Apa mereka jujur? Semoga saja.


"Oh yasudah, kalian lanjutkan saja. Maafkan Ayah sudah mengganggu ...." Wahyu menghela nafas dengan panjang sambil geleng-geleng kepala. Ia melangkahkan kakinya untuk kembali ke dapur.


"Mas ... kita udahan saja, ya?" Wulan hendak bangun dari posisinya, tapi lengan yang memeluk tubuhnya menghentikannya.


"Jangan! Tanggung! Aku belum keluar, Wulan."


"Tapi ranjangnya roboh, Mas ...," ucap Wulan seraya melihat kearah ranjang yang sudah tidak karuan itu.


Rio menggeserkan wajah Wulan untuk menghadap kearahnya. "Tidak masalah, kita lakukan disini."


"Memang bisa?"


"Tentu bisa. Kau bangun dulu, Wulan."


Wanita itu mengangguk dan mengangkat tubuhnya. Rio juga ikut bangun dan menghampiri kasur untuk mengambil selimut dan bantal. Ia mengibaskan dulu selimut itu sebelum dihamparkan pada lantai. Kemudian, ia taruh bantal diatasnya untuk penyangga kepala istrinya nanti.


Tanpa berkata, Rio mengangkat tubuh Wulan dan merebahkan disana.


Pria itu kembali melakukan penyatuan.


"Yes!"


"Eemm ...."


Walau lututnya terasa sakit karena beralaskan selimut yang cukup tipis, namun tidak menghalangi langkahnya untuk mengajak Wulan terbang ke udara.


"Mas ...."


"Apa?" Rio menyeka keringat pada dahinya sendiri dan langsung membungkuk untuk menghisap kedua buah kenyal itu.


Berawal dari ritme pelan, sampai ia lagi-lagi mengguncang tubuh Wulan yang makin menggelinjang. Tidak dipungkiri, Wulan juga merasa nikmatnya bercinta. Bahkan tanpa disadari, ia sudah mengeluarkannya terlebih dahulu.


Kini tinggal Rio, pria itu tampak begitu semangat. Rasa kaku dan sakit pada tubuhnya tadi pagi ia lupakan, demi mendapatkan rasa kepuasan.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, akhirnya kepuasan itu ia dapatkan. Wulan cepat-cepat menarik kepala Rio yang berada didepannya.


"Aaa ... eemm ...." Wulan membungkam bibir Rio dengan bibirnya, ia melakukan hal itu supaya Rio tidak mengeluarkan suara des*han yang akan membuatnya tambah malu jika berhadapan dengan Wahyu.


Wulan menciumku? Apa dia juga menikmati saat bercinta denganku?


"Ma-maafkan a-aku, Mas ...."


Rio tersenyum puas dan seketika menubruk tubuh Wulan dari bawah, ia merasakan lemas dan nikmat tiada tara. Kedua mata pria itu langsung sayu dan perlahan mulai terpejam.


Apa sekarang Mas Rio melihatku saat bercinta? Apa sekarang dia mulai mencintaiku?


Ah tidak-tidak Wulan, jangan terlalu berharap dulu. Nanti dia akan kembali berubah.


***


Di kantor Hermawan.


Walau awalnya Reymond ragu, tapi ia masih mencoba berupaya. Tinggal sedikit lagi, langkahnya untuk menemukan adiknya Indah.


Kini Reymond sudah berdiri tepat didepan ruangan Mawan. Pria tampan nan kekar itu juga sudah menyiapkan mental, berusaha untuk bersabar membujuk ayah tirinya.


Tentunya dia tidak sendiri, ada sang asisten Dion yang ikut dengannya. Tapi hanya Reymond saja yang masuk kedalam nanti.


Tok ... tok ... tok.


"Masuk!" pekiknya dari dalam.


Ceklek~


Pandangan mata yang tadinya melihat layar laptop, langsung teralihkan untuk melihat kearah Reymond.


"Reymond, kau kesini? Bukannya hari ini tidak ada meeting bersama Papah?" tanya Mawan sambil mengernyitkan dahi, merasa heran.


Reymond melemparkan senyum dan melangkahkan kakinya menuju kursi dekat meja sang papah. "Iya, memang tidak ada. Aku hanya ingin mengobrol dengan Papah kok."


"Mengobrol? Tentang apa? Indah?"


"Iya."


Mawan segera menutup laptopnya dan menumpu kedua sikunya diatas meja. Ia menatap wajah Reymond amat serius.


"Kenapa Indah? Dia bukannya baik-baik saja?"


"Iya, dia baik, Pah. Tapi rasanya aku masih punya hutang padanya," ujar Reymond basa-basi, ia mengusap-usap tengkuk lehernya sendiri.


"Hutang apa?"


"Soal ...." Reymond menarik nafas terlebih dahulu kemudian membuangnya secara perlahan. "Soal adiknya Indah, Pah."


Deg~


Mawan langsung menyunggingkan senyum. Sudah jelas sekali, ia tak pernah suka jika membahas masalah adiknya Indah.


"Papah bukannya pernah bilang sama kamu, Papah tidak punya anak lagi selain Indah, Reymond. Hanya dia satu-satunya anak Papah."


"Aku harap juga begitu, Pah. Tapi anak itu sudah ketemu."


"Ketemu apa?" Mawan memiringkan kepalanya. "Bukannya kemarin sudah jelas! Hasil tes DNA-nya, Shelly bukan anak Papah!"


^^^Kata: 1094^^^

__ADS_1


__ADS_2