
Sekarang Santi dan Mawan hanya berdua dalam satu ruangan, wanita paruh baya itu menghampiri Mawan seraya duduk di kursi kecil.
"Apa Papah mau sarapan? Mau Mamah suapi?" tawar Santi dengan penuh kelembutan. Apa yang dikatakannya sungguh membuat hati Mawan terasa hangat.
"Iya," jawabnya sambil tersenyum bahagia.
Santi langsung mengambil tupperware itu dan perlahan mulai menyuapinya. Bola mata Mawan sampai berkaca-kaca, namun bukan lantaran sedih, melainkan terharu.
"Apa yang mau Mamah bicarakan?" tanya Mawan seraya menyentuh pipi Santi, tidak ada penolakan sama sekali dari wanita di dekatnya.
"Nanti saja, setelah Papah selesai sarapan dan minum obat." Santi kembali menyuapi pada suapan kedua.
Mawan mengangguk dan menikmati apa yang ia rasakan sekarang. Rasa bubur itu entah mengapa terasa sangat nikmat pada lidahnya, padahal hanya bubur biasa seperti pada umumnya dan tidak terkesan spesial. Mungkin yang spesial di sini lantaran Santi yang menyuapinya. Dan inilah momen yang sangat Mawan rindukan sejak beberapa bulan terakhir.
Setelah selesai sarapan, Santi membuka botol obat dan memberikan pada Mawan untuk menelannya dengan dibantu air.
"Terima kasih, Mah," ucap Mawan sambil memberikan gelas yang sudah berisi setengah padanya.
Santi mengangguk dan meletakkan gelas itu di atas nakas. Perlahan ia menghembuskan nafasnya, mencoba untuk bersikap tenang. Ia ingin masalahnya cepat selesai.
Mawan sedari tadi tak ada henti-hentinya untuk tersenyum, ia amat bahagia dengan sikap Santi yang kembali hangat seperti dulu. Apa mungkin memang benar, Santi akan kembali padanya?
"Mamah bisa bicara sekarang, Papah sangat penasaran." Mawan menyentuh punggung tangan Santi.
"Mamah mau nanya, tapi Papah harus jujur."
"Iya, bicaralah."
"Bagaimana rasanya setelah Papah ditinggalkan Mamah?"
"Sakit, sangat sakit, Mah. Papah sangat kesepian."
"Bagaimana rasanya ketika Rio dan Mamah membenci Papah?"
"Sama ... sakit, hati Papah sangat sakit."
"Apa saat semuanya meninggalkan Papah ... Papah merasa bersalah?"
"Sangat, sangat bersalah. Papah sangat menyesal dengan semua tindakan Papah, Mah."
Santi dan Mawan saling melayangkan pandangan, sorotan mata Mawan terlihat begitu tulus dan jujur.
"Mah ... maafkan Papah, ya? Maafkan semua kesalahan Papah selama ini. Mungkin kata maaf saja tidak cukup untuk menghapus semua dosa Papah terhadap Mamah dan Rio, tapi Papah berjanji ... Papah akan berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
__ADS_1
"Mamah sudah memaafkan Papah kok, Papah tenang saja. Mamah bukan wanita pendendam."
Mawan langsung menarik tangan Santi untuk ia cium. "Terima kasih, Mamah memang wanita yang sangat sempurna. Papah bahagia bisa hidup bersama Mamah."
"Sama-sama. Tapi, kita tidak bisa hidup bersama lagi, Pah."
Deg!
Mawan terbelalak. "Apa ... apa maksud Mamah?"
"Kita jadi bercerai."
"Apa?" Mawan memekik tak menyangka. "Kok jadi? Kenapa begitu? Bukannya tadi Mamah sudah memaafkan Papah?" wajah Mawan seketika menjadi sendu.
"Iya, Mamah memang sudah memaafkan Papah. Tapi untuk kembali bersama ... maaf, Mamah tidak bisa." Santi menggeleng samar.
"Kenapa tidak bisa? Kita bisa memulainya dari awal. Apa sama sekali Papah tidak diberi satu kali kesempatan?" Mawan mengangkat jari telunjuknya pada wajahnya sendiri, masih berusaha untuk memohon.
"Kesempatan?" Santi mengerutkan kening. "Bukankah Mamah sudah sering memberi Papah kesempatan? Bahkan selama Papah melakukan kesalahan."
"Tapi, Mah ... Papah tidak mau bercerai sama Mamah. Papah tidak bisa hidup tanpa Mamah, hanya Mamah satu-satunya wanita yang Papah cintai." Air mata Mawan perlahan jatuh membasahi pipi, ia amat terenyuh dengan apa yang Santi ucapkan.
"Jangan seperti ini, Pah. Papah harus belajar ikhlas. Bukannya Papah bilang ingin berubah? Jadikan hal ini adalah salah satu niat Papah untuk berubah, hilangkan egois dan terima dengan lapang dada."
"Tapi cara seperti Ini sangat menyakitkan." Mawan kembali menangis dan menyentuh dadanya yang teramat nyeri.
"Persidangan?" Mawan terganga. Air mata itu kembali berurai, tak kuasa menahan tangis.
"Mah ... jangan begini ...." Mawan mengulurkan tangannya hendak menyentuh Santi yang sudah berjalan beberapa langkah menuju pintu. "Mamah, Papah mohon ... jangan seperti ini."
Tangisan dan uluran tangan itu tidak Santi hiraukan, wanita itu berlalu begitu saja tanpa sedikitpun menoleh pada Mawan.
Ceklek~
"Mamah!" pekik Mawan. Ia mengangkat tubuhnya untuk bangun, namun bukannya berhasil bangun, malah yang ia rasakan adalah rasa linu dan terdengar bunyi pada tulang belakangnya.
Krek!
"Aaww! Sakit!" jerit Mawan.
Ceklek~
Mendengar suara gaduh Mawan yang menjerit kesakitan, Jojo langsung masuk dan berlari menghampirinya.
__ADS_1
"Pak! Bapak tidak apa-apa? Mau saya panggilkan dokter?" Jojo dengan kecemasannya memegangi lengan Mawan, wajah pria tua itu sudah basah lantaran air mata.
"Tidak usah," tolaknya lirih. Mawan menarik jas Jojo ketika ia hendak pergi.
"Tapi tadi Bapak bilang sakit?"
"Tidak apa-apa, lebih baik ... aku mati saja, Jo," rintihnya.
Deg!
Jojo langsung duduk di kursi kecil, mengambil secarik tissu untuk mengusap air mata bosnya. "Bapak jangan bicara seperti ini, Bapak akan sembuh nanti."
"Lebih baik aku tidak sembuh sekalian. Percuma aku hidup ... Santi tidak mau kembali padaku, Jo."
"Oh." Jojo jadi ikut-ikutan sedih dengan kenyataan yang Mawan alami. "Memangnya tadi Bapak bicara apa sama Bu Santi? Itu juga kalau saya boleh tau."
"Intinya tentang perceraian, dia memintaku untuk datang Minggu depan ke persidangan, aku harus bagaimana, Jo?"
"Turuti saja, Pak."
"Kok kau malah bicara seperti itu, sih? Kau jahat sekali padaku, Jo." Tangisan Mawan menjadi sangat keras, ia makin mengerutukki dirinya sendiri yang telah berbuat salah. Rasa sakit pada pinggangnya sampai ia hiraukan begitu saja, dadanya yang kini lebih sakit.
Jojo kembali menarik secarik tissu dan mengusap air mata pada pipi Mawan. "Kalau persidangan ... kita datang berapa kali sampai hakim memutuskannya, Pak? Sampai resmi bercerai?"
"Dua sampai tiga kali," jawabnya sambil sesenggukan.
"Masih ada kesempatan, Pak. Bapak masih bisa kembali baikan dalam waktu itu. Mungkin saja, disaat sidang nanti ... Bu Santi berubah pikiran." Jojo masih memberikan penyemangat untuk Mawan, walau ia sendiri tidak yakin.
"Kalau dia tetap tidak berubah pikiran bagaimana?" tanya Mawan gundah.
"Sidang pertama saja belum dimulai, bagaimana kita tau."
"Tapi harapanku sudah tipis banget, Jo. Untuk kembali padanya," keluh Mawan.
"Berdo'a saja dulu, Pak," saran Jojo.
"Aku 'kan orang jahat, Jo. Aku tidak yakin do'aku terkabul."
"Bapak ternyata sadar juga, kalau Bapak ini orang jahat." Jojo terkekeh. Meskipun ia kerap kali kasihan pada hidup Mawan, tapi terhadang ada hal yang membuatnya lucu.
"Kau senang, Jo?"
"Iya, saya senang Bapak sudah sadar. Sayangnya Bapak sadarnya telat ya, Pak." Celetukan dan kekehan Jojo sontak membuat Mawan kembali menangis, bahkan tangisannya kini lebih kencang.
__ADS_1
Jangan lupa like 💕
TBC