
Sepeninggal Indah dan Santi, Mawan masuk lagi kedalam rumahnya. Ia duduk di sofa sambil memijat pelipis matanya, kepalanya terasa begitu pening. Ia benar-benar tak habis pikir, siapa orang yang tega melakukan semua ini?
Mawan mencoba untuk menghubungi asistennya. Mungkin hanya Jojo, yang mampu memecahkan masalahnya sekarang.
"Halo Jo, kau datang ke rumahku sekarang!" titah Mawan dari sambungan telepon.
"Pak, bukannya Bapak hari ini ada meeting bersama Papahnya Mitha? Dia sudah datang menunggu Bapak."
"Batalkan saja."
"Tapi tidak enak rasanya, Pak."
"Tidak enak apanya? Rumah tanggaku terancam Jojo! Apa yang jauh lebih penting?" sembur Mawan dengan lantang.
"Baik, Pak. Saya segera kesana."
Tiga puluh menit berlalu, Jojo datang ke rumah Mawan. Ia melihat bosnya tengah berbaring di sofa, hanya mengenakan kemeja dan terlihat begitu lusuh. Padahal niat Mawan mau berangkat kerja, tapi rasa semangatnya sudah hilang seketika.
"Pak Mawan, ada apa sebenarnya?" tanya Jojo. Ia merasa kasihan melihat wajah muram Mawan.
Pria tua itu langsung bangun dan duduk menyandarkan punggungnya pada penyangga sofa.
"Kau cari tau siapa yang kirim paket untukku, Jo!" titah Mawan seraya menunjuk benda diatas meja. Itu adalah obat kuat, kertas persegi empat dan juga bungkusan paketnya.
Jojo mengambil benda itu dan mulai membacanya. "Memang ini bukan Bapak yang pesan?"
"Iya, bukan aku. Itu orang iseng yang sedang mengerjaiku. Kau cari tau siapa dia, telepon sellernya dan selidiki siapa yang bernama Susanti."
Jojo terlihat binggung dengan penjelasan Mawan. Tapi lebih baik dirinya langsung menuruti ucapannya saja. Ia segera mengambil ponsel pada kantong celananya dan menghubungi pihak seller.
Sama halnya dengan Santi tadi, pihak seller hanya mengatakan nama Hermawan sebagai penerima dan pengirimannya bernama Susanti. Tapi yang jelas, siapa itu Susanti?
"Orang yang bernama Susanti, pesannya lewat telepon atau aplikasi, Pak?" tanya Jojo.
"Aplikasi, lewat akun Pak," jawab seller.
"Apa akun itu ada fotonya? Atau tercantum nomor telepon? Bisa saya minta Pak?"
Kebetulan seller toko itu sedang melihat layar laptopnya, ia juga merasa pusing karena ada komplen dari pihak konsumen. Ia tidak mau membuat pelanggan tidak merasa puas dengan pesanannya yang tentu berimbas pada tokonya nanti.
__ADS_1
"Akunnya baru Pak. Dan sayangnya tidak ada foto dan nomor ponselnya adalah nomor orang yang menerima paket." Mungkin yang dimaksud seller adalah nomornya Hermawan.
"Pembayarannya, pasti pakai debit. Beritahu saya namanya, atas nama siapa?"
"Sebentar ...." Tidak menunggu waktu yang lama, pria itu kembali berucap, "Atas nama Rio Pratama."
Deg!
Jojo membulatkan matanya. "Apa Bapak tidak salah?" Jojo ingin memastikan sekali lagi, rasanya tidak mungkin Rio sejahil ini pada papahnya sendiri.
"Benar, namanya Rio Pratama," jawabnya lagi.
"Bagaimana Jo? Kau sudah tau siapa orangnya?" tanya Mawan saat melihat Jojo sudah mematikan teleponnya.
"Dia anak Bapak, Pak Rio Pratama, Pak."
"Apa?" Mawan memekik seraya membulatkan matanya. Tapi rasanya itu tidak mungkin, ia justru geleng-geleng kepala sambil tersenyum karena tidak percaya. "Kau tidak usah bercanda Jo, aku sedang pusing sekarang. Jujur padaku siapa orangnya? Susanti siapa itu?"
"Sepertinya Susanti hanya akun bodong, Pak. Aslinya bernama Rio Pratama. Dia yang mentransfer uang untuk membayar obat itu," paparnya.
Deg!
Mawan lagi-lagi membulatkan matanya, tangannya sudah mengepal dan menonjok sofa. Andai Rio ada didepan matanya, pasti pria tampan itu sudah habis babak belur karenanya.
"Tidak, aku dan dia baik-baik saja." Mawan melambaikan tangan pada Bibi pembantu, memintanya untuk menghampiri dirinya. "Bibi, tolong ambilkan kertas perjanjianku dengan Rio, ada di laci ruang kerja," titahnya.
"Baik, Pak." Bibi pembantu itu segera menaiki anak tangga dan tak lama ia balik lagi dengan mengambil selembar kertas itu, memberikan pada Mawan.
"Ini, kau baca surat perjanjianku dengan Rio." Mawan menyerahkan kerta itu ke tangan Jojo, pria dewasa itu langsung mengambil dan membacanya.
"Ini siapa yang buat, Pak?"
"Rio, dia yang membuatnya. Dia marah saat aku ingin menjodohkannya dengan Mitha, kau tau 'kan?"
Jojo mengangguk cepat.
"Dia yang mengancamku lebih dulu, tapi justru sekarang ... dia yang lebih dulu bermain-main denganku," geram Mawan dengan emosi di dadanya. "Padahal, dalam surat itu sudah jelas. Kalau ingin bertindak, sebaiknya mengingat perjanjian itu. Tapi kenapa Rio yang gila disini, Jo?!"
"Sebaiknya Bapak telepon Pak Rio, tanya padanya apa alasan dia melakukan semua ini, Pak," usul Jojo.
__ADS_1
"Si Rio harus aku balas! Biar tau rasa nanti, dasar bocah! Bisa-bisanya dia mengerjai orang tua!" umpatnya seraya mengambil ponselnya diatas meja. Ia mengetik nama Rio untuk segera ditelepon, namun sayangnya sudah ditelepon berulang kali tidak ada jawaban.
"Si Rio benar-benar cari mati!" Mawan mendengus kesal, ia beralih menelepon resepsionis kantor Rio.
"Halo, selamat pagi Pak Hermawan," sapa seorang wanita dari seberang sana.
"Apa Rio ada di kantor?"
"Pak Rio belum masuk kantor pagi ini, Pak."
Mawan mematikan sambungan teleponnya, ia memakai kembali jasnya dan berdiri. "Kau bawa semua barang itu dan surat perjanjian si Rio, kita ke rumah penjual bakso itu," titahnya seraya berjalan keluar rumah.
"Penjual bakso Pak Wahyu maksudnya?" tanya Jojo ketika dirinya sudah masuk kedalam mobil dan memegangi stir.
"Iyalah! Siapa lagi??" sembur Mawan.
"Baik, Pak."
Jojo segera melajukan mobilnya menuju rumah Wahyu. Empat puluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai didepan rumah Wahyu.
Mawan turun dari mobilnya, ia melangkahkan kakinya menuju rumah Wahyu yang kebetulan pintunya terbuka lebar. Wahyu tengah duduk lesehan dengan Clara, sambil membuat adonan bakso. Gadis kecil itu tidak sekolah hari ini, karena gurunya sedang ada rapat.
"Dimana Rio!" pekik Mawan sambil berkacak pinggang, berdiri di ambang pintu.
Wahyu dan Clara tersentak kaget. Clara langsung menyembunyikan tubuhnya dibelakang punggung Wahyu karena merasa takut.
Wahyu melepaskan sarung tangan plastik dan berdiri menghampiri besannya, Clara juga ikut berdiri dibelakang tubuh ayahnya. "Rio sudah berangkat ke kantor, Pak."
"Apa kau bilang?" bentak Mawan. "Dia tidak ada di kantor! Sekarang panggilkan dia!"
"Rio tidak--"
Mawan langsung mendorong tubuh Wahyu yang menghalanginya jalannya untuk masuk kedalam rumah. Ia tak peduli apa yang dilakukannya sekarang, mau sopan ataupun tidak. Tapi yang terpenting, ia bisa bertemu dengan Rio, lalu memberinya pelajaran.
Mawan membuka pintu kamar pertama, ia masuk kedalam sambil berteriak, "Rio! Kemana kau bodoh!"
Sosok Rio tidak ada di kamar itu, karena memang itu kamar Wahyu. Kini Mawan beralih masuk kedalam kamar sebelahnya yang pasti adalah kamar Wulan dan Rio.
Tapi sayangnya tidak ada siapa-siapa disana, benar-benar kosong. Mawan keluar dari kamar dengan hati dongkol.
__ADS_1
"Bagaimana? Kau sudah menemukan bocah sial*n itu?" tanya Mawan pada Jojo. Pria dewasa itu baru saja mengecek dapur dan juga kamar mandi, ia diperintahkan oleh Mawan.
^^^Kata: 1052^^^