
"Baik, Pak." Bibi segera berjalan menaiki anak tangga, menuju kamar Mawan terlebih dahulu.
Santi memegang lengan Mawan. "Papah mau ajak Indah kemana?"
Mawan merangkul Santi, mengajaknya duduk diatas sofa. "Besok 'kan hari libur, Papah ingin mengajak dia liburan ke luar kota, Mah."
Wajah Santi terlihat begitu senang. "Bagus, dong Pah. Mamah ikut, ya?"
"Jangan, Mamah disini saja dengan Bayu," sergah Mawan.
"Lho, jadi Bayu juga tidak Papah ajak? Kenapa? Kasihan dia, Pah."
Mawan mengelus rambut Santi dan
mencium keningnya.
"Nggak kenapa-kenapa, Mah. Papah hanya ingin menghabiskan waktu bersama Indah, akhir-akhir ini Papah sering marahin dia. Nggak ada salahnya Papah ajak liburan, kan? Indah juga sering bilang bosan di rumah," jelas Mawan.
"Lalu, Rencana Papah. Mau mengajak Indah liburan kemana?" tanya Santi.
"Ke Bandung, Mah. Ke taman buah, nanti Papah akan mengajaknya keliling Bandung. Udara disana juga lebih sejuk dari pada disini."
Tapi kok aku seperti ragu, ya? Apa hanya perasaanku saja? Habis Papah tumben banget mengajak Indah liburan dan hanya berdua, tapi kalau niat Papah baik, ingin membuat Indah senang. Harusnya aku ikut senang, kan? Kenapa malah jadi curiga begini.
Batin Santi.
Santi memegang lengan Mawan. "Tapi Papah benar hanya mengajak Indah liburan, kan? Nggak aneh-aneh?"
Mawan mengerenyitkan dahi. "Maksudnya bagaimana? Papah nggak ngerti."
"Ah tidak, Pah. Lupakan saja. Oya, masalah perjodohan Rio dan Indah, menurut Mamah nggak usah diterusin, Pah. Kalau memang Indah tidak mau, tidak perlu dipaksa," tutur Santi.
Mawan mengangkat bokongnya, "Mamah tidak perlu pusing mikirin itu, yasudah. Papah berangkat sekarang, ya?"
Santi ikut berdiri. "Berangkat? Berangkat kemana?"
"Papah 'kan sudah bilang tadi, mau ngajak Indah liburan! Kenapa musti tanya lagi!" suara Mawan terdengar meninggi.
"Maksud Mamah, kenapa sekarang? Katanya besok mau liburannya?"
Bibi pembantu sudah mendorong koper dari kamar Mawan menuju keluar rumah. Semua perlengkapan pakaian ganti untuk liburan, sudah dia siapkan.
"Mamah ini kenapa banyak bertanya? Papah mengajak Indah menginap juga. Biar bisa enak pas paginya, bisa langsung pergi jalan-jalan," jelas Mawan kesal.
Astaga kenapa aku makin nggak percaya dengan ucapan Papah. Dia juga terlihat kesal padaku sekarang.
__ADS_1
Batin Santi.
Santi meraih tangan Mawan, seraya mencium punggung tangannya, "Yasudah, Papah dan Indah hati-hati disana. Kalau ada apa-apa hubungi Mamah, ya?"
Mawan mengangguk dan mencium kening istrinya lagi. "Papah titip Bayu, selama Papah dan Indah pergi. Bayu jangan main kemana-mana, harus berada di rumah saja!" seru Mawan sedikit mengancam.
"Iya, Papah tenang saja. Nanti selama disana kurangi emosinya, jangan buat Indah menanggis, Pah," tutur Santi.
"Iya, Mah."
Santi mengantarnya sampai ke halaman rumah dan menuju mobil Mawan. Jojo sudah standby, dengan sigap membukakan pintu belakang mobil untuk Mawan masuk
"Papah dan Indah hati-hati," ucap Santi seraya melambaikan tangan.
"Iya, Mah," sahut Mawan, masuk kedalam mobil.
S
K
I
P
Sampainya mereka di rumah Antoni, satpam depan rumah sudah membuka gerbang. Jojo memarkirkan mobilnya menuju halaman depan rumah.
Wajah Indah terlihat begitu senang, kepalanya menyender pada bahu Antoni. Sedangkan Bayu tengah duduk di pangkuan Antoni sambil bercanda.
Mawan sudah mulai emosi, rasanya begitu cemburu melihat pemandangan seperti ini. Harusnya yang berada diposisi Antoni adalah dirinya.
Menghirup nafas dan mengeluarkan secara perlahan. Mawan mengusap-usap dadanya, supaya tidak terlalu emosi. Niat dia kesini juga ingin mengajak Indah liburan, kalau dia sudah emosi duluan. Yang ada Indah tidak akan mau.
"Sayang," panggil Mawan dengan nada lembut, kakinya sudah melangkah menuju kursi panjang taman.
Indah menoleh pada sumber suara dan langsung berdiri. "Papah."
"Opa Wawan," ucap Bayu.
Mawan langsung memeluk dan mencium kening Indah. "Papah, kok ada disini?" tanya Indah.
Antoni bangun dan mengendong Bayu, supaya Mawan bisa duduk disamping Indah. Benar saja, Mawan langsung duduk disamping Indah.
"Harusnya Papah yang nanya, kamu kenapa disini? Bukannya Papah bilang suruh kamu istirahat dan jangan pergi kemana-mana?"
Antoni pergi mengajak Bayu masuk kedalam rumahnya, dia merasa tak enak kalau ikut mendengarkan ucapan anak dan Ayah itu.
__ADS_1
"Papah, ini 'kan rumah aku juga. Memang tidak boleh aku kesini?" tanya Indah dengan sendu.
Mawan memeluk tubuh Indah dan membelai rambut. "Tidak, bukan itu maksud Papah. Papah hanya ingin kamu istrahat saja. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa perutmu masih mual?"
Indah menggelengkan kepala dan mengusap-usap perutnya, "Tidak, perutku baik-baik saja. Aku mualnya juga kalau pagi doang, Pah."
Deg.....
Mawan ikut meraba perut Indah, perutnya tidak terlihat buncit juga. "Selain mual, apa lagi?"
"Kadang kram, terus agak kembung gitu," sahut Indah.
Deg.....
"Sekarang juga seperti itu?"
"Tidak, hanya kadang-kadang saja."
Mawan menghela nafas lega, tapi pikirannya masih was-was. Dia takut Indah hamil, tapi Mawan selalu berdo'a supaya itu tidak sampai terjadi.
Mawan mengambil ponsel pada kantong celana dan memperlihatkan foto yang Rio kirimkan itu, dia menunjukkan layar ponselnya kedepan wajah Indah.
Mata Indah terbelalak. "Mas Reymond, dia Mas Reymond 'kan, Pah?" kepalanya mendongak kearah Mawan.
Mawan mengangguk dan tersenyum, Indah memperhatikan lagi foto itu. "Dia sama Siska, Pah."
Tangan Mawan memegang dan mengelus tangan Indah. "Iya, lihat kelakuannya. Dia ini pria hidung belang sayang. Kelihatan sekali dia hanya ingin memanfaatkan kamu, kamu harus putus dengannya," pinta Mawan.
Deg.....
Tapi Mas Reymond waktu itu bilang ingin menjebak Siska, apa ini salah satu aksinya? Tapi kenapa hatiku terasa sakit? Aku tidak ikhlas melihat Mas Reymond dekat dengan Siska lagi! Kalau sampai dia ikut terhanyut dan kembali berselingkuh bagaimana? Aku tidak mau.
Batin Indah.
Air matanya berhasil lolos membasahi pipi, Indah menanggis dan mendekap Mawan begitu erat. Mawan menciumi rambut Indah dan mengusap-usap punggungnya.
"Sabar sayang, Papah memang sudah curiga dia bukan pria yang baik untukmu. Kau harus kuat, lagian putri kesayangan Papah ini cantik dan banyak yang suka. Biarkan saja si bejat itu bersama si Jalang! Mereka memang cocok!" pekik Mawan.
Deg.....
"Tidak, Pah. Mas Reymond hanya cocok denganku, tidak ada yang lain. Mas Reymond milikku, Pah," lirih Indah menanggis, wajahnya sudah menempel pada jas yang Mawan kenakan.
Mawan memutar bola matanya begitu malas.
Dasar! Aku kira Indah akan memaki Reymond dan langsung bilang putus padanya! Kenapa dia malah menanggis dan melow begini! Pelet Reymond sangat ampuh sekali pada Indah, tidak akan aku biarkan Reymond bisa memiliki anakku!
__ADS_1
Gerutu Mawan.