Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 161. Karma


__ADS_3

"Maaf, Pah. Sepertinya memang jalan yang terbaik adalah Papah dan Mamah bercerai," ucap Reymond. "Sekarang Papah harus menerimanya, Papah juga harus menghargai keputusan Mamah."


"Tapi Reymond Papah--"


"Papah," sela Indah. "Mas Reymond benar, Papah harus menghargai keputusan Mamah. Mungkin Papah dan Mamah sudah tidak berjodoh."


"Papah mencintai Mamah, Indah. Papah tidak bisa hidup tanpa Mamah," keluh Mawan dengan sendu.


"Iya, aku tau. Tapi ... ini semua sudah terjadi, Papah harus menerimanya. Mungkin ini karma untuk Papah."


Mawan terbelalak. "Karma? Kok kamu bilang seperti itu sama Papah, Sayang?"


Indah membuang nafasnya dengan kasar. "Iya, karma atas semua yang Papah lakukan. Papah harus menerimanya dengan lapang dada. Jujur, aku juga tidak rela, Pah. Tapi kita tidak bisa apa-apa."


"Sekarang Papah dan Mamah ikut aku, kita pergi ke pengadilan untuk mengurus perceraian." Reymond bangun dari duduknya sambil merangkul bahu Santi, ia mengendong Bayu yang berada di pangkuan Mawan.


"Papah tidak mau." Mawan menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Papah sudahlah, jangan seperti ini." Indah berdiri dan menghampiri Mawan, menarik lengannya untuk bangun. "Pergi bersama Mas Reymond dan Mamah."


"Tidak! Papah tidak mau, jangan lakukan ini sama Papah." Mawan langsung memeluk tubuh Indah sambil menangis, ia merasa berat sekali untuk menerima keputusan dari keluarganya.


"Papah ... sudah, jangan begini. Perceraian bukan sebuah akhir dari kehidupan, Papah bisa menikah lagi nanti."


"Papah tidak mau menikah lagi, cinta terakhir Papah adalah Mamah."


Walau awalnya susah, akhirnya Indah berhasil mengajak Mawan untuk masuk kedalam mobil. Mawan duduk didepan bersama Reymond yang memegang stir.


"Kamu ikut saja, Sayang. Nanti Caca yang jaga Susi," ajak Reymond.


"Tidak, Mas. Aku di rumah saja." Indah membungkuk untuk mengambil Bayu yang tengah duduk di samping Reymond.


"Bunda, Bayu au ikut, Ayah!" rengek Bayu.


"Bayu di rumah saja sama Bunda. Ayah sedang sibuk." Indah mengecup rambut Bayu. Kemudian, ia mengelus bahu Mawan. "Papah jangan sedih, ini bukan perceraian yang pertama untuk Papah. Papah harus kuat." Indah berusaha menenangkan hati Mawan yang tengah berkeruh, pria paruh baya itu hanya menunduk meratapi nasibnya.


Setelah mobil Reymond meninggalkan gerbang, Rio dan Wulan menghampiri Indah di halaman rumah.


"Indah, aku dan Wulan mau pulang ke rumah Ayah," ucap Rio.


"Iya."


"Bayu ikut Om Lio! Bayu au ketemu Kaka Lala!" rengek Bayu seraya merentangkan tangannya.


Wulan hendak memegang lengan Bayu, namun Indah memundurkan tubuhnya, hingga Bayu tidak berhasil Wulan pegang.


"Aku mau ajak Bayu ke rumah Papah Antoni, kalian pergi saja." Wajah Indah terlihat cemberut, moodnya tidak bagus.

__ADS_1


"Oh, yasudah." Wulan mendekati Indah kembali untuk mengecup kening Bayu. "Nanti Bayu bisa main sama Kakak Lala, besok Tante jemput kamu."


"Bunda ...." Bayu mendongak pada wajah Indah. "Bayu au ikut Ante Ulan main."


"Besok saja. Sekarang kita ke rumah Opa Onni."


Bayu mengangguk dan memeluk tubuh Indah. Ia melambaikan tangannya pada Rio dan Wulan, saat mereka masuk kedalam mobil. Wulan dan Rio juga melakukan hal yang sama.


"Kita kemana, Pak?" tanya Indra saat melihat suami istri itu sudah duduk di kursi belakang.


"Kita ke Mall, cari yang sudah buka," perintah Rio.


"Baik, Pak." Indra mengangguk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Mas ... aku kok kasihan sama Indah, ya?" Wulan menoleh pada Rio.


"Kenapa memangnya?"


"Dia seperti sedih saat Papah dan Mamah mau bercerai."


Rio membuang nafas dengan kasar. "Iya aku tau, cuma mau bagaimana lagi? Itu memang yang terbaik."


"Aku juga merasa kasihan sama Pa--"


Rio menutup mulut Wulan dengan salah satu tangannya, ia tau kalau istrinya itu akan menyebutkan nama 'Papah'. Itu membuat suasana hatinya jadi buruk.


"Tidak usah dibahas, aku ingin kita bahagia mulai dari sekarang." Rio melepaskan tangannya pada mulut istrinya. Kemudian, ia mengecup sekilas bibir itu.


"Iya, Mas. Maafkan aku."


"Apa kau lapar?"


"Iya, aku belum sarapan."


"Yasudah, kita sarapan dulu sebelum pergi ke Mall."


"Iya, Mas. Oya ... Mas Rio tidak masuk kerja hari ini?"


"Ini 'kan hari Minggu, kau ini aneh sekali!"


Wulan langsung terkekeh. "Ah, maaf. Aku lupa, Mas."


Setelah sarapan, mereka akhirnya sampai disebuah Mall. Rio melihat arloji pada pergelangan tangannya, menunjukkan pukul 9 pagi.


"Indra, kau ikut dengan kami," ajak Rio seraya turun dari mobil.


Indra menurunkan kaca mobilnya. "Saya tidak mau belanja, Pak."

__ADS_1


"Cih, siapa yang mau mengajakmu belanja?" Rio mencebikkan bibirnya. "Aku ingin kau membawa barang belanjaku, nanti."


"Ih, Mas. Tidak usah. Nanti aku yang bawa, kan kita hanya membeli baju untukku," tolak Wulan seraya menghampiri Rio. Ia merasa tak enak pada Indra.


"Iya memang. Tapi 'kan tidak tau akan beli berapa." Rio menatap tajam wajah Indra. "Cepat keluar, ikut kami dibelakang!" titahnya.


Indra mengangguk, ia segera turun dan berjalan membuntut dibelakang Rio dan Wulan, memasuki area Mall.


Mereka bertiga hendak naik eskalator, namun berpapasan dengan Rizky dan ibunya yang baru saja turun dari mesin itu.


"Kak Rizky," sapa Rio.


"Lu ada disini? Belanja?" tanya Rizky basa basi, padahal sendirinya yang habis memborong. Menenteng beberapa paper bag pada kedua tangannya.


"Iya, aku mengantar Wulan, Kak."


"Dia siapa, Riz?" tanya Gita mamah Rizky, mengedikkan kepalanya kearah Rio.


"Dia adiknya Reymond. Masa Mamah lupa," balas Rizky menoleh pada Gita.


"Oh, Rio. Apa kabar kamu?" Gita mengelus pundak Rio dengan lembut. "Sudah dewasa sekarang, Tante dulu lihat kamu masih kuliah."


"Iya, aku baik Tante." Rio tersenyum pada wanita paruh baya itu.


Pandangan mata Gita teralihkan pada Wulan, tapi bukan pada wajahnya, melainkan pada perutnya yang menggembung.


"Apa dia istrimu?"


"Iya, namanya Wulan." Rio merangkul bahu Wulan.


Wulan mengulurkan tangannya pada Gita dan ia pun sebaliknya, membalas uluran tangan itu.


"Kau sedang hamil? Perutmu besar sekali." Gita merasa gemas. Lantas, ia mengelus perut Wulan.


"Iya, Tante. Hamil kembar," balas Rio dengan bangganya, ia memegangi dada.


"Wah ... pasti lucu, Tante jadi ingin punya cucu." Wajah Gita mendadak menjadi murung, ia tampak sedih. Wajar saja, ia sama sekali belum merasakan bahagianya mengendong cucu.


"Kenapa Tante sedih? Nanti juga Tante akan punya cucu kalau Kak Rizky menikah," balas Rio.


"Oh iya, ngomong-ngomong soal menikah. Rizky akan--"


"Ah Rio," sela Rizky menyerobot ucapan ibunya. Ia seakan mengerti apa yang akan Gita ucapankan. "Maafkan gue masalah meeting kita di Restoran."


"Kok Kakak minta maaf? Memangnya Kakak salah apa?" tanya Rio binggung. Ia tak tau jika rencana Mawan, Rizky ikut andil didalam sana.


"Mungkin semua gara-gara gue, jika aja gue nggak ngajak lu meeting di Restoran, lu pasti nggak akan masuk rumah sakit," keluhnya.

__ADS_1


Rio makin binggung dengan maksud ucapan dari Rizky. Ia menatap pria dewasa itu dengan serius.


Jangan lupa like 💕


__ADS_2