
Kawasan 18+, yang tidak suka dan masih di bawah umur boleh di skip...
***
Reymond memeluk tubuh polos istrinya dan menempelkan punggung Indah pada sisi tembok di atas shower, air itu membasahi tubuh mereka berdua. Membuat di bawah sana berdenyut dan memberontak, rugi jika kesempatan seperti ini Reymond sia-siakan. Tentunya tidak.
"Sayang, kita lakukan tugas negara lagi," pinta Reymond.
Belum dapat persetujuan dari Indah dia langsung mengangkat satu kaki istrinya kearah bahunya, miliknya sudah dia usap-usap dan memandunya untuk masuk.
Bres.....
"Yes!"
"Aaaahhhh ..." Desis Indah pelan.
Reymond menghentakkan miliknya secara perlahan, kedua tangannya meremas gunung kembar itu dan bibirnya menciumi Indah. Begitu lembut dan mesra, keduanya saling menikmati permainan itu.
Sementara itu, Harun sudah datang di depan apartemen Maya bersama Hersa. Dia membawa bungkusan berisi pesanan dari Reymond dan memencet bel.
Ting ... Tong.
Ting ... Tong.
Tapi yang berada di dalam masih sibuk dengan aktivitasnya, mereka tidak mendengarkan suara bel pintu. Mereka sudah beralih keatas kasur, tubuh Reymond sudah menghimpit Indah dan memompa miliknya maju-mundur, sampai keduanya saling mendesah bersama.
"Aaaahhhh ..."
"Aaaarrrggghhhh ..."
Keluar sudah secara bersamaan, membuat rasa emosi di dada Reymond luntur sejenak. Dia memuntahkan miliknya ke dalam tubuh Indah, tidak ingin menyisakan sedikitpun.
"Aku mencintaimu sayang .... Sampai kapanpun dan selamanya .... Kau hanya istriku .... Dan milikku," ucap Reymond dengan nafas yang tersengal-sengal, tangan Indah menghapus keringat pada dahi suaminya.
"Aku juga mencintaimu, Mas .... Aku hanya milikmu," jawab Indah.
Cup..... Mereka kembali berciuman.
Yang di luar bahkan berdiri dengan kaki yang kesemutan, Harun memencet bel pintu lagi.
Ting ... Tong.
"Salah alamat, tidak?" tanya Hersa yang berada di samping Harun.
"Sepertinya tidak, Sa. Pak Reymond mengirim alamat di apartemen ini." Dia kembali memperhatikan layar ponselnya, melihat benar atau tidak posisinya sekarang.
__ADS_1
"Aku telepon Pak Reymond dulu," lanjut Harun seraya menelepon.
Pertama di telepon tidak di angkat, ke dua kali sama saja, namun untuk ketiga kalinya baru di angkat.
"Hei Harun! Kau kemana?! Belikan soto dan obat saja lama sekali! Kau tidak tahu istriku kelaparan!" pekik Reymond dengan lantang, padahal dia sendiri yang susah di hubungi dari tadi, kenapa dia yang marah-marah?
"Pak Reymond, saya ada di depan."
"Kenapa tidak memencet bel? Kau memang tidak lihat di depan ada bel?!"
Tut ... Tut ... Tut.
Sambungannya langsung di putuskan oleh Reymond, dan beberapa menit dia membuka pintu.
Ceklek....
Harun sudah menelan saliva nya begitu kasar, dia sudah bersiap melihat wajah Reymond, walaupun wajahnya berbeda, tapi sifat dan kelakuannya tetaplah Rendi.
Reymond membuka pintu dengan wajah berseri-seri, tidak ada wajah yang tertekuk lagi sekarang. Sudah rapih memakai kemeja dan celana dengan rambut basah.
"Mana berikan padaku," tangannya sudah terulur.
Harun memberikan semua, 3 bungkusan dari tangannya ke tangan Reymond. "Kalian masuklah ke dalam. Aku ingin bicara juga," ajak Reymond.
Meraka berdua masuk ke dalam apartemen Maya dan mendudukkan dirinya di atas sofa. Sementara Reymond masuk ke dalam kamar, membawa bungkusan dan mangkuk beserta sendok. Indah sudah duduk di sisi tempat tidur, lagi-lagi tempat tidur orang jadi sasaran nafsu mereka.
Reymond tersenyum seraya membuka bungkusan soto di atas mangkuk.
"Ini bukan apartemenku sayang, ini apartemen Maya."
Deg....
Mata Indah terbelalak, "Maya? Maya siapa?"
"Maya teman kamulah," sahutnya dengan santai.
"Kamu kenal dia, Mas? Bukannya kamu dan dia hanya bertemu sekali pada saat wawancara?! Kok kamu bisa tahu apartemennya juga? Jangan bilang kamu dan dia punya hubungan!" seru Indah menuduh, sekarang dia yang berbalik cemburu.
Reymond duduk di sampingnya dan mencium pipi, tangannya sudah memegang mangkuk soto ayam.
"Kamu ini bicara apa? Aku tidak pernah berselingkuh lagi. Aku sudah kapok! Maya adalah sekretaris ku sekarang."
"Sekretaris? Maya juga pernah bilang kerja di kantor Gumelang Grup, jadi itu kantornya Pak Rizky?"
"Iya sayang, ini makan dulu. Aku belikan soto untukmu," ucap Reymond menyerahkan, tapi Indah tidak mengambil dari tangannya.
__ADS_1
"Aku tidak mau, Mas. Aku tidak mau soto," tolak Indah.
"Kamu bukannya suka dengan soto ayam? Aku sudah cicipi tadi. Rasanya enak, coba dulu." Reymond sudah menyendok kan satu sendok kuah soto, tapi Indah menggelengkan kepala.
"Aku tidak mau, perutku sakit. Mas," ucap Indah sambil meringgis dan memegangi perut.
Tangan Reymond mengelus perut Indah, "Sakit itu karena kamu belum makan dari pagi. Aku juga beli obat untukmu, kau makan dulu. Habis itu minum obat."
"Tapi aku pengen nasi goreng, Mas. Kau tahu tidak? Tadi pagi aku sudah coba untuk membuatnya, tapi aku gagal. Aku sedih sekali," tutur Indah dengan sendu.
Reymond meletakkan soto itu di atas meja.
Dia memeluk tubuh Indah dan mencium kening. "Kamu juga, ngapain buat nasi goreng? Kan bisa beli saja. Atau minta di buatkan sama Bibi."
Reymond membuka salep yang Harun beli, jarinya mencolek dan mengusapkan secara perlahan pada punggung tangan istrinya.
"Aku 'kan ingin belajar Mas, aku juga pengen bisa masak."
"Kalau belajar ya harus di dampingi sayang. Jangan turun tangan sendiri, jangan buat bahaya diri sendiri," ucap Reymond dengan penuh perhatian.
"Jadi mau soto nggak? Habis makan kamu minum obat." Reymond kembali mengambil mangkuk soto itu, menawarinya lagi.
Indah menatap dalam pada Reymond. "Kamu 'kan tadi dengar. Aku mau nasi goreng!"
"Tapi ini sudah siang, lagian makan nasi goreng siang-siang begini perut kamu jadi panas nanti. Bukannya tadi bilang sakit perut?"
Indah melepaskan tangan Reymond dari bahunya dan bangun. "Ya sudah, aku mau pulang saja kalau begitu." wajahnya terlihat marah.
Reymond menarik tangan Indah untuk duduk di pangkuannya, "Ya sudah. Aku pesankan nasi goreng untukmu, tapi kau harus minum obat dulu ya?"
Mangkuk soto kembali di taruh di atas meja, tangannya mengambil satu biji obat magh dalam bentuk kaplet dan memberikan air minum pada gelas.
Indah menurut, karena perutnya juga terasa sakit dan kram. Obat itu berhasil masuk terdorong oleh air.
Reymond mengusap bibir istrinya sisa air tadi. "Tapi, Mas. Aku mau nasi goreng buatan Mbak Melly," rengek Indah.
Kepala Reymond menggeleng. "Kamu tahu 'kan Melly kerja jadi sekretaris?"
"Tau."
"Lalu kenapa kamu meminta Melly membuat nasi goreng? Dia juga sekarang bukan sekretaris ku sayang. Dia sekretaris Rio."
"Aku tidak minta di buatkan, Mas. Tapi aku bilang mau nasi goreng buatan Mbak Melly!" Indah mengulang ucapannya lagi.
Apa sih maksudnya? Kenapa Indah berbicara berputar-putar? Aku pusing sayang.
__ADS_1
Batin Reymond.