
Mereka membawanya langsung masuk kedalam ruang UGD, karena Dokter akan memeriksa kecocokan ginjal Clara dengan beberapa ginjal yang ada di rumah sakit itu.
Selang beberapa menit, keluarlah seorang Dokter dengan mengenakan pakaian operasi tertutup rapat dari ruang UGD. Ia menghampiri Wulan, Wahyu dan Dido yang tengah bangun dari duduknya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Wahyu dengan wajah penuh harap.
"Alhamdulilah, ada ginjal yang cocok, Pak. Saya mohon untuk pihak keluarga segera urus biaya administrasinya, kami akan melakukan operasi pada Nona Clara," terang Dokter.
"Alhamdulilah," ucap Wahyu dan Wulan secara bersamaan.
"Biayanya bagaimana, Wulan? Tabungan Ayah belum cukup." Wahyu menoleh kearah anaknya dengan tatapan sendu.
"Masalah biaya Om tenang saja, Dido yang mengurusnya," ucap Dido.
Wahyu langsung memeluk tubuh Dido dan mengelus punggungnya.
"Terima kasih, Dido. Nanti Om akan menggantinya."
"Om tidak perlu memikirkan masalah itu." Dido melepaskan pelukannya, "Yasudah, kita langsung ke resepsionis depan. Om yang jadi walinya Clara, kita urus biar dia cepat di operasi."
Wahyu mengangguk pelan. "Iya."
Dido dan Wahyu melangkahkan kakinya menuju lobby rumah sakit.
Sedangkan Wulan ikut mengantar Clara yang dipindahkan pada ruang operasi. Hati dan pikirannya begitu tak tenang, karena terselimuti rasa takut tentang keadaan Adiknya. Namun ia tak pernah berhenti untuk terus berdo'a.
Semoga saja operasinya berjalan lancar, aku ingin Clara sembuh dan menikmati masa-masa kecilnya dengan bahagia.
Kakak sayang kamu, Clara.
Batin Wulan.
***
Di tempat yang berbeda, Rio begitu kesal dan sedih. Ia sama sekali tidak bisa membujuk Ayahnya untuk menuruti permintaannya. Mawan pikir permintaan Rio begitu konyol dan membuatnya geram. Jadi lebih baik ia meninggalkan Rio untuk pergi meeting, karena memang dia orang yang super sibuk.
Ting~
Bunyi pintu lift itu terbuka, Rio yang berada didalam melangkahkan kakinya keluar dan berjalan menuju lobby.
Ada seorang wanita berpakaian rapih, menghampiri beberapa orang yang tengah duduk dengan berjejer di kursi lobby. Mereka adalah orang-orang yang akan melamar pekerjaan.
"Mana yang namanya Wulan Priyanka? Dia di panggil sama Pak HRD," ungkap wanita itu seraya menatap wajah-wajah para pelamar kerja.
Deg~
Langkah kaki yang hendak keluar dari pintu utama itu terhenti kala mendengar nama tersebut. Segera Rio berbalik badan dan menghampiri wanita itu.
"Siapa tadi yang kau sebutkan namanya?" Rio memastikan lagi, takutnya ia salah dengar.
"Eh ... Pak Rio, Bapak ada disini." Wanita itu mengangguk sopan.
__ADS_1
Rio melihat papan nama wanita itu pada dada sebelah kanannya.
"Dessy, kau Dessy? Tadi aku tanya padamu siapa nama yang kau sebutkan? Jawab!" Ia mengulang lagi pertanyaannya dengan wajah sedikit kesal.
"Wu-wulan Priyanka, Pak."
Deg~
Mata Rio membulat sempurna, ia langsung menoleh kearah orang-orang yang masih duduk dengan rapih. Tapi dia tidak menemukan wajah yang ia cari.
Kembali Rio melihat kearah Dessy. "Coba aku lihat surat lamaran yang namanya Wulan Priyanka tadi." Tangannya sudah menadah kedepan wanita itu.
"Sebentar, Pak. Saya ambil dulu pada ruangan HRD."
Dessy baru melangkah beberapa menuju ruangan HRD, namun tampaknya Rio begitu tidak sabar. Ia sampai menyerobot masuk kedalam ruangan itu dan bertemu pria berkumis.
"Mana surat lamaran yang bernama Wulan Priyanka, cepat berikan padaku!" ucap Rio memaksa, kakinya berjalan mendekati meja yang tengah pria itu duduk.
"Pak Rio ... selamat pagi, Pak." HRD itu langsung bangun dari duduknya.
"Cepat berikan padaku bodoh!" pekiknya seraya menadah tangan.
Pria itu segera mencari-cari map coklat milik Wulan, lalu diserahkan pada Rio yang sudah kelabakan karena tak sabar.
Rio langsung merobek map coklat itu untuk melihat isinya, matanya membulat sempurna kala melihat izasah SMA. Ada rona merah pada pipinya, merasa senang dan lagi-lagi menemukan titik terang tentang keberadaan Wulan.
"Dimana wanita ini sekarang?" tanya Rio pada Dessy dan pria itu.
"Cepat cari! Cari dia pada seluruh kantor ini! Pokonya seluruh tempat!" titah Rio seraya menyodorkan ijazah milik Wulan pada Dessy.
Dessy dan pria berkumis langsung keluar dari ruangan itu, mencari keberadaan Wulan yang Rio kira masih ada disekitar kantor.
Rio mendudukkan bokongnya pada sofa, tangannya merogoh ponsel pada saku jas untuk menelepon anak buahnya.
"Halo, siang Bos," sapa pria diseberang sana.
"Poster istriku, apa sudah kalian tempel?"
"Sudah, Bos. Sesuai perintah Bos Rio."
"Apa masih ada sisa?"
"Tidak ada, semuanya sudah saya tempel pada lokasi yang Bos Rio perintahkan."
"Aku ingin kau perbanyak lagi poster itu dan tempel didekat beberapa kantor besar, bila perlu pada seluruh kota Jakarta. Biar semua orang tau istriku hilang!" titah Rio.
"Baik, Bos. Sekarang juga ... saya akan melakukan semua yang Bos Rio perintahkan."
Kapan Wulan kesini kira-kira?! Kenapa aku tidak bertemu dengannya?
Batin Rio.
__ADS_1
Seusai menelepon, tak lama ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan itu.
Tok ... tok ... tok.
"Masuk!"
Ceklek~
Dua orang satpam masuk dan menghampiri Rio yang tengah duduk di sofa. Rio menatap nanar pada kedua orang didepannya.
"Ada apa?" tanya Rio.
"Saya tadi sempat melihat wanita yang bernama Wulan, Pak," ucap salah satu satpam itu.
Deg~
Rio membulatkan kedua matanya, ia segera berdiri.
"Dimana?"
"Tadi pagi dia melamar kerja, tapi tak lama dia pergi dari kantor ini, Pak. Dia seperti buru-buru," jelas sang satpam.
Buru-buru? Apa dia sengaja menghindariku? Tapi kenapa Wulan melamar kerja di kantor Papah?
Rio terdiam sejenak, berusaha untuk mencerna apa yang ada dalam otaknya.
Apa jangan-jangan ... dia awalnya ingin melamar kerja karena tidak tau ini adalah kantor Papah? Dan saat dia melihatku, dia langsung berlalu pergi karena tak ingin aku menemukannya, apa mungkin begitu?
Apa mungkin dia akan kembali kesini dan melamar pekerjaan lagi? Ah rasanya tidak mungkin. Dia pasti sudah tau ini kantor Papah.
Tapi kenapa dia melamar kerja? Apa uang dariku tidak cukup untuk biaya hidupnya selama tinggal dengan Ayah?
Apa aku harus kirim uang lagi padanya?
Ah ngapain! Biarkan saja dia kekurangan uang, biar dia mencariku dan meminta tolong padaku.
Tapikan dia sedang marah sekarang? Ah nggak tau deh, pusing aku!
Batin Rio sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Kedua satpam itu melayangkan pandangan dan geleng-geleng kepala.
"Apa kau tau dia pergi kemana saat keluar dari kantor ini?" tanya Rio.
"Tidak, Pak. Saya tidak memperhatikannya."
Menurut Rio penjelasan dari satpam itu cukup. Ia segera keluar dari ruangan dan keluar dari kantor.
Kedua matanya mencari keberadaan Dido yang tak nampak batang hidungnya, bahkan mobilnya saja tidak ada pada halaman depan kantor. Ia memang ke kantor Mawan bersama Dido tadi.
Rio kembali membuka ponsel yang masih dipegang oleh tangannya, ia langsung menelepon Dido.
__ADS_1
^^^Kata: 1035^^^