Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
94. Mandi secepat kilat


__ADS_3

Indah terbangun kerena satu jari yang menyusup masuk pada milik nya, dan mengelus-ngelus di sana. Dia membelalakkan mata, dan melihat sisi samping. Siapa lagi kalau bukan si mesum Rendi


"Mas... Geli..." Desahnya, menggeliat.


Cup.... Rendi mencium pipi, "Main lagi, yuk! Semalam seru dengar kamu desah-desah!" ajak Rendi tak tahu malu dengan seringainya mesum yang tampak jelas di wajah Rendi.


"Tidak! Aku capek!" jawab Indah cepat. Rendi tertawa dan menowel pipi yang merona, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Capek tapi enak, ya?" seru Rendi berbisik dan membuat Indah bersemu serta memukul dada Rendi yang tak memakai baju.


Drettt.... Drettt.... Bunyi getaran dari ponsel Indah yang bertuliskan nama MAYA.


Indah langsung mengangkatnya.


"Halo Indah, kamu jangan lupa ya. Hari ini kita ada wawancara di kantor Prasetyo Grup jam 9 pagi."


"Iya May."


"Ya sudah kita ketemu di kantornya jam 8:30."


"Oke May." Sahutnya menutup telepon.


Rendi membelai rambut Indah, "Siapa sayang?" tanyanya.


"Maya Mas, aku lupa hari ini ada wawancara. Ini sudah jam 8. Bagaimana ini?" tutur Indah panik dan memperlihatkan jam di ponselnya.


Mata Rendi langsung melotot, dia dengan cepat membopong tubuh Indah yang sama-sama masih polos. "Oke kita mandi sekarang sayang, secepat kilat." Ucapnya ngibrit ke kamar mandi.


Rendi langsung menyalakan kram air dan menyirami tubuhnya dengan Indah secara bersama. "Mas... Baju gantinya bagaimana?" tanya Indah karena memang mereka tidak niat menginap.


Rendi meraih sabun dan menyabuni tubuh Indah dengan sentuhan nakalnya, "Tenang sayang. Semua sudah beres. Kau tinggal mandi saja yang bersih." Tutur Rendi.


***


Mereka beneran mandi seperti mandi ular, benar-benar kilat. Tapi bersih kok, tidak lupa gosok gigi dan keramas juga.


Indah membuka koper yang memang sudah di kirim oleh Dion, dia memilih baju dan memakainya, "Mas blazer sama kartu nama mahasiswaku nggak ada bagaimana ini? Masa aku cuma pakai kaos pas wawancara?" tanya Indah yang seperti cacing kepanasan.


"Nanti nyusul sayang aku suruh Dion...." Sahut Rendi yang juga sibuk memakai pakaian.


"Laptopnya bagaimana? Haduh... Mas." Eluhnya .


"Tenang sayang semuanya nyusul. Ayok berangkat." Ajak Rendi yang sudah memegang gagang pintu.


Indah menyisir rambutnya sambil jalan. Tapi sebelum berangkat Rendi membeli roti dan air mineral di warung samping kontrakan.

__ADS_1


Ada bapak yang punya kontrakan juga, Rendi berkata. "Pak, itu kontrakan masih berantakan dan masih ada barang-barang saya. Nanti biar asisten saya ya yang membereskan." Tutur Rendi, karena kan dia meminta untuk menginap satu malam.


"Iya Pak." Sahut Bapak itu.


Rendi menaiki mobil bersama Indah, dia juga memberikan sebungkus makanan tadi. "Makan sayang... Buat mengganjal perut." Ucapnya penuh perhatian.


Indah mengangguk dan membukanya, "Aaaaa Mas..." Ujar Indah yang ikut ternganga menyuapi Rendi.


"Aaammmm..." Gumam Rendi menerima suapan dari Indah.


"Maafin aku yang tidak tahan ingin tempur, kamu jadi kesiangan." Tuturnya sambil menyetir.


"Nggak apa-apa Mas." Sahutnya santai sambil mengunyah roti.


S


K


I


P


Sampainya mereka di barengi oleh Dion dan juga Maya yang menunggu kedatangan Indah. Indah langsung pamit dan masuk ke kantor Prasetyo Grup, tidak lupa Rendi memberinya semanggat dan kecupan mesra.


"Sudah Pak, saya sudah menarik semua dana." Sahutnya membungkuk.


"Om Andra ada di kantor tadi?" tanya Rendi penasaran.


"Tidak ada Pak. Saya ketemu sama asistennya saja."


"Kemana dia ya? Dari semalam aku cari, tidak ketemu, dia seperti menghindari ku." Rendi mendengkus kesal.


"Maaf. Bapak ada masalah memangnya sama beliau?" tanya Dion.


Rendi menenggok kearah cafe sebelah kantor. "Kita ngopi di sana dan ngobrol, aku juga lapar." Ujar Rendi menunjuk dengan gerakan kepala, Rendi berjalan di ikuti oleh Dion.


Mereka memesan kopi dan sandwich. "Dion aku mau tanya, bagaimana menurutmu tentang Om Andra?"


"Maksudnya Pak?"


"Iya, aku juga binggung. Kau pikir saja, kemaren dia bertemu dengan Indah di cafe, ah mungkin kau tau juga. Kau menjemputnya kan?"


"Iya Pak, lalu kenapa memangnya?"


Rendi mengigit sandwich itu dan mengunyahnya, "Masa dia menghasut Indah, dia bilang aku masih berhubungan dengan Siska. Gila nggak tuh." Tuturnya sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Itu bukan menghasut tapi sudah fitnah Pak."


Rendi mengangguk. "Iya Dion kau benar, dia juga bilang kalau aku tidak benar-benar mencintai istriku. Coba kau pikir dimana akal sehatnya?" ujarnya menunjuk dahinya sendiri.


"Pak, Bapak sebaiknya hati-hati dengan Pak Andra. Eemmm maaf, bukan maksud saya berburuk sangka padanya, cuma saya takut saja dia punya niat jahat dengan rumah tangga Bapak." Tutur Dion.


Rendi menelan salivanya dengan kasar, memang ada benarnya yang di katakan Dion. Rendi mulai sekarang harus waspada padanya, nyawa rumah tangganya merasa terancam.


"Lalu menurutmu aku harus bagaimana? Apa aku harus menemani Indah kemanapun dia pergi?" tanya Rendi.


"Kalau sempat iya, kalau tidak Bapak kan bisa menyuruh saya atau Pak Harun."


"Apa aku perlu cari bodyguard buat dia? Takutnya Om Andra macam-macam padanya, kau tahukan betapa mesumnya dia."


"Ide bagus Pak, nanti coba saya carikan."


Rendi mengangguk.


☘️☘️☘️


Tok... Tok... Bunyi suara ketukan pintu dari ruangan Rendi.


"Masuk." Sahutnya dari dalam. Andra dan asistennya berjalan memasuki ruangan Rendi dan ia duduk di depan.


Muncul juga batang hidungnya.


Batin Rendi.


"Ren.... Anton bilang kau menarik semua dana di kantor, ada apa memangnya?" tanya Andra pura-pura bego, wajah Rendi begitu sangat masam. "Oh iya, maafkan Om ya, dari kemaren sore tidak mengangkat telepon mu. Om sedang sibuk, Riana juga bilang kau datang ke rumah bersama Indah." Tuturnya, benar-benar sangat basa-basi.


"Kau keluar." Seru Rendi menatap tajam ke arah Anton, dia langsung keluar dari ruangan itu.


Rendi menarik punggungnya yang sejak tadi senderan di kursi. "Langsung saja Om, apa maksud Om menghasut Indah?" tanyanya.


"Menghasut? Om tidak menghasut dia Ren." Sahut Andra dengan santai.


"Kalau bukan menghasut lalu apa? Om bilang aku tidak beneran mencintainya, tau apa Om tentang hati Rendi?" tanya Rendi dengan dagu yang sedikit terangkat.


Andra menghela nafasnya dan memiringkan bibir. Expresi yang sama seperti ngobrol dengan Indah. "Ya Om kan tau kamu susah sekali membuka hati untuk wanita lain, lagian Om sebenarnya tak suka pada istrimu!"


Mata Rendi terbelalak. "Tidak suka?"


"Memang kenapa? Apa salahnya? Mau Om suka ataupun tidak suka apa itu penting?" tanya Rendi dengan tatapan nyalang.


^^^🌾To be continue🌾^^^

__ADS_1


__ADS_2