
Ia menenteng tiga kotak nasi goreng dan parsel buah didalam plastik. Sengaja untuk bisa sarapan bersama mereka.
Namun saat datang didepan ruang operasi Clara, tidak ada siapapun disana. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari Wulan dan Wahyu. Tapi mereka tidak ada.
Ada seorang Suster lewat, Dido langsung memanggilnya.
"Suster!"
Suster itu menoleh dan mendekati Dido.
"Ada apa, Pak?"
"Keluarga dari pasien yang bernama Clara Priyanka dimana ya, Sus? Kok tidak ada disini?" Dido menoleh sekilas pada ruang operasi dan kembali melihat kearah Suster didepannya.
"Oh Clara yang habis di operasi ya, Pak?" tebak Suster.
Dido mengangguk cepat. "Benar, Sus."
"Dia sudah dipindahkan pada kamar inap khusus anak. Mari Bapak ikut saya."
Suster itu mengajak Dido untuk menaiki lift, karena kamar khusus anak ada di lantai dua.
Ting~
Setelah sampai, Suster kembali mengajak Dido sampai didepan kamar VVIP nomor 80. Tepat didepan mereka berdiri sekarang. Kamar itu sendiri sudah dibayar oleh Santi, lunas sampai Clara sembuh dan keluar dari rumah sakit.
Namun biaya operasi, Wulan menolaknya dengan sangat keras, karena biaya itu juga sudah dibayar oleh Dido. Ya ... walau Wulan menganggapnya hutang. Tapi setidaknya, dia tak ingin terus merepotkan orang lain. Termasuk mertuanya sendiri.
"Itu ruangannya, Pak," ucap Suster seraya menunjuk dengan ibu jarinya.
"Iya, Sus. Terima kasih."
Sepeninggal Suster, Dido buru-buru masuk kedalam ruangan itu.
Ceklek~
Sayang sekali, hanya ada Wahyu dan Clara disana. Clara sedang berbaring dengan mata terpejam. Hidung dan mulutnya terpasang ventilator. Punggung tangannya dipasang selang infus dan ujung telunjuknya sudah dijepit oleh pulse oxymetry.
Sedangkan Wahyu, ia tengah duduk di sofa dan langsung menoleh ketika Dido membuka pintu. Wajahnya begitu suram dengan mata yang sayu kurang tidur.
Namun ia masih bisa tersenyum lebar, menyambut kedatangan Dido yang baru saja masuk.
"Dido, kamu pagi-pagi kesini?"
"Iya, Om. Eemmm selamat pagi." Dido melangkah maju, menghampiri Wahyu yang tengah duduk di sofa.
"Pagi, Dido."
"Wulan dimana Om?" tanya Dido dengan mata yang mengelilingi ruangan itu.
"Dia pergi melamar kerja."
__ADS_1
"Melamar kerja? Kerja dimana Om?"
"Om juga belum tau, cuma kata dia mau cari dulu. Semoga saja langsung keterima kerja."
"Iya mudah-mudahan ya, Om." Dido melemparkan senyuman hangat pada Wahyu.
Sepertinya kemarin Wulan ingin melamar kerja di kantor Pak Mawan. Tapi kayaknya dia baru sadar kalau itu kantor Pak Mawan, lalu tidak jadi kerja disana.
Atau mungkin dia sempat melihat Pak Rio, mangkanya dia keluar buru-buru? Kalau memang iya ... bagus juga. Jadi hanya aku yang bertemu dengannya saja.
Wahyu merasa aneh dengan Dido yang sedari tadi mengangguk-angguk dan senyum-senyum sendiri. Pria berkumis tipis itu juga masih berdiri didepannya.
"Dido."
"Ah iya, Om." Dido langsung menepis semua yang ada di otaknya.
"Kenapa diam saja. Sini duduk." Wahyu menepuk sofa sebelah yang ia duduki.
"Iya, Om. Oya ... ini aku bawa sarapan." Dido menunjuk tentengan pada tangannya. "Apa Om sudah sarapan?"
"Belum."
"Yasudah, kita sarapan bersama. Kebetulan aku juga belum sarapan." Dido menaruh apa yang ia bawa diatas meja didepan sofa, kemudian duduk bersebelahan dengan Wahyu.
"Terima kasih, Dido. Om tidak menyangka kamu masih bersikap baik pada Wulan. Padahal kalian sudah putus."
"Sama-sama, Om." Dido memberikan satu kotak nasi goreng pada Wahyu dan mereka langsung menyantapnya bersama.
"Alhamdulilah, operasinya berjalan dengan lancar. Tinggal tunggu dia siuman."
"Syukurlah kalau begitu, Om. Aku ikut bahagia," ucap Dido.
Ia kembali tersenyum dan melanjutkan sarapannya.
Kira-kira Om Wahyu tau penyebab aku putus dengan Wulan tidak, ya? Tapi sikapnya masih hangat padaku. Apa mungkin Wulan tidak cerita padanya?
Batin Dido.
"Kata Wulan kamu kerja jadi asistennya Rio suaminya, Wulan? Sudah lama kamu kerja dengannya?" tanya Wahyu ketika sudah menyelesaikan sarapannya.
"Iya, benar Om. Baru sebulan sih, Om."
"Oh. Tapi Om harap, kamu bisa jaga jarak dengan Wulan, ya? Walau bagaimanapun Wulan masih istrinya Rio dan dia juga bos kamu," tegur Wahyu.
Niatku ingin mendekatinya lagi, Om.
Batin Dido.
"Iya, Om. Eemm ... apa Om tau Wulan dan Pak Rio sedang berantem?" sepertinya Dido memang sengaja bertanya mengenai masalah Rio. Entah karena penasaran atau punya maksud lain.
"Iya tau."
__ADS_1
"Aku tau kok, alasan mereka berantem. Malahan aku lihat sendiri saat Wulan memutuskan untuk pergi meninggalkan Pak Rio di rumah sakit," terang Dido.
Deg~
Mata Wahyu langsung membelalak, ia menatap wajah Dido begitu serius.
"Mereka berantem dan Wulan meninggalkan Rio? Memang masalahnya apa? Apa kamu juga tau, Dido?"
"Memang Wulan tidak cerita pada Om?" Dido sengaja berbalik tanya, supaya Wahyu makin penasaran.
"Tidak, mangkanya Om tanya padamu. Apa kamu tau sesuatu?"
Dido tersenyum dan membenarkan posisi duduknya senyaman mungkin.
"Aku tidak tau awal mulanya, sih. Tapi yang aku tangkap pas mereka berantem ... Pak Rio seperti terpaksa menikahi Wulan. Kayaknya gara-gara masalah uang. Wulan juga menyebutkan uang 20 juta yang Pak Rio berikan tapi tidak ikhlas. Menurutku Pak Rio seperti tidak mencintai dan menyukai Wulan, Om. Malahan ya ... sekitar seminggu yang lalu, dia ingin menceraikan Wulan dengan cara memintaku untuk kembali bersamanya."
"Memintamu untuk kembali bersamanya, apa maksudnya?"
"Iya ... sepertinya Bu Santi memang tidak ingin Pak Rio dan Wulan bercerai. Tapi Pak Rionya sendiri yang menginginkan hal itu. Mangkanya dia menyuruhku untuk kembali bersama Wulan. Kira-kira begini ceritanya ...."
...{Flashback On}...
Beberapa Minggu yang lalu.
Setelah Rio tersadar apa yang telah ia perbuat pada Dido, ia merasa tindakannya itu salah. Harusnya ia senang melihat Dido masih mencintai Wulan, itu tandanya ia bisa melepaskan istrinya dengan bantuan Dido.
Segera Rio putar balik mobilnya dan menghampiri Dido disisi jalan. Ia menurunkan kaca mobilnya.
"Masuk kau!" titahnya berteriak.
Dido merasa binggung dan kaget melihat Rio yang balik lagi memintanya untuk masuk kedalam, jelas sekali tadi bosnya sangat marah hingga membuat pipi sebelahnya merah terkena tonjokan keras.
Tapi ia lebih memilih pasrah, Dido masuk dan duduk disebelah Rio yang menyetir mobil.
"Maafkan saya, Pak. Jangan pecat saya," lirihnya dengan wajah memelas.
Rio tersenyum miring dan menoleh sekilas pada asistennya. "Aku tidak akan memecatmu. Tapi kau harus membantuku!"
"Membantu apa, Pak?"
"Tadi kau bilang masih mencintai Wulan, kan?" Rio memastikan lagi, pria itu sungguh-sungguh mencintai istrinya atau hanya pura-pura.
Dido mengangguk cepat. "Iya, benar Pak."
"Aku akan mendukungmu untuk bisa kembali bersama Wulan."
Deg~
Senyum pada bibir Dido langsung mengembang dengan jelas. "Benarkah? Bapak serius?"
^^^Kata: 1024^^^
__ADS_1