Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 62. Peringatan pertama dan terakhir


__ADS_3

"Iya," sahut Rio singkat


"Tapi ... bukannya dia adalah istri Bapak? Memangnya Bapak rela ada pria yang mencintai istri Bapak?" tanya Dido masih ragu dengan ucapan Rio barusan.


"Kenapa aku harus tidak rela? Kau pikir aku mencintainya?" Rio tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Tidak Dido, aku sama sekali tidak mencintai wanita pembawa sial itu!' umpatnya kesal.


Deg~


Pembawa sial? Segitu bencinya 'kah Pak Rio, sampai mengatakan hal itu?


Batin Dido termangu, mendengar umpatan yang keluar dengan enteng pada mulut bosnya.


"Lalu saya harus bantu Pak Rio apa sekarang?"


"Sekarang kita ke rumah Ibuku. Aku akan bilang, kalau kau dan Wulan saling mencintai dan aku akan menceraikannya."


Bola mata Dido langsung berbinar. "Benarkah? Bapak ingin menceraikan, Wulan?"


"Iya."


"Nanti disana saya harus bicara apa supaya membantu Bapak?"


"Tidak perlu bicara apapun, kau hanya diam saja. Biar aku yang bicara pada Ibuku," sahut Rio dengan semangat.


...{Flashback Off}...


Mendengarkan cerita dari Dido, sungguh membuat hati Wahyu bak teriris oleh sayatan pisau yang tajam. Dadanya terasa nyeri dan sakit, bola matanya kini berkaca-kaca. Ia seakan mengerti kalau pernikahan Wulan yang ia anggap bahagia, justru sebaliknya. Wulan menderita dengan pernikahannya.


"Tapi kamu tidak bohong sama Om, kan? Kamu berkata jujur?" Wahyu menatap lekat mata Dido, dari manik mata pria berkumis tipis itu terlihat begitu jujur. Ya ... memang semua itu benar adanya.


"Aku tidak berbohong, Om. Aku jujur dan semua atas permintaan dari Pak Rio. Tapi sayangnya saat itu Bu Santi melarang mereka untuk bercerai. Jadi Pak Rio mengulurkan niatnya. Tapi niat itu tetap ada, Om. Pak Rio tetap bersikeras ingin bercerai dengan Wulan."


"Apa mungkin pas kemarin mereka berantem, ada hubungan dengan masalah yang tadi kamu ceritakan?"


"Sepertinya memang iya, Wulan juga bilang kalau Pak Rio ingin bercerai, dia sudah siap lahir dan bathin, Om."


"Sikap Pak Rio pada Wulan juga terlihat begitu kasar, Om. Dia tidak ada lembut-lembutnya sama sekali pada Wulan. Aku yang melihatnya saja sampai kasihan ...," tambahnya lagi dengan wajah sendu.


Wahyu menyandarkan punggungnya pada back pillow sofa. Ia memijit dahinya yang mendadak terasa pening.


Apa benar yang di ucapkan Dido? Nanti aku akan tanya pada Wulan setelah dia pulang kerja. Aku tak mau melihat anakku menderita, apalagi disakiti oleh pria yang menjadi suaminya. Dia sudah cukup menderita selama ini, aku ingin Wulan bahagia.


Batin Wahyu.


Setelah berhasil menceritakan semuanya, Dido mengangkat bokongnya untuk pamit pulang.


"Yasudah, Om. Kalau begitu aku permisi, aku mau mengantar Pak Rio ke kantor."


Lamunan Wahyu buyar seketika. "Oh iya, terima kasih sudah menjenguk Clara. Kamu hati-hati di jalan."


"Iya, Om. Semoga Clara cepat sembuh."


"Amin."


Dido tersenyum dan membuka pintu kamar itu untuk berjalan keluar.

__ADS_1


Ceklek~


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Dido sudah berdiri tepat didepan halaman rumah Rio dan berhadapan dengan bosnya sekarang. Pria berkumis tipis itu melemparkan senyuman hangat, menatap wajah masam Rio.


"Selamat pagi, Pak Rio."


Bosnya tidak menjawab ataupun mengangguk, ia langsung masuk kedalam mobil. Dido juga ikut masuk dan duduk menyetir didepan, melajukan mobilnya.


Jujur, saat Rio membaca pesan dari Santi tadi pagi, ia sangat kesal pada Dido. Kenapa dia tidak memberitahu kalau Clara di operasi? Tapi inti dari semua itu, kenapa Dido tidak memberitahu kalau dirinya sudah bertemu dengan Wulan? Padahal ia juga tau kalau Rio sedang mencari keberadaan istrinya.


"Tidak, kita ke rumah sakit Sejahtera."


Deg~


Mata Dido membelalak. Ia mendadak sepertinya punya firasat buruk menimpanya. Tapi Dido berusaha bersikap tenang dan biasa saja.


"Dido, aku ingin tanya padamu. Tapi kau harus jujur padaku!"


Deg~


Untuk sejenak, jantung Dido seakan berhenti. Ia makin yakin kalau pertanyaan Rio kali ini mengenai Wulan dan Clara.


"Tanya apa, Pak?"


"Apa benar Clara di operasi?"


"Iya, Pak." Keringat pada pori-pori dahinya langsung mengalir secara perlahan menuju kedua pipinya.


"Apa Dokternya, orang yang sama dengan Dokter spesialis ginjal atas permintaanku?"


"Be-betul, Pak." Omongannya sampai terbata-bata.


"Kapan dia di operasi?"


"Kemarin."

__ADS_1


Rio menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.


"Berarti kemarin kau bertemu dengan Wulan?"


Deg~


"Tidak, Pak."


"Bohong!"


Dido langsung terdiam, ia kembali binggung untuk menjawab apa. Sebenarnya ia tak ingin Rio tau, tapi ia juga takut dipecat oleh bosnya.


"Kau pasti kemarin bertemu dengannya, kan? Ketemu dimana kau? Apa di kantor Papah? Kenapa kau tidak memberitahuku bodoh! Apa kau sengaja?!" cecar Rio bertubi-tubi.


"Iya, Pak. Saya bertemu dengan Wulan. Tapi maafkan saya ... saya tidak memberitahu Bapak karena saya punya alasan."


"Alasan?" Rio menarik alis matanya keatas. "Alasan apa?"


"Karena Wulan yang meminta saya, dia tak ingin bertemu dengan Bapak." Bukan, bukan meminta, justru Didolah yang menawarkan pada Wulan.


Deg~


Kalau kemarin-kemarin rasanya biasa saja, tapi berbeda dengan sekarang. Sudut hati kecilnya terasa sangat sakit dan dadanya terasa sesak. Lagi-lagi Rio hanya bisa termangu.


Apa segitu kesal dan marahnya Wulan padaku? sampai-sampai dia tak mau bertemu denganku, bahkan meminta Dido untuk tidak memberitahunya? Ya ... aku tau Dido mantan pacarnya, Dido sendiri bilang masih mencintai Wulan. Wajar kalau Dido menurutinya, tapi kenapa dadaku sangat sesak sekali? Apa jangan-jangan Wulan benar-benar masih menaruh hati padanya?


Apa lebih baik aku urungkan saja untuk menjemputnya kembali ke rumah? Nyatanya memang dia tidak ingin kembali padaku, kan?


Apa lebih baik aku ceraikan Wulan saja?


Rio langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Tidak, rasanya aku masih ingin dia melakukan tugasnya sebagai istriku. Aku ingin dia memandikanku, membuatkan nasi goreng untukku dan bercin-


Ah tidak-tidak. Soal itu tidak mungkin.


Aku akan tetap berusaha untuk menemuinya, terserah dia ingin menghindar atau tidak ingin bertemu denganku.


Setelah mobil Dido berhenti di halaman rumah sakit, Rio langsung menepis semua lamunannya. Ia keluar dari mobil dan mengetuk kaca mobil tepat di tempat Dido duduk.


Dido menurunkan kaca mobilnya dan melihat kearah Rio. Rio mendekat, kedua siku dan lengannya tertempel pada sisi jendela mobil.


"Aku hari ini tidak masuk ke kantor, kau urus saja semuanya, lagian hari ini tidak ada meeting penting."


"Baik, Pak."


Salah satu telapak tangan Rio dengan cepat menyanggah pada leher asistennya, seperti hendak mencekiknya. Spontan, perlakuan Rio membuat Dido terperanjat dan takut.


Sorot mata Rio benar-benar tajam menatap kearahnya, jangan lupakan sunggingan senyumnya juga. Benar-benar terlihat mengerikan dalam penglihatan Dido.


"Ini peringatan yang pertama dan terakhir! Jangan pernah mencoba mendekati, dan memandang mata istriku secara berlebihan, Dido!"


Deg~


^^^Kata: 1028^^^

__ADS_1


__ADS_2