
"Bayu uga Opa," sahut Bayu.
"Aku bahagia sekali, Pah. Aku bisa mengenal Papah. Tidak salah dulu aku sangat setuju Papah dan Mamah menikah, Papah benar-benar Ayah yang ....," Indah tidak jadi meneruskan ucapannya, dia mengingat ada Mawan juga disebelahnya, takut Mawan tersinggung dan sakit hati.
Wajah Mawan sudah ditekuk, tapi hatinya seperti tersayat-sayat. Dia teramat sedih, karena putri semata wayangnya jauh lebih sayang dengan Ayah tirinya dibanding dirinya sendiri. Tapi sedikit memaklumi saja, karena itu juga ulah Mawan sendiri, dia tidak bisa menyalahkan Indah. Karena dia juga tahu sifat anaknya bagaimana.
Mawan mengajak Indah dan Bayu pulang, mereka menaiki mobil yang di setir oleh Irwan.
Mawan duduk dibelakang, dengan anak dan cucunya. Indah masih sibuk bercanda dengan Bayu, hingga tidak menyadari betapa galaunya hati Mawan.
Mawan menoleh pada Indah seraya merangkulnya, "Sayang, apa kamu tidak sayang Papah?" tanya Mawan tiba-tiba.
Indah mendongak keatas melihat wajah Mawan yang sudah sendu.
"Memangnya aku pernah bilang kalau aku tidak sayang pada, Papah?" Indah berbalik bertanya.
Bibir Mawan mengecup kening Indah. "Tapi, Papah belum pernah dengar kamu mengatakan kalau kamu sayang dengan Papah. Yang selalu Papah dengar, kamu mengatakan. Kamu ben ....," Indah langsung menutup mulut Mawan dengan tangannya.
"Aku sayang Papah," ucap Indah.
"Tapi kamu seperti terpaksa bilang seperti itu pada Papah, berbeda dengan ketika kamu mengatakan pada Papah Antoni," ucap Mawan cemburu.
"Papah ini bicara apa? Aku sayang Papah juga kok. Tapi aku terkadang tidak suka dengan Papah yang suka marah-marah," ucap Indah.
Mawan menghela nafas dan mengusap lembut rambut Indah. "Kamu 'kan tau Papah orangnya emosian. Yasudah Papah minta maaf dengan masalah tadi pagi, kamu marah sama Papah?"
"Tidak, aku tidak marah kok. Tapi aku tidak mau bertemu lagi dengan Rio, Pah," jelas Indah.
"Kenapa? Gara-gara dia mengajakmu menikah? Kan memang harusnya begitu sayang."
Ah malas aku.
Batin Indah.
Mawan melihat jari jemari Indah yang tanpa cincin. Dia memegangi tangannya, "Cincin dari Rendi kamu lepas?"
"Rio yang melapaskannya, dia memintaku untuk memakai cincin pemberiannya. Tapi dia melakukannya dengan kasar. Aku tidak suka dengan caranya." Indah mendengkus kesal.
"Lalu dimana cincin dari Rio? Kau buang?"
Indah meraba kantong dress yang ia kenakan, tapi tidak menemukannya.
Apa cincin dari Rio terjatuh di apartemen Maya?
Batin Indah.
"Kayaknya terjatuh di apartemen Maya, Pah. Oya, nanti Papah minta sama Rio untuk kembalikan cincin dari Mas Rendi, dia membuangnya dibawah kursi mobilnya."
Mawan mengangguk. "Apa kau pernah bertemu Reymond? Semenjak dia keluar dari penjara?"
__ADS_1
"Tidak," sahut Indah berbohong.
"Tidak atau ya?"
"Lagian kalau aku bertemu dengannya kenapa? Dia 'kan pacarku."
"Kau putus saja dengannya."
"Enak saja, Aku tidak mau!"
"Apa sih yang kamu lihat dari dia? Dia bahkan tidak punya apa-apa dan jangan pernah mengucapkan kalimat cinta tentangnya, Papah tidak mau dengar!"
"Yasudah aku tidak usah jawab saja," ucap Indah kesal.
"Kamu tidak boleh bertemu dengannya, sampai kapanpun. Papah tidak merestui hubungan kalian!"
Indah memalingkan wajah, "Aku tidak peduli, mau Papah merestui atau tidak. Aku cinta padanya!"
Mawan mengenggam tangan Indah. "Sayang kenapa kamu tidak pernah menurut pada Papah?"
Dia Mas Rendi, Papah! Kenapa Papah sama sekali tidak menyadarinya? Bukannya dulu Papah sering membanggakannya?
Batin Indah.
Dia terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Mawan sama sekali.
Mawan memeluk tubuh Indah dan mengusap rambutnya, dia tau anaknya sedang emosi. Lebih baik dia mengakhiri obrolannya membahas Reymond.
"Aku sudah bertemu dengannya di rumah Papah Antoni."
"Benarkah? Lalu apa jawabanmu?"
"Papah pasti tau, aku menolaknya."
Mata Mawan terbelalak. "Astaga! Sama Rio kamu tidak mau, sama Steven juga. Mereka berdua laki-laki yang baik dengan masa depan yang cerah Indah. Kau mau cari yang bagaimana lagi?"
Aku bosan sekali, kenapa Papah terus menjodohkan aku dengan orang lain? Walau dia memandang Mas Rendi sebagai orang lain, kenapa tidak minta Mas Reymond yang melamarku saja. Papah memang tidak mengerti perasaanku, mulutnya saja bilang sayang. Tapi kenyataan tidak.
Batin Indah.
"Indah, kamu belum jawab pertanyaan Papah!" seru Mawan.
Indah mengangkat tubuh Bayu untuk duduk dipangkuan Mawan, kepala Indah menyender disamping bahu kiri Ayahnya seraya memeluk.
"Aku mau tidur sebentar, Pah. Aku mengantuk." Dia memejamkan matanya.
Mawan berdecak kesal, lagi-lagi Indah tidak pernah menurut padanya. Padahal Mawan melakukan itu demi Indah bahagia, bahagia menurutnya sendiri.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, Santi terbangun dari tidurnya seraya membuka mata. Dia menoleh kesamping. Mawan masih terlihat tertidur pulas, dia mengingat pesan dari Reymond yang memintanya untuk memberikan tespeck pada Indah.
Santi bangun dan membuka laci disebelah tempat tidur dia mengambil bungkusan plastik hitam yang berisi alat itu, dia masukkannya kedalam baju tidur yang ia kenakan.
Kakinya turun dibawah kasur, dia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi. Santi melangkah dan membuka pintu kamar seperti mengendap-endap, dia tidak mau suaminya tau.
Ceklek.....
Santi mengusap dada, terasa lega karena Mawan tidak terbangun. Dia segera menghampiri kamar Indah, pertama dia pegang gagang pintu dan mengayunkan. Pintunya terkunci didalam.
Tangannya terangkat dan mengetuk pintu.
Tok ... Tok ... Tok.
"Indah, sayang ....,"
Tok ... Tok ... Tok.
"Sayang buka pintunya," ucap Santi.
Indah didalam masih tertidur dengan Bayu, tidak mendengarkan ucapan dari Santi. Maklum saja, semalam dia begadang teleponan dengan Reymond. Membahas perkara lamaran dan cincin.
Tok ... Tok ... Tok.
Santi masih mencoba untuk mengetuk pintu, "Indah .... Sayang."
"Mamah."
Deg......
Bukannya Indah yang bangun, justru Mawan yang bangun. Dia berjalan menghampiri Santi didepan pintu kamar Indah.
Tangannya mengelus rambut Santi. "Mamah ngapain bangunkan Indah? Biarkan saja, nanti juga bangun sendiri," ucapnya dengan nada lembut.
Sial! Kenapa Papah yang bangun duluan.
Batin Santi.
Santi menoleh padanya sambil tersenyum, "Tidak, Pah. Mamah hanya ingin mengobrol sebentar," jawab Santi beralasan.
"Mending Mamah mandi dulu, Papah juga ingin mandi. Ada hal yang ingin Papah bicarakan." Mawan menarik lengan Santi yang sedari tadi masuk kedalam baju, alhasil benda itu terjatuh dibawah.
"Apa ini?" Tubuh Mawan membungkuk, lengannya terulur meraih benda itu.
"Papah .... Itu ....,"
Mawan membuka plastik hitam dan mengambil isi didalamnya, matanya terbelalak.
"Apa-apaan ini! Kenapa Mamah ingin memberikan Indah tespeck!" pekik Mawan.
__ADS_1
Dia sudah menebak kalau tespeck itu Santi beli untuk Indah, padahal istrinya belum cerita apa-apa.
"Papah itu bukan buat Indah, Mamah beli untuk Mamah sendiri," jawab Santi berbohong.