Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 33. Bawa Siska ke kantor polisi!


__ADS_3

"Aaww ... Panas!" Jerit Siska merasa perih di seluruh wajahnya.


Pria di sampingnya bangun dan mengebrak meja.


Brakk.....


"Apa-apaan kau ini! Kurang ajar sekali! Kau telah menyakiti pacarku!" Tunjuk pria itu di depan wajah Indah.


Semua orang pengunjung cafe melihat pertikaian di antaranya, mereka melotot kaget dan menjadikan tontonan yang seru, Harun dan Irwan juga menghampiri Indah. Mereka berdiri di samping kanan-kiri.


Siska mendongak keatas dan melihat wajah Indah yang sudah memerah karena kesal, matanya membulat sempurna, dia tak menyangka bisa bertemu musuh bebuyutan nya itu di sini.


"Perih Mas," ucap Siska dengan manja seraya memegangi pipi.


"Pelayan! Tolong bawakan batu es buat kompres!" Teriak sang pria pada pelayan. Pelayan itu dengan cepat mengantarkan handuk kecil dan batu es dan menaruhnya di dalam bak.


Pria itu mencoba mengompres wajah Siska yang sudah hampir melepuh akibat ulah Indah, tangannya sudah memeras handuk dan menempelkannya pada wajah Siska. Tapi Indah merasa tak terima, dia menumpahkan bak di atas meja hingga batu es itu terjatuh di lantai.


"Tidak perlu di obati!" Pekik Indah.


"Hei wanita gila! Apa yang kau lakukan!" Pekik pria itu seraya mendorong tubuh Indah, tapi untung tidak sampai jatuh karena Harun menopangnya.


Tangan Irwan sudah mengepal dan langsung menonjok pipi kanan pria itu.


Buggghh........


"Jangan berbuat kasar pada Nona Indah!" Dia ikut berteriak.


Pria itu berbalik menonjok wajah Irwan.


Buggghhh.....


"Berbuat kasar katamu?" dia menunjuk-nunjuk wajah sangar Irwan. "Nona mu ini yang berbuat kasar duluan pada pacarku!" bantah pria itu.


"Kau bilang apa tadi Om? Aku menyakiti kekasihmu benar, begitu? Justru dia yang menyakiti suamiku!" Indah menarik rambut Siska hingga dia bangun dari duduknya.


"Kenapa kau menyakiti suamiku? Siapa yang menyuruhmu!" Teriak Indah di telinga kiri Siska hingga membuat gendangnya berdengung.

__ADS_1


Siska meringgis kesakitan, rambut yang baru dia creambath di salon seketika acak-acakan.


"Apa kau ini gila Indah? Aku tidak tahu apa-apa," elak Siska berakting tak berdaya.


Pria itu menepis tangan Indah dan menarik Indah sampai keluar dari cafe. "Kau sungguh kurang ajar! Aku akan membawamu ke kantor polisi!"


Di seberang jalan sudah ada mobil terparkir dengan sopir yang membuka pintu, pria itu sudah hampir memasukkan Indah ke dalam mobilnya, namun kerah kemejanya di tarik paksa dari belakang oleh seseorang.


"Apa yang kau lakukan bodoh! Lepaskan anakku!" Pekik seorang pria paruh baya dengan suara beratnya itu, Indah hafal betul suara itu yang ternyata adalah ayahnya.


Mawan mencekik leher pria itu dan menempelkan punggung si pria di pintu mobil. "Apa yang kau lakukan hah? Kau berani membawa anakku ke kantor polisi, apa salahnya?" Mata Mawan sudah menatap tajam padanya.


"Di-dia te-telah men-nyakiti pacar-ku," sahutnya terbata-bata.


Siska berlari keluar dari cafe dan menarik tangan Mawan yang menyangga leher kekasihnya itu. "Om Mawan lepaskan dia! Dia tidak bersalah," ucap Siska.


Mawan menoleh dan membulatkan kedua matanya melihat Siska yang berada di dekatnya, dia juga sebetulnya punya dendam di masa lalu kepada Siska. Namun dia mencoba melupakannya, tangan Mawan berhasil melepaskan cengkraman ke leher pria itu.


Indah menarik tangan Mawan dan memeluknya, "Papah ... Siska yang bersalah! Dia yang menyakiti Mas Rendi!" Tunjuk Indah pada wajah Siska yang memerah seperti udang rebus akibat tersiram kopi panas.


"Iya Pah, Siska penyebab Mas Rendi menghilang. Dia ... Dia tersangkanya!" Serbu Indah mentelak Siska.


Mawan melepaskan tubuh anaknya dan beralih memegangi lengan Siska begitu kasar. "Apa benar itu Siska? Kau penyebabnya? Kau berani sekali menyakiti anakku!" Pekik Mawan sambil melotot dan memeras lengan Siska.


Keringat di dahi Siska mengalir deras, bibirnya juga ikut bergetar, dia merasa ketakutan.


"JAWAB AKU!" Bentak Mawan, hingga membuat Siska kaget.


"Menyakiti? Menyakiti bagaimana? Aku juga tidak mengerti maksud dari omongan Indah Om," jawab Siska dengan nada memelas dan lemah lembut.


Indah justru merasa jijik padanya, dia mengayunkan tangannya ke wajah Siska.


Plakk.....


"Berhenti kau berakting Jalang! Aku sudah muak padamu!" Teriak Indah.


Dia memegangi salah satu tangan ayahnya, "Papah ... Bawa Siska ke kantor polisi! Penjarakan dia, dia orang jahat!" Serbu Indah.

__ADS_1


"Kau ini bicara apa Indah? Aku jahat bagaimana? Apa buktinya?" Siska mendapatkan celah untuk dia berkelit.


Mawan kembali melihat ke arah Indah dan memegangi kedua pipinya, "Kamu punya bukti apa sayang? Kita akan penjarakan Siska!" Sang ayah berusaha untuk membantu.


Bukti? Aku punya bukti apa?


Batin Indah binggung, dia juga hanya mendengarkan cerita dari Rendi dan Rizky, sedangkan dia tidak punya bukti apa-apa.


"Indah, jawab Papah!" Mawan menepuk lembut pipi Indah, karena dia seperti melamun.


"Buktinya ..." Indah memutar bola matanya, dia langsung menarik lengan Mawan dan mengajaknya supaya jauh dari Siska, Harun dan juga Irwan. Mereka hanya melihat dan diam mematung.


Setelah cukup merasa jauh, Indah langsung memegang tangan ayahnya. Dia berdo'a dalam hati supaya Mawan bisa percaya dengan apa yang dia katakan.


"Buktinya aku bertemu Mas Rendi Pah," ucap Indah dengan yakin.


Mata Mawan terbelalak. "Bertemu? Di mana sayang?" tanya Mawan dengan wajah senang.


"Dia ... Dia adalah Mas Reymond, Pah."


"APA?!" Wajah senangnya berubah menjadi wajah jengkel, Mawan tersenyum miring dan berkata. "Kamu ini mimpi Indah. Bagaimana bisa kamu bilang Reymond adalah Rendi? Jelas mereka tidak sama!"


"Papah ... Itu benar, dia Mas Rendi ku, dia habis di operasi," ucap Indah kembali meyakinkan.


Mawan menggelengkan kepalanya, "Sayang sudahlah! Kamu ini sudah kemakan omongan pria mesum itu, dia sudah mencuci otakmu!" Mawan kembali menaikkan nada bicaranya.


"Papah tidak percaya padaku?" tanya Indah dengan wajah memelas dan menciumi punggung tangan ayahnya.


Mawan menghela nafas panjang, dan mengelus pucuk kepala anaknya. "Sudah ... lebih baik kita ke rumah sakit dan temui Mamah ya."


Sepertinya Mawan memang tidak percaya dengan ucapan Indah, dia merasa sia-sia begitu menceritakannya. Padahal sedikit lagi Indah bisa tahu dalang di balik insiden Rendi, tapi dia juga tidak punya bukti yang kuat.


Sementara itu Siska mengajak pacarnya untuk pergi dari situ, dia merasa nyawanya akan terancam. Tapi dia juga heran kenapa Indah bisa menuduh dirinya penyebab dari insiden Rendi menghilang.


"Mas Haris kita pergi saja dari sini," ucap Siska seraya menarik tangan pacarnya untuk masuk ke dalam mobil.


Haris memegang wajah Siska. "Kamu tidak mau di obati dulu? Di depan kan rumah sakit Sis," tanya Haris dengan penuh perhatian.

__ADS_1


__ADS_2