Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 6. Kok belum pulang?


__ADS_3

"Iya ... iya. Bunda tau, besok kamu boleh main lagi. Besok Kak Lala juga pulang ke rumah Om Rio. Nanti kamu main dengannya," rayu Indah.


Indah mendudukkan bokong Bayu pada pangkuannya, tangannya perlahan menyeka air mata Bayu.


"Benel ya Bunda, becok Bayu ain agi baleng Kaka Lala?"


"Iya, bener. Oya tadi Ayah beli bakso. Nanti kita makan di rumah, ya?"


"Iya, Bunda."


***


Sementara itu di rumah Rio.


Santi dan Wulan sudah pulang dari Mall, Santi benar-benar seperti memborong beberapa dress dan pakaian dalam untuk Wulan. Ia ingin menantunya merubah penampilan seperti apa yang Rio inginkan.


"Bu Santi barang belanjaannya, mau taruh dimana?" tanya Bibi pembantu.


"Kamar Rio, Bi. Tata di lemari Wulan," jawab Santi.


"Tapi pakaian Nona Wulan ada di kamar tamu dengan pakaian Adiknya."


"Yasudah dipindahkan saja. Lemari Rio pasti ada yang kosong, pindahkan semua pakaian Wulan disana."


"Baik, Bu." Bibi pembantu segera membawa beberapa paper bag itu menuju kamar Rio.


"Kita ke kamar Rio juga deh Wulan. Mamah mau mandi, nanti kamu juga mandi. Habis itu Mamah akan mengajarimu berdandan," ajak Santi seraya menaiki anak tangga, menantunya hanya mengangguk dan mengikuti langkah kakinya.


Santi mandi di kamar Rio sedangkan Wulan mandi di kamar tamu.


Setelah beberapa menit mereka sudah selesai dan memakai pakaian. Wulan mengenakan dress yang baru saja Santi beli tadi, kini rambutnya juga sudah terurai panjang sampai diatas bokong.


"Duduk dulu, Mamah ingin menyisir rambut," pinta Santi dengan tangan menunjuk pada meja rias didepan.


Wulan menurut dan duduk di bangku kayu itu. Terlihat Bibi pembantu telah selesai membereskan pakaian Wulan yang ia taruh didalam lemari Rio.


"Bu Santi ini make up-nya taruh dimana?" tanya Bibi pembantu.


"Tata di meja rias Bi," jawab Santi sambil menyisir rambutnya sendiri.


Setelah pekerjaan Bibi selesai, ia meninggalkan Santi dan Wulan berdua di kamar itu.

__ADS_1


Santi kini berdiri dibelakang Wulan yang duduk sambil melihat pantulan wajah dari cermin besar didepan. Ia memperhatikan wajahnya sendiri dan wajah mertuanya.


Bu Santi benar-benar cantik, pantas saja kedua anaknya tampan. Dia bukan hanya cantik wajahnya saja, tapi hatinya juga.


Batin Wulan.


Kini Santi melihat-lihat make up yang ia beli tadi, sebenarnya itu adalah prodak make up yang biasa Wulan pakai, tapi bedanya ia membeli prodak itu lebih lengkap.


Tapi sebelum mulai mengaplikasikan pada wajah Wulan, hal pertama yang ia lakukan adalah mengambil ponselnya pada tas miliknya diatas meja itu.


Ia merekam video lewat kamera depan dan mengarahkannya pada wajah Wulan pada saat di makeup nanti. Seolah-olah membuat tutorial makeup untuk menantunya itu, untuk dijadikan contoh.


"Nanti setelah videonya jadi ... Mamah akan kirim ke ponsel kamu. Tapi nanti kamu belajar make up sambil liat video itu, ya? Jangan bilang kalau kamu tidak bisa. Wanita itu harus bisa makeup," jelas Santi.


Wulan mengangguk. "Iya Bu."


"Hei, kenapa masih panggil Ibu? Panggil Mamah saja." Santi mengerutkan dahi sambil melihat wajah Wulan pada cermin.


"Iya Mamah."


Santi memakaikan Wulan bando terlebih dahulu, setelah itu ia mengambil pelembab wajah dalam wadah bulat, tangannya perlahan membuka tutup itu dan ujung jari telunjuknya mencolek krim untuk ia aplikasikan pada seluruh wajah Wulan, mengolesinya secara perlahan.


Kini berlanjut ia mengambil concealer dan mengolesinya pada bagian bawah mata Wulan yang agak hitam.


Merias bagian mata dengan eyeshadow, memakaikan eyeliner, maskara dan yang terakhir adalah lipstik.


Ia bukan sekedar mengolesinya saja, tapi menyesuaikan pada warna kulit Wulan. Ia juga mencoba membuatnya senatural mungkin, supaya terlihat indah dan cantik ketika Rio memandangnya.


Hampir satu jam ia menyelesaikan make up pada wajah Wulan, tapi Santi begitu puas dengan hasil karyanya itu. Wajah menantunya menjadi cantik jelita.


Santi melihat wajah Wulan pada cermin didepan.


Sepertinya aku harus buka salon juga nanti, aku memang hebat dalam merias wajah.


Batin Santi dengan penuh kebanggaan.


Apa harus selama ini make up? Aku harus bangun lebih awal untuk merias wajahku sendiri.


Batin Wulan.


Tangan Santi kini memegang sisir dan perlahan mendarat pada rambut kepala Wulan. Ia menyisir dari atas sampai bawah, sambil memperhatikan dengan seksama rambut itu.

__ADS_1


Ternyata terlihat seperti rambut asli, tidak sia-sia aku menghabiskan banyak uang dan banyak waktu untuk rambut Wulan. Hasilnya memuaskan.


Batin Santi senang.


"Kamu harus merawat rambut ini. Walau cuma rambut sambungan, tapi ini seperti rambut asli. Mamah tidak mau rambut ini menjadi jelek, kamu harus pintar merawatnya," tegur Santi.


"Iya, Mah."


"Nanti vitamin rambutnya kamu pakai juga setiap habis keramas, ya?"


"Iya, Mah.


Setelah pekerjaan Santi selesai, ia langsung segera pulang sebelum magrib, selain ingin melaksanakan sholat, ia juga ingin cepat-cepat bertemu dengan Indah dan Bayu. Karena hampir seharian ini waktunya dihabiskan untuk Wulan.


Wulan duduk di sofa ruang tamu menunggu Rio pulang, namun belum ada tanda-tanda kepulangan suaminya.


"Mas Rio kok belum pulang? Apa dia sangat sibuk hari ini?" tanya Wulan pada diri sendiri.


Tangannya perlahan membereskan rambut panjangnya itu.


"Kira-kira nanti kalau dia pulang bagaimana ekspresi wajahnya? Apa dia akan mengatakan aku tidak berdandan lagi?"


"Semoga saja tidak begitu, setidaknya dia memuji make up dari hasil tangan Ibunya, aku juga tidak terlalu berharap dia memujiku."


Sedari tadi Wulan tengah sibuk berbicara pada diri sendiri, tapi dalam hatinya begitu tidak sabar, menanti suaminya pulang.


***


Disebuah Bar besar pada pusat kota, Rio belum pulang ke rumah, bukan karena dia sibuk di kantor. Tapi melainkan nongkrong di tempat itu. Sebenarnya ia sudah pulang dari jam 5 sore, tapi seakan malas kalau langsung pulang. Jadi ia memilih untuk singgah terlebih dahulu.


Rio tengah duduk di sofa bulat bersama Dimas temannya, mereka sudah memesan beberapa botol minuman beralkohol pada pelayan Bar.


Memang mereka berdua dan teman-temannya yang lain sering mengunjungi Bar, mungkin hampir setiap malam Minggu mereka kesini. Tapi tadi siang mendadak Rio menelepon dan memaksa Dimas untuk menemaninya minum tanpa alasan yang jelas. Kerena merasa tak enak, Dimas jadi menurutinya.


Lantunan musik disko terdengar begitu nyaring dan menggema. Diiringi lampu kelap-kelip pada sudut ruangan itu.


Rio tengah menyandarkan punggungnya sambil membuka jas.


"Rio. Lu yakin mau minum? Memang nggak takut dimarahin istri lu kalau sampai dia tau lu mabuk?" tanya Dimas.


"Marah?! Ngapain dia marah. Dia nggak berhak marah sama gue," ucapnya dengan enteng.

__ADS_1


"Nanti kalau dia ngadu sama Mamah lu bagaimana? Lu bisa-bisa kena semprot. Gue juga bisa ikutan kena," tebak Dimas.


^^^Kata : 1028^^^


__ADS_2