Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
Episode 77. Belut Rendi


__ADS_3

"Eemmm...." Santi mulai berfikir dan mencerna apa yang di maksud dari kata 'tugas negara'. "Di dalam Rendi sama siapa?"


"Nona Indah."


Santi dan Mawan saling menatap dan bergelak tawa bersama. "Ah.... Hahahaha."


"Bagaimana dengan obat kuatnya Mah?" bisik Mawan ke telinga istrinya.


Santi terkekeh lagi. "Harun ini saya titip buat Rendi." Ucapnya menyerahkan kantong berisi obat kuat dan lingerie yang sengaja mereka beli untuk acara bulan madu anak dan menantunya, "Sama ini saya beli sate kambing. Kau makan saja ada dua porsi."


Niatnya itu sate untuk Rendi dan Indah, tapi sepertinya sepasang suami istri itu sedang berbulan madu di dalam dan mereka mana sempat makan sate, mereka akan sibuk ngos-ngosan berdua. Jadi Santi memberikan sate itu kepada pengacara Rendi yang sekarang bertugas sebagai satpam penjaga pintu.


"Terima kasih Bu, nanti titipannya saya kasih."


Tak lama Dokter dan suster menghampiri mereka dan mencoba untuk masuk.


"Ah maaf Dok, sepertinya anak saya tidak perlu di periksa malam ini." Kata Santi mencegah.


"Memang kenapa Bu?" tanyanya melepas gagang pintu yang sempat dia pegang.


"Putra saya lagi proses penyembuhan di bantu istrinya," lanjut Santi, memberi alasan.


"Memang istri Pak Rendi seorang Dokter juga?" tanya Dokter merasa kebingungan.


Ah Rendi, Rendi. Bercinta nggak mengenal tempat, dasar ini anak. Aku harus bilang apa sama Dokter?


Batin Santi sambil geleng-geleng kepala. Dia binggung harus memberikan alasan apa kepada Dokter, tapi di sisi lain ada rasa bahagia tersendiri dari hatinya. Melihat anaknya yang sudah bisa membuka hatinya untuk Indah.


"Ah jadi gini Dok......." Kata Mawan lalu berbisik ke telinga sang Dokter, sontak saja mata Dokter itu terbelalak dan ada goresan senyum di bibirnya sambil manggut-manggut.


"Baik Pak, demi kesembuhan pasien saya mengerti." Ujar Dokter itu sambil mengangguk. Dokter itupun pergi dan di ikuti oleh suster di belakang.


"Papah ngomong apa sama Dokter? Kok dia bisa mengerti." Tanya Santi.


"Ah itu gampang Mah, tinggal bilang saja belut si Rendi sudah tidak tahan, Dokter langsung ngerti." Kata Mawan sambil terkekeh.


"Kenapa pakai bawa-bawa belut segala sih," sahutnya sambil menepuk lengannya.

__ADS_1


"Hahaha, terus apa dong?" tanyanya seraya memegang perut, karena sedari tadi Mawan terus saja tertawa. "Kita tunggu di sini saja apa gimana Mah, masa nungguin orang bercinta di dalam? Bisa sampai pagi dong. Papah kan juga pengen kayak Rendi." Kata Mawan sambil memainkan kedua alisnya, menggoda istrinya.


"Papah... Malu ih." Dengkus istrinya.


"Bapak sama Ibu bisa istirahat di Hotel saja, ini kunci kamar Hotel yang pak Rendi sewa." Kata Harun sambil menyerahkan kunci ke tangan Hermawan. Mereka berdua langsung on the way ke sebuah Hotel.


***


Sampainya di kamar Hotel, pak Mawan langsung berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tapi tidak dengan ibu Santi yang tengah duduk sambil melihat-lihat isi kamar Hotel.


Matanya langsung berpusat ke selembar kertas yang berada di atas meja.


Santi meraihnya, "Apa ini?" tanyanya pada diri sendiri kemudian langsung dia baca.


Surat itu adalah surat perjanjian Rendi dan Rio.


"Apa-apaan ini!" Mata Santi membulat sempurna. "Maksud mereka apa bikin surat perjanjian begini." Dengkus nya kesal.


"Pah.... Papah..." Panggilnya kepada suaminya yang tengah mandi.


"PAH......" Pekiknya lagi, kali ini suaranya terdengar sampai kamar mandi, dengan cepat Mawan memakai handuk dan menghampiri istrinya.


"Papah ini mandi yang bersih dong. Itu busa pasta gigi masih nempel." Kata Santi sambil menunjuk kearah pipi suaminya.


"Mamah sih manggil-manggil terus." Dengan cepat busa itu dia elap pakai tangannya.


"Ini baca." Kata Santi menyerahkan.


Mata Mawan terbelalak, anak putri satu-satunya ternyata jadi bahan rebutan kedua anak tirinya, "Mah pasti ini ada yang nggak beres antara Rendi dan Rio,"


Santi mengangguk dan langsung mengambil ponselnya di dalam tas untuk menelepon putranya, "Halo Rio, kamu ada di mana?" tanyanya.


"Ada di rumah Mah, kenapa?"


"Coba jelaskan masalah perjanjian kamu dengan Rendi." Tegasnya.


"Kok Mamah bisa tahu?"

__ADS_1


"Apa kamu pikir kamu hebat dengan merebut istri Kakak kamu sendiri? Di mana akal sehatmu Rio?" tanyanya dengan nada meninggi.


"Mah maafkan Rio... Rio...."


Rio menceritakan segalanya kepada ibunya, tak terasa air mata ibunya menetes mendengar pengakuan atas anaknya itu yang mencintai Indah sampai-sampai menculiknya.


"Tapi Mamah tidak usah khawatir, Rio akan lupakan Indah mulai sekarang. Rio nggak akan ganggu rumah tangga kak Rendi Mah."


"Benar begitu?" tanyanya dengan ragu.


"Iya Mah. Rio janji, Mamah harus percaya sama Rio." Kata Rio meyakinkan ibunya.


"Ya sudah, Mamah pegang janji kamu. Kamu dan Rendi tidak boleh saling menyakiti, karena yang Mamah punya hanya kalian berdua. Kamu istirahatlah sudah malam." Kata Santi kemudian menutup teleponnya.


"Kamu kenapa kok nanggis?" tanya Mawan mengusap air mata istrinya.


Santi menyenderkan punggungnya ke dada suaminya itu. "Pah Mamah pikir, Mamah adalah ibu yang paling mengerti perasaan anak-anaknya, tapi Mamah tidak mengerti kalau sebenarnya Rio mencintai Indah. Dan dia mencoba merebutnya dari Rendi, rasanya Mamah tidak ikhlas. Walau bagaimanapun Rendi yang berhak untuk bersama Indah. Terlepas dari masa lalunya yang kelam, Mamah yakin Rendi akan berubah."


"Sudah Mah, berhenti menyalahkan diri sendiri. Jangan sepenuhnya menyalahkan Rio juga, dia begitu karena terbawa hati. Meski caranya salah. Rio belum dewasa, dan masih perlu bimbingan dari kita. Papah yakin. Hanya Rendi yang bisa bahagiakan putri Papah satu-satunya,"


"Tapi bagaimana perasaan Indah sendiri Pah? Apa jangan-jangan Indah juga suka sama Rio,"


"Besok kita bicarakan lagi sama mereka Mah, mending sekarang kamu bersihkan diri dulu, lalu istirahat. Ini sudah larut malam." Santi pun berjalan ke kamar mandi.


πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…


Indah membuka matanya, dia melihat akan tubuh polosnya yang hanya berlapis selimut. Indah mencoba bangkit dari tempat tidur namun rasanya area ************ terasa perih. "Aakkkhhh..." Katanya sambil meringis, mungkin sisa semalam habis pelepasan.


"Eh, Kamu sudah bangun." Kata Rendi yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia mengenakan kaos putih polos dengan celana jeans panjang berwana hitam. Rambutnya yang basah habis keramas membuat dirinya makin terlihat menawan.


Mas Rendi benar-benar tampan.


Batin Indah yang masih berbaring di sana, Rendi berjalan menghampirinya.


"Kamu mau mandi sayang?" tanya Rendi. Eh tunggu dulu ini seperti untuk pertama kali dia memanggil kata sayang selain pas waktu bercinta dengan istrinya, wah ada apa nih dengan Rendi?


...🌾🌾🌾🌾🌾...

__ADS_1


Yuk dukung Author dengan cara like, komen, vote dan gift. Terimakasih sudah membaca ❀️


__ADS_2