
Kemudian Rendi menurunkan kaca mobilnya, "Kamu pikir saya nggak bisa menyetir sendiri." Kata Rendi dengan mata yang terlihat beler, dia langsung menyalakan mobil dan menancap gas.
Dion segera masuk ke mobilnya untuk mengejar Rendi karena dia tau kondisi Rendi saat ini tidak memungkinkan untuk bisa menyetir dengan fokus.
Benar saja Rendi menyetir dengan ugal-ugalan sampai dia menabrak motor metik tidak bersalah yang sedang terparkir di depan minimarket, motor itu hanya diam tidak menghindari sama sekali sampai di tabrak oleh mobil Rendi.
'BRAAKK' Suara benturan dari mobil yang berhasil menggiling motor metik hingga berada di bawah roda mobilnya, kepala Rendi terbentur oleh setir mobil dan dia pingsan di tempat.
Dion yang mengikutinya dari belakang merasa tercengang melihat kejadian itu, Dion langsung keluar dari mobil dan berlari ke arah mobil Rendi, dia mencoba untuk membuka mobil Rendi dengan di bantu oleh orang-orang sekitar.
Dia mengangkat tubuh Rendi dan mendudukkan nya ke dalam mobilnya, untung tidak ada yang luka sama sekali, Rendi hanya pingsan.
Dion meninggalkan mobil Rendi dengan masih menindih motor metik yang tidak berdosa itu.
Dia buru-buru menyetir sambil menelepon Andra paman Rendi. Saat itu posisi Andra sedang ada di jalan menaiki mobil hendak pulang ke rumah.
"Hallo pak, apa bapak bisa bantu saya?" tanya Dion lewat telepon.
"Ada apa Dion?"
"Pak Rendi menabrak motor dan dia pingsan, saya sedang mengantarnya ke rumah sakit. Saya minta tolong bapak ke TKP untuk membantu masalah ini, nanti saya transfer uang ke bapak untuk biaya ganti rugi orang yang punya motor."
"Apa ada korbannya?"
"Tidak ada pak, cuma saya takut kalau orang yang punya motor tidak terima dan melaporkan pak Rendi ke polisi." Dion menjalankan mobilnya dengan tidak terlalu kencang.
"Nanti saya urus semuanya," sahut Andra menutup telepon.
Anak ini benar-benar menyusahkan, tapi ada bagusnya juga dia sering mabuk-mabukan.
Gumam Andra sambil tersenyum menyeringai.
Kemudian dia langsung menyuruh dua anak buahnya untuk datang bersamanya ke TKP, sebelum dia sampai, Andra mampir dulu ke ATM untuk mengambil uang yang sudah Dion kirim kepadanya.
Setelah sampai dia melihat seorang wanita yang sedang menangisi motornya.
Apa wanita itu pemiliknya?
__ADS_1
Batin Andra.
Dia menyuruh dua anak buahnya untuk membawa wanita itu ke hadapannya, wanita itu tidak lain adalah Indah.
Andra memberikan uang ganti rugi, tentu saja Indah langsung menerimanya. Karena siapa sih orang yang nolak rezeki ketika kita sedang kesusahan? Tentunya nggak ada kan?
Begitupun dengan Indah. Setelah Indah menerimanya, dia pamit pulang.
Andra menelepon seseorang untuk meminta dua orang mengikuti Indah dari belakang yang sedang menaiki ojek, dia menyuruh dua orang itu untuk menjambret tas Indah yang berisi uang.
Mending uangnya untukku bersenang-senang.
Dalam hati Andra, ketika dia sudah berhasil mendapatkan uang itu kembali.
Flashback off
πππ
Namun Siska tetap saja ngeyel, dia terus saja memaksa menyodorkan gelas ke mulut Rendi. Padahal Rendi sudah berusaha untuk menolaknya, alhasil minuman itu tumpah dan membasahi kemeja Rendi di bagian dadanya.
Rendi berdiri, matanya merah dan terlihat sangat marah. "Kamu ini, aku bilang nggak ya NGGAK!" Sentak Rendi dan mengusap-ngusap kemejanya, Siska mengambil tissu di dalam tas dan memberikan kepada Rendi, namun di tolak.
Gerutu Rendi kesal sambil melihat ke arah Siska yang sudah agak mabuk karena dia sudah minum beberapa gelas.
"Ada apa ini Pak Rendi, kok kemeja Bapak basah?" tanya pak Hadi yang menghampirinya.
"Iya Pak, tadi saya tidak sengaja menumpahkan minuman. Kalau gitu saya pamit pulang saja Pak." Ucap Rendi menyentuh lengan Hadi.
"Kenapa buru-buru kita belum makan malam Pak."
"Iya Ren, nanti saja pulangnya, sekarang kamu ganti baju saja pakai kemeja Om yang ada di mobil." Sahut Andra ikut nimbrung. "Dion ambilkan kemeja di mobilku." Perintah Andra kepada asisten Rendi.
"Ah nggak usah, Dion jangan." Ujar Rendi menghentikan langkah Dion. "Aku mau pulang saja Om, mau istirahat juga."
Anak ini benar-benar keras kepala.
Batin Andra.
__ADS_1
"Ya sudah nggak apa-apa nanti kamu pulang hati-hati ya." Ucap Andra tersenyum sambil mengelus bahu Rendi, "Kapan-kapan ajak istrimu ketemu Om, kenalin dia sama Om ya,"
"Iya Om tenang saja." Sahut Rendi membalas senyumannya dan pamit pulang.
Tapi ketika Rendi melangkahkan kaki berjalan keluar Restoran, mendadak Siska mengejarnya dari belakang.
"Rendi tunggu..." Panggilnya dengan langkah sempoyongan dan langsung mengandeng lengan Rendi yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Kamu ini apa-apaan sih, lepasin nggak!" Hentak Rendi menolak, Siska menggangkat tangannya dan menarik wajah Rendi kemudian mengecup pipi kirinya, "Aku cinta kamu Ren..." Bisik nya ke telinga Rendi dan pada saat itu juga Indah datang menangkap basah mereka.
Untunglah para tamu yang di dalam Restoran tidak melihat drama mereka di parkiran, namun Andra melihatnya dari kejauhan.
Siapa perempuan itu? Apa itu istrinya Rendi?
Batin Andra, namun tidak terlihat jelas wajahnya karena dia melihat Indah dari sudut belakang.
Setelah Indah pergi, Rendi memungut sendal Indah yang tertinggal dan memasukkannya ke dalam mobilnya. "Siska kamu benar-benar gila, gara-gara kamu Indah jadi salah paham." Ucap Rendi ke arah Siska yang rambutnya sudah berantakan seperti tidak di sisir seminggu.
"Biarkan saja Ren, itu yang aku mau. Aku mau kamu bercerai dengannya dan kembali padaku." Sahut Siska berusaha berdiri tegak.
Rendi mengabaikan Siska dia langsung masuk ke dalam mobil meninggalkannya, "Pak ini mau langsung pulang ke rumah?" tanya Dion yang sedang menyetir.
"Kita ke apartemen ku dulu, aku mau ganti kemeja." Sahutnya sambil mencium kemejanya yang masih bau alkohol namun sudah tercampur dengan bau keringatnya sendiri.
Aku tidak pernah menyangka bisa ketemu Indah dan melihatnya begitu marah. Bisa-bisa aku pulang habis kena omel Mamah.
Pikirnya dalam hati.
πΈπΈπΈ
Sampainya di rumah Rendi, Indah langsung masuk ke kamarnya tanpa berbicara sepatah katapun.
Indah membersihkan dirinya ke kamar mandi dan mengganti pakaian tidur.
Tapi rasanya dia masih kesal dengan ulah Rendi, dia memutuskan untuk tidur di kamar ibunya. Dia berjalan keluar menghampiri ibu dan mertuanya yang sedang asyik menonton televisi.
"Eh sayang kamu sudah pulang? Kok Mamah nggak tahu." Tanya Sarah yang baru sadar anaknya sudah pulang.
__ADS_1
"Iya Mah, aku langsung masuk ke kamar soalnya kebelet tadi." Sahutnya sambil tersenyum.
...π Jangan Lupa Tinggalkan Likeπ...