Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
Episode 45. Tak Ada Yang Mengalah


__ADS_3

"Mau buat apa emang?" tanya Rendi berdiri menghampiri Indah lalu mengambilkan gunting di laci meja dekat ranjang lalu menyerahkan nya.


"Aku mau bikin poni Mas." Sahut Indah kemudian berjalan ke arah kamar mandi, namun lengannya di hentikan oleh Rendi.


"Ngapain bikin sendiri kan ada salon. Bahaya juga, nanti matamu kecolok." Ucap Rendi seraya mengambil kembali gunting di tangan Indah dan menaruhnya di meja rias, lalu dia merogoh amplop di kantong jas yang dia pakai semalam. "Nih Ndah kamu baca." Rendi memberikan amplop itu dan langsung Indah buka.


Kok polisi bisa mencabut tuntutan ku?


Pikirnya dalam hati setelah membacanya, "Mas ini beneran nggak?" tanya Indah.


"Kamu kira itu bohongan?" tanya Rendi balik.


"Tapi kok bisa Mas? Apa yang kamu kasih ke Siska biar dia mencabut tuntutan?"


Rendi menggelengkan kepalanya, "Aku nggak kasih dia apa-apa."


"Pasti dia ngajakin kamu balikkan kan? Terus kamu pasti mau." Ucap Indah cemberut sembari memalingkan wajah.


"Nggak Ndah, sudah deh nggak usah banyak pertanyaan. Aku mau mandi." Rendi berjalan masuk ke kamar mandi.


Pasti mereka menjalin hubungan lagi.


🌸🌸🌸


Setelah selesai mandi Rendi turun dari anak tangga terlihat Indah, ibunya dan mertuanya sedang sarapan bersama diapun menghampiri mereka.


"Pagi Mah." Sapa Rendi sambil tersenyum.


"Pagi Ren." Sahut Sarah, namun Santi hanya meliriknya karena dia masih kesal gara-gara masalah semalam, Santi juga melihat dahi Rendi yang sudah mendingan.


Sepertinya Rendi sudah nggak papa sekarang, padahal semalam aku sempat cemas padanya.

__ADS_1


Santi melihat ke arah Indah sambil tersenyum.


Untunglah semalam Indah sudah mengompresnya.


"Ren dahi kamu kenapa? Kok kaya benjol gitu?" tanya Sarah yang tidak tahu apa-apa.


Rendi menyentuh dahinya, "Ah ini Mah, aku tadi pas mandi kepentok pintu." Jawabnya berbohong.


"Lain kali hati-hati Ren." Ucap Sarah, Rendi hanya manggut-manggut.


"Selamat pagi Pak Rendi, Bu Santi, Bu Sarah dan Mbak Indah." Ucap Dion yang menghampiri mereka berempat.


"Pagi." Ucap mereka barengan.


"Ada apa?" tanya Rendi sambil menyuapi beberapa nasi goreng di mulutnya.


"Pesanan Bapak yang semalam sudah datang." Ucap Dion yang sudah ada di samping Rendi


"Baik Pak." Dion balik lagi ke luar dan menyuruh tukang angkut untuk memasukkan lemari baru ke dalam kamar Rendi, karena setelah selesai perang dingin semalam. Rendi langsung menelepon Dion untuk membeli lemari dan menyuruh mengantarnya pagi-pagi.


Empat orang itu mengangkut lemari besar, ya meskipun masih lebih besaran lemari Rendi.


Indah melihat orang-orang itu dengan serius sambil mengunyah.


"Lemari itu buat mu." Ucap Rendi tiba-tiba,


Indah menoleh ke arahnya,


Indah menelan makanan dan berkata. "Apa itu nggak terlalu besar Mas? Baju aku kan sedikit." Tanya Indah, kemudian pembantunya membawa beberapa tas belanjaan berisi pakaian baru yang Rendi beli untuk Indah. "Bi nanti bereskan semua ya, lemari yang lamanya tolong di buang saja." Ucap Rendi menyuruh pembantunya.


"Baik Pak." Jawab bi Milla lalu dia menaiki tangga.

__ADS_1


"Wah ada apa ini rame banget banyak orang." Kata Rio yang tiba-tiba datang.


"Rio sayang kok pagi-pagi ke sini, emang nggak kuliah?" tanya Santi bangun dan memeluk Rio.


"Hari ini nggak ada kelas Mah," mereka melepas pelukannya, "Rio ke sini mau ngajak Indah pergi mencari kado untuk Nella." Ucap Rio duduk sambil melihat ke arah Indah.


"Kamu udah sarapan belum, sekalian sarapan bareng ya?" tanya Sarah bangun hendak menuangkan nasi goreng untuk Rio. Namun Rio menolaknya, "Nggak usah Tante, Rio udah makan tadi." Jawab Rio sembari memegang perutnya.


Ngapain Rio ngajak Indah lagi, bener-bener ini anak. Sengaja cari kesempatan atau gimana sih?


"Gimana Ndah?" tanya Rio lagi melihat ke arah Indah


"Eemm," gumam Indah sambil mengunyah makanan dan cepat-cepat menelan. Dia sudah membuka mulut hendak menjawab ucapan Rio namun langsung saja di potong oleh Rendi. "Indah hari ini mau pergi sama gue ke salon." Sontak nya.


"Tadi pagi kamu nggak bilang apa-apa ke aku lho Mas." Katanya sembari menoleh ke arah Rendi.


"Ya sudah biar nanti kita sekalian ke salon saja Ndah, gue yang antar." ucap Rio menawarkan.


"Nggak bisa, hari ini Indah pergi sama gue." Ucap Rendi berdiri dan menghampiri Indah.


"Haduh..." Santi merasa jengkel seraya menutup kedua telinganya, "Kalian ini, gitu saja ribut." Tunjuk Santi kepada kedua anaknya, "Sudah Ren mending biarkan Rio saja yang mengantar Indah sekalian mereka beli kado, kamu kan harus ke kantor."


"Hari ini aku masuk siang Mah, lagian Indah istriku. Wajarlah kalau aku mau mengantarnya," ucap Rendi seraya merangkul bahu Indah tak mengalah. Karena dia tidak mau kalau Rio dan Indah sering bersama. Apa lagi Rio sendiri pernah bilang padanya, kalau Indah adalah perempuan yang sampai sekarang masih dia cintai.


Indah dan Sarah diam tak bisa berkata-kata.


"Terus masalahnya apa? Indah juga teman gue kali Kak. Lu mentang-mentang suaminya, jangan asal ngatur-ngatur. Kasihan Indah." Ucap Rio yang mulai ngeyel dan tidak mau mengalah juga.


...💜Jangan Lupa Tekan Tombol Like💜...


...🌷Selamat Puasa H+3🌷...

__ADS_1


__ADS_2