
πππ
Flashback on
Beberapa tahun yang lalu.
Di malam itu Indah pergi ke minimarket untuk belanja bulanan, sesudah dirinya selesai berbelanja perutnya terasa lapar dan cacing di dalamnya terasa sedang berdemo. Karena motornya sudah di parkir di depan minimarket oleh abang parkir dia merasa cukup tenang.
Dia makan di sebuah warteg yang melewati tiga petak bangunan dari minimarket. Indah makan dengan lahapnya, meski cuma makan dengan semur terong dan satu gorengan tempe. Karena baginya ketika orang yang sedang lapar, apapun yang dia makan pasti akan terasa enak.
Perut Indah cukup kenyang dan dia juga merasa hatinya senang, seperti sebuah ucapan dari pepatah.
Dia berjalan kembali ke minimarket namun suasana di sana cukup ramai, ada banyak orang dan satu mobil polisi. Serta ada mobil dongkrak yang sedang mengangkat sebuah mobil karena menimpa sebuah motor.
Setelah langkahnya cukup mendekat dia baru sadar kalau itu adalah motor miliknya yang masih belum lunas. "Motorku." Teriak Indah dan menjatuhkan tas belanjaannya, Semua orang menenggok ke arahnya.
Seketika tubuhnya melemas seperti tidak ada tulang, dia duduk tersungkur di tanah melihat motornya yang sudah ringsek. "Hik... Hik... Hik." Rintihnya menangis.
Lalu ada ibu-ibu yang datang menghampirinya, "Itu motor kamu?" tanyanya.
Indah kembali menanggis dan makin kencang. Karena motor itu sebenarnya motor kreditan dia yang hanya baru sekali dia bayar.
"Kamu yang tenang ya." Ucap seorang polisi menghampiri dan duduk sambil mengusap punggung Indah mencoba menenangkan tangisan yang membanjiri pipinya.
Di sebelah sana ada seorang pria dewasa berkacamata hitam berada di dalam mobil.
Pria itu membuka kaca mobil, "Pak, sepertinya wanita yang sedang menangis di sana adalah pemilik dari motor yang pak Rendi giling." Tunjuk salah satu anak buahnya,
__ADS_1
"Kalian antarkan wanita itu ke sini." Perintah pria itu.
Dua orang anak buahnya menghampiri Indah yang sedang terhanyut dalam kesedihannya,
"Maaf Nona, apa motor itu milikmu?" tanyanya membungkukkan tubuh, karena Indah sedari tadi masih duduk di tanah.
Indah hanya manggut-manggut dengan air mata yang masih bercucuran, "Beliau ini orang suruhan orang yang sudah menabrak motor Nona." Ucap polisi.
"Maaf pak apa saya bisa berbicara dengan Nona ini?" tanya orang yang berbadan besar itu.
"Iya silahkan." Jawab polisi.
"Mari ikut kami Nona, ada yang ingin bertemu denganmu." Ucap orang itu seraya memegang bahu Indah mencoba membatunya bangun.
"Aku bisa sendiri." Tolak Indah, dia bangun dan mengusap air mata di pipinya dan membuntut pada dua pria itu.
"Ah tidak usah, terima kasih." Sahutnya mengerakkan tangan tanda menolak. "Apa Bapak yang telah menabrak motor saya?"
"Ah bukan, itu keponakan saya yang menabrak. Dia sedang mabuk dan tidak fokus saat menyetir." Kemudian pria berkacamata itu mengambil amplop coklat di saku jasnya sebelah kiri. "Saya meminta maaf atas nama beliau, ini uang ganti ruginya," ucapnya menyerahkan uang yang terlihat tebal itu.
Aku ambil nggak ya? Tapi memang aku butuh uang sih.
Pikir Indah kemudian dia mengambilnya, "Terima kasih pak." Ucapnya mengenggam amplop dengan erat.
"Saya minta masalah ini tidak usah di
perpanjang ya, apa lagi sampai bawa-bawa polisi." Indah manggut-manggut menyetujuinya.
__ADS_1
"Ya sudah Pak kalau gitu saya permisi." Ucap Indah pamit kemudian berjalan mencari ojek untuknya pulang.
***
Namun saat dalam perjalanan mendadak motor tukang ojeg itu berhenti di tengah jalan.
"Bang kok berhenti?" tanya Indah yang masih membonceng di belakang.
"Saya juga nggak tau Neng, saya periksa dulu ya?" Indah kemudian turun dari motor.
Tukang ojeg itu membuka jok motor dan memutar tutup tangki bensin, dan ternyata bensinnya habis.
"Duh Neng, bensinnya habis lagi. Abang lupa ngisi, soalnya kilometer di motor Abang rusak, jadi nggak tahu kalau kehabisan." Ucapnya sambil nyengir tak enak hati.
"Duh gimana dong Bang, rumahku masih jauh. Mana ini sudah malem." Sahut Indah sambil melihat jam di lengannya, namun tiba-tiba lewat sebuah motor dari arah yang berlawanan. Orang yang sedang berbonceng di belakangnya langsung mengulurkan tangannya merampas tas yang berada di bahu kiri Indah.
"Jambret!" teriak Indah dan merasa sangat syok. Tukang ojek pun langsung standard kan motornya dan mencoba berlari sekencang-kencangnya di ikuti dengan Indah di belakang. Tapi tidak terkejar, karena motor tersebut ngebut. Indah melihat di sekelilingnya hanya ada arus lalulintas motor dan mobil yang mengabaikannya.
Hari semakin gelap, pom bensin pun jauh akhirnya Indah memutuskan untuk pulang jalan kaki tanpa motor dan tanpa uang ganti rugi tadi. Dia berjalan sambil menitihkan air mata, sungguh malang sekali nasibnya, mungkin ini bisa di bilang 'sudah jatuh tertimpa tangga pula'.
Setengah perjalanan dia baru sadar kalau dirinya masih mengantongi ponsel butut miliknya, dia kemudian mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Rio untuk meminta bantuan kepadanya.
Flashback off
πππ
...πJangan Lupa Tinggalkan Jejak Likeπ...
__ADS_1