Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 150. Mamah Santi Vs Papah Mawan


__ADS_3

"Mbak bisa ikut saya? Kita bicara sebentar." Dokter mengajak Wulan untuk masuk kedalam, namun Mawan menghentikannya, memegang lengan menantunya.


"Biar aku saja, aku Papahnya!"


"Baik, Bapak ikut saya."


Alhasil, Wulan tidak jadi masuk kedalam. Mawan lah yang masuk. Dokter mengajak Mawan menghampiri Rio yang tengah berbaring dengan mata terpejam, mulut dan hidungnya dipasang ventilator.


"Ke-kenapa dengan anak saya, Dok?" tanya Mawan gugup.


"Siapa namanya, Pak?"


"Rio, Rio Pratama."


"Sepertinya ada yang mau menjahili anak Bapak."


"Maksud Dokter?" harusnya Mawan tidak perlu bertanya, itu 'kan ulah dirinya sendiri.


"Iya ... ada seseorang yang memasukkan obat perangs*ng dan lalu dia dibius, pasti Bapak menemukan dia dalam keadaan pingsan, kan?"


"Iya, Dok. Tapi kenapa sampai sekarang anak saya belum bangun?"


"Itu karena jantungnya, Pak. Jantung Rio tidak berjalan dengan baik, karena pengaruh obat perangs*ng."


"Kok bisa, Dok? Bukannya obat perangs*ng itu aman?"


"Bapak kata siapa aman? Apa Bapak pernah konsultasi ke Dokter?"


Mawan menggeleng samar. "Tidak, cuma saya pernah memakainya, tapi saya baik-baik saja."


"Tubuh orang berbeda-beda, Pak. Dan Rio ini diberikan obat perangs*ng dengan dosis yang sangat tinggi, itu sangat beresiko pada jantungnya. Dia terlalu muda untuk punya penyakit jantung."


Deg!


"Memang separah itu Dokter?"


"Iya, lihat saja Rio. Sampai sekarang dia belum sadarkan diri." Dokter mengedikkan kepalanya, ke arah Rio.


Mawan menjadi sangat cemas, rasa ketakutan itu bermunculan dalam pikirannya. Ia takut kalau sampai Santi tau, jika dirinya lah yang melakukan semua itu. Bisa-bisa, Santi marah besar padanya.


"Tapi, dia akan sadar 'kan, Dok?"


"Iya, nanti setelah obat dari saya bekerja. Saat sudah bangun nanti, biarkan dia bersama istrinya dulu. Biarkan dia melepaskan hasr*tnya yang sempat ia tahan," papar Dokter.

__ADS_1


"Tapi dia sedang sakit begitu, masa Rio melakukan--"


"Pak! Saya ini Dokter, tentu saya yang lebih tau masalah ini daripada Bapak," tegur Dokter. "Bapak turuti saja apa yang saya katakan tadi."


"Iya, Dok."


"Yasudah, Bapak silahkan keluar. Nanti Rio akan dipindahkan ke kamar inap."


"Baik, Dok."


Mawan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar itu, netranya membola sempurna tatkala melihat beberapa orang disana.


Ada Wulan, Indra, Wahyu, Clara, Santi, Irwan, Ali dan Aldi. Tapi hanya satu orang yang Mawan takutkan, yaitu Santi. Namun wajah wanita itu terlihat biasa aja, seperti tidak memendam rasa kesal dan marah. Santi memang sengaja menutupinya, karena disana banyak orang, tidak baik bertengkar di rumah sakit.


"Mamah, Mamah ada disini?" tanya Mawan seraya menghampiri Santi.


"Kenapa Rio? Kok dia bisa masuk ke rumah sakit? Kata Wulan dia pingsan?" tanya Santi pura-pura tidak tau, ia ingin lihat, apakah Mawan jujur atau tidak padanya.


"Rio baik-baik saja, kita hanya tunggu dia dipindahkan ke kamar inap." Mawan menoleh ke arah Wulan. "Wulan, nanti kau temani dia."


Wulan mengangguk samar. "Iya, Pah."


Mawan kembali melihat pada Santi, ada rasa tak enak didalam hatinya. "Mah ... Papah perlu bicara dengan Mamah."


"Jangan disini. Apa kita bisa pulang sebentar? Papah ingin bicara serius."


Kesempatan sekali, Santi juga ingin bicara serius. Namun disisi lain, ia menghawatirkan Rio. Tapi kalau tidak sekarang diselesaikan, kapan lagi? Rasa kesal di dadanya tidak mampu ia bendung.


Santi menoleh ke arah Wulan. " Wulan ... Mamah titip Rio. Kalau ada apa-apa kabari Mamah, ya?"


"Iya, Mah. Mamah hati-hati."


Santi menghampiri Wulan dulu, untuk mencium keningnya. Lalu ia pergi bersama Mawan menaiki mobil.


Didalam perjalanan itu mereka terdiam, namun sesekali Mawan menoleh pada Santi, ia merasa ada kecanggungan diantara mereka.


"Mah ... tadi Mamah diberitahu Wulan kalau Rio masuk rumah sakit?" Mawan perlahan menyentuh punggung tangan istrinya, namun Santi langsung menggeserkan tangannya, melipat lenganya diatas dada sambil menyender.


"Iya, Papah kok bisa sama Rio? Ketemu Rio dimana?" tanya Santi pura-pura tidak tau.


"Nanti Papah kasih tau kalau sudah sampai."


Tiga puluh menit berlalu, Mawan telah sampai di kediamannya sendiri. Ia langsung mengajak Santi masuk kedalam kamar, suasana rumah juga sepi, karena Indah dan Reymond masih ada di rumah sakit.

__ADS_1


Santi langsung mendudukan bokongnya di kasur. Mawan mengunci pintu dan menghampiri Santi. Namun dirinya tidak duduk, melainkan berjongkok dan memeluk lutut istrinya.


Santi tersentak kaget, ia membulatkan matanya. "Papah ... apa yang Papah lakukan? Kenapa seperti ini?" Santi mencoba untuk menarik bahu suaminya, supaya pria tua itu berdiri. Tapi nyatanya begitu sudah karena Mawan memeluk lututnya dengan erat.


"Mamah ... maaf, maafkan Papah. Papah sangat berdosa sama Mamah. Maafkan semua kekhilafan Papah, Mah."


"Apa?" Santi memekik, amarahnya langsung memuncak di dadanya. "Khilaf? Apanya yang khilaf? Papah melakukan itu dengan sengaja!" murka Santi.


Mawan mendongak, menatap wajah istrinya yang sudah memerah. Benaknya masih bertanya-tanya maksud jawaban dari istrinya, mungkinkah Santi sudah tau?


"Papah--"


"Papah dan Aji ingin menjebak Rio untuk memperkosa Mitha lalu menikahkan mereka benar, kan?" sela Santi menebaknya dengan tetap sasaran.


Mawan terbelalak. "Mamah tau dari mana?"


"Papah tidak perlu tau itu, tapi intinya Mamah kecewa sama Papah. Sangat ... sangat kecewa!" bentak Santi sambil melotot. Tangan Santi sudah terangkat dan dengan cepat ia kibaskan pada pipi kiri dan kanan suaminya, ia menamparnya secara bolak-balik.


Plak!


Plak!


Mawan terbelalak, ia memegangi kedua pipi bekas tamparan Santi. Tidak terasa sakit memang, tapi terlihat sekali amarah Santi yang membabi buta.


"Mah ... tapi Papah sudah berubah pikiran, rencana itu juga sudah gagal. Papah sudah sadar sekarang ... kalau tindakan Papah ini salah, sangat salah. Papah minta maaf, Papah minta maaf sama Mamah," ucapnya dengan nada memohon.


"Tidak, Mamah tidak mau memaafkan Papah! Mamah mau ... kita bercerai!"


Deg!


Bagaikan tersambar petir, Mawan melonjak kaget. Lantas, ia berdiri dan memeluk tubuh istrinya, menciumi rambutnya. Namun dengan cepat tangan Santi menghentakkan dada Mawan, hingga ia berhasil melepaskan dirinya supaya tidak saling menempel.


"Mamah ... jangan bicara seperti itu, Papah sudah bilang, Papah minta maaf ...." Mawan berkata dengan nada rendah dan amat lembut, ia menghampiri istrinya lagi, duduk disampingnya. "Mah ...." Mawan kembali menyentuh punggung tangan Santi, tapi Santi menghindar dan menggeserkan tubuhnya supaya menjauh darinya.


"Tidak usah dekat-dekat! Mamah benci sama orang yang tidak punya hati seperti Papah! Pokoknya besok, kita pergi ke pengadilan ... kita urus perceraian kita!" tegasnya.


Mawan menggeleng cepat, ia memeluk tubuh Santi kembali dan kali ini begitu erat, hingga Santi tidak bisa terlepas olehnya, walau sudah berusaha memberontak.


"Mamah, Papah mohon ... jangan lakukan ini. Papah tau, Papah banyak sekali dosa sama Mamah ... tapi sekarang Papah ingin berubah, Mah. Papah ingin memperbaiki semuanya. Papah juga tidak akan mengusik rumah tangga Rio lagi, Papah sayang sama anak kembar mereka," lirih Mawan. Air matanya kini lolos begitu saja, membasahi kedua pipinya. Ketakutannya sedari tadi ternyata terjadi.


Akankah hati Mamah Santi luluh oleh ucapan suaminya?


Jangan lupa tinggalkan like 💕

__ADS_1


__ADS_2