
"Ini, Bu." Wahyu memberikan formulir yang sudah ia isi pada resepsionis depan.
"Iya, Pak. Terima kasih."
"Sama-sama."
Ia melangkahkan kakinya menuju ruangan bersalin, namun tak sengaja lengannya menyenggol lengan Mitha yang baru saja keluar dari ruangan dokter.
"Ah, maaf-maaf Nona," ucap Wahyu sambil menghentikan langkah.
Mitha juga menghentikan langkah dan memperlihatkan wajah pria tua yang berhadapan dengannya.
Dia Ayahnya Wulan, kan?
"Pak ... maaf," panggil Mitha saat melihat Wahyu baru melangkah dan kembali terhenti untuk menoleh padanya.
"Iya, Nona."
"Bapak, Ayahnya Wulan?"
"Benar, Nona mengenal Wulan putri saya?" Wahyu berbalik bertanya.
"Saya tidak kenal, cuma kalau sama Mas Rio baru kenal." Mitha tersenyum dan memperlihatkan Wahyu dari atas sampai bawah. Pria tua itu mengenakan celana bahan berwarna abu tua dan kaos merah polos. "Oya ... Bapak ada apa ke sini? Siapa yang sakit? Mas Rio?"
"Bukan, tapi Wulan melahirkan."
Mitha terbelalak. "Melahirkan? Benarkah? Apa aku boleh ikut melihatnya?"
"Boleh Nona, mari ikut dengan saya," ajak Wahyu seraya melangkahkan kakinya menuju arah tujuannya tadi. Mitha mengangguk dan membuntut di belakang.
"Kita tunggu di sini saja Nona." Wahyu menunjuk kursi panjang, ia langsung mendudukkan bokongnya di sana.
"Iya, Pak." Mitha ikut duduk, namun berjarak satu kursi dengan Wahyu.
Dari luar ruangan itu tidak terdengar suara jeritan dan tangis bayi. Atau mungkin Wulan memang belum melahirkan? Atau memang belum waktunya?
*
"Istri Bapak mau melahirkan?" Dokter itu menghampiri Rio yang baru saja membaringkan tubuh istrinya.
"Iya, Dok. Coba Dokter periksa," jawab Rio.
Dokter itu langsung menempelkan stetoskop pada dada Wulan, mengecek denyut jantung. Setelahnya, ia mengecek tekanan darah.
"Bagaimana, Dok? Apa semua normal?" tanya Rio, pria tampan itu terlihat sangat antusias menunggu kelahiran si jabang bayi.
Dokter mengangguk. "Normal, semua normal. Apa yang Mbak Wulan rasakan saat ini?" tanyanya pada Wulan yang berbaring dengan pasrah.
"Perutnya kram dan sakit." Rio yang menyahutinya.
"Sekarang? Apa tadi?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Tadi, Dok. Tapi sekarang sudah tidak," jawab Wulan.
"Oh, sebentar saya periksa dulu." Dokter wanita itu menyelimuti tubuh Wulan sampai di atas perut. "Kakinya angkat dulu, Mbak," titahnya sambil memegangi betis.
Wulan mengangguk dan membuka selangk*ngannya, supaya Dokter bisa memeriksanya.
"Bapak awas dulu, saya mau bantu Dokter," kata Suster yang sedari tadi ada di situ, ia ingin ikut membantu Dokter namun tubuh Rio menghalanginya.
"Oh, iya." Rio menggeser tubuhnya, padahal aslinya ia juga ingin melihat penampakan rawa-rawa istrinya.
Dokter itu melepaskan CD Wulan, dan perlahan memasukkan satu jari tengahnya pada bagian inti.
"Mbak Wulan belum mau melahirkan, Pak," kata Dokter itu setelah berhasil mengecek.
"Masa, sih? Mungkin Dokter salah kali," jawab Rio tak percaya.
"Benar, saya sudah periksa. Belum ada tanda-tanda mau melahirkan." Dokter itu memakai kembali CD Wulan dan menyuruhnya untuk membenarkan kedua kakinya supaya lurus.
"Tapi dia sudah 9 bulan dan kata Wulan, dia mengalami kram dan sakit." Rio memegangi perut istrinya.
"Iya, tapi memang kenyataannya anak Bapak belum mau lahir."
"Dokter coba cek lagi deh," titah Rio. Ia masih tak percaya dengan apa yang telah diucapkan oleh Dokter.
"Mbak Wulan sekarang merasa mules tidak? Atau merasakan gejala apa saat ini?" tanya Dokter pada Wulan.
"Tidak ada, Dok. Saya tidak merasakan tanda-tanda itu. Perut saya baik-baik saja."
"Tapi saya yakin kok, dia mau melahirkan," jawab Rio tak mau percaya.
"Bapak ingin istri Bapak melahirkan sekarang juga?" tanya Dokter itu mulai kesal.
"Iya."
"Jalur operasi, mau?"
Rio menggeleng cepat. "Tidak, aku ingin Wulan lahiran normal. Kecuali memang keadaan darurat."
"Ya sudah, Bapak dan Mbak Wulan pulang saja. Nanti kalau Mbak Wulan merasakan mules, kram dan sakit, yang sempat saya sebutkan tadi, baru kalian datang lagi," paparnya.
"Iya, Mas. Kita pulang saja. Aku belum mau melahirkan kok." Wulan hendak mengangkat tubuhnya untuk bangun, namun kedua lengannya dipegang oleh Rio.
"Tidak, kau pasti melahirkan sekarang."
"Kata siapa? Aku dan Dokter saja sudah bilang kalau anak kita belum mau lahir."
"Kata aku, aku yang bilang." Rio memegangi dadanya, ia menatap wajah Dokter. "Dokter, boleh tidak kalau aku dan Wulan menunggu di sini sampai Wulan merasakan gejala mau melahirkan?"
"Nunggunya sampai kapan?"
"Sampai malam, aku yakin Wulan akan melahirkan hari ini juga." Rio masih bersikukuh dengan tebakannya.
__ADS_1
"Ya sudah, Bapak dan Mbak Wulan boleh menunggu. Tapi kalian pesan kamar inap saja, jangan menunggu di sini."
"Lho, memang kenapa Dokter?"
"Ini 'kan ruang bersalin Pak, akan ada ibu yang melahirkan di sini. Masa Bapak dan Mbak Wulan menunggu di sini." Dokter itu masih berusaha untuk sabar, namun lama-kelamaan ia merasa jengkel juga. Lantas, dirinya menoleh pada Suster yang berdiri di sampingnya. "Sus, antarkan Pak Rio ke kamar inap yang berada di sebelah, di sana kebetulan kosong," titahnya.
"Baik, Dok."
"Mari Pak, ikut saya," ajak Suster itu pada Rio.
Wulan mencoba untuk bangun kembali, tapi Rio sudah berhasil mengangkat tubuhnya. Membawanya keluar dari ruangan itu bersama suster juga.
Ceklek~
"Mana cucu Ayah?" tanya Wahyu saat melihat Rio dan Wulan, ia memperhatikan perut Wulan yang masih buncit. "Lho kok, cucu Ayah masih ada di perut? Katanya mau lahir?"
Rio menatap wanita yang baru saja berdiri, tatapannya begitu tajam.
Mitha, ngapain wanita murahan itu ke sini?
"Pak, mari ikut saya," panggil Suster yang sudah berjalan agak jauh, ia menoleh pada Rio.
"Oh, iya Sus." Rio melangkahkan kakinya, membuntut di belakang Suster. Wahyu dan Mitha juga ikut.
*
"Rio, kata kamu Wulan mau melahirkan? Kok kalian malah pindah ke ruangan ini?" Wahyu menengadah pada ruangan inap VVIP saat Rio sudah membaringkan tubuh Wulan di atas tempat tidur.
"Iya, Wulan mau melahirkan. Tapi kata Dokter suruh tunggu dulu di sini," jawab Rio santai.
"Dokter tidak meminta kita menunggu, Mas. Mas Rio yang meminta," sanggah Wulan.
"Maksudnya bagaimana? Jadi Wulan mau melahirkan atau tidak?" Wahyu mengerutkan keningnya, ia merasa binggung.
"Tidak!"
"Iya!"
Wulan dan Rio berucap bersama, namun dengan jawaban yang berbeda.
"Yang benar yang mana?" tanya Wahyu sekali lagi.
"Aku yang benar, Wulan sebentar lagi mau melahirkan. Ayah tinggal tunggu saja."
"Tapi, Mas. Aku belum mau melahirkan!" bantah Wulan, ia mulai kesal dengan sikap Rio.
"Mau, kau mau melahirkan, Manis. Kita tinggal menunggu saja, kau harus yakin padaku, ya?" Rio berkata dengan nada melembut, ia juga mencium kening Wulan, berupaya menghilangkan rasa kesal di hati istrinya.
Yakin? Apanya yang yakin? Ya Allah ... menyebalkan sekali Mas Rio ini. Aku belum mau melahirkan, kenapa dia tidak percaya juga?' gerutu Wulan dalam hati.
Jangan lupa like 💕
__ADS_1