Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 54. Aku memang payah!


__ADS_3

Terlihat Bibi pembantu sedang sibuk mencuci perkakas dapur, dia merasa kaget melihat Indah sedang sibuk mencari-cari sesuatu di dalam kulkas. Salah satu tangannya masih menatap layar ponsel, membaca resep yang Melly kirim lewat pesan.


"Nona Indah cari apa?" tanya Bibi, dia mengelap tangan sisa air pada serbet dan menghampiri Indah di depan kulkas.


Indah menoleh padanya, "Aku mau cari bahan untuk membuat nasi goreng Bi. Seperti pada resep ini," dia memperlihatkan ponselnya di depan mata Bibi pembantu.


"Aku baru dapat bawang merah saja," tangan yang satunya sudah memegang 4 siung bawang merah.


"Nona Indah mau nasi goreng?"


Indah mengangguk. "Aku mau nasi goreng sama mau membuatnya juga."


"Tidak usah membuat Nona, biar Bibi saja. Biar Bibi yang cari resepnya sesuai pada pesan di ponsel Nona."


Tangannya sudah terulur meminta ponsel Indah, Indah langsung memberikan padanya. "Tapi Bi, aku mau membuatnya sendiri. Sepertinya bikin nasi goreng itu mudah!" seru Indah dengan yakin.


Padahal dia belum pernah sama sekali membuat nasi goreng, dia mengingat-ngingat terakhir kali dia masak. Ya bersama ibunya, pas dia hamil. Itu juga hanya mengiris bawang merah.


"Jangan! Biar Bibi saja. Mending Nona tinggal makan dan duduk manis," ucap Bibi seraya mengambil semua bahan di dalam kulkas.


Tapi Indah tetap ngeyel dan kekeh ingin membuatnya sendiri. Bibi sudah menaruh semua bahan sesuai resep dan menaruhnya di dalam bak kecil. Supaya mempermudah Indah.


Indah sudah memegang talenan dan pisau, siap untuk mengiris bahan. Pertama adalah bawang merah.


"Biar Bibi saja Nona, nanti ketahuan Pak Mawan Bibi bisa di marahi," ucapnya mencegah dan memegang tangan Indah yang sudah berhasil mengiris setengah bawang.


Indah tersenyum dan menepis tangan Bibi. "Bibi ini bicara apa? Ngapain Papah marah, Papah akan senang kalau aku membuatkan nasi goreng untuknya," jawab Indah dengan yakin. Merasa akan berhasil.


Setelah selesai mengiris semua bahan, Bibi mengambil beberapa butir telor. "Ini telurnya Nona, mau Bibi kocok 'kan?"


"Tidak. Biar aku sendiri," Indah mengambil telur di tangannya. Memecahkannya pada mangkuk dan di kocok secara perlahan mengunakan sendok.


Tapi pembantunya masih sibuk mendampingi, seakan merasa takut dan cemas. Dia juga tidak percaya kalau Indah akan berhasil membuat nasi goreng.


"Bibi berdiri di sana. Jangan dekat-dekat!Jangan menganggu konsentrasiku dalam membuat nasi goreng."


Merasa sangat risih dan tidak bisa leluasa. Akhirnya Bibi itu mengalah, dia mengundurkan tubuhnya menjauh sedikit dari Indah, tapi dia masih memperhatikan gerak-gerik Indah dalam memasak.

__ADS_1


Dia sudah menyalakan kompor dan menaruh wajan di atasnya, Indah mencari-cari minyak sayur, matanya berkeliling. "Minyak sayur di sebelah tempat garam Non."


Indah mengangkat jempolnya keatas dan menuangkan minyak sayur secara perlahan.


Dia kembali melihat layar ponsel, langkah apa yang pertama Indah lakukan.


"Masukkan bawang merah sama bawang putih," ucapnya sambil membaca. Tangannya sudah memegang talenan untuk menuangkannya di atas minyak panas.


Tapi justru lengannya menyenggol wajan itu sampai tumpah, bawang-bawang sudah berceceran di lantai dan minyak panas itu berhasil tumpah kearah punggung tangannya sebelah kiri.


"Aawww ..." Pekik Indah, merasa sangat perih.


Mata Bibi terbelalak dia langsung berlari mendekatiIndah, punggung tangannya sudah memerah dan seperti akan melepuh.


"Astaga! Tunggu sebentar Nona, Bibi akan ambil pasta gigi."


Bibi berlari menuju kamar mandi miliknya, untuk segara mengambil apa yang dia katakan barusan.


"Indah, apa yang terjadi!" ucap seseorang di belakang tubuh Indah, dia terlihat begitu panik. Tangannya sudah memegang lengan.


"Aku ingin sarapan bersama dengan kamu dan Bayu."


Bibi pembantu datang dan langsung membantu Indah untuk mencuci tangan. "Di olesi pasta gigi dulu Nona, biar tidak melepuh," perlahan dia mengolesinya.


"Kita ke rumah sakit saja, aku akan mengantarmu," ajak Rio. Dia kembali memegang tangan Indah.


"Tidak usah ini tidak apa-apa kok," tolak Indah.


"Ada apa ini? Kenapa di dapur berisik sekali!" ucap Mawan dengan lantang.


Dia sudah rapih memakai stelan jas berwarna merah maroon dan mengendong Bayu, dia baru bangun tidur. Kakinya melangkah menghampiri mereka bertiga.


Matanya terbelalak. "Indah, tangan kamu kenapa sayang? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Mawan cemas seraya mengelus rambut anaknya.


"Tidak apa, Pah. Ini hanya terkena minyak panas saja," jawab Indah dengan santai.


"Minyak panas?! Apa yang kau lakukan? Ngapain juga ada di dapur?"

__ADS_1


"Aku ingin membuat nasi goreng, Pah."


"Kamu ini ngapain buat sendiri! Kan ada Bibi!" masih juga pagi, tapi ubun-ubun Mawan sudah terasa panas.


"Papah, jangan marahi Indah. Kasihan, aku akan mengantarnya ke rumah sakit," ucap Rio, dia merasa kasihan pada Indah, wajahnya bahkan sekarang sedang meringgis sambil melihat tangannya sendiri.


"Tidak usah. Ini tidak apa-apa, aku ingin melanjutkan membuat nasi ...."


"Sudah begini masih ingin membuat lagi? Apa tidak kapok?! Kenapa kau selalu bertingkah aneh-aneh! Sudah sana ke rumah sakit, jangan sampai tanganmu infeksi!" serbu Mawan dengan lantang.


Indah menatap wajah Mawan, matanya saja sudah melotot padanya. Indah tidak berani menjawab karena merasa takut. Akhirnya dia menurut dan ikut bersama Rio, untuk mengantarnya ke rumah sakit.


Papah ini berlebihan sekali, masa anaknya mau membuat nasi goreng dibilang bertingkah aneh-aneh?! Apanya yang aneh! Harusnya dia senang lihat anaknya ingin memasak. Hah ... Tapi aku gagal juga sih, aku memang payah! Aku bahkan baru mau menuangkan bahannya, tapi sudah kacau begini. Mamah.... Aku malu sekali pada diriku sendiri, di usiaku sekarang. Aku hanya bisa merebus air dan menggoreng telor. Aku dulu terlalu sibuk bekerja, hingga malas untuk pergi ke dapur.


Batin Indah, merasa kecewa pada diri sendiri.


Sepeninggal Indah dan Rio keluar dari rumah. Mawan menatap tajam pada pembangtunya itu, Bibi masih sibuk membersihkan sisa bawang yang berhamburan di lantai.


"Bisa-bisanya Bibi diam saja begitu? Harusnya Bibi jangan biarkan Indah memasak! Dia 'kan tidak bisa!"


Bibi berdiri di depan Mawan, tapi menurunkan pandangan karena merasa takut. "Maafkan saya, Pak. Tapi Nona Indah yang memaksa. Dia bilang ingin membuat nasi goreng sendiri."


"Aku tidak mau kejadian ini terulang lagi, apa lagi Indah celaka! Kalau sampai itu terjadi, Bibi tidak usah kerja lagi di sini!" seru Mawan mengancam.


Kakinya sudah melangkah pergi meninggalkan dapur.


Bayu memegangi wajah Mawan yang sudah berkeringat dan terlihat emosi, tangan kecilnya mengusap air keringat di dahi sang Kakek.


"Opa ... Opa jangan malah-malah. Kacian Bunda cama Bibi di omelin."


Mawan tersenyum dan mencium pipi Bayu. "Opa tidak marah kok sayang," lirihnya pelan.


"Kamu bau asem. Mau di mandiin sama Opa, nggak?"


"Mau Opa!" sahut Bayu dengan senang.


Mawan masuk kembali ke dalam kamar Indah. mengajak Bayu untuk mandi.

__ADS_1


__ADS_2