
"Nanti saya dan Mitha akan menjenguknya. Oya ... saya ingin membahas masalah perkembangan Rio." Aji mendudukkan bokongnya di sofa, tanpa Mawan persilahkan. Memang ia sudah terbiasa seperti itu. Mawan juga ikut duduk bersamanya.
"Tidak ada perkembangan sama sekali, Ji." Mawan menggelengkan kepalanya.
"Rencana Bapak kemarin gagal?"
"Iya, aku ketahuan dan sekarang Rio malah marah," keluhnya.
"Bujuk saja, Pak."
"Aku tidak bisa membujuknya, dia orangnya sama keras kepalanya seperti aku."
Aji mengangguk-angguk. "Padahal, saya ingin berbesanan dengan Bapak. Mitha juga suka dengan Rio sejak dulu, Pak."
"Iya, dia pernah bercerita padaku."
Sebenarnya, Mawan dan Aji sudah merencanakan perjodohan Rio dan Mitha saat Wulan pergi meninggalkan Rio. Namun saat itu, Rio susah sekali diajak bertemu oleh Mawan. Karena saat itu juga, Rio seperti orang gila yang mencari keberadaan istrinya.
"Coba Bapak bilang sama Bu Santi, dia 'kan dekat sekali dengan kedua anaknya. Pasti Rio akan menurut padanya, Pak," usul Aji.
"Masalahnya, Santi orang yang pertama, yang menentang perceraian Rio dan istrinya. Bagaimana bisa aku membujuknya? Kau ini bodoh sekali!" umpatnya kesal.
"Eemm ... bagaimana kalau Rio suruh nikah lagi saja, Pak. Dia menikah lagi dengan Mitha, jadi tidak usah bercerai dengan istrinya," usul Aji.
Mawan membulatkan matanya. "Kau ini gila? Mana bisa seperti itu."
"Bisa, kita jebak Rio dulu."
"Jebak? Jebak apa? Kau jangan aneh-aneh, Ji." Mawan menggelengkan kepalanya.
Aji mendekatkan bibirnya pada telinga Mawan, membisikkan sebuah rencana hingga membuat kepala Mawan mengangguk-angguk, tanda mengerti.
"Tidak buruk juga rencanamu," ucap Mawan sambil tersenyum menyeringai.
***
Sore hari.
Sepulang kerja, Rio langsung pulang ke rumah Wahyu. Ia juga diberitahu Wulan kalau dirinya sudah pulang ke rumah ayahnya.
Rio berdiri di ambang pintu sambil menenteng plastik merah di tangan kanannya. Ia melihat istrinya tengah menyapu lantai, sampai tidak menyadari suaminya pulang kerja.
"Rajin banget kau, Wulan," ucap Rio.
Wulan mengedikkan kepalanya saat mendengar suara Rio, ia tersenyum dan menghampiri Rio. Mencium punggung tangannya.
"Mas Rio sudah pulang, tumben pulang sore?"
Rio mengecup pipi Wulan dan merangkul bahunya sampai masuk kedalam kamar.
"Lihatlah, aku bawa apa?" Rio memperhatikan tentengan yang ia bawa sadari tadi.
__ADS_1
"Memang apa itu, Mas?"
"Martabak keju, apa kau suka?" Rio menaruhnya diatas nakas.
"Suka, tapi sebentar ya, Mas. Aku selesaikan menyapu dulu."
Rio menarik lengan Wulan yang hendak pergi. "Kita makan ini dulu."
"Iya, nanti ya ... Mas. Aku selesaikan pekerjaanku dulu." Wulan melepaskan lengannya pada tangan Rio.
"Ah kau ini, alasan terus!" Rio merebahkan tubuhnya di atas kasur, melihat Wulan berlalu pergi keluar dari kamar.
Seusai menyelesaikan menyapu lantai dan halaman rumah, Wulan mencuci tangan dan kakinya. Ia juga membuatkan dua gelas teh manis hangat, untuk menemani martabak dari Rio.
Setelah itu, Wulan masuk lagi kedalam kamar. Dilihatnya Rio berbaring dengan mata terpejam, sepatu pantofelnya masih terpasang pada kedua kakinya, naik keatas kasur.
"Kok tidur," gumam Wulan sambil tersenyum.
Lantas, Wulan menaruh dulu nampan yang ia bawa diatas meja. Kemudian mendekati Rio untuk membukakan sepatu dan juga kaos kakinya. Ia juga melepaskan satu kancing yang menempel pada jas suaminya, supaya tidurnya terasa nyaman. Namun tiba-tiba lengan Rio melingkar pada pinggangnya, ternyata pria tampan itu tidak benar-benar tidur.
"Ternyata Mas Rio tidak tidur?"
Rio membuka matanya. "Tadi tidur, tapi sekarang tidak."
"Ayok! Katanya mau makan martabak. Aku buat teh manis hangat juga, Mas." Wulan mencoba melepaskan lengan Rio.
Rio melihat dua gundukan dari balik piyama tidur Wulan, karena tubuh istrinya sedang membungkuk diatasnya. Selama hamil, ia merasa dua aset istrinya terlihat lebih besar dan tambah menggoda. Sungguh, membuat sesuatu yang dibawah sana menegang. Ia sampai menelan salivanya dengan susah payah.
"Mas kok diam saja?" tanya Wulan lagi.
"Iya, deh." Rio mengangkat tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang dan mengambil kotak martabak dari dalam plastik, lalu membukanya.
"Duduk disini!" titah Rio seraya menepuk kedua pahanya. Ia ingin istrinya duduk di pangkuannya.
"Kenapa harus duduk disitu? Aku duduk--"
Rio langsung menarik pinggang Wulan, hingga bokong istrinya mendarat diatas pahanya. "Kau ini banyak protes! Menurut saja kenapa sih?"
"Maaf, Mas."
"Yasudah makan martabaknya."
"I-iya, Mas." Wulan mengambil potongan martabak dan mengigitnya, beberapa kunyahan itu terasa enak di lidahnya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Rio seraya menggeser rambut istrinya dan mengecupi tengkuk Wulan, ia menikmati aroma hand body pada tubuh istrinya.
"Enak Mas. Tapi kok, Mas Rio tidak makan? Kenapa ... uh!" Wulan melenguh, merasakan tengkuknya sudah berhasil di lum mmat kasar oleh Rio.
Tangan nakal Rio sudah menerobos masuk kedalam piyama Wulan, meraba sesuatu yang kenyal disana.
"Mas Rio, Mas Rio mau apa? Katanya mau makan martabak?"
__ADS_1
"Sudah sih diam, protes saja. Kau fokus saja makan! Jangan menggangguku!" Rio mendengus kesal.
Bagaimana bisa Wulan fokus menikmati martabak, sedangkan tangan Rio sudah berkelana kemana-mana. Menyelusuri setiap inti yang membuat tubuh Wulan meremang.
"Mas ... Mas, hentikan!" Wulan memegang lengan Rio yang berada didalam celananya, menghentikan jari jemari suaminya yang tengah mengoyakkan celana renda-rendanya.
"Kenapa lagi?" protes Rio.
"Jangan lakukan ini, aku tidak tahan."
Rio tersenyum menyeringai, ia memang sengaja melakukan pemanasan supaya Wulan ikutan bernaf**.
"Mau bercinta?" tanya Rio, padahal ia yang menginginkannya dulu.
Wulan mengangguk pelan.
Mendapatkan respon yang bagus. Lantas, Rio mengangkat tubuh istrinya. Merebahkan diatas kasur. Ia mengusap-usap perut istrinya yang sudah terasa membuncit dan sesekali menciuminya.
"Si kembar sedang apa ya kira-kira?" tanya Rio.
"Aku tidak tau, mungkin sedang tidur."
"Aku mau kasih mereka vitamin dulu." Rio melepaskan seluruh pakaian Wulan sampai subuh istrinya benar-benar polos. Namun saat dirinya berhasil membuka jas dan hendak melepaskan kancing kemeja, Wulan mencegahnya.
"Nanti aku mual bagaimana? Sayang martabaknya, Mas." Wulan memegangi perutnya yang terisi satu potongan martabak.
"Seperti biasa, pejamkan matamu."
Wulan mengangguk dan langsung memejamkan matanya secara perlahan.
Kini giliran Rio yang melepaskan seluruh benang pada tubuh. Ia sudah berancang-ancang melakukan penyatuan. Namun tiba-tiba ketukan pintu kamarnya terdengar begitu nyaring.
Tok ... tok ... tok.
"Wulan, ada teman kamu di luar," kata Wahyu.
Rio segera menutup kedua mata istrinya, saat tau Wulan akan membuka mata. Ia tak mau istrinya mual melihat tubuhnya yang sudah polos.
"Mas ... ada temanku kata Ayah."
"Biarkan saja, kita bercinta dulu." Rio segera melakukan penyatuannya dengan sempurna dan mengguncang tubuh istrinya dengan pelan.
Tok ... tok ... tok.
"Wulan, sedang apa kamu didalam?" tanya Wahyu yang kembali mengetuk pintu kamar putrinya.
"Ayah! Aku dan Wulan sedang bercinta!" Rio memekik dengan nada kesal, ia menjeda dulu permainannya.
"Oh, kau sudah pulang. Maaf, Ayah tidak tau. Kalian lanjutkan saja," jawab Wahyu.
Jangan lupa like 💕
__ADS_1