
Rio duduk di atas tempat tidur dan mengelus rambut kepala istrinya. Wulan mendongak ke arahnya.
"Mas ... wanita yang di luar itu siapa?"
"Dia Mitha."
"Mitha?" Wulan mengingat sebentar nama itu, lantas kembali bertanya, "Mau apa dia ke sini, Mas?"
"Aku tidak tau." Rio melihat ke arah Wahyu yang tengah mengelus perut buncit putrinya. Bukan hanya Rio saja yang tidak sabar, ia juga tidak sabar menunggu kelahiran cucu pertamanya. "Ayah, kok wanita tadi bisa ada di sini? Mau apa?" tanya Rio.
"Dia katanya mau bertemu denganmu."
Bertemu? Mau apa, sih? Tidak penting sekali' batin Rio.
*
Santi berlari kecil menuju ruang bersalin, namun tidak ada Rio ataupun Wahyu di sana. Ia di arahkan oleh Suster untuk pergi ke ruang inap Wulan.
"Mau ngapain kau ada di sini?" tanya Santi dengan ketus saat melihat wanita seksi yang baru saja bangun dari duduknya.
"Tante Santi, aku mau menjenguk istrinya Mas Rio. Dia katanya melahirkan," jawab Mitha dengan nada lembut.
Mendengar jawaban dari Mitha, segera Santi masuk ke kamar inap bersama Irwan yang mendorong koper.
"Alhamdu--" Santi mengantung ucapannya disaat kedua matanya melihat Wulan berperut buncit, ia mungkin ingin mengucapkan rasa syukur atas kelahiran cucunya. Namun cucunya itu belum lahir dan masih nyaman pada perut ibunya. "Lho, mana si Kembar? Katanya sudah lahir?" tanya Santi dengan mimik wajah binggung, mendekati anak dan menantunya.
"Sebentar lagi kok, Mah," jawab Rio santai.
"Sebentar lagi? Wulan sudah kontraksi memangnya? Tapi kenapa dia ada di sini? Kenapa tidak ke ruang bersalin saja?" Santi mencecar pertanyaan yang bertubi-tubi. Sungguh, membuat Wulan semakin kesal dengan ulah suaminya, harusnya Rio tidak perlu mengatakan hal yang belum terjadi. Ia tidak enak pada mertuanya. Santi sampai datang membawa koper yang berisi pakaian ganti.
"Kontraksi itu apa?" Bukannya menjawab, Rio justru tak paham dengan pertanyaan Santi.
"Ya semacam gejala wanita yang mau melahirkan."
"Oh ...." Rio terkekeh. "Kata Dokter kita suruh tunggu di sini dulu, Mah."
"Suruh tunggu di sini itu maksudnya gimana?" Santi mengerutkan keningnya, expresi wajahnya mirip dengan Wahyu tadi, sama-sama binggung dengan apa yang Rio ucapkan.
"Aku sebenarnya belum mau--"
"Tunggu Wulan melahirkan lah, sebentar lagi dia kontraksi. Tadi pagi sudah ada gejalanya, kok," sela Rio menyerobot ucapan Wulan.
"Oh, yasudah. Kita tunggu saja." Santi mengelus punggung tangan menantunya. "Kamu sudah sarapan? Wanita yang mau melahirkan harus banyak tenaga. Kata Rio kamu ingin melahirkan normal, sudah begitu dua lagi."
"Aku sudah ma--"
__ADS_1
"Oh iya, Mamah benar juga. Kamu lapar tidak? Mau makan apa?" lagi-lagi Rio menyela ucapan Wulan, ia malah memberikan pertanyaan pada istrinya.
"Tidak, Mas." Wulan menggeleng dengan wajah cemberut.
"Jus saja kalau begitu, ya? Mamah akan belikan untukmu."
"Mamah ... tunggu dulu," panggil Rio saat melihat Santi membuka pintu, hingga membuat wanita paruh baya itu menoleh.
Setelahnya, Rio mendekati Santi. "Mah, apa Mamah tau ... cara supaya Wulan cepat melahirkan?"
"Nanti kalau sudah waktunya juga lahir."
"Iya, aku tau. Tapi supaya prosesnya lebih cepat. Aku ingin jadi suami siaga, Mah."
"Memang kau tadi tidak tanya Dokter? Caranya bagaimana?"
Oh iya, Rio lupa menanyakan. Tadi juga wajah Dokter seperti kesal menanggapi sikap Rio.
"Mamah sendiri memangnya tidak tau? Kan Mamah pernah melahirkan?"
"Setau Mamah sih bisa dengan bercinta, olahraga dan memijat. Itu kalau tidak salah. Coba kamu tanya lagi ke Dokter, deh."
Rio tersenyum lebar saat mendengar kata bercinta. Tadi pagi Rio memang mengatakan hal itu pada Wulan, tapi hanya menebak. Tidak tau kalau itu benar atau tidak. Namun yang dikatakan Santi ada benarnya, Rio harus berkonsultasi pada dokternya Wulan lebih dahulu.
*
"Ada apa? Apa Mbak Wulan sudah mau melahirkan?" tanya Dokter tanpa menoleh pada Rio yang berdiri disampingnya.
"Saya justru mau tanya cara mempercepat proses melahirkan, Dok. Apa Dokter tau?"
"Astaghfirullah." Dokter itu geleng-geleng kepala. "Bapak bisa cari di internet saja, saya sedang menangani wanita yang mau melahirkan." Melihat kedua perawat itu datang sambil membawa dua kantong darah, Dokter itu masuk lagi dan meninggalkan Rio.
Rio kembali ke ruang inap Wulan. Sembari berjalan, ia mencari informasi lewat go*gle pada ponselnya.
Dan ternyata caranya seperti yang Santi sebutkan tadi, malah urutan pertama dari uraian itu adalah berhubungan badan alias bercinta.
Aku harus bercinta lagi berarti? Wah, enak dong' batin Rio.
"Mas Rio, aku ingin bicara sebentar," panggil Mitha seraya menghampiri Rio yang sudah berdiri di depan pintu kamar inap Wulan. Ia juga seakan menghalangi jalan Rio untuk masuk, menahan handle pintu yang baru saja ingin Rio turunkan.
"Apaan? Kau tidak ada kerjaan? Mau ngapain, sih?" sentak Rio sambil menepis kasar tangan Mitha dari gagang pintu yang sempat menyentuh punggung tangannya.
"Aku ingin mengobrol sebentar saja. Aku mohon, Mas ...," ucapnya dengan wajah memelas.
"Kau ini waras tidak, sih? Kau tidak lihat istriku mau melahirkan? Kau pulanglah! Tidak penting sekali ada di sini!" gerutu Rio.
__ADS_1
Brak!
Rio membanting pintu itu dengan kasar, setelah dirinya masuk menemui Wulan dan Wahyu.
"Ada apa sih, Mas?"
Wulan dan Wahyu terperajat mendengar suara bantingan pintu, lantas Wulan mengangkat tubuhnya untuk duduk menyandar pada sisi tempat tidur.
Rio langsung merubah expresi masamnya menjadi ceria, ia tak ingin memendam rasa kesal disaat detik-detik kelahiran anaknya.
"Ayah, bisa Ayah keluar sebentar?" Rio ini seperti tengah mengusir Wahyu, tapi dari nada bicaranya sangat lembut.
"Memangnya kenapa? Kau butuh sesuatu?" tanya Wahyu.
"Aku dan Wulan mau bercinta Ayah."
Deg!
Wulan terbelalak. "Astaga Mas Rio? Apa yang Mas Rio katakan?"
"Aku mau bercinta denganmu." Rio mengulang lagi ucapannya. Padahal maksud Wulan bukan dirinya tidak mendengar, tapi ia begitu tak menyangka dengan apa yang Rio ucapkan.
"Mas Rio ini apa-apaan, sih? Bukannya tadi mau menungguku melahirkan? Kok sekarang mengusir Ayah dengan alasan seperti itu?" Wulan mendengus kesal dan menatap sinis wajah suaminya.
"Ya ini cara supaya kamu cepat melahirkan, aku sudah konsultasi pada Dokter."
"Tapi, Mas--"
"Apa yang Rio katakan ada benarnya, Wulan. Mungkin saja dengan begitu kamu akan cepat melahirkan," sela Wahyu. Bukannya marah karena diusir, Wahyu justru mendukung ucapan dari menantunya. Entah mengapa Wulan merasa aneh, tidak biasanya Rio dan Wahyu mempunyai pendapat yang sama.
"Masalahnya aku dan Mas Rio sudah bercinta, Ayah!" cetus Wulan kesal.
"Kapan?" tanya Wahyu.
"Tadi pagi."
"Ya sekali lagi, Wulan. Sekali lagi tidak masalah, bukan?"
"Mas ...." Wulan semakin emosi dengan sikap Rio, ia ingin membentak, melototi bahkan menampar pipi pria yang sejak tadi pagi menguji kesabarannya. Namun sayangnya Wulan tak berani, ia lebih memilih membaringkan tubuhnya sambil menangis. Mungkin dengan menangis, sedikit meredakan rasa kesal di dadanya.
Ia memang senang, selama hamil selalu diperhatikan bahkan dimanja oleh suaminya. Namun kali ini, sikap Rio sangat menyebalkan. Sungguh-sungguh menyebalkan.
Kalau nanti aku jadi melahirkan, aku akan mencakar-cakar wajah tampan kamu, Mas. Aku bersumpah!' batin Wulan.
Jangan lupa like 💕
__ADS_1