Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 177. Orang jahat tidak akan cepat mati


__ADS_3

Tak kunjung sadar, Santi langsung mendekatkan telinga kirinya pada dada Mawan, mengecek denyut jantungnya.


"Apa Papah masih hidup?" tanya Rio.


"Masih, kau bawa Papah ke rumah sakit, Rio!" perintah Santi.


Rio membungkuk dan meraih lengan kiri Mawan untuk merangkulnya pada bahu sendiri. Setelahnya, Rio mencoba menarik tubuh Mawan untuk bangun dengan bantuan Santi yang menarik lengan kanan Mawan. Namun sayangnya tak berhasil, tubuh Mawan begitu besar tidak sebanding dengan tubuhnya. "Aku tidak kuat membawa Papah, Mah."


"Sebentar, Mamah akan minta bantuan." Santi bangun dan segera berlari keluar kamar hingga keluar ke pintu utama Rio.


Mata Santi mengarah pada pos satpam yang berada agak jauh dari tempat ia berdiri, ada Jojo dan satpam sedang mengobrol sambil berdiri.


"Sini kalian!" Santi berteriak dengan kencang hingga membuat kedua pria itu menoleh dan bergegas menghampirinya.


"Ada apa, Bu?" tanya Jojo.


"Bantu Rio angkat tubuh Mawan, dia pingsan," titah Santi dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia merasa capek habis berlari.


Jojo membulatkan netranya merasa kaget. Tanpa menjawab ucapan dari Santi, segera ia masuk sambil berlari bersama satpam.


"Astaghfirullah," ucap Jojo saat melihat Mawan terkapar tak sadarkan diri.


Dengan bantuan Jojo, Rio dan satpam, tubuh Mawan berhasil diangkat, membawanya untuk masuk ke mobil.


Jojo dan Rio duduk di depan, sedangkan Santi duduk di belakang dengan Mawan.


*


Sampainya di rumah sakit, Santi memanggil perawat pria untuk membawakan brankar untuk membawa tubuh Mawan menuju ruangan UGD.


"Kok Pak Mawan bisa pingsan, kenapa ya, Bu?" tanya Jojo pada Santi yang tengah duduk bersama Rio di kursi panjang depan ruang UGD.


"Dia terjatuh," jawab Santi.


Tiba-tiba saja, Santi merasa cemas dengan kondisi Mawan, ada rasa takut jika terjadi sesuatu. Terlebih lagi itu semua lantaran Rio, lantaran Rio yang begitu emosi.


Ceklek~


Setelah empat puluh menit berlalu, akhirnya seorang dokter pria keluar dari ruangan itu.


"Kalian keluarganya?" tanya Dokter pada Rio, Santi dan Jojo.


"Iya, Dok," jawab Santi cepat.

__ADS_1


"Kita bukan keluarga dia lagi, Mah," balas Rio menoleh pada Santi. Rupanya ia merasa tak terima dengan jawaban Santi.


"Sebenarnya ada apa, Dokter?" tanya Jojo mengalihkan ucapan Rio. Ia amat cemas dengan kondisi bosnya.


"Pak Mawan ini habis terjatuh ya, Pak? Dia mengalami cedera pada tulang belakangnya," jelas Dokter.


Cedera?' batin Santi.


"Apa kondisinya parah, Dok?" tanya Jojo lagi.


"Cukup parah, Pak Mawan juga ada riwayat darah tinggi dan saat ini darah tingginya naik," papar Dokter.


"Apa itu sebabnya dia tadi pingsan, Dok?" tanya Santi.


"Kemungkinan iya, Bu. Dia juga mungkin menahan rasa sakit pada tulangnya. Dan saya juga melihat pola hidup Pak Mawan tidak sehat, Pak Mawan sering mengkonsumsi minuman beralkohol. Apa itu benar?"


Santi langsung menoleh pada Jojo, seolah meminta jawaban dari pria dewasa itu.


"Iya, Dok. Itu benar," jawab Jojo.


"Bapak ini siapanya?"


"Saya asisten pribadinya."


Deg!


Keterangan dari dokter sontak membuat Jojo dan Santi terbelalak, namun tidak dengan Rio yang bersikap biasa saja bahkan tak peduli dengan kondisi Mawan.


Kematian?' batin Santi.


"Nanti saya akan menyampaikan padanya untuk berhenti minum," jawab Jojo gugup. Ia menjadi merasa bersalah, karena Jojo sendirinya yang mengusulkan ide supaya Mawan minum alkohol.


"Baik, nanti Pak Mawan akan dipindahkan pada ruang rawat. Dia sudah diberi suntikan obat pereda nyeri, kalian bisa menemuinya setelah dia sadar."


"Baik, Dok."


Seusai dokter masuk lagi ke ruang UGD, Mawan langsung dipindahkan pada kamar inap VVIP nomor 89.


"Jo, sebentar. Aku ingin bicara," ujar Santi saat melihat Jojo memegang handle pintu kamar Mawan. Lantas, Jojo melepaskan handle pintu itu dan duduk di kursi panjang bersama Santi dan Rio. Namun agak jauh.


"Iya, Bu."


"Sejak kapan Mawan minum?" tanya Santi penasaran.

__ADS_1


"Apa pentingnya sih, Mah. Kenapa harus ditanyain?" Rio menyahut dengan suara ketusnya.


Santi menoleh sebentar pada Rio, lalu kembali melihat pada Jojo. "Mamah hanya ingin tau saja."


"Sudah lama, Bu. Mungkin semenjak Ibu pergi meninggalkannya," jawab Jojo.


"Oh, dia sering ke bar untuk minum dan berkencan dengan para j**ang?" entah mengapa Santi jadi merasa penasaran pada hidup Mawan selama beberapa bulan terakhir, padahal dulu ia tidak peduli sama sekali. Apa mungkin karena pengaruh kondisinya sekarang?


"Kalau minum iya, tapi kalau berkencan tidak. Pak Mawan masih mencintai Ibu."


"Apa yang kau katakan, Jo? Pria tua itu tidak mencintai Ibuku!" hardik Rio tak terima. Ia bangun dari duduknya seraya menarik lengan Santi, supaya ikut berdiri. "Kita pulang saja, Mah."


"Nanti Rio, tunggu dia sadar," cegah Santi.


Rio terbelalak. "Kenapa menunggu dia sadar? Dia tidak akan kenapa-kenapa, Mah."


"Setidaknya kita lihat kondisinya saat sadar, Rio. Baru pulang."


Rio melihat gelagat Santi yang seperti mencemaskan Mawan, rasanya kesal sekali.


"Kenapa Mamah mencemaskannya? Dia tidak penting, Mamah tidak perlu mencemaskannya." Dengan sedikit memaksa, Rio akhirnya berhasil membawa Santi pergi dari rumah sakit, mereka menaiki mobil taksi.


Rio menoleh pada Santi yang tengah terdiam, diamnya sang mamah seperti tengah melamun memikirkan sesuatu.


"Mamah masih mikirin dia? Dia tidak akan kenapa-kenapa, orang jahat tidak akan cepat mati, Mah." Celetukan Rio mampu membuat Santi terbelalak dan menoleh padanya.


"Rio, apa yang kau katakan? Jangan bicara seperti itu, itu tidak baik," tegur Santi sambil geleng-geleng kepala.


"Apa aku salah bicara? Aku bicara sebenarnya, kalau memang dia orang jahat. Benar, kan?" sorotan mata kebencian pada Mawan tergambar jelas pada manik mata Rio, Santi mampu melihatnya.


"Iya, itu memang benar. Tapi rasanya kau tidak perlu mengatakan hal itu ...," lirih Santi seraya menurunkan pandangan, melepaskan pandangannya pada mata Rio.


"Mamah kasihan sama dia, ya?" tebak Rio curiga. "Jangan cuma karena dia pingsan, Mamah jadi luluh dan kembali padanya! Aku tidak mau!"


"Siapa yang luluh?" Santi kembali menatap mata Rio. "Mamah tidak luluh, tapi memang Mamah kasihan padanya, hanya kasihan pada kondisinya," kilah Santi.


Rio berdecak sebal dan memalingkan wajah. "Ck! Orang seperti dia tidak perlu dikasihani, itu mungkin dia kena hukum karma."


"Sebelum aku datang, apa saja yang dia lakukan? Selain mencium Mamah." Rio bertanya sesudah beberapa menit berlalu.


"Yang dia lakukan terhadap Mamah?"


"Iya, bukan hanya terhadap Mamah saja. Tapi, apa saja yang dia lakukan di rumah? Apa alasan dia datang ke rumahku?"

__ADS_1


Jangan lupa like 💕


__ADS_2