
Dengan refleks aku menoleh ke arah Santi, rasanya penasaran ingin melihat wajahnya. Dia nampak begitu cantik, mengenakan dress di atas lutut berwarna putih. Sikapnya juga sangat tenang dan tidak ada rasa gerogi sama sekali, tidak seperti diriku yang sudah panas dingin.
Keringat pada dahi baru saja mengalir, aku segera menyekanya. Ingin rasanya kupanggil dia supaya menoleh ke arahku, namun rasanya bibir ini begitu berat untuk mengatakannya.
"Ya, benar. Saya ingin bercerai, saya sudah tak tahan dengan sifatnya yang sering sekali menyakiti hati saya dan anak-anak saya," jawabnya tanpa ragu.
Deg!
Aku membulatkan kedua mataku, saat mendengar jawaban yang terasa menusuk di dada. Meskipun semua benar, tapi rasanya jika bercerai aku tak ikhlas.
"Apa Anda benar-benar yakin dengan keputusan Anda?" tanya Hakim kembali.
Santi mengangguk. "Ya, saya benar-benar yakin."
Apa ini? Dia sama sekali tak merasa sedih untuk berpisah denganku? Sama sekali tak ada niat untuk kembali rujuk?
Mana yang dikatakan Jojo beberapa waktu hari yang lalu? Katanya dia bilang Santi bisa berubah pikiran. Tapi yang aku lihat ... dia seperti sudah begitu yakin dengan keputusannya.
"Apakah Anda tidak ada niat untuk rujuk?"
Santi menggeleng cepat. "Tidak sama sekali," jawabnya dengan lantang.
Ah! Nyeri dan sakit sekali dadaku saat mendengar beberapa jawaban yang terlontar dari mulut manisnya, segera kusentuh dadaku.
Tenyata benar dugaanku, Cinta Santi padaku benar-benar sudah pudar. Bahkan sedikit saja sudah tidak ada, sedih sekali.
"Kepada tergugat, apakah Anda setuju dengan keputusan si penggugat?"
__ADS_1
Tergugat? Apa Hakim itu bicara padaku.
"Tergugat," panggil Hakim kembali saat aku sudah menoleh padanya. "Apa Anda setuju dengan keputusan si penggugat?" benar, ternyata dia bertanya padaku.
Apa mungkin aku harus menerima saja? Tapi rasanya tidak ikhlas, sakit ... benar-benar sakit. Tapi kalau pun aku bilang tidak menerima. Apa hal yang akan terjadi setelah ini? Aku tak yakin akan merubah semuanya.
Tapi, kata Jojo ... tidak ada salahnya untuk mencoba. Baiklah, aku coba saja. Mungkin ini adalah kalimat permohonanku yang terakhir, menolak untuk bercerai. Sebab setelah ini dan sidang kedua, aku sudah tak bisa untuk memohon.
"Saya tidak setuju, Pak," jawabku.
"Apa alasan Anda?"
"Alasannya, saya masih mencintai istri saya, saya ingin memperbaiki semuanya dan memulainya dari awal lagi," jawabku dengan jujur.
"Maaf, Pak Hakim." Terdengar suara laki-laki arahnya di samping Santi, aku kembali menoleh dan ternyata dia Harun, dia menjadi pengacara Santi.
Sepertinya aku akan kalah, Harun pasti akan menang melawan Arif yang memihak padaku. Dia juga tau betapa buruknya aku. Ya Allah ... apa semuanya akan berakhir? Kenapa hidupku jadi seperti ini? Aku merasa sangat menyesal, tapi rasanya untuk berdo'a saja aku malu ... aku malu pada diriku ini yang menjadi jahat.
"Apa saja kesalahan beliau selama pernikahan? Apa Anda bisa menyebutkannya?"
"Bisa, Pak. Yang pertama adalah menyakiti Nona Indah, Nona Indah adalah anak kandung beliau dan sekarang menjadi anak tiri sekaligus menantu dari Bu Santi. Dulu karena keegoisannya ... dia hampir menghilangkan nyawa Nona Indah dan bayi yang ada di dalam kandungannya," terang Harun.
Iya, itu benar. Tapi setelah itu bukannya aku sudah berubah dan merestui hubungan Indah
dengan Reymond? Ya walau tidak sepenuhnya aku ikhlas.
"Lalu yang kedua, dia pernah memasukkan Pak Reymond yang sebenarnya adalah Pak Rendi ke dalam penjara, dengan kasus pelecehan terhadap Nona Indah yang ternyata adalah istrinya sendiri," ungkapnya lagi.
__ADS_1
"Maaf saya menyela," ucap Arif tiba-tiba yang membuatku langsung menoleh padanya, dia tengah berdiri. "Pak Mawan melakukan hal itu karena dia tidak mengenali Pak Reymond adalah Pak Rendi, dia sepenuhnya tidak salah, karena apa yang Pak Mawan lakukan adalah bentuk kasih sayang terhadap anaknya. Siapa orang tua yang terima jika anak dan cucunya di culik? Dan saat Nona Indah pulang ... terdapat beberapa tanda-tanda yang membuktikan kalau dirinya dan Pak Reymond berhubungan. Jangan lupakan kondisi ibunya juga saat itu, dia terkena serangan jantung akibat ulah Pak Reymond yang menculik anak dan cucunya," terang Arif membela.
"Memang tindakan Pak Reymond saat itu salah, tapi dia juga punya alasan tersendiri untuk meyakinkan istrinya," ucap Harun kembali, dan aku pun kembali menoleh padanya. "Saat itu memang Pak Mawan tidak mengenali Pak Reymond, namun itu karena sifatnya yang begitu egois dan sering menyimpulkan sesuatu hanya pada dirinya sendiri. Bu Santi dan Nona Indah sempat memberitahunya, tapi Pak Mawan tidak mau percaya."
Di sini aku benar-benar tersudutkan, memang yang salah di sini adalah aku, hanya aku.
"Mereka menjelaskan tidak ada bukti, wajar kalau Pak Mawan tidak percaya," sela Arif kembali.
"Silahkan beri bukti kesalahan Pak Mawan yang lain, pengacara Harun." Hakim langsung bicara kembali, aku segera menoleh ke arahnya.
"Kesalahan yang ketiga, ini adalah kesalahan yang cukup fatal yang dia lakukan pada anak-anak Bu Santi, itu terhadap Pak Rio, anak keduanya."
"Apa saja yang Pak Mawan lakukan pada saudara Rio?" tanya Hakim.
"Banyak Pak Hakim, saya bisa menyebutkannya satu persatu."
"Silahkan sebutkan."
Rasanya kepalaku tiba-tiba saja pusing, saat mendengar kesalahanku yang kulakukan pada Rio. Aku memijat pelipis mataku, hampir semua apa yang dikatakan Harun membuat telingaku berdengung, ditambah lagi Arif yang masih berusaha untuk membantuku, walau akhirnya aku tau yang dia lakukan hanya sia-sia.
Aku melihat jam dinding yang sudah bergeser jarumnya pada satu angka saat Harun mulai bicara dan sampai akhirnya Hakim mengetuk palu tiga kali.
Tok ... tok ... tok.
"Cukup-cukup." Hakim itu mengangkat kedua salah satu telapak tangannya, melerai perdebatan antara Arif dan Harun.
"Sidang pertama saya tutup, kita akan bertemu lagi bulan depan di sidang kedua. Saya harap penggugat bisa memikirkan lagi tentang keputusan Anda." Hakim itu melihat ke arah Santi. "Tidak ada salahnya untuk memberi satu kali kesempatan pada suami Anda dan kalian bisa kembali rujuk. Selamat sore." Setelah mengatakan hal itu, Hakim berbaju hitam itu bangun dan meninggalkan tempat duduknya, disusul dua orang yang berada di samping kanan dan kiri.
__ADS_1
Jangan lupa like 💕
TBC