Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
84. Meminta Maaf


__ADS_3

Selesai perkara dari kopi, sementara Indah yang sedang bersiap dan dirias oleh make up artist. Dion berjalan menuju ruangan sekretaris untuk memberi perhitungan padanya.


Tok... Tok... Tok, Dion mengetuk pintu.


Ceklek....


"Ah Pak Dion, silahkan masuk." Ucap Irene membuka pintu.


Dion langsung duduk di kursi. "Irene." Ujar Dion.


"Iya Pak." Sahutnya ikut duduk.


"Saya tidak suka dengan perkataan kamu barusan kepada istrinya Pak Rendi." Kata Dion dengan wajah serius.


Jadi beneran dia istrinya.


Batin Irene.


"Maafkan saya Pak, saya tidak tahu." Lirih Irene, menurunkan pandangan.


"Kau tidak perlu minta maaf padaku, minta maaflah pada istrinya Pak Rendi sekarang. Itu juga kalau kau masih ingin bekerja di sini." Ancam Dion.


Dia merasa tak enak hati pada Indah. Rendi sendiri memang sudah tidak suka pada Irene, tapi Dion masih binggung kalau harus mencarikan sekretaris yang sesuai dengan kriteria Rendi. Jadi selama belum menemukan yang baru, Dion ingin mempertahankannya.


Dion berjalan keluar dari ruangan sekretaris di ikuti oleh Irene.


"Dion... Aku mencari mu kemana-mana, kau malah ada di sini." Kata Rendi yang lewat, berpapasan dengannya.


Dia sudah rapih sambil mengandeng tangan Indah yang juga sudah terlihat sangat cantik dan rapih.


"Ah maaf Pak, tadi saya ada urusan dengan Irene." Sahutnya sambil melirik kearah Irene.


Irene berjalan melangkah menghampiri Indah dan Rendi. "Bu Indah maafkan saya, soal tadi di dapur kantor." Ucap Irene sambil menjabat tangannya, tapi entah itu tulus atau tidak.


Indah ingin membalas jabatan tangan Irene namun terhenti saat Rendi berkata. "Soal di dapur? Soal apa?" tanya Rendi penasaran. Indah menurunkan lagi tangannya, tidak jadi membalas jabatan tangan dari Irene.

__ADS_1


"Ah maaf Pak jadi...."


"Aku tanya sama Irene. Bukan sama kamu." Ucap Rendi ke arah Dion yang hendak ikut menjawab, Dion langsung terdiam. "Jawab Irene!" Pekiknya dengan sorotan mata yang tajam.


"Maaf Pak, tadi di dapur kantor saya tidak sengaja ketemu istri Bapak. Lalu saya bilang dia orang asing." Jawab Irene menurunkan pandangan, dia tidak berani menatap mata Rendi.


"Terus?" tanya Rendi lagi.


"Istri Bapak bilang, dia istrinya Rendi Pratama. Tapi saya malah tidak mempercayainya, lalu menertawakannya,"


Rendi menghela nafas. "Kurang ajar kamu!" Ucap Rendi dengan emosi. "Berani-beraninya kau menertawakan istriku." Kata Rendi sambil memandang Indah. "Kau aku pecat!" Tegasnya kearah Irene.


Mata Dion dan Indah langsung terbelalak.


Irene menelan salivanya dengan kasar. "Pak maafkan saya, jangan pecat saya." Ucap Irene sambil menempelkan telapak tangannya guna memohon, tapi Rendi hanya diam bahkan memalingkan wajah, wajah Rendi terlihat sangat kesal.


Aku tidak boleh di pecat, dari dulu keinginanku bekerja di kantor Kak Rendi.


Batin Irene.


Tiba-tiba saja Indah mengingat kejadian dulu, kejadian dimana Indah memohon kepada Rendi untuk meminjamkan uang untuk membayar uang sewa kontrakan, namun Rendi malah mengusirnya. Indah jadi merasa iba terhadap Irene.


Rendi dengan cepat melepas genggaman tangan Irene ke istrinya itu, "Tidak usah pegang-pegang tangan istriku, tanganmu terlalu kotor." Ucap Rendi yang langsung merangkul Indah untuk mengajaknya pergi.


"Mas, kamu tidak perlu memecat Mbak Irene seperti itu, kasihan dia." Ucap Indah yang membuat langkah kaki Rendi terhenti.


"Kasihan? Dia sudah menghinamu, aku tidak terima sayang." Sahut Rendi dengan nada yang tiba-tiba lembut.


"Tapi dia sudah minta maaf Mas, dia juga memohon padamu. Padaku juga." Kata Indah sambil mengerakkan tangannya, "Tidak ada salahnya kamu kasih kesempatan ke dia Mas, dia kan tidak sengaja menghina atau menertawakan ku, aku sendiri tidak merasa sakit hati." Ucap Indah dengan tulus.


Mata Rendi langsung membulat dengan cepat dia memeluk tubuh istrinya.


Ya Allah, aku sangat beruntung menikah dengannya.


Batin Rendi penuh syukur, hatinya tersentuh atas ketulusan Indah.

__ADS_1


"Sepertinya aku bukan menikah dengan manusia tapi dengan malaikat." Puji Rendi sambil mengelus rambut Indah


"Mas kau tidak boleh memujiku berlebihan seperti itu. Aku manusia yang banyak dosa, tidak pantas di bandingkan dengan malaikat yang benar-benar suci." Sahut Indah melepaskan pelukan Rendi.


"Ah maafkan aku, aku hanya tersentuh dengan ketulusan hatimu. Aku benar-benar pria yang beruntung." Ucap Rendi yang langsung saja ingin mencium bibir istrinya namun di hentikan dengan satu jari di bibirnya.


"Mas ini di kantor, malu." Lirih Indah sambil melirikkan matanya kekanan dan kekiri.


Rendi berdecak. "Ah padahal sedikit saja tidak masalah sayang." Ucapnya agak kesal.


Rendi menoleh kebelakang, kearah Irene yang masih berdiri dalam diam. "Irene sini kamu." Panggilnya sambil mengerakkan tangannya.


Irene dengan cepat menghampiri Rendi. "Iya Pak." Lirih Irene.


"Hari ini kamu masih beruntung. Istriku yang baik hati ini melarang ku untuk memecat mu, kau masih aku beri kesempatan. Tapi ingat." Tunjuknya, "Jangan persikap dan bertingkah bodoh di dalam kantorku, dan sadar akan posisimu yang hanya seorang sekretaris." Ancam Rendi dengan tegasnya.


Belum sempat Irene menjawabnya, Rendi sudah bergegas meninggalkannya dengan menggandeng Indah dan Dion yang membuntut di belakang.


Pakai pelet apa wanita itu, bisa meluluhkan hati Kak Rendi sampai jadi istrinya. Cih... Menyebalkan.


Gumam Irene memutar bola matanya dengan malas.


☘️☘️☘️☘️


Di sebuah Hotel yang sangat mewah, Hotel yang sama dengan Hotel acara pernikahan Rendi dan Indah. Kali ini Rendi menyewa Hotel itu lagi untuk acara syukuran pembangunan kantor cabang kedua-nya, Rendi mengundang semua karyawan di kantornya, karyawan di kantor Hermawan dan karyawan di kantor Andra. Serta teman-teman terdekat Rendi. Selain itu undangan yang tidak di undang, tidak di izinkan masuk.


Sementara itu, Andra yang juga datang ke acara Rendi dia berjalan sambil mengandeng Siska. Namun saat mereka hendak masuk, langkahnya di hentikan oleh para penjaga di depan Hotel dengan badan kekarnya.


"Maaf Anda tidak boleh masuk." Ucap penjaga itu dengan suara beratnya.


"Apa maksudmu. Saya ini Omnya Rendi, apa kau tidak tahu?" tanya Andra dengan sewot.


"Maaf bukan Bapak. Maksud saya Nona yang di samping Bapak." Ucap pria itu menatap wajah Siska.


Note: Kalau suka bisa langsung like dan favorit kan juga ya, semakin banyak yang like Author semakin semangat buat nulisnya ❤️ Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2