
Warning!!!
Kawasan 18+, kalau nggak suka bisa di skip.
***
Wajahnya terlihat begitu kesal. Apa dia tidak suka bertemu denganku di sini? Rasanya sakit sekali.
"Kamu tidak suka bertemu denganku sayang? Padahal aku senang melihatmu ada di depanku," ucapku dengan sendu.
Indah melepaskan pelukannya dan menarik lenganku untuk duduk di atas kasur.
Mataku membulat sempurna, dia mendudukkan bokongnya tepat di pangkuanku dan berhadapan. Aku baru sadar juga kalau aku tidak memakai apapun, bahkan tubuhku masih basah habis mandi.
Indah memegangi telingaku dan menggigit kecil.
"Aaww ... Apa yang kamu lakukan sayang?"
Indah kenapa aneh sekali, apa dia sedang menggoda ku?
"Habis kamu aneh Mas, masa aku tidak senang bertemu denganmu. Aku kangen sama kamu," ucapnya seraya meraba perut kotak-kotak ku.
Aku menelan saliva, rasanya juniorku sudah menegang. Tapi tertindih pada bokongnya.
"Lalu kamu kesini dengan Bayu? Di mana dia sayang?"
"Dia sudah tidur Mas sama Mamah Santi."
Indah mengigit bibir bawahnya dan meraba wajahku. "Wajah kamu merah-merah begini? Papah memukuli kamu lagi?"
Bibirnya kenapa tambah seksi?
"Aku kok baru tahu kamu punya apartemen ya Ma ..."
Cup...
Aku langsung mencium bibirnya, mumpung di kasih kesempatan bertemu. Aku akan melakukan tugas negara dengannya, ku lu*mat habis bibirnya.
Aku memeluk tubuhnya seraya merebahkan ke atas kasur, mulutnya sudah terbuka. Indah sudah lebih gampang di ajak berciuman, tapi rasanya tetap sama. Manis dan enak.
Aku melepaskan ciuman. "Sayang, kita tempur bagaimana? Kau siap?" nafasku sudah tidak beraturan. Aku sudah sangat bernafsu.
Indah mengangguk, aku langsung melepaskan pakaiannya, menarik dress-nya keatas. Aku melepaskan semua benang pada tubuh mulusnya Itu, aku mendorong tubuhnya hingga terlentang. Aku menciumi seluruh lekukan tubuh, bahkan merah-merah di tubuh sisa kemarin masih terlihat samar-samar.
Aku menjilati setiap inci leher jenjangnya itu, tapi tidak ku gigit. Karena ini berbahaya kalau Papah tahu.
"Aaahhhh ..."
Wah! Mantap sekali, dia sudah mendesah, aku langsung memburu gunung kembarnya seraya ******* habis, menyusu penuh nafsu. Tanganku sudah memelintir p*ting gunung salah satunya.
__ADS_1
"Mas ..." Indah meremas rambut kepalaku, tubuhnya juga sudah menggelinjang tak karuan.
Kepalaku turun ke bawah, kedua kakinya sudah melebar, siap untuk memasuki lahan goa yang begitu indah seperti namanya. Wangi sekali, aku langsung memburu dan memainkan lidahku di bawah.
"Aahhhhhh ... Mas, ayok lakukan cepat!"
Sepertinya istriku ini sudah tidak sabar. Junior ku juga sudah tegak berdiri, aku mengelus-elus nya dulu mempersiapkan untuk meluncur di dalam sana.
Tok ... Tok ... Tok.
Aih! Kenapa ada yang mengetuk pintu.
"Bunda! Hiks ... Hiks ... Hiks."
Mataku terbelalak. "Bayu, Mas ..."
Indah langsung bangun dan menarik selimut, menutupi tubuh polosnya.
"Indah, Reymond. Buka pintunya sayang," aku mendengar suara Mamah, aku menghela nafas panjang seraya bangun dan membuka lemari.
Aku mengambil celana kolor ku, tapi saat ku pakai kenapa terasa begitu ketat dan sempit? Juniorku sampai menonjol ke depan. Ah mungkin karena kolor ini sudah lama. Tubuhku juga makin bertambah besar.
"Bunda ... Buka!" pekik Bayu.
Bug... Bayu seperti memukul pintu, suaranya terdengar lirih.
"Bunda!"
Aku segera berjalan menuju pintu, Bayu juga terdengar terus menanggis aku kasihan padanya.
Ceklek....
"Ayah Lemon!" seru Bayu merentangkan tangannya, aku langsung menggendongnya dari tangan Mamah.
"Kamu kenapa sayang?" aku bertanya seraya menyeka air mata.
"Maaf ya, Bayu nanggis terus Rey. Kamu dan Indah lagi nanggung ya?" tanya Mamah melihat pada Indah dengan selimut yang menutupi sampai leher.
"Tidak apa-apa kok Mah," jawab Indah dengan pipi merah, sepertinya dia malu.
Mamah mengelus pundak ku. "Sabar ya, namanya punya anak kecil. Jadi wajar kalau di tunda dulu, Mamah mau lanjut tidur lagi," ujar Mamah menguap dan berjalan meninggalkan kamar.
Aku menutup pintu dan menghampiri Indah di kasur, ku dudukkan Bayu di sebelahnya, "Bunda. Napa kita di cini? Bunda, Bayu mau ketemu Oma Calah."
Indah mengelus-elus rambut Bayu, "Nanti kita ketemu sayang. Tapi Bayu bobo dulu ya?"
Bayu mengangguk dan berbaring. Dia memeluk tubuh Indah dari samping, aku duduk dan menyenderkan punggungku di sisi ranjang.
Aku mengelus rambut Indah, dia sudah memejamkan mata bersama Bayu.
__ADS_1
Rasanya bahagia sekali, aku ingin seperti ini terus. Mamah memang hebat, dia seperti malaikat saja. Baru tadi sore aku bilang ingin berkumpul dengan istri dan anakku. Malamnya langsung di kabulkan, aku sangat bersyukur punya Ibu sempurna seperti Mamah.
Tapi ngomong-ngomong bagaimana nasibku sekarang? Tugasku tertunda atau bagaimana?Ah menyebalkan sekali! Aku benci hal yang seperti ini.
Aku coba menggeser tangan Bayu dari perut Indah, mereka berdua juga sudah terlelap tidur. Indah bahkan seperti lupa ingatan.
Padahal dia yang bilang kangen duluan! Sekarang enak-enakan tidur tanpa beban!
Sudah ku geser, tapi tangan Bayu tidak bisa diam. Malah dia makin erat memeluk Indah. Padahal rencana ku ingin bertugas di kamar mandi atau sofa, tapi sepertinya Bayu tidak mau terpisahkan dengan Indah.
Jahat sekali kamu sayang, sama Ayah.
Aku terdiam sejenak, mencari ide. Aku ingin sekali tempur rasanya, tubuh Indah juga berbalut selimut.
"Kenapa tidak langsung saja menusuknya dari belakang," lirihku pelan, otak mesum ku ternyata encer juga.
Mumpung Indah berada di tengah dan tidur membelakangi ku. Aku merosot kan tubuh di sampingnya, ku lepaskan celana kolor sempit ini.
Aku melemparkannya ke bawah, tubuh polos ku masuk ke dalam selimut yang Indah gunakan. Aku meraih kakinya, ku angkat dan menaruhnya di atas pundak ku. Boleh juga posisi begini. Coba dulu ah! Siapa tahu lebih mantap.
Tapi Aneh sekali. Indah bahkan diam saja, kayaknya tidurnya pulas. Aku mencium pipinya dulu.
Cup....
Maafkan aku sayang, bukan maksudku mau menganggu tidurmu. Tapi percayalah, aku tersiksa setiap menahan hal ini.
Aku mengelus-elus miliknya, sudah basah di bawah sana. Mungkin sisa saliva ku tadi. Aku sudah memandu juniorku untuk masuk ke dalam miliknya, awas jangan sampai salah masuk.
Bres.......
"Yes!"
"Eemmmm," aku melihat wajahnya, dia hanya bergumam.
"Sayang ..." Lirih ku berbisik, bokongku juga sudah pelan-pelan, aku memompanya maju-mundur.
Indah membuka mata, ternyata dia sadar juga kalau sudah aku ajak untuk bergoyang.
"Mas ... Apa yang kau lakukan! Ada Bayu!" Indah mendengkus kesal.
Jahat banget kamu, di kasih enak malah marah-marah.
Aku masih menghentak-hentakkan milikku dari belakang, enak sekali rasanya. Sensasi baru, agak gurih-gurih sedap. Tanganku sudah menerobos masuk meremas satu gunung kembarnya, menjilati leher yang indah juga. Mumpung dekat.
"Aahhhh ... Mas, hentikan," Indah memegangi lenganku, kenapa sih dia.
"Sayang ... Diam dulu, aku sedang menikmati."
"Tapi, Mas ... Nanti Bayu, bangun!"
__ADS_1
"Semoga tidak sayang ..."