Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 55. Menjauh lah!


__ADS_3

Setelah selesai memeriksa tangan Indah ke rumah sakit, mereka berdua masuk ke dalam mobil dan duduk bersebelahan. Dokter tadi juga hanya memberikan salep luka bakar, lukanya tidak terlalu parah juga.


Indah sudah membersihkan tangannya sisa pasta gigi, dia perlahan membuka tutup salep. Namun salep itu tiba-tiba di ambil secara paksa oleh Rio.


'


"Biar aku saja yang mengolesinya."


"Tidak usah, aku bisa sendiri," Indah mencoba mengambil salep itu dari tangan Rio. Namun justru tangannya di pegang.


"Kamu kenapa sih sering nolak tiap aku bantu? Tidak suka?" tanya Rio dengan lembut.


Ngomong-ngomong sejak kapan Rio memanggil aku-kamu, padaku? Biasanya dia tidak pernah mengatakan panggilan itu?


Batin Indah.


Rio perlahan mengolesi salep itu pada punggung tangan Indah.


"Terima kasih, Rio."


Rio tersenyum, dia mengambil sesuatu pada saku jas. Sebuah kotak perhiasan berwarna merah dengan ukuran kecil, dia membuka dan memperlihatkan pada Indah. Sebuah cincin dengan satu berlian di atasnya.


"Indah ... Kamu mau, kan? Menikah dengan, ku?" tanya Rio, dia mengambil cincin dalam kotak itu. Tangannya mendekat pada jari jemari Indah, tapi jari manis Indah saja masih melingkar cincin berlian yang waktu itu Rendi berikan.


Deg.....


"Rio maaf, aku tidak bisa," Indah memegangi jarinya, seakan tak mau menerima cincin dari Rio.


Tanpa aba-aba Rio mencoba melepaskan cincin yang Indah pakai, namun terasa begitu susah karena sempat di halangi.


"Apa yang kau lakukan? Jangan di lepas!" pekik Indah.


"Kenapa? Kau harus menggantinya dengan cincin yang aku berikan ini!"


Dia menarik paksa cincin yang melingkar jari manis itu, dan di biarkan terjatuh ke bawah kursi mobil. Rio juga memasangkan cincin yang sejak tadi dia pegang di jari manis Indah, dengan kasar.


"Rio! Apa yang kau lakukan!"


Dengan cepat Rio memeluk tubuh Indah, dia mendekapnya. "Indah, aku tidak mau kau menolak ku lagi! Sudah cukup dulu. Sekarang tidak lagi!" ucapnya sedikit memaksa.


Indah mendorong tubuh Rio supaya tidak terlalu menempel padanya, tapi justru dekapannya terlalu kuat.


"Rio, apa yang kau lakukan? Tolong menjauh lah," pinta Indah.


"Kenapa? Aku hanya memelukmu saja kau sudah risih! Tapi giliran Reymond kalian sudah ..." Rio tidak jadi meneruskan, hatinya terasa begitu sakit.

__ADS_1


"Papah sudah setuju kita akan menikah, aku akan memaafkan kejadian kamu dan Reymond. Tapi kau harus menerimaku!"


"Maaf Rio, tapi aku tidak bisa."


Jleb.....


Rio mendekatkan kepalanya pada kepala Indah, matanya menatap dalam pada bola mata yang bergerak-gerak itu. Benar-benar merasa tak nyaman, bibirnya saja sudah bergetar.


"Apa yang kau katakan?" tangannya membelai lembut pipi.


Indah menepis tangan Rio. "Rio, menjauh lah!" pekik Indah.


Kedua tangan Rio sudah memegangi kepalanya, mengusap kedua pipinya, dia mendorong hingga bibir mereka saling menempel.


Cup.....


Mata Indah terbelalak. Apa yang Rio lakukan? Dia mencium istri orang bukan? Kakak iparnya.


Apa? Apa yang Rio lakukan?!


Batin Indah.


Rio menciumi bibir Indah begitu kasar, mulutnya seakan di paksa untuk terbuka dan memasuki rongga mulut, mengecupnya dengan kasar dan memaksa. Indah mendorong-dorong tubuh Rio, tapi kedua tangannya di pegang kuat oleh Rio, dia mel*mat habis bibir itu. Bibir yang selama ini ia idam-idamkan dan sejak dulu ingin merasakan rasanya.


Tak ingin ikut terhanyut dalam ciuman kasar itu, Indah langsung mengigit bibir atas Rio.


"Kenapa kau mengigit bibirku Indah?!"


Tangan Indah terangkat dan dengan cepat mengibaskan kearah pipi kanan Rio.


Plak.......


"Kurang ajar sekali kau Rio? Berani-beraninya mencium ku!" pekik Indah seraya mengusap sisa saliva Rio begitu kasar pada lengannya.


Dia membuka pintu mobil dan segera keluar meninggalkan Rio, tapi dia juga tidak ingin diam begitu saja melihat Indah berlari keluar, langkah kakinya ikut mengejar dan memegang lengan Indah.


"Lepaskan aku!" teriak Indah memberontak.


"Indah. Kau kenapa bisa semarah itu padaku? Kita hanya berciuman! Kau saja bisa bersetubuh dengan Reymond!" seru Rio dengan lantang.


Plakk.......


Rio lagi-lagi di tampar oleh Indah.


"Dia suamiku! Mau aku melakukan apapun dengannya, itu bukan urusanmu!"

__ADS_1


Tangan Indah menghentakkan tubuh Rio hingga jatuh di jalan raya, lengannya terulur dan menstop kan taksi yang lewat.


"Indah!" pekik Rio.


Dia bangun seraya berdiri mengejarnya lagi, tapi tidak berhasil karena Indah sudah masuk ke dalam mobil taksi dengan kecepatan tinggi dan meninggal Rio sendirian.


Konyol sekali pikiranmu Indah! Lagi-lagi kau menyebut dia sebagai suamimu. Melihat Kak Rendi ada pada dirinya, jelas-jelas mereka berbeda.


Batin Rio.


Indah sudah berada di dalam mobil dan melepaskan cincin yang Rio berikan. Menurunkan kaca mobil, tangannya sudah berayun ingin lempar cincin itu, tapi tidak jadi.


"Cincin kan hanya barang. Dia tidak salah apa-apa."


Indah tidak jadi membuangnya, lebih baik dia simpan pada kantong dress. Dia mengusap-usap lagi bibirnya, merasa sangat jijik. Tapi masih terasa air sisa saliva Rio dalam mulutnya, perutnya tiba-tiba bergejolak. Terasa begitu mual dan ingin mengeluarkan sesuatu.


"Pak, tolong berhenti!" pekik Indah.


Sopir itu mengangguk dan menepikan mobilnya di pinggir jalan, dia keluar dari mobil, berlari menuju saluran air. Tubuhnya membungkuk dan tidak menunggu waktu yang lama, Indah memuntahkan isi dari dalam perut, bahkan perutnya saja kosong karena belum sarapan.


"Uuek ... Uuek ... Uuek."


Seseorang dari belakang memijat tengkuknya dengan lembut, tapi dia merasa tak terima untuk segera menepisnya. "Lepaskan!"


Orang di belakang malah mendekap dari belakang.


"Rio lepaskan aku!" teriak Indah seraya menggerak-gerakkan tubuhnya, ingin terlepas dari dekapan itu.


Tapi dia belum melihat siapa orang yang di belakangnya, pandangan masih kearah depan.


"Rio?! Ini aku sayang."


Deg.....


Suara lembut dan sedikit menggoda itu masuk ke dalam rongga telinga. Mata Indah terbelalak, dia tahu suara siapa itu.


Pria itu membalik tubuh Indah supaya berhadapan padanya, bibirnya mendekat pada dahi. Mencium kening istrinya.


"Mas Reymond," ucap Indah menatap nanar.


Reymond mengusap bibir Indah memakai lengan jas miliknya, tangannya membelai pipi. "Kau kenapa? Sakit? Perutmu sakit, sayang?" wajahnya terlihat begitu cemas.


Indah tidak menjawab, tapi air matanya langsung mengalir. "Hei sayang. Kenapa? Apa yang terjadi padamu?" tanya Reymond seraya menyeka air mata.


Tidak ada jawaban sama sekali, malah suara tangisannya makin kencang.

__ADS_1


"Hiks ... Hiks ... Hiks."


Reymond malah makin binggung melihat istrinya yang terus saja menanggis, dia mengaruk-garuk rambut tidak gatal itu, mereka juga ada di pinggir jalan. Banyak kendaraan yang lewat dan orang yang lihat, dia membayar ongkos taksi terlebih dahulu dan mengajak Indah untuk masuk ke dalam mobilnya.


__ADS_2