
Sinar matahari masuk pada jendela kamar Indah hingga menyorot pada wajah. Mata itu perlahan membuka, namun dia begitu terperajat.
"Ya ampun, aku ketiduran sampai pagi."
Indah segera bangun dan menoleh kearah Bayu yang masih terlelap tidur, tangannya membuka selimut yang ia balut diatas dada. Pakaian kurang bahan itu terlihat masih rapih.
"Semalam Mas Reymond jadi atau tidak kesini? Tapi kalau jadi kok aku masih memakai pakaian?!"
Tangan Indah meraih ponsel di dekat bantalnya, menunjukkan pukul 06.00. Dan ternyata ada pesan masuk dari suaminya, ia segera membuka.
...__________________________...
💬
From: Mas Reymond
05.00 AM
Selamat pagi istriku yang cantik, maaf ya sayang. Semalam aku tidak jadi ke kamarmu, aku ada masalah soalnya. Tapi nanti kalau kita ketemu kita langsung tempur saja.
💬
From: Mas Reymond
05.01 AM
Hari ini aku juga berangkat pagi-pagi ke kantor Rizky, aku ada meeting soalnya. Maaf ya sayang, tapi nanti jam makan siang aku pulang. Kamu di rumah saja, jangan pergi kemana-mana. I love you.
...____________________________...
Padahal aku ingin sarapan bersama, kamu jahat, Mas.
Batin Indah seraya menaruh ponsel itu kembali.
***
Mawan sudah rapih mengenakan setelan jas berwarna biru dongker berjalan menuju meja makan. Sudah ada Santi, Bayu dan Indah. Hendak ingin memulai sarapannya.
Namun ia tidak melihat keberadaan Reymond, tadi dia sempat mengetuk pintu kamarnya juga. Tapi tidak ada sahutan dari dalam.
"Pagi, sayang," sapa Mawan kepada semuanya.
"Pagi Pah," sahut Indah dan Santi.
"Pagi Opa, Bayu calapan bubul Opa," ucap Bayu.
Mawan mendekati cucunya dulu seraya mencium kening. "Wah iya, Bayu sarapan sampai kenyang, ya?"
"Iya, Opa."
Mawan duduk disebelah Indah, tangannya perlahan mengelus rambut. "Perut kamu sakit atau tidak? Bagaimana kondisi kamu sekarang?"
"Tidak, Pah. Aku sudah baik-baik saja sekarang," jawab Indah seraya menyuapi Bayu.
Santi bangun untuk menuangkan nasi goreng pada piring dan menaruhnya didepan suaminya. "Dimana si Reymond?!" tanya Mawan dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Mas Reymond berangkat pagi-pagi. Katanya ada meeting, Pah," sahut Indah.
Si bodoh itu pasti sengaja menghindariku.
Batin Mawan.
"Kejadian semalam tidak usah diperpanjang, Pah," ucap Santi.
Mawan melirik kearah Santi. "Dia tidak sopan! Papah musti buat perhitungan dengannya!" seru Mawan.
"Lagian bukan salah dia juga, Papah yang lupa mengunci pintu," sahut Santi.
"Ada apa sih, Pah? Mas Reymond kenapa? Apa dia punya salah?" tanya Indah binggung.
"Semalam Reymond ke kamar kamu atau tidak?" Mawan malah berbalik bertanya.
"Tidak, memangnya kenapa, Pah?"
Apa semalam Papah memergoki Mas Reymond?! Jadi gara-gara itu Mas Reymond tidak jadi ke kamarku?! Semoga Papah tidak marah.
Batin Indah.
"Tidak kenapa-kenapa. Cuma Papah saranin sama kamu, jangan pernah lupa mengunci pintu. Kalau dia malam-malam mengetuk pintu kamarmu, kamu jangan membukanya," pinta Mawan.
Indah mengangguk. "Iya, Pah. Tapi Papah jangan marahin Mas Reymond, nanti dia tidak betah tinggal disini."
Mawan menghela nafas dengan gusar dan memulai sarapan.
"Iya. Oya, mulai hari ini dan seterusnya kamu berhenti saja dari kantor Papah, sayang."
Mata Indah terbelalak. "Papah memecat, ku?"
"Kamu 'kan sedang hamil, tidak perlu kerja nanti capek. Istirahat saja di rumah, main dengan Bayu. Kan ada Mamah juga."
"Padahal aku masih ingin kerja, Pah," pinta Indah dengan wajah memelas.
"Sayang, sudah turuti saja. Oya, Mamah lupa belum membeli susu ibu hamil untukmu. Nanti setelah urusan Mamah beres, Mamah sekalian mampir ke supermarket," ucap Santi.
"Yasudah, aku dan Bayu ikut saja, Mah," jawab Indah.
"Tapi Mamah habis sarapan ingin ke kantornya Rio. Memang kamu mau ikut? Bukannya kamu tidak mau bertemu dengannya?"
"Aku dan Bayu bisa bertemu dengan Papah Antoni, Mah. Semalam, niat aku mau ke rumah Papah Antoni saja tidak jadi."
"Antoni disana kerja, Indah. Nanti kamu yang ada .....," ucapan Mawan langsung terputus, dia tidak jadi meneruskan. Karena melihat wajah Indah sudah memerah, dia ingat betul. Dulu waktu hamil Bayu. Indah menjadi sangat sensitif dan mudah menanggis.
"Oh, yasudah. Kamu dan Bayu boleh ikut," jawab Santi.
Indah langsung menarik senyum dan ikut sarapan.
***
Sementara itu Hersa, Rizky dan Reymond menaiki mobilnya, mobil itu melaju menuju kantor Andra.
"Hersa, kapan aku dan Bayu bisa melakukan tes DNA?" tanya Reymond duduk di kursi belakang, bersebelahan dengan Rizky.
__ADS_1
"Besok, Pak. Saya sudah mempersiapkan semua," jawab Hersa sambil menyetir.
Reymond mengambil ponsel pada saku jasnya untuk segera menelepon Santi.
"Halo, Mamah. Mamah sedang ada dimana?" Ia mendengar suara ramai dari seberang sana.
"Mamah lagi di supermarket, sama Indah dan Bayu."
Reymond langsung tersenyum. "Indah dan Bayu?! Aku ingin bicara dengannya, Mah."
"Dia sedang sibuk memilih mainan buat Bayu. Nanti saja ya, kamu ada apa telepon?"
"Aku mau tanya, dulu pas aku dinyatakan hilang dan kecelakaan. Mamah masih simpan berkas-berkasnya atau tidak?"
"Masih ada, tapi di rumah kamu yang dulu," jawab Santi.
"Nanti Mamah ambil dan kumpulin semuanya ya, Mah," pinta Reymond.
"Memangnya mau buat apa?"
"Aku akan membuka identitas ku pada polisi, aku juga akan melakukan tes DNA ulang dengan Bayu."
"Serius kamu, Rey? Memang penjahatnya kamu sudah tau?"
"Belum, cuma dia yang sudah tau aku Rendi. Jadi lebih baik aku buka saja sekalian. Mamah tolong jaga Indah dan Bayu, ya?"
"Iya."
"Oya, aku minta maaf juga masalah semalam, Mah. Sumpah aku benar-benar bodoh! Aku sampai salah kamar."
"Iya, tidak masalah. Lain kali kalau ingin ke kamar Indah, kamu bisa kasih tau Mamah dulu. Mamah akan membantumu."
"Iya, Mah. Terima kasih," jawab Reymond seraya menutup telepon.
Kini mereka berdua turun dari mobil, mereka masuk kedalam kantor baru Andra. Ini kali pertamanya Reymond menginjakkan kaki pada kantor hasil kerja kerasnya, mata Reymond menyusuri seisi gedung besar itu. Kantor ink bahkan lebih luas daripada kantor yang Rio pegang.
Semua karyawan disana tidak ada yang terasa asing di mata Reymond, karena itu semua karyawan Andra. Hanya pindah kantor saja.
Tangan Rizky perlahan mengetuk pintu ruangan Andra.
Tok ... Tok ... Tok.
"Ya, masuk," sahut seseorang dari dalam.
Mereka berdua masuk pada ruangan CEO, ada seorang pria berkumis tipis yang tengah berdiri disebelah Andra. Apa mungkin dia yang menjadi pengganti Anton?!
"Ah. Rizky, Reymond. Silahkan duduk," ucap Andra yang duduk pada kursi putar.
Kedua pria itu duduk didepan Andra. "Selamat pagi, Om. Bisa kita mulai sekarang saja meetingnya?" tanya Rizky.
"Bisa-bisa, kita ke ruang meeting atau ....,"
"Disini saja, lagian kita hanya meeting bertiga dan cuma sebentar," sahut Rizky.
"Oke, kita duduk saja di sofa bertiga," ucap Andra.
__ADS_1
^^^Kata: 1021^^^