Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 5. Kenapa harus sama


__ADS_3

"Mah ... aku ingin Mamah nanti pilihkan Wulan dress yang sama, seperti dress yang biasa Indah pakai. Belikan make up juga yang sama dengan yang biasa Indah pakai."


Deg.....


"Apa maksudmu, kenapa harus sama dengan Indah?"


"Mamahkan tau ... aku suka semua hal yang ada pada Indah."


"Iya, tapi mereka itu orang yang berbeda Rio. Kamu ingin Wulan berdandan seperti Indah, begitu? Tapi tetap saja Wulan ya Wulan ... Indah ya Indah. Mereka tidak akan sama dan memang tidak mirip. Kamu bilang ingin melupakannya ... kenapa bilang seperti itu lagi, sih?" dengkus Santi kesal.


"Iya aku tau, tapi setidaknya dia bisa sedikit cantik, walau aku sendiri tidak yakin."


"Semua wanita itu cantik Rio. Kau berhenti terus menghina Wulan! Dia akan Mamah buat menjadi cantik, kamu tenang saja. Tapi berhenti membanding-bandinkan dia dengan Indah. Mau sampai kapan kau terus mencintai wanita yang bukan milikmu!"


Tut ... Tut ... Tut.


Sambungan telepon itu langsung dimatikan secara sepihak oleh Santi.


Rio menyenderkan punggungnya sambil mengusap-usap pelipis mata.


Aku juga ingin melupakan Indah. Sungguh aku ingin melupakan cinta yang bertahun-tahun menyiksa diriku sendiri. Tapi sampai sekarang aku tidak bisa.


Wulan ... dilihat dari sisi manapun dia tidak menarik, aku tidak menyukainya.


Batin Rio.


Rio kembali mengetik layar ponsel untuk menelepon seseorang.


***


Sementara itu, Indah, Reymond, Bayu dan Clara pergi ke rumah kontrakan Wahyu. Awalnya mereka mencari tempat biasa dia mangkal, namun justru tidak ketemu.


Malah gerobaknya sekarang ada didepan rumah kontrakan. Tapi terlihat tak ada bakso pada etalasenya, pintu rumah itu terbuka dengan lebar.


"Beneran ini rumah kamu Clara?" tanya Reymond dari depan, merasa tidak yakin.


"Iya benar Om." Gadis kecil itu langsung membuka pintu mobil untuk turun.


Indah, Reymond dan Bayu ikut turun. Mobilnya sudah ia parkir didekat gerobak.


Indah sudah mulai melangkah ingin masuk menyusul Clara yang lebih dulu masuk. Tapi lengannya seakan dihentikan oleh Reymond, ia ragu ingin masuk kedalam. Karena melihat kondisi kontrakan itu dan bau daging yang sudah tercium.


Kok bisa mereka tinggal ditempat seperti ini?!


Batin Reymond.


"Sayang. Kamu di luar saja, biar aku yang masuk. Takutnya kamu mual," cegah Reymond.


"Aku tidak mu ... Hoek." Indah segera menutup mulutnya dan masuk lagi kedalam mobil, benar saja. Dia sudah terasa mual.


"Permisi!" panggil Reymond dengan nada agak tinggi, dia berdiri di ambang pintu sambil mengendong Bayu.

__ADS_1


Pria tua itu keluar bersama dengan Clara yang tengah di gendong.


"Pak Reymond. Bapak kesini. Ah silahkan masuk ... Pak."


"Maaf Pak. Apa baksonya masih ada? Istriku ingin bakso yang Bapak buat," ucap Reymond dengan kaki yang enggan untuk masuk.


"Oh ada, masih ada. Bapak mau? Nanti saya buatkan."


"Buatkan dua, tapi di bungkus saja ya, Pak," pinta Reymond.


"Iya." Wahyu segera masuk lagi kedalam dan menuju dapur.


"Ayah! Bayu mau kecana cama Kaka Lala," renggek Bayu dalam gendongan, tangannya menjulur kedepan.


"Kita disini saja, tunggu di luar, ya?"


Bayu menggelengkan kepalanya. "Ngga mau Ayah! Bayu mau kecana!" kini kaki Bayu sudah bergerak-gerak hendak turun. Namun Reymond berusaha untuk menahannya.


"Iya ... iya, sebentar."


Reymond balik lagi menemui Indah yang tengah minum. "Sayang kamu mual? Apa kita pulang saja?"


"Aku tidak apa-apa kok, Mas. Tapi aku mau tunggu disini saja."


"Baksonya tetap mau?"


Indah mengangguk.


"Iya, Mas. Nggak apa-apa."


"Ayok Ayah!" renggek Bayu lagi.


"Kamu tunggu dulu disini. Aku mau masuk dengan Bayu," ucap Reymond seraya mengecup kening Indah dan berjalan masuk kedalam.


Kakinya melangkah menuju dapur, tapi dengan mata yang mengelilingi sudut ruangan itu.


Matanya berpusat pada sebuah bingkai foto diatas dinding yang sudah berdebu dan lapuk, seperti foto beberapa tahun yang lalu.


Ada tiga orang dalam foto, dua wanita dan satu pria, pria itu adalah Wahyu. Ia disana terlihat lebih muda.


Salah satu wanita itu terlihat seperti Wulan, Namun wanita paruh baya yang memakai jilbab entah siapa, tapi terlihat perutnya seperti buncit. Layaknya seorang wanita yang tengah hamil.


"Pak Reymond. Maaf lama, ini baksonya," ucap Wahyu yang tiba-tiba datang menghampiri. Reymond sampai terperajat, gara-gara sedari tadi terdiam memperhatikan foto didepannya.


"Ah iya, tidak masalah, Pak." Ia segera mengambil dompet pada saku celana.


"Jadi totalnya berapa?"


"Tidak usah, Pak. Bawa saja," tolak Wahyu seraya memberikan bakso ke tangan Reymond.


"Jangan begitu. Bapakkan jualan, ini ambil saja." Reymond sudah menerima plastik bungkusan bakso itu dan menukarnya dengan uang 200.000.

__ADS_1


"Ini kebanyakan, Pak."


"Ambil saja, tidak apa. Yasudah saya permisi dulu," pamit Reymond.


"Kaka Lala. Ayok ulang!" ajak Bayu dengan tangan yang terulur hendak meraih tangan Clara tapi tidak berhasil tergapai, gadis kecil itu sama-sama masih di gendong.


"Dede Bayu. Kakak tidak ikut ya? Kakak malam ini mau bobo disini sama Ayah Kakak," tolak Clara.


"Kaka Lala ikut Bayu ulang! Ayok!" Bayu lagi-lagi mengajaknya untuk pulang.


Reymond mengelus rambut Bayu. "Bayu sayang, kita pulang ya? Biarkan Kak Lala disini. Ini rumahnya."


"Ngga ... Kaka Lala ikut Bayu ulang Ayah!" renggek Bayu dan langsung menangis. "He ... he .. he. Ayah! Kaka Lala ikut Bayu ulang ...."


"Sayang ... kalau Kak Lalanya tidak mau, jangan dipaksa."


Reymond sudah melangkah menuju pintu, namun tangan Bayu masih bergerak-gerak seakan mengisyaratkan untuk Clara ikut, namun justru Clara melambaikan tangan padanya.


"Dadah Dede Bayu."


"Bener kamu ingin tidur disini? Nggak mau ikut Pak Reymond? Kasihan Dede Bayunya."


"Iya Ayah! Aku mau disini malam ini, aku kangen sama Ayah," ucap Clara seraya memeluk tubuh Wahyu.


Kini mobil Reymond sudah berjalan pergi, tapi kedua tangan dan wajah Bayu menempel pada kaca mobil, dia juga masih menangis karena Clara tidak mau ikut pulang dengannya.


"Bayu sayang, kamu kenapa?" tanya Indah.


Ia mencoba mendudukkan Bayu dalam pangkuannya tapi bokong kecil itu seakan menolak dan ingin terus berdiri.


"He ... he .. he," rintih Bayu menangis. "Kaka Lala!"


"Mas ... Bayu kenapa? Dan Clara kenapa tidak ikut?" Indah menoleh kearah Reymond yang tengah menyetir.


"Bayu menangis karena Clara tidak mau ikut pulang bersama kita, sayang," jawab Reymond.


"Kok dia tidak mau pulang. Kenapa memangnya?"


"Dia bilang ingin tidur di rumahnya karena kangen sama Ayahnya, sayang."


Indah mengangguk paham. Kini dia mencoba menenangkan Bayu yang masih terisak tangis, tangannya mengelus lembut punggung kecil itu.


"Bayu sayang ... Kaka Lala kangen sama Ayahnya, jadi dia tidak ingin ikut, biarkan saja sayang."


"Api Bayu mau ain baleng Kaka Lala ... Bunda!"


Sejak kapan Bayu dan Clara dekat? Perasaan mereka belum lama kenal.


Batin Reymond.


^^^Kata: 1031^^^

__ADS_1


__ADS_2