
"Setelah gambar itu jadi, kita juga butuh foto istri Bapak. Nanti biar langsung di perbanyak." Ucap polisi memberikan ide cemerlang.
Ya Allah, aku sendiri tidak punya foto Indah sama sekali.
Batin Rendi, dia memencet ponsel Indah dan membuka galeri. Untung saja ada satu foto Indah di sana.
Sekitar 2 jam lebih akhirnya sketsa itu selesai. Dion langsung pergi untuk memperbanyak foto Indah dan hasil dari sketsa wajah itu. Rendi menyuruh 10 orang untuk menyebarkan poster itu.
"Apa kita perlu kasih tau Pak Mawan pak?" tanya Dion.
"Tidak usah, lagian papah tidak ada di Jakarta saat ini." Sahut Rendi.
Rendi menyuruh 10 bodyguard berbadan kekar untuk membantu mencari keberadaan Indah. Semakin banyak orang yang ikut mencari, maka semakin besar Indah cepat ketemu.
Enam belas orang dengan Rendi pergi ketitik dimana kejadian Indah di culik. Setelah polisi mengusut, mereka memutuskan untuk berpencar.
Rendi menaiki mobil dengan satu bodyguard di belakang naik motor, Rio menaiki mobil dengan satu bodyguard menaiki motor. Dion menaiki mobil dengan satu bodyguard menaiki motor, Harun menaiki mobil dengan satu bodyguard menaiki motor. Begitu pula dengan dua orang polisi. Dan sisa bodyguard itu berpencar kesana kemari menyelusuri kota Jakarta.
πΏπΏπΏ
Indah yang masih berada di dalam mobil dia mulai kelelahan dan pegal karena tidak bisa bergerak bebas.
Krukuk-krukuk...... Bunyi suara perut Indah. Sudah perut keroncongan kepala ikut kunang-kunang.
Aku lapar sekali, kepalaku juga ikutan pusing.
Batinnya dalam hati. Mobil yang mereka kendarai sudah melewati kota Jakarta.
"Pak kalian bawa aku kemana? Kenapa jauh sekali?" tanya Indah namun mereka hanya diam saja.
Sekarang terpampang nyata plang Kota Karawang di atas.
Krukuk-krukuk..... Bunyi perutnya lagi, kepalanya juga semakin berat.
Aku harus makan, aku nggak boleh pingsan. Aku harus tetap sadar supaya aku tau mereka membawaku kemana.
Batin Indah sambil manggut-manggut.
"Pak, aku lapar! Apa aku bisa makan?" tanya Indah.
__ADS_1
"Gimana?" tanya pria kekar itu sambil menatap satu sama lain dan mengedipkan matanya memberikan isyarat. "Nanti berhenti di depan warung nasi." Ucapnya lagi ke temannya yang menyetir.
"Aku.... Aku mau nasi Padang Pak." Ucap Indah menawar. Tanpa jawaban mereka memberhentikan mobilnya di depan warung nasi Padang.
"Pak, aku mau nasi Padangnya pakai rendang, teh manis anget sama sebotol air mineral juga.... Apa boleh?" tanya Indah dengan wajah memelas. Pria itu mengedipkan kedua matanya, dan membuka pintu, hendak keluar.
"Pak..." Panggil Indah lagi dengan nada sedikit tinggi.
"Pelan kan suaramu!" Gertak pria yang di samping Indah.
"Maaf, aku hanya... Aku minta sekalian di belikan bodrex. Kepalaku pusing... Apa bisa?" Pintanya lagi.
"Apa lagi?" tanya pria itu sambil melototi Indah. Rupanya dia mulai kesal karena Indah banyak sekali permintaannya.
"Eemm..... Kalau bisa sama tissu.... Mukaku sangat berminyak dan berkeringat aku...."
"Sudah cukup!" Bentaknya, seketika saja Indah terdiam dan takut. Pria itu berlalu pergi.
Beberapa menit pria itu membawa semua yang Indah pesan. Indah mulai binggung kenapa dia bisa sebaik itu, apa karena di suruh oleh bosnya? Indah menjadi tambah curiga.
"Nih." Ucapnya menaruh beberapa bungkus plastik di atas paha Indah.
"Apa di dalamnya Bapak kasih racun atau obat tidur?" tanya Indah sambil memandangi isi plastik.
Apa dia berbohong? Apa habis memakan ini semua aku bisa mati?
Batin Indah merasa dilema.
Krukuk-krukuk.... Namun perutnya seakan tidak bisa di ajak kompromi, dia benar-benar sudah lapar tingkat akut.
Dengan perlahan Indah mencoba membuka sebungkus nasi Padang itu, entah kenapa seperti ada cahaya bintang-bintang yang terpancar di dalamnya, membuat lidah dan perutnya tidak sabar untuk melahapnya.
Bukan cuma Indah, kedua pria itu juga memandangi sebungkus nasi Padang yang Indah pegang sambil menelan ludah. Rupanya mereka juga lapar, tapi karena tugas. Mereka jadi menahannya.
Satu sendokkan mendarat di mulutnya dan....
Hap....
"Enak banget." Ucapnya sambil mengunyah. Indah menikmati makannya dengan senyuman dan mata yang berbinar-binar.
__ADS_1
Pria di sampingnya ikut melihatnya dan lagi-lagi menelan ludah.
"Bapak mau?" tanya Indah, namun mereka berdua memalingkan wajahnya.
"Kalau mau beli lah sendiri, kenapa tadi nggak sekalian beli juga." Timpalnya lagi mengejek.
Indah melanjutkan makannya lagi, meskipun agak susah karena dia makan di dalam mobil yang sedang melaju. Namun akhirnya selesai. Hanya menyisakan bungkusnya, teh manis dan bodrex serta air minum juga sudah mendarat di lambungnya.
"Kenyang, alhamdulilah..." Ucapnya lagi, mengelus perut.
Selang beberapa menit setelah makan, matanya kini menjadi sayup dan sangat mengantuk. Apakah benar pria itu memberikannya obat tidur?
Indah mencoba melotot-melototkan kedua bola matanya, dan menggeleng-gelengkan kepala untuk menghilangkan rasa kantuk.
Tapi tidak berhasil. Karena sejatinya, dia tidak bisa menahan yang namanya ngantuk. Akhirnya matanya terpejam dan tertidur pulas.
"Lu kasih dia obat tidur? Bukannya bos bilang kita di suruh membawanya saja, tidak boleh melakukan hal lain." tanya Pria di samping.
"Aku tidak memberikannya obat tidur." Jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Kok dia habis makan langsung tidur?" tanyanya lagi.
"Mungkin kekenyangan kali, semua orang kalau habis makan pasti ngantuk." Sahutnya dengan santai.
πΏπΏπΏ
Sekitar jam 2 dini hari akhirnya pencarian mereka menemukan titik terang. Polisi mengecek setiap pintu tol Jabodetabek, yang ternyata mobil berplat nomor tersebut sudah meninggalkan Jakarta kearah Karawang.
Dengan cepat Rendi melajukan mobilnya untuk sampai di sana. Hatinya semakin panik tak tenang, sesekali dia mencium syal yang sudah beraroma tubuh Indah, dia merasa sangat merindukannya.
"Indah kamu di mana? Apa kau baik-baik saja?" tanyanya sambil menyetir sendiri.
Apa jangan-jangan Indah di culik lalu di perkosa? Ah tidak bisa. Itu jangan sampai terjadi.
Batin Rendi mencoba menenangkan diri sendiri.
π π π
Keesokan harinya, Indah membuka mata karena silawan mentari pagi yang menembus sebuah jendela kamar. Dia terbangun dan melihat sekelilingnya, kamar yang asing dan cukup luas. Tapi tunggu dulu, ini seperti sebuah kamar hotel? Apa semalam selama dia tidur, dia di bawa masuk ke kamar hotel?
__ADS_1
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
Note: Jangan lupa dukung selalu Author ya ππ lewat like, komen, vote dan gift. Terimakasih sudah membaca β€οΈβ€οΈ Love You