Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 18. Dua bayi?


__ADS_3

"Dia namanya Siska, Bu. Siska Novelis, seorang model. Mungkin sekitar 6 tahun atau 5 tahunan ... apa Ibu pernah melihat dia datang kesini menitipkan bayinya? Atau mungkin Ibu melihat dia membuang bayi disekitaran halaman rumah ini?" tanya Reymond.


Wanita berjilbab itu seperti mulai mengingat-ingat dan memperlihatkan wajah Siska dari layar ponsel itu. Mulutnya sudah terbuka, mungkin ingin menjawab. Tapi tiba-tiba terdengar bunyi suara ketukan pintu.


Tok ... tok ... tok.


"Sebentar Pak, saya buka pintu dulu," ucapnya dibarengi bangun dan berjalan ke arah pintu.


Ceklek......


"Maaf Bu, aku menganggu, boleh aku bicara dengan suamiku, sebentar?" suara Indah terdengar dari depan, Reymond langsung berdiri dan menghampirinya.


"Ada apa sayang?" tanyanya seraya mengelus rambut Indah.


"Mas ... apa kamu masih lama?"


"Iya, aku masih ada urusan dengan Bu Susan, kenapa memangnya?"


"Aku, Bayu dan Papah ingin pulang duluan ya?"


"Lho ... kenapa memangnya? Kamu pulang bareng denganku saja, sayang."


"Tadi Wulan telepon, katanya Clara ingin bermain dengan Bayu. Jadi dia mau ke rumah Papah Mawan, apa aku boleh pulang duluan?"


"Oh yasudah, kamu hati-hati di jalan. Pulang nanti langsung istirahat saja, ya?" Reymond mencium kening istrinya.


"Iya, Mas."


Setelah Indah pamit pulang, kini mereka berdua duduk diposisi yang sama. Reymond masih sangat penasaran dengan jawaban dari Susan.


"Jadi bagaimana, Bu? Apa Ibu pernah melihat wanita di foto itu?"


"Sepertinya iya, saya pernah melihatnya."


Deg......


Ekspresi wajah Reymond langsung terlihat senang.


"Lalu, apa dia menitipkan bayinya disini?"


"Iya, tapi lebih tepatnya dia hanya menaruh bayinya didepan pintu," jelas Susan.


Deg.......


"Didepan pintu? Tapi bayinya perempuan 'kan, Bu?"

__ADS_1


"Betul, Pak."


"Lalu ... sekarang dimana anaknya? Apa masih ada disini?" tanya Reymond penasaran.


"Sebelumnya saya harus tau dulu, hubungan antara Bapak dengan Bu Siska dan bayinya ini apa?" tanya Susan.


Deg.....


"Memangnya harus banget Ibu tau?"


"Iya, semua anak-anak di panti ini sudah jadi anak asuh saya. Jadi, semua data pribadinya tidak sembarangan orang lain tau," jelas Susan.


Reymond langsung terdiam dan bergumam dalam hati.


Aku harus bilang apa? Hubunganku dengan Siska dan bayinya? Siska memang mantanku. Tapi bayinya adalah Adiknya Indah. Kalau dia Adiknya Indah berarti ....


Dia ... dia ... dia ... anaknya Papah Hermawan?


Deg.....


Astaga iya, kenapa aku baru sadar sekarang. Dulu juga Papah pernah bercerita kalau dia selingkuh dengannya, jadi ... mereka berselingkuh sampai menghasilkan seorang anak? Anak perempuan? Kenapa terdengar begitu menjijikkan. Tapi ... walau bagaimanapun dia adalah Adiknya Indah, Adik kandungnya, Adik tiri sekaligus Adik iparku juga.


Apa aku jujur saja pada Bu Susan tentang semuanya? Tapi aku seperti membuka aib Papah tidak, ya? Tapi kalau tidak bilang jujur, nanti dia tidak akan membantuku. Sepertinya dia tau tentang anaknya Siska.


Reymond menghela nafas berat.


"Iya, memang lebih baik Bapak jujur," balas Susan sambil mengangguk.


"Siska ini adalah selingkuhan dari Papah istriku, Indah. Dan mereka mempunyai anak perempuan. Tapi masalah, Indah sendiri tidak tau kalau dia punya Adik. Aku hanya dapat amanah dari Siska sebelum dia meninggal, dia mengatakan kalau aku harus mencari keberadaan anaknya yang berarti Adiknya Indah," jelas Reymond.


Innalilahi, ternyata Bu Siska sudah meninggal.


Batin Susan.


Susan mengangguk paham, ia bangun dan berjalan menuju lemari kecil, lemari itu berisi data-data tentang anak-anak panti disana. Ia mengambil salah satu dokumen berwarna biru dan amplop kecil.


Di taruhnya pada meja dekat Reymond, kini ia sudah duduk kembali. Amplop itu langsung di serahkan pada Reymond.


"Coba Bapak buka dulu, mungkin saja itu bisa dijadikan sebuah petunjuk," ucap Susan.


Reymond perlahan membuka amplop itu, ada tiga benda didalam sana. Sebuah kalung berlian berwarna putih dengan liontin huruf S, ada secarik kertas dan yang membuatnya terkejut adalah ada selembar foto Hermawan, dengan memakai jas begitu rapih berwarna biru dongker, sontak membuat mata Reymond terbuka dengan lebar.


"Baca juga suratnya, Pak," titah Susan.


Pria tampan itu menganggukkan kepala dan mulai membuka lipatan kertas yang sudah berisi tulisan didalamnya.

__ADS_1


...__________...


...Sayang ... maafkan Mamah, bukan Mamah tak mau mengurus dan membesarkanmu. Hanya saja Mamah binggung, status Mamah bukanlah seorang istri dari siapapun dan terlebih lagi dari Papahmu. Mamah juga bukan Ibu yang pantas untukmu. Semoga dengan kamu tinggal disini ... kamu akan menemukan kehidupan yang baru dan mendapatkan kebahagiaan. Tapi Mamah juga memberikan kamu sebuah foto, suatu hari nanti kamu bisa melihatnya. Dia Ayahmu! namanya Hermawan, tapi Mamah minta ... kamu tidak perlu memintanya untuk mengakui kamu sebagai anaknya, dia tidak akan terima dan percaya, Mamah tau itu. Karena mengingat lagi Mamah bukanlah wanita baik-baik. Tapi Mamah cukup yakin seratus persen kalau dia adalah Ayah kandungmu. Kamu hanya cukup tau saja, tidak perlu untuk mencarinya. Sekali lagi maafkan Mamah ... Mamah sayang kamu....


...____________...


"Maaf, Bapak barusan bilang anaknya Bu Siska adalah anak dari Papahnya Mbak Indah. Berarti yang dimaksud Bapak tadi adalah Pak Antoni. Sedangkan didalam surat itu nama Ayahnya adalah Hermawan, apa mungkin Bapak salah orang?" tanya Susah binggung.


Reymond menaruh kembali tiga benda itu pada amplop.


"Tidak, Bu. Ini semua benar, Papah Antoni yang Ibu maksud tadi adalah Papah tiri Indah. Dan ... Papah Hermawan ini adalah Papah kandung Indah," jelas Reymond.


"Oh, jadi begitu."


Reymond mengangguk. "Lalu ... sekarang anaknya dimana, Bu? Apa dia masih tinggal disini?"


"Itu dia masalahnya, Pak. Saat saya tau Bu Siska menaruh bayi didepan pintu. Saat itu ada dua bayi," jelas Susan.


Deg......


Mata Reymond terbelalak.


"Dua bayi? Apa itu bayi kembar?"


"Bukan Pak. Karena selisih mereka satu Bulan."


Deg......


Apa mungkin Siska punya dua anak?! Tapi kalau dua-duanya anak Papah, aku rasa itu tidak mungkin. Setelah Papah berhubungan dengan Siska lalu dia menikah dengan Mamah. Masa iya Papah selingkuh lagi, menurutku tidak mungkin.


Batin Reymond.


Reymond makin dibuat binggung.


"Ibu lihat sendiri pada saat Siska meletakkan dua bayinya didepan pintu?"


"Tidak, yang saya lihat bayi itu sudah tergeletak didepan pintu," jelas Bu Susan.


Reymond mengangkat amplop putih yang sejak tadi ada ditangannya.


"Lalu amplop ini, Ibu temukan dimana? Pasti dia meletakkannya didekat bayinya, kan?"


Susan menggelengkan kepalanya.


"Tidak Pak, justru itu yang membuat saya binggung. Bu Siska juga sempat datang satu bulan setelah meletakkan bayinya disini. Tapi dia kesulitan mencari anaknya, karena katanya golongan darahnya tidak sama. Mungkin sama dengan Ayah kandungnya," jelas Susan.

__ADS_1


Deg.....


^^^Kata: 1016^^^


__ADS_2