
Reymond seperti sudah geram melihat Siska yang terus saja berada didepannya, bukannya tidak langsung mandi saja. Kenapa musti banyak mengoceh?
"Iya, deh. Aku mandi sekarang," ucap Siska seraya menutup pintu kamar mandi dan menyalakan kran shower.
Sembari menunggu Siska selesai mandi, Reymond menelepon anak buahnya.
"Halo, iya. Pak Reymond," ucap seorang pria dari telepon itu, suaranya terdengar begitu ngebass.
"Kau ada dimana? Sudah membawa apa yang aku pesan, kan?" tanya Reymond pelan.
"Saya sudah di depan Hotel, kamarnya nomor berapa, Pak?"
"120, cepat kesini sebelum si Jalang selesai mandi!" perintah Reymond.
"Baik, Pak."
Reymond menutup sambungan telepon dan membuka kunci pintu kamar, dia berjalan keluar dan menyenderkan punggungnya disisi tembok menunggu anak buahnya datang.
Tidak menunggu waktu yang lama. Kedua anak buah yang memakai pakaian seragam hitam itu datang, menghampiri Reymond. Sebut saja mereka sebagai bodyguard. Karena penampilannya hampir mirip semacam itu, tubuh keduanya besar dan tinggi.
Kedua bodyguard itu membawa sebuah koper besar, satu tas gendongan pada punggung dan mengantongi obat bius, serta sapu tangan.
"Masuklah," perintah Reymond melihat pada pintu kamar 120.
Mereka berdua mengangguk dan masuk kedalam kamar, sedangkan Reymond menunggunya diluar.
Suara percikan air masih terdengar, kedua bodyguard itu sudah ancang-ancang disamping kanan-kiri pintu kamar mandi, salah satu mereka sudah meneteskan obat bius pada sapu tangan.
Siska menyelesaikan mandinya dan mematikan kran shower. Tapi dia lupa tidak mengambil handuk kimono terlebih dahulu.
Dia membuka pintu, kedua pria itu sudah bersiap. Tapi Siska hanya mengeluarkan lengan yang terulur. "Rey, tolong ambilkan handuk kimono," pinta Siska.
Kedua pria itu melayangkan pandangan dan mengangguk. Yang lebih dekat dari pintu lemari, dialah yang mengambilkan handuk itu didalamnya.
Tanpa suara, pria itu memberikan handuk menuju tangan Siska. "Terima kasih, Rey." Siska tidak mengetahui keberadaan mereka, dia masih sibuk didalam kamar mandi.
Siska langsung memakai handuk itu dan melilit tali pada pinggul seksinya, setelah selesai, dia keluar kamar mandi.
Deg.....
Mata Siska terbelalak, kala melihat kedua pria asing sudah berada didepannya. "Siapa ka ....,"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, salah satu pria didepan, dengan sigap membungkam mulut Siska, membiusnya.
Siska mulai memberontak, tapi tubuhnya dipegang kuat oleh pria yang satunya. Obat bius dengan dosis tinggi itu berhasil membuat Siska pingsan dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Ali, pria yang memegang tubuh Siska yang sudah tidak sadarkan diri dibantu oleh Aldi, pria yang berhasil membius Siska.
Mereka berdua memasukkan tubuh Siska kedalam koper besar, tubuh Siska sudah mereka lipat supaya bisa masuk dan menutupnya. Tapi koper itu punya lubang udara, sehingga tidak akan membuat Siska sesak nafas atau mati didalam sana.
Ali mendorong koper itu menuju pintu kamar Hotel, sedangkan Aldi masuk kedalam kamar mandi. Mengambil pakaian Siska, matanya berkeliling melihat benda yang dia taksir adalah milik Siska.
Dia juga menemukan tas diatas kasur milik Siska. Aldi memasukkan semua barang-barang Siska kedalam tas gendong yang ia pakai, sapu tangan hasil aksi mereka juga sekalian ia masukkan, tidak akan meninggalkan jejak apapun.
Mereka berdua sudah siap dan berhasil membawa Siska, keduanya keluar dari kamar Hotel dan menghampiri Reymond yang masih menyender di tembok.
"Sudah, Pak," ucap Ali, tangannya terulur memberikan card system pada Reymond.
Demi memastikan semuanya tidak meninggalkan jejak. Reymond masuk lagi ke kamar Hotel, melihat benda-benda yang ia curigai tertinggal milik Siska. Ternyata tidak ada.
Reymond segera keluar dan mengunci pintu. "Ayok!" ajak Reymond pada kedua bodyguardnya itu.
Reymond berjalan didepan dan kedua bodyguard ada yang mendorong koper dan mengendong tas.
Mereka berdua masuk kedalam pintu lift.
"Tempatnya sudah kalian siap, kan?" tanya Reymond.
"Sudah, Pak."
Ting.....
"Baik, Pak."
Ali dan Aldi meninggalkan Reymond didepan lobby, mereka segera keluar dari Hotel dan masuk kedalam mobil.
Aldi menyetir dan melajukan mobil, sedangkan Ali yang berada dibelakang membuka koper dan mengangkat tubuh Siska untuk mendudukkannya di kursi sebelah.
Sebelum dia sadar, Ali mengikat tubuh Siska dengan kuat, kedua tangan dan kaki. Seperti layaknya Rendi dulu, tidak lupa menempelkan lakban hitam juga pada mulut Siska.
Reymond berjalan menghampiri pelayan Hotel didepan. Tangannya memberikan card system.
"Bu. Aku ingin pulang sekarang, berapa biayanya?" tanya Reymond seraya mengambil dompet pada kantong celana.
"Lho bukannya, Bapak yang baru saja memesan kamar. Kenapa langsung pulang? Apa kamarnya terasa tidak nyaman?" tanya sang pelayan merasa tak enak hati, takut pelayanannya tidak puas oleh pengunjung.
Reymond tersenyum. "Bukan. Aku hanya tidak jadi menginap saja, soalnya istriku sudah rindu ingin bertemu di rumah."
Pelayan itu membalas senyuman Reymond. "Oh, begitu. Baik, Pak." Pelayan wanita itu menatap layar komputer.
"Biayanya sebesar 100 juta."
__ADS_1
Reymond mengangguk dan menggesekkan black card pada pembayaran Hotel.
Setelah selesai membayar biaya, Reymond berjalan keluar Hotel dan masuk kedalam mobilnya.
Tangannya mengambil ponsel untuk menelepon Harun.
"Halo, selamat sore, Pak."
"Harun, kau sekarang datang ke Hotel Xxx, hapus semua rekaman CCTV dari jam 2 sampai 4 sore," perintah Reymond.
"CCTV dimana saja, Pak?"
"Area parkiran, pintu masuk Hotel, Lobby, Lift, lorong menuju kamar nomor 120 dan pintu kamarnya. Jangan sampai ada yang tahu, aku ke Hotel bersama Jalang. Apa kau bisa aku andalkan?"
"Siap, Pak. Saya bisa."
"Oke, kalau kau sudah selesai, temui aku di tempat penyekapan. Kau sudah tau 'kan tempatnya?"
"Sudah, Pak. Saya sekarang berangkat ke Hotel dulu."
Reymond langsung menutup sambungan telepon dan menyetir mobil.
***
Mawan sudah pulang dari kantornya, dia berjalan melangkah masuk kedalam rumah. Tapi rumahnya terasa sangat sepi, tidak ada suara Bayu mengoceh. Di ruang tamu hanya ada Santi tengah duduk santai sambil menonton televisi. Langkah Mawan menuju padanya.
"Mah, dimana Indah dan Bayu?" tanya Mawan.
"Mereka di rumah Antoni, Pah."
Deg....
Anak ini, bukannya aku sudah bilang untuk istirahat dan tidak kemana-mana?! Kenapa malah pergi ke rumah Antoni sih!
Gerutu Mawan.
Mawan mengerutkan dahi. "Mamah kenapa mengizinkan? Bukannya dia sedang sakit? Harusnya dia istrahat di rumah, jangan keluyuran!"
Santi bangun dan tersenyum pada suaminya, "Papah ini ngomong apa? Dia tidak keluyuran, dia hanya main. Lagian Antoni juga Ayahnya."
Glek.......
"Enak saja, hanya aku Ayahnya!" seru Mawan seraya menunjuk diri sendiri, tak terima sekali. Merasa kalau dia sedang di bandingkan.
Mata Mawan melihat kearah dapur rumahnya, "Bi! Bibi!" Dia berteriak memanggil pembantu.
__ADS_1
Bibi langsung segera menghampiri Mawan dan Santi di ruang tamu. "Iya, ada apa, Pak?" tanya Bibi dengan sopan.
"Kau bereskan beberapa setel baju Indah dan bajuku. Masukkan kedalam koper," perintah Mawan.