
"Ah, maaf Pak. Bukan maksud saya membuat Bapak sedih." Jojo mengusap-usap bahu Mawan dan menyeka air mata untuk kesekian kali menggunakan tissu. "Sudah, Bapak jangan menangis lagi."
"Oya, aku ingin bertanya tentang si Kembar. Dia lucu, ya? Wajahnya mirip denganku." Lebih baik dia membahas masalah kedua anaknya Rio saja, supaya sedikit meredakan kesedihannya.
"Masa sih, Pak? Kok bisa mirip dengan Bapak? Kan tidak ada darah Bapak." Jojo menatap Mawan tak percaya.
"Iya, aku jujur. Dia 'kan memang cucuku, Jo. Apa kau tau ... saat aku melihat dan menggendongnya, aku seperti melihat diriku sendiri sewaktu bayi," ungkap Mawan sambil berkhayal, membayangkan momen kemarin, saat dirinya menggendong Rafa.
"Bapak mungkin salah lihat kali, kok saya tidak percaya."
"Memangnya kau kemarin tidak melihat wajah si Kembar? Dia begitu mengemaskan dan mirip denganku."
"Saya melihat mereka sekilas, Pak. Tapi tentang mirip atau tidaknya dengan Bapak, saya tidak tau. Menurut saya sih, pasti mereka lebih mirip Pak Rio ... dia 'kan Ayahnya."
"Kalau itu memang benar, tapi ada sedikit mirip denganku."
Lama-lama Jojo bosan juga mendengar ucapan Mawan yang semakin ngelantur, terpaksa ia mengangguki saja apa yang Mawan katakan.
"Iya, Pak."
***
"Mah, apa masalah Mamah dan Papah sudah selesai?" tanya Indah saat masuk ke mobil bersama Santi. Mereka menuju jalan arah pulang.
"Sudah, Sayang."
"Apa Mamah dan Papah tidak jadi bercerai?" tanya Indah penuh harapan, masih berharap mereka tidak jadi bercerai.
"Jadi, Mamah nanti minta tolong Reymond untuk menghubungi Harun, ya? Mamah ingin minta dia yang mendampingi Mamah sebagai pengacara."
"Oh, iya Mah." Indah sempat mengira kalau hal yang dibahas Santi dan Mawan tadi adalah tentang hubungannya yang akan kembali, namun ternyata tidak.
Beberapa menit berlalu, mobil Irwan sudah sampai di depan rumah Rio.
"Kamu mau mampir dulu lihat si Kembar?" tawar Santi.
"Nanti saja, Mah. Aku ingin langsung ketemu Caca, dia belum minum ASI."
"Ya sudah, Mamah masuk dulu. Kamu dan Bayu hati-hati."
"Iya, Mah."
Santi mengecup kening Indah dan Bayu, setelah itu ia keluar dari mobil. Melangkahkan kakinya masuk ke rumah Rio.
"Mamah ... Mamah habis dari mana?" tanya Rio saat melihat Santi baru saja melangkah naik anak tangga, pria tampan itu sehabis dari dapur.
Santi menoleh. "Mamah habis ke rumah sakit."
__ADS_1
"Pasti jenguk pria itu, kan? Kok tidak izin padaku? Mau apa Mamah ke sana? Pasti mau balikkan sama dia, kan?" Rio mencecar beberapa pertanyaan bertubi-tubi pada Santi. Ia dari pagi tidak melihat Santi pergi dan Wulan sendiri tidak tau, sebab Santi pergi pagi-pagi sekali ke rumah Reymond.
"Banyak sekali pertanyaanmu, Mamah sampai pusing menjawabnya." Santi berlalu menaiki anak tangga, disusul oleh Rio di belakang.
"Mah ...." Rio mengenggam tangan Santi saat sang Mamah hendak masuk ke kamar utama.
"Apa?" Santi menoleh.
"Jawab pertanyaanku."
"Iya, Mamah ke sana menjenguk Papah ... tapi hanya ingin melihat kondisinya saja. Mamah juga mengingatkan dia tentang perceraian," jelas Santi.
"Benarkah?" mata Rio langsung berbinar. "Jadi Mamah dan Papah jadi bercerai?"
"Tentu jadi, nanti kau temenin Mamah saat persidangan, ya?"
Rio mengangguk cepat. "Tentu saja, kapan itu?"
"Minggu depan. Oya ... mana baby sitter? Apa belum datang?"
"Memang Mamah sudah menyewanya? Tidak ada yang datang dari pagi."
"Sudah, mungkin besok."
"Tidak perlu pakai baby sitter saja deh, Mah. Aku bisa menjaganya."
"Sudah, aku baru pulang tadi. Aku tidak terlalu sibuk."
"Pasti kau bohong, bilang saja tidak bisa meninggalkan si Kembar lama-lama."
Rio terkekeh, ucapan Santi memang tepat sekali. "Mamah ini seperti paranormal, bisa tau isi hati seseorang."
"Iyalah jelas."
Santi mengajak Rio masuk bersama ke kamar utama. Terlihat Wulan tengah duduk di tepi ranjang sambil menggendong Rafa, ia perlahan membuka satu kanci di depan dadanya.
"Kau mau apa, Wulan?" tanya Rio.
"Oh, Mamah sudah pulang." Bukannya menjawab pertanyaan Rio, Wulan justru menyapa mertuanya.
"Sudah, kamu mau menyusui? Memang sudah keluar ASI-nya?"
"Tadi sepertinya keluar, Mah. Aku baru saja ingin mencobanya."
Santi melihat ke arah Rafa, bayi mungil itu tengah mengecap-ngecap mulut dan lidahnya. Seperti menandakan kalau dirinya lapar.
"Sini Mamah ajari." Santi membantu Wulan membuka tiga kancing pada dress bagian dada Wulan. Wulan perlahan menyembulkan salah satu dadanya dan mengarahkan pucuknya pada mulut Rafa.
__ADS_1
Saat tersentuh bibir saja, Rafa langsung melahapnya dan mulai menyusu.
"Mamah, kok rasanya geli, ya?" tanya Wulan sambil meringis, untuk pertama kali merasakan sentuhan dari mulut mungil Rafa.
Santi merubah posisi Rafa saat digendong oleh Wulan, supaya bayi mungil itu tidak tersendak saat minum ASI. "Masa geli? Saat Ayahnya menyusu, rasanya geli tidak?" goda Santi.
"Mamah ini bicara apa, sih? Mas Rio--" Wulan mengantung ucapannya saat melihat ke arahnya Rio. Seketika itupun, ia terbelalak lantaran melihat air liur Rio hendak terjatuh pada bibirnya. "Mau jatuh awas, Mas!" tegur Wulan.
Santi menoleh ke arah Rio yang sudah tersadar dan segera mengusap bibirnya, air liur itu tidak jadi terjatuh.
"Hahahaha ... kau kenapa? Kau kepengen?" Santi menyenggol lengan Rio.
"Apa? Tidak." Rio tergagap dan menggeleng cepat, ia mengusap-usap punggung tangannya pada jas yang ia kenakan, bekas air liurnya tadi. Tadi Rio sempat menelan ludah, dan seakan terkesima saat melihat Wulan untuk pertama kalinya menyusui si Kembar.
Enak banget jadi Rafa' batin Rio.
"Kau pasti bohong, kan?" tuduh Santi dengan curiga.
"Ngapain aku bohong? Tidak kok," kilah Rio. Ingin jujur rasanya malu.
"Mas Rio bukannya sudah bilang ini untuk si Kembar?" Wulan menyentuh dadanya yang terlihat begitu kenyal dalam pandangan Rio.
"Iya, memang itu untuk si Kembar. Sudah ah, aku mau mandi dulu." Lebih baik Rio menghindar, ia takut imannya tergoyahkan saat melihat gunung kembar istrinya. Segera ia keluar dari kamar utama menuju kamar tamu yang sekarang menjadi kamarnya.
"Ingat puasa, Rio!" Rio menepuk-nepuk kedua pipinya dengan kasar sambil berjalan masuk ke kamar mandi.
*
Malam hari
Wahyu masuk ke kamarnya sambil membawa segelas susu hangat, menaruhnya di atas nakas dekat dengan posisi Rio yang tengah duduk. Pria tampan itu sedang melihat-lihat foto dirinya, Wulan dan si Kembar pada layar ponsel.
"Minum susu dulu Rio, Ayah buat untukmu." Wahyu duduk di samping menantunya.
"Terima kasih, Ayah. Harusnya Ayah tidak perlu repot untuk membuatnya. Biasanya 'kan Wulan atau Bibi."
"Tidak apa-apa, Ayah tidak merasa direpotkan. Oya ... tumben sudah masuk kamar? Biasanya kau ke kamar jika tengah malam."
Ya, Rio biasanya ke kamar utama dulu untuk memperhatikan si Kembar sebelum dirinya ke kamar tamu, tidur bersama Wahyu.
"Tidak Ayah, si Kembar sedang menyusu."
"Terus kenapa kalau mereka sedang menyusu? Biasanya kau ikut memegangi botolnya." Wahyu belum tau saja kalau sekarang ASI Wulan sudah keluar. Dan saat ini, Rio sengaja tidak menemuinya takut dirinya ikut kepengen seperti tadi siang.
Jangan lupa like 💕
TBC
__ADS_1