
Pria didepannya perlahan membuka mata, hingga membuat mata mereka saling bertemu. Rio memperhatikan seluruh wajah Wulan.
Deg.....
"Apa kau tidak dandan?" tanyanya sambil mengangkat kedua alisnya keatas.
"Sudah. Tadi aku pakai bedak dan lipstik," sahut Wulan.
"Tapi tidak kelihatan, kau seperti baru bangun tidur. Sana pergi dandan lagi. Setelah itu bangunkan aku lagi," usir Rio seraya memejamkan matanya kembali.
"Tapi, Mas ...."
"Kau dengar aku atau tidak?" mata Rio masih terpejam.
"Baiklah, aku akan dandan lagi."
Wulan langsung buru-buru keluar dari kamar Rio, dia balik lagi menuju kamarnya. Terlihat Clara baru selesai mandi dengan lilitan handuk diatas dada.
"Clara, kamu sudah mandi?"
"Sudah, bajuku ada disebelah mana Kak?" tanya Clara seraya membuka pintu lemari.
"Pakaian kamu disini." Wulan membuka pintu lemari disebelahnya. "Sebentar Kakak ambilkan."
Wulan mengambilkan pakaian untuk Clara dan menaruhnya diatas tempat tidur.
"Terima kasih, Kak."
"Iya."
Kini Wulan kembali menancapkan make up, hanya bedak dan lipstik saja. Namun dia poles lagi supaya wajahnya terlihat memakai bedak.
"Kakak mau pergi bekerja?" tanya Clara sambil memakai pakaian.
"Tidak, Kakak ingin membangunkan Kak Rio. Habis ini kamu turun untuk sarapan, ya?"
"Iya Kak."
Mau ditebalkan bagaimanapun tetap susah, karena bedak itu hanya bedak tabur. Malah takutnya menjadi cemong-cemong. Wulan merapihkan kembali bedak itu dan menghampiri Clara.
"Clara menurut kamu Kakak terlihat memakai make up atau tidak?" Wulan memegangi wajahnya, menatap wajah Clara.
"Iya ... kan tadi Kakak berdandan," jawab Clara.
"Iya, maksud Kakak. Terlihat tidak Kakak pakai bedak dan lipstik?" tanya Wulan lagi, sepertinya adiknya itu tidak mengerti maksud omongannya.
"Iya Kak, Kakak sudah cantik. Kakak ingin terlihat cantik didepan Kak Rio, ya?" goda Clara sambil tersenyum, terlihat pipi Kakaknya sudah bersemu merah.
"Tidak, kok. Kakak biasa saja," elak Wulan. "Yasudah Kakak ke kamar Kak Rio dulu."
Wulan keluar dari kamarnya dan masuk lagi kedalam kamar Rio, tapi kali ini Rio sudah bangun. Bahkan ia tengah duduk diatas kasur.
"Mas ... kamu sudah bangun," ucap Wulan seraya berjalan menghampiri.
__ADS_1
Rio memperhatikan lagi wajah Wulan, tapi raut wajahnya terlihat begitu masam.
"Kau ini lama sekali! Aku juga memintamu untuk berdandan ... tapi wajahmu tetap saja begitu," ucap Rio memutar bola matanya malas.
Apa ini?! Aku sudah menebalkan make up, tapi di matanya aku tidak berdandan?!
Batin Wulan.
"Tapi aku sudah berdandan, Mas. Aku sudah menambahnya setebal mungkin," jawab Wulan dengan wajah memelas, tapi Rio tidak melihatnya sama sekali.
"Lepaskan celanaku cepat! Aku ingin mandi!" perintah Rio.
Wulan membungkuk dan menarik kolor pendek yang Rio kenakan sampai terlepas.
"Sudah, Mas," sahut Wulan sambil menunduk.
Rio melihat kearah tubuh bagian bawahnya. "CDku ini masih menempel!" Rio segera berdiri.
Padahal tinggal tarik saja kebawah apa susahnya? Kenapa musti aku.
Gerutu Wulan dalam hati.
Perlahan Wulan menarik cepat celana dal*m Rio. Matanya bahkan sudah terpejam.
Setelah berhasil polos Rio berjalan menuju kamar mandi.
"Siapkan pakaian kerjaku dan taruh ketempat pakaian kotor, celana yang kau pegang sekarang!" teriak Rio seraya menutup pintu kamar mandi.
Wulan segera mencari keranjang besar yang berisi pakaian kotor, ia langsung menaruhnya disana.
Wulan mengambil setelan jas berwarna biru dongker dan menaruhnya diatas kasur.
"Setelan jas sudah, lalu apa lagi?" tanya Wulan pada diri sendiri.
"Ah kemejanya belum."
Dia balik lagi membuka lemari untuk memilih kemeja, diambilnya kemeja panjang berwarna putih. Ia segera meletakkan lagi diatas kasur, bersebelahan dengan setelan jas.
Suara gemericik air masih terdengar, Rio masih sibuk didalam kamar mandi. Wulan mengingat lagi tentang peraturan yang Rio buat. Padahal dia sudah mencoba menghafalkannya semalam, tapi pagi harinya lupa.
"Membuat kopi!"
Setelah kembali mengingat ia bergegas keluar dari kamar Rio dan menuruni anak tangga, terlihat Clara sudah duduk menunggu di meja makan.
Tapi dia melihat Kakaknya seperti orang yang sibuk, Wulan langsung menuju dapur untuk membuat secangkir kopi.
Gadis kecil itu menghampiri Kakaknya. "Kakak sibuk banget, apa mau aku bantuin?" tanya Clara.
"Tidak perlu sayang ... kamu duduk sa-"
"Wulan!" pekik Rio.
Suaranya berasal dari lantai dua. Wulan dan Clara mendongak kearah Rio yang tengah berdiri. Pria itu sehabis mandi dengan lilitan handuk diatas perut.
__ADS_1
"Sini kamu, Wulan!" pekiknya lagi.
Wulan menoleh kearah Clara. "Kamu tunggu sebentar disini. Kakak naik keatas dulu, ya?"
"Iya, Kak."
Wulan segera berlari menaiki anak tangga, keringat pada wajahnya sudah bercucuran. Ia merasa seperti olahraga pagi.
Kok aku lihat Kak Rio galak sama Kak Wulan?! Kasihan Kakak.
Batin Clara kembali duduk diatas kursi, wajahnya terlihat begitu sedih.
Wulan sudah masuk lagi kedalam kamar Rio dengan nafas yang tersengal-sengal. Rio tengah berdiri sambil berkacak pinggang.
"Kau ini lupa atau gimana? Apa tidak baca peraturan yang keempat?" tanya Rio dengan kesal.
"Baca Mas, aku sudah melakukannya. Itu pakaian kerja kamu." Wulan menunjuk kearah pakaian yang sudah terpampang rapih diatas kasur.
"Kamu pikir aku cuma pakai setelan jas dan kemeja saja, begitu?"
"Memangnya ada yang kurang?" wajah Wulan terlihat kebingungan. "Oh sepatu dan kaos kaki, ya? Maaf-maaf ... aku belum mengambilnya."
Wulan baru selangkah berjalan menuju rak kaca, tempat penyimpanan sepatu-sepatu. Namun Rio memanggilnya supaya Wulan menghentikan langkah.
"Wulan!"
"Iya, Mas." Wulan menatap wajah Rio yang terlihat ditekuk.
"Kamu ini tidak mengerti atau bagaimana sih? Masa iya aku pakai setelan jas, kemeja dan dasi tapi tidak memakai CD?"
Deg.......
Mata Wulan terbelalak. "Apa itu juga harus aku siapkan?"
"Iyalah jelas. Memang kau pikir aku tidak memakai CD? Bisa gelantungan kemana-mana burungku ini," jawab Rio sambil memegangi juniornya yang masih tertutup oleh handuk.
Wulan menghela nafas dengan gusar.
Kalau seperti ini mending aku jadi OB saja, daripada tidak kerja ... tapi melakukan peraturan seperti ini, sama saja seperti kerja.
Keluh Wulan dalam hati.
Kembali ia membuka lemari dan mencari-cari kantong ajaib itu. Tidak perlu memilih, ia asal mengambil saja.
"Apa aku juga yang harus memakaikannya?" tanya Wulan ragu-ragu.
"Sebenarnya tidak usah. Tapi kalau kau yang mau sendiri, pakaikan sekalian." Rio langsung menarik lilitan handuk itu sampai terjatuh di lantai.
Aku menyesal bertanya seperti itu.
Batin Wulan.
Wulan menelan ludahnya melihat pemandangan yang mengerikan itu, begitu besar dan panjang. Hanya itu yang ada dalam hati dan pikirannya sekarang.
__ADS_1
Wulan kembali membungkuk untuk memakaikan kantong ajaib itu pada pemiliknya, dia juga memakaikan kemeja putih, memakaikan celana bahan, memakaikan gesper pada pinggang dan yang terakhir memakaikan jas, kemudian mengancingkannya.
^^^Kata: 1039^^^