
Selepas mengeluarkan hasratnya kini Rio sudah berbaring dan memejamkan mata, sepertinya dia tertidur karena cukup lelah. Tapi tidak dengan Wulan, ia segera bangkit dari tempat tidur. Memungut semua pakaiannya di lantai dan berlari menuju kamar mandi.
Aku binggung harus senang atau bagaimana? Tapi tadi dia tidak menyebut nama Indah sama sekali, hanya mengerang dan menikmati permainannya. Apa dia memang tadi melihatku sebagai, Wulan? Tapi ... kenapa dia mengajakku bercinta? Padahal tadi dia bilang ingin bercerai denganku, aneh sekali.
Batin Wulan.
Seusai mandi dan mengeringkan tubuh, ia memakai kembali pakaiannya dan berjalan menuju kasur yang masih ada Rio tengah tidur berbalut selimut.
Wulan mengambil bedak dan lipstik pada tas miliknya, untung saja dia selalu membawa kedua benda itu. Setidaknya dia masih bisa terlihat cantik, tidak lupa ia juga menyisir rambut panjangnya yang masih basah.
Inikan di rumah orang tua Mas Rio. Aku malu sekali pada Bu Santi dan Indah. Semoga saja mereka tidak curiga karena melihat rambutku basah.
Batin Wulan.
Ia menuruni anak tangga dan menghampiri Indah dan Santi yang sedang duduk santai di ruang tamu. Ada Bayu dan Clara juga, mereka tengah bermain sambil duduk lesehan di lantai.
Mertua dan Kakak iparnya itu melayangkan pandangan pada Wulan, namun mereka menarik senyum bahagia.
"Apa kau habis mandi?" Santi ini bertanya, tapi nada suaranya terdengar seperti tengah menggoda Wulan.
Pipi Wulan langsung bersemu merah, ia langsung duduk disebelah Santi, tapi menjawabnya hanya dengan anggukan kepala.
Padahal masih siang, tapi biarkan saja. Kapanpun waktunya. Pasti terasa enak.
Batin Santi.
"Mamah ... Indah, aku dan Clara pulang dulu, ya? Dia mau sekolah," ucap Wulan seraya melihat kearah Clara.
"Lho kok pulang," sahut Indah.
"Mending kamu telepon aja Guru home schoolingnya Clara, suruh mengajar disini," titah Santi.
"Tapi buku-buku Clara ada disana, Mah," jawab Wulan.
"Mamah sudah suruh sopir, untuk membawa barang-barang kamu, Clara dan Rio untuk dibawa kesini."
Mata Wulan terbelalak. "Kenapa memangnya, Mah?"
Santi memegang tangan Wulan dengan lembut. "Untuk sementara, hanya beberapa hari saja. Mamah minta kalian bertiga tinggal disini, kamu jangan menolaknya."
"Aku tidak masalah, Mah. Tapi ... aku tidak enak sama Indah dan Kak Reymond," ucap Wulan sambil menunduk.
"Kamu ini bicara apa Wulan? Aku dan Mas Reymond akan setuju, lagian Bayu juga akan senang," ujar Indah.
"Tuh ... apa kata Indah," sambung Santi.
***
Terdengar suara deringan ponsel dengan keras, itu membuat Rio terbangun dari tidurnya. Ia langsung mengambil benda yang berada didekatnya itu.
"Halo," ucap Rio.
"Rio! Kau ini kemana?! Apa kau tidak ingat hari ini ada meeting denganku!" pekik Reymond dengan lantang, suaranya seperti toa.
__ADS_1
Mata Rio terbelalak kaget, ia seakan baru sadar dari mimpinya itu. Apalagi baru mengingat kejadian yang dia dan Wulan lakukan.
Astaga! Aku ini benar-benar gila, kenapa aku bisa bercinta dengannya? Padahal aku sudah berniat ingin bercerai dan tidak akan menyentuhnya lagi.
Batin Rio sambil geleng-geleng kepala.
"Rio!" pekik Reymond.
"Ah! Iya, Kak."
"Cepat kau kesini! Kalau tidak ... aku akan memecatmu!" ancam Reymond.
"Iya ... iya, aku segera kesana." Rio langsung menutup sambungan telepon dan berlari menuju kamar mandi.
Reymond mendengkus kesal, ia begitu emosi dengan tingkah Adiknya yang tidak gigih dalam bekerja. Harusnya hari ini Rio yang datang menemuinya, tapi sekarang malah Irene yang tengah duduk bersamanya. Terhalang oleh meja.
Ia sedang membaca beberapa dokumen yang Irene berikan, dengan tangan yang memegang bolpoin.
"Pak Reymond, bagaimana kabar Bayu?" tanya Irene basa-basi.
"Baik."
"Kalau Indah, bagaimana kabarnya?"
"Baik."
Mendengar jawaban yang terlalu singkat, Irene merasa begitu kesal.
Batin Irene.
"Auw!" pekik Irene tiba-tiba, seraya memegangi perut.
Pandangan yang tadinya menatap kearah dokumen, kini berpindah pada Irene yang terlihat meringis kesakitan. Ia segera mengangkat bokongnya dan menghampiri wanita itu.
"Kau kenapa?"
"Perutku, perutku sakit. Pak," lirih Irene sambil meringis.
Reymond hendak melangkah menuju pintu, namun dengan cepat Irene memegang lengannya.
"Bapak mau kemana? Tolong antarkan saya ke rumah sakit," pinta Irene.
Aliran darah segar mengalir dari paha menuju kaki, Irene saat ini mengenakan rok span berwarna biru diatas lutut.
Mata Reymond terbelalak kaget, karena merasa panik, ia segera mengangkat tubuh Irene. Membawanya keluar dari ruangan.
"Bapak, Mbak Irene kenapa?" tanya Melly yang sedang berdiri didepan pintu.
"Dia pendarahan, aku akan mengantarnya ke rumah sakit. Kamu handel dulu semuanya, kalau Rio datang. Suruh langsung masuk dan meeting," perintah Reymond.
"Iya, Pak," sahut Melly.
***
__ADS_1
Sampainya di rumah sakit, Reymond segera membawa Irene masuk kedalam ruang UGD. Sebenarnya, baik Irene ataupun Andra. Reymond masih teramat kesal pada mereka berdua. Tapi didalam hatinya masih ada rasa simpatik.
Reymond mendudukkan bokongnya kursi panjang didepan ruang UGD, namun tiba-tiba ada seseorang tengah menghampirinya.
"Pak Reymond, kok Bapak ada disini?" tanya Dion. Dia, Susan dan ketiga anak panti itu menghampirinya.
Mereka habis melakukan pengecekan darah, untuk melihat darah siapa yang bergolongan B.
"Siang, Pak Reymond," sapa Susan.
"Siang, Bu."
Ketiga anak panti itu mencium punggung tangan Reymond secara bergantian.
"Dion, kau melakukan tes darahnya disini?"
"Iya, Pak. Ini hasilnya sudah keluar," ucap Dion seraya menyerahkan tiga amplop putih yang sedari tadi ia pegang.
Reymond menerimanya, "Oya, Pak. Yang sakit siapa? Apa Mbak Indah baik-baik saja?" tanya Dion.
"Indah baik, yang didalam Irene. Dia mengalami pendarahan," sahut Reymond.
Perlahan kedua tangannya membuka satu amplop, bertuliskan nama Sisil. Namun sayangnya darah gadis kecil itu O, berarti bukan dia anaknya.
Ia kembali membuka amplop yang kedua, berisi nama Shella. gadis kecil itu bergolongan darah A. Bukan dia juga anaknya Siska.
Kini amplop yang terakhir, yang akan dibuka. Namun tiba-tiba ada seorang Suster datang menghampiri mereka.
"Siapa wali dari Ibu Irene?"
Reymond langsung mengangkat bokongnya dan menaruh satu amplop yang belum ia buka, kedalam saku jasnya.
"Saya, Sus."
"Bapak, suaminya?" tanya Suster itu.
"Bukan, saya keponakannya."
Mata Suster itu membulat sempurna, ia memperhatikan Reymond dari atas sampai bawah. Bahkan dilihat dari usianya saja, jauh lebih tua Reymond.
"Baik, silahkan Bapak masuk dulu. Dokter ingin bertemu Bapak," pinta Suster.
"Iya."
Sebelum masuk kedalam. Reymond menoleh kearah Dion dan Susan.
"Dion, kau pesankan taksi online untuk mereka berempat pulang. Nanti kau tunggu aku dulu disini," titah Reymond.
"Baik, Pak."
Reymond segera masuk kedalam ruangan itu, terlihat Irene tengah berbaring dengan mata terpejam, tangannya memegang perut.
^^^Kata: 1025^^^
__ADS_1