
Tiga puluh menit berlalu, mobil itu telah sampai di halaman rumah sakit.
Setelah membayar ongkos taksi, Rio mengangkat tubuh Wulan, membawanya masuk kedalam ruang UGD. Ia merebahkan tubuh Wulan dengan hati-hati diatas tempat tidur.
"Pak Rio, Mbak Wulan kenapa?" tanya Dokter seraya menghampiri, ia Dokter yang sama, Dokternya Wulan. Karena kebetulan rumah sakit yang terdekat dari rumah Wahyu adalah rumah sakit itu.
"Wulan tadi pingsan, tolong dia, Dok," pintanya dengan cemas.
"Baik, silahkan Bapak tunggu diluar."
Rio mengangguk dan keluar dari ruangan itu, lalu menutup pintu.
Mendengar suara pintu tertutup, lantas Wulan membuka matanya. Ia tadi hanya pura-pura pingsan, hanya ingin mengetes saja. Apa benar Rio mencintainya atau tidak. Karena ia juga sejujurnya kesal diacuhkan terus-terusan.
Saat di mobil tadi, bukannya Rio bilang sangat mencintainya? Sungguh, membuat jantung Wulan berdebar dan hatinya berbunga-bunga. Ia senyum-senyum sendiri sambil melihat wajah Dokter yang tengah menatapnya dengan tatapan binggung.
"Lho, Mbak Wulan kok sudah sadar? Bukannya tadi pingsan?"
"Eemm ... maaf, Dok. Aku hanya pura-pura pingsan. Aku terpaksa melakukan hal ini."
"Terpaksa? Kok bisa?" tanya Dokter itu seraya mengerutkan kening.
"Iya, Mas Rio sedang marah padaku, Dok. Dia mendiamkan aku," keluhnya.
"Oh begitu. Lalu sekarang bagaimana?"
"Eemm ... apa Dokter bisa membantuku?" Wulan memasang wajah memelas padanya.
"Membantu apa?"
"Kalau boleh, Dokter jangan jujur padanya, kalau aku hanya pura-pura pingsan. Nanti dia tambah marah, dia orangnya emosian dan aku takut kalau dia marah padaku, Dokter." Wulan jadi sedikit curhat tentang keluh kesahnya.
"Kalian berantem kenapa? Memang wanita hamil tidak boleh banyak pikiran, mengingat Mbak juga sempat keguguran." Dokter itu mengelus perut Wulan, sepertinya ia merasa simpati padanya.
"Masalah sepele sih, Dok. Tapi dia diam saja dari sore hingga malam. Sikapnya begitu dingin padaku, padahal aku ingin makan pizza."
Dokter itu hanya mengangguk-ngangguk. "Dirayu saja, dia sepertinya suka bercinta. Mbak mengajaknya duluan kalau dia sedang emosi. Nanti lama-lama dia akan luluh."
Pipi Wulan langsung bersemu merah, ia langsung menggelengkan kepala. "Tidak, Dok. Aku tidak pandai merayu. Aku juga malu."
Dokter itu terkekeh. "Kenapa musti malu? Dia 'kan suami, Mbak. Pak Rio sepertinya sangat mencintai Mbak. Dia tidak akan marah lama-lama."
"Nanti aku coba deh, tapi sekarang ... aku bisa minta tolong tidak sama Dokter?"
__ADS_1
"Boleh, bicara saja."
"Bilang padanya kalau aku memang pingsan dan bilang juga aku ingin makan pizza sekarang, Dok. Tapi pizza yang sama dengan yang dibeli Pak Indra," tuturnya.
"Baik, saya akan bilang seperti itu."
"Terima kasih, Dok. Dokter sangat baik padaku." Wulan menggembungkan senyuman pada Dokter itu, Dokter wanita itu juga melakukan hal yang sama.
Ceklek~
Melihat Dokter keluar dari ruangan UGD, Rio langsung mendekatinya. Ia bahkan sedari tadi berdiri mondar-mandir karena khawatir.
"Dokter, Wulan kenapa? Dia baik-baik saja, kan? Dan anakku si Entun, apa dia sehat-sehat didalam sana?" Rio mencecar Dokter itu dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Mbak Wulan tidak kenapa-kenapa, dia hanya stres karena banyak pikiran."
Netra Rio membulat. "Stres? Kok bisa?"
"Iya. Biasa, namanya juga hamil muda, Pak. Kadang terlalu sensitif. Dia ingin mendapatkan perhatian dan dimanja oleh suaminya."
Apa aku kurang perhatian padanya? Apa aku kurang memanjakannya? Apa mungkin gara-gara aku diam dari tadi sore?
Menurut Rio, diam ketika dirinya sedang marah akan menjadi lebih baik. Tapi kenyataannya seperti ini, ia jadi binggung harus bersikap bagaimana jika dirinya emosi. Jujur, sikap Rio memang sama seperti Mawan. Tempramental dan gampang sekali tersinggung. Jadi tidak perlu kaget, kalau dia emosian.
"Apa Bapak kenal Pak Indra?"
"Indra? Dia sopirku. Ada apa memangnya, Dok?"
"Tadi Mbak Wulan sempat bilang kalau dirinya lapar dan ingin makan pizza yang dibeli oleh Pak Indra."
Pizza dibeli Indra? Kapan dia membeli pizza untuk Wulan? Apa jangan-jangan Indra diam-diam sering membelikan Wulan pizza tanpa sepengetahuanku? Kurang ajar juga si Botak itu!
Rio malah mikir yang tidak-tidak dan memfitnah sopirnya yang begitu setia padanya, ia mengepalkan kedua tangannya karena kesal.
"Pak ...," panggil Dokter.
"Iya, Dok. Eemm ... berarti Wulan sudah bangun, Dok? Apa aku bisa bertemu dengannya?"
"Nanti saja, setelah Pak Rio membawakan pizza untuknya. Sebaiknya Pak Rio yang membelinya, Mbak Wulan pasti akan senang, Pak," tutur Dokter.
"Oh yasudah, aku akan membelinya. Saya titip Wulan sama Dokter."
"Iya, Pak."
__ADS_1
Rio melangkahkan kakinya, ia berjalan setengah berlari keluar dari rumah sakit. Ia mengambil ponselnya didalam kantong celana, segera menghubungi sopirnya.
Satu panggilan itu tidak mendapatkan jawaban, ia menelepon untuk kedua kalinya dan baru dijawab oleh Indra.
"Hei Botak! Kemana saja, kau? Kenapa lama sekali menjawab teleponku?" tanya Rio dengan emosi.
"Ma-maaf, Pak. Sa-saya ...."
Rio mendengar deru nafas Indra tersengal-sengal, ia juga seperti sibuk mengatur nafasnya.
"Sedang apa kau? Aku tunggu di rumah sakit! Kau harus menjemputku!" tekan Rio seraya mematikan sambungan telepon.
"Sayang, udahan dulu, ya? Aku ada tugas dari Bos muda nih." Indra mengangkat tubuhnya yang sempat menghimpit wanita cantik dibawahnya.
"Kok begitu, Bang? Kan aku dan Abang baru pemanasan," keluhnya seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Aku harus jemput Pak Rio, dia bisa ngamuk kalau aku menjemputnya lama. Nanti kita main lagi Sayang ... kan aku kerja uangnya juga buat kamu," Indra merayu sambil mengecup kening wanita itu.
Ia bergegas memakai seluruh pakaiannya dan mengambil kunci mobil Rio yang berada diatas nakas.
"Hati-hati, Bang."
"Iya Sayang."
***
Dari rumahnya Indra menaiki ojek menuju kantor Mawan untuk mengambil mobil Rio. Saat sudah mengambil mobil Rio, lantas ia melajukan kendaraannya untuk pergi ke rumah sakit.
Tiga puluh menit jarak yang ia tempuh, untuk bisa menemui bosnya yang tengah berdiri menunggu sambil berkacak pinggang. Jangan lupakan wajahnya yang begitu masam dan tatapan nyalangnya, saat melihat Indra membukakan pintu belakang mobil untuk dirinya masuk.
"Silahkan, Pak," ucapnya dengan sopan.
Rio tidak langsung masuk kedalam, dia masih diposisi yang sama.
"Kapan kau membelikan Wulan pizza?"
"Pizza? Saya tidak pernah membelikan Nona Wulan Pizza, Pak." Indra menggeleng kepalanya.
Telapak tangan Rio mengepal dengan kuat dan langsung ia layangkan tonjokan pada pipi kiri Indra.
Bugh!
Pria itu tidak merasakan sakit atau nyeri, karena baginya tonjokan itu tidak keras menyentuh kulitnya. Padahal, Rio menggunakan tenaga dalam. Tapi Indra terkejut bukan main, melihat tindakan kasar yang Rio perbuat padanya.
__ADS_1
"Pak Rio. Kok Bapak menonjok saya? Apa saya punya salah?" tanyanya dengan wajah binggung.
^^^Kata: 1034^^^