
...~Flashback On~...
"Pak, ini Indra Lesmana. Dia adalah sopir dan seperti bodyguard. Pokoknya hampir mirip dengan Irwan," papar Dion memperkenalkan pria plontos itu didepan Rio yang tengah duduk di kursi putar miliknya.
"Baiklah, tinggalkan kami berdua," ujar Rio.
Dion mengangguk dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, lalu menutup pintu kembali.
"Duduklah," titah Rio seraya mengedikkan kepalanya kearah kursi kosong didepan mejanya.
Pria plontos itu lantas duduk.
"Namaku Rio Pratama, kau akan jadi sopir pribadiku. Tapi kau juga setiap hari harus menjemput istriku pulang kerja, sekalian mengawasinya kerja," jelas Rio.
"Baik, Pak." Indra mengangguk sopan.
Rio meraih ponsel diatas meja dan memperlihatkan layarnya pada pria didepannya. "Ini istriku, namanya Wulan Priyanka. Dia bekerja di Restoran Lestari. Cari tahu juga yang namanya Ivan, teman kerjanya itu. Pastikan supaya dia tidak mendekati istriku," titahnya.
"Bapak bisa beritahu saya foto pria yang bernama Ivan?"
"Aku juga tidak tau, mangkanya aku menyuruhmu mencari tau. Bila perlu foto dia, apa dia lebih tampan dariku atau tidak." Sebetulnya Rio memang pernah melihatnya dari jendela, tapi tidak begitu mengingat wajah pria itu
"Baik, Pak."
Rio menggeserkan gambar pada layar ponselnya, menunjukkan foto Dido. "Ini asistenku, dia juga suka pada istriku. Kau awasi juga dia. Jangan sampai dia mendekatinya."
"Baik, Pak."
"Oya ... sekarang kau jemput istriku pulang kerja, tapi setelah itu kau ...." Rio menjelaskan semua perintahnya pada pria didepannya itu, Indra hanya mengangguk-angguk dan seakan mengerti dengan pemaparan dari Rio.
"Hati-hati bawa mobilnya nanti, apalagi bawa istriku. Dia trauma dengan kecelakaan," tambahnya lagi.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi," ucap Indra seraya bangun, ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Rio.
Rio tersenyum dengan kedua pipi yang bersemu merah, tangannya perlahan mengelus-elus benda keras miliknya.
"Nanti malam kita bersenang-senang, kau sabar, ya."
...~Flashback Off~...
"Aku tidak iri! Aku hanya benci pada kacung yang tidak tau diri sepertimu! Masih syukur kau bekerja dengannya!" umpat Indra sambil melotot.
Tring~
Setelah mendengar bunyi lift itu terbuka, Indra melepaskan leher Dido yang sempat ia cengkeraman dengan kuat.
"Uhuk ... uhuk."
"Mari Nona, kita sudah sampai," ucap Indra seraya mengajak Wulan keluar dari lift.
Wulan menoleh sebentar pada Dido, lalu ia mengikuti langkah Indra menuju sebuah ruangan yang bertuliskan nama 'CEO Rio P'
Ceklek~
Indra membukakan dua pintu itu sekaligus. Netra Wulan mengelilingi seluruh ruangan dan ternyata didalam sana tidak ada siapa-siapa.
"Nona tunggu saja disini dan istirahat, apa Nona lapar? Saya bisa belikan sesuatu untuk Anda."
__ADS_1
"Tidak, Pak. Terima kasih."
Tok ... tok ... tok.
Seorang OB wanita datang sambil mengetuk pintu yang sudah terbuka, ia membawa nampan berisi segelas jus jambu.
"Ini minuman untuk Mbak Wulan."
"Minuman? Dari siapa?" tanya Indra.
"Pak Rio, dia menyuruh saya mengantarkan minuman ini." OB wanita itu menaruh gelas jus diatas meja dekat sofa.
"Terima kasih, Mbak," ucap Wulan.
"Sama-sama." OB itu melempar senyuman dan berlalu pergi.
Wulan mendudukkan bokongnya diatas sofa dengan punggung yang ia sandarkan.
"Jusnya, diminum Nona," titah Indra.
Jus jambu? Aku tidak suka dengan jambu.
Memang sedari kecil Wulan ini tidak pernah suka dengan buah jambu. Maau jambu air ataupun jambu biji. Meskipun sudah menjadi jus sekalipun, tetap sama saja. Tidak ada bedanya. Ia tetap tidak menyukainya.
Indra melihat Wulan yang hanya terdiam sambil memperhatikan gelas. Namun disisi lain, ia juga di perintahkan oleh Rio untuk memastikan Wulan meminum minuman itu.
"Jusnya, diminum Nona," titah Indra.
"Iya, Pak. Nanti saya minum."
"Eemm ... yasudah, kalau Nona ingin mandi. Disana kamar mandinya." Indra menunjuk salah satu ruangan yang berada di pojokkan. "Pakaian gantinya ada didalam koper."
"Sama-sama Nona, saya permisi kalau begitu. Eemm ... jangan lupa, jusnya diminum." Indra mengingatkan kembali sambil tersenyum pada Wulan. Lalu, kakinya melangkah untuk keluar dari ruangan itu.
'Semoga saja, Nona Wulan minum jus itu sebelum Pak Rio datang, biar aku langsung dikasih uang gajihan sebulan' batin Indra penuh harap.
Sepeninggal Indra, Wulan bangun dari duduknya untuk mengambil air pada dispenser yang berada didekat kursi putar.
Wanita itu menuangkan air dingin pada gelas bersih, ia meminum air itu sampai tandas.
"Aku masih binggung, kenapa Mas Rio menyuruhku ke kantornya, sedangkan dianya saja sibuk meeting." Wulan bermonolog sendiri sambil membereskan berkas-berkas diatas meja kerja yang terlihat berantakan. Seketika ia merasa dejavu, mengingat kalau dirinya sering sekali datang ke ruangan Rio untuk membereskan meja.
Pandangan matanya teralihkan pada sebuah bingkai foto, kedua netra itu membola sempurna. Tangannya dengan cepat meraih bingkai. Dan ternyata didalam bingkai itu ada fotonya. Ralat, bukan foto. Melainkan poster gambar saat dirinya hilang. Lengkap juga dengan tulisan info dan nominal uang.
"Kok posterku di pajang begini? Mana pakai bingkai segala lagi? Orang mah kalau mau pajang foto, ya pakai fotolah. Mas Rio ini ada-ada saja memang." Wulan terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Rio sudah menyelesaikan meetingnya ditemani dengan Riana.
Pria tampan itu melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Tepat didepan pintu, Indra sedang berdiri dengan tegap.
"Sore Pak," sapanya dengan sopan dan sedikit membungkuk.
"Kau sudah menjemput istriku? Dimana dia?"
"Ada didalam, Pak."
Tangan Rio terulur hendak membuka pintu, namun ia urungkan.
"Apa tadi ada OB yang mengantarkan jus?"
"Iya, ada. Jus jambu, kan?"
"Benar. Kau sudah pastikan istriku meminumnya?" Rio berjalan beberapa langkah kecil, mendekati pria plontos itu kembali.
"Saya sudah menyuruhnya untuk minum, Pak. Tapi tidak melihatnya langsung."
"Tidak masalah. Oya ... apa kau bertemu dengan Ivan?"
"Iya, saya bertemu dengannya."
Rio melipat kedua tangannya diatas dada. "Seperti apa orangnya? Apa kau memfotonya?"
"Belum sempat saya foto, Pak."
"Kenapa?"
"Karena tadi saya bertemunya saja tidak sengaja, dia juga sempat mengajak Nona Wulan untuk pulang bersama."
'Gatal juga si Ivan itu, apa dia tidak tau Wulan sudah menikah?' gerutu Rio dengan tangan yang mengepal.
"Bagaimana ciri-ciri orangnya? Apa dia tampan? Dibandingkan denganku bagaimana?" tanya Rio seraya menunjuk wajahnya sendiri.
"Jelas lebih tampan Bapak."
"Kau harus jujur, jangan mentang-mentang aku membayarmu." Wajah Rio terlihat tidak percaya.
"Saya jujur, kok. Memang lebih tampan Bapak."
"Aku ingin kau sebutkan ciri-cirinya."
"Umurnya sekitar seumuran dengan Bapak, kulitnya putih, sedikit tampan dan kalau tinggi ... mungkin lebih tinggian Bapak, tapi hanya sedikit," papar Indra dengan gerakan tangan, seolah-olah membandingkan Rio dengan Ivan.
"Aku juga sebenarnya yakin, jauh lebih tampan aku dibandingkan dengannya." Mendengar jawaban dari Indra, tiba-tiba timbul kembali rasa percaya diri Rio. Padahal tadi, ia sempat menciut karena takut kalah saing.
"Iya, saya setuju itu Pak. Tapi tadi saya dan Nona Wulan tidak sengaja bertemu dengan Dido, asisten Bapak didalam lift."
"Benarkah? Lalu bagaimana pertemuan mereka? Apa Dido menganggu istriku?"
"Tidak, mereka hanya mengobrol sebentar, Pak."
Kok giliran tidak ada aku, mereka malah mengobrol? Apa yang mereka obrolkan? Bukannya Wulan bilang ... dia benci sama si Duda itu? Harusnya tidak usah mengobrol dong! Dadaku 'kan jadi sesak begini! Kau jahat padaku, Wulan.
__ADS_1
^^^Kata: 1102^^^