Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 101. Mie instan


__ADS_3

Waktu dia minum obat per*ngs*ng, dia tidak bilang perih. Malah dia begitu semangat. Kok sekarang begitu?


Dengan berat hati, akhirnya Rio mengalah. Ia menghentikan permainannya karena sedari tadi Wulan terus saja menangis.


Rio membuang nafas dengan gusar. "Yasudah, kita udahan," ucapnya dengan wajah kesal.


Ia menarik tubuhnya supaya tidak menindih wanita itu. Kemudian, ia menyelimuti tubuh polos Wulan.


"Maafin aku, Mas. Sungguh ... milikku perih dan sakit," ucap Wulan tak enak hati, ia menyeka air mata yang membasahi pipinya.


"Iya," sahut Rio datar.


Wulan menarik lengan Rio, ketika pria itu hendak beranjak dari tempat tidur. "Dengan mulut saja bagaimana? Aku sudah bisa melakukannya, Mas."


Rio menepis lengan Wulan dengan kasar. Ia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Saat sudah masuk kedalam, ia membanting pintu dengan kasar.


Brakkk!


Wulan terperajat dan membulatkan kedua matanya, tubuhnya seketika bergetar hebat. Ia takut, benar-benar takut. Ia takut kalau pria itu marah dan mengulangi sikap kasarnya tempo dulu.


Mas Rio pasti marah padaku, apa dia tadi belum keluar? Tapi kok lama sekali.


Wulan menyentuh tubuh bagian bawahnya, ia merasa perih sampai kembali meringis dengan mata yang berair.


Perih sekali, sepertinya lecet.


Entah apa yang Rio lakukan didalam sana, tapi ia menyalakan kran shower hingga terdengar suara gemericik air.


Krukuk-krukuk.


Terdengar bunyi cacing didalam perut wanita itu. Wulan mengambil ponsel miliknya untuk melihat jam pada layar, pukul 00.00. Tepat tengah malam.


Netra Wulan menatap lekat segelas susu coklat panas yang sudah menjadi dingin, lidahnya saat ini begitu menginginkan minuman itu. Untuk mengisi perutnya yang keroncongan.


"Ada dua gelas, apa satunya untukku?" tanyanya pada diri sendiri.


Tangan Wulan terulur, hendak meraih gelas. Namun, ia tarik kembali, tidak jadi mengambilnya. Ia takut kalau dua gelas susu itu hanya untuk Rio. Apalagi melihat wajah masamnya tadi, Rio sepertinya benar-benar marah.


"Aaaakkkhhhh ...."


Suara des**an begitu lantang dan menggema, asalnya dari dalam kamar mandi. Wulan tersentak kaget dengan netra yang membola sempurna. Ia cepat-cepat bangkit dari tempat tidur sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Wulan berlari menuju pintu kamar mandi.


Tok ... tok ... tok.


"Mas ... Mas Rio. Apa Mas baik-baik saja?" tanya Wulan sambil mengetuk pintu.


Tidak ada sahutan sama sekali, hanya terdengar suara gemericik air yang sedari tadi mengalir.

__ADS_1


"Mas Rio, apa Mas Rio marah padaku? Maafin aku, Mas. Ayok! Kita bercinta lagi! Milikku sudah tidak perih," ucap Wulan berbohong. Padahal saat ini ia juga menahan rasa sakit.


Ceklek~


Rio keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang basah. Namun wajah masamnya sudah berubah menjadi berseri sekarang. Wulan melihat Rio dari ujung kaki ke ujung kepala. Tidak ada yang lecet sama sekali pada tubuh pria tampan itu.


"Mas ... maafin aku," ucapnya menunduk.


Jujur, sebenarnya Rio sangat kesal dan emosi. Kemarin dia yang berhasil keluar sampai enam kali berturut-turut. Tapi giliran sekarang, satu kali saja ia sampai mengunakan sabun. Karena Wulan sendiri yang sudah menyerah.


Melihat Rio termangu ditempat, Wulan jadi semakin takut. Wanita itu menurunkan tubuhnya, ia seperti hendak berlutut. Namun dengan cepat, Rio menarik bahu Wulan dan memeluk tubuhnya. "Tidak perlu seperti itu, Wulan. Kita bisa bercinta di lain waktu."


"Tapi Mas Rio tidak marah padaku, kan? Aku takut."


"Kau takut padaku?"


"Iya."


"Takut aku marah?"


"Iya."


"Aku tidak marah, cuma kesal saja. Tapi sekarang tidak lagi." Rio merangkul bahu wanita itu dan duduk bersamanya disisi kasur. Ia meraih satu gelas susu coklat dan memberikan pada Wulan. "Ini minumlah, apa kau suka dengan susu coklat?"


Memang sedari tadi Wulan menginginkannya. Dengan senang hati dan anggukan pelan, Wulan mengambilnya dari tangan Rio. "Suka, Mas."


"Sudah dingin tapi."


Krukuk-krukuk.


Perut Wulan lagi-lagi berbunyi, ternyata segelas susu tidak mampu menghilangkan rasa lapar didalam perutnya. Rio terkekeh saat mengetahuinya.


"Kau lapar?"


Wulan mengangguk pelan.


"Mau makan apa? Aku akan pesankan makanan untukmu." Rio mengambil ponselnya diatas meja dan menghidupkannya.


"Apa disini ada mie instan? Aku ingin makan mie instan saja, Mas."


"Mie instan?" Rio menatap wajah Wulan.


"Iya. Ada tidak, Mas? Mentahannya juga tidak apa, aku mau merebusnya sendiri."


"Tidak ada, aku tidak punya mie instan. Menu di Hotel ini juga sepertinya tidak ada mie instan." Rio mencroll layar ponsel, melihat-lihat menu makan yang berada di Hotel itu. "Spaghetti saja bagaimana?"


"Tapi aku mau mie instan rasa ayam bawang, Mas."

__ADS_1


"Rasa ayam bawang?" Rio mengerutkan keningnya. "Nanti spaghettinya aku pesan yang ada ayam dan bawangnya."


"Aku mau keluar saja deh, Mas. Aku mau membelinya sendiri." Wulan bangun dari duduknya dan membuka lemari, ia memilih pakaian untuk dipakai.


"Ini sudah malam, Wulan. Lagian hujan."


Ah, memang hujan dari tadi sore tidak berhenti sampai sekarang. Hujannya begitu awet dan deras.


"Tidak apa-apa." Setelah mengambil pakaian, Wulan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk memakainya.


Sementara itu, Rio mencoba menghubungi Indra. Namun di telepon dua kali tidak ada responnya sama sekali. Mungkin pria sangar itu sudah tertidur lelap sambil bermimpi.


"Si botak itu kemana, sih? Lagi di butuhkan juga." Rio mendengus kesal.


Ceklek~


Wulan membuka pintu kamar mandi dan melangkahkan kakinya menuju sofa untuk mengambil uang didalam tasnya.


"Jangan beli mie instan deh, beli yang lain saja. Biar aku yang antar," tawar Rio seraya mendekati istrinya.


"Memang kenapa?"


"Mie instan tidak baik buat kesehatan, apalagi malam-malam begini." Rio jadi ikut-ikutan membuka lemari dan mencari pakaian. Setelah mendapatkannya. Ia langsung memakainya.


"Aku dan Ayah sering makan mie instan malam-malam, tapi kita sehat-sehat saja," elaknya.


"Kau ini susah sekali dibilangin!" Rio mendengus kesal.


"Maaf, Mas. Tapi aku menginginkannya. rasanya enak malam-malam dan hujan begini makan mie instan yang berkuah. Apalagi dicampur telor, daun bawang, timun dan cabai rawit. Uuh ... pasti mantap, Mas!" Wulan memainkan lidahnya dan mengangkat dua jempolnya keatas. Mengekpresikan rasanya, supaya Rio memperbolehkannya makan mie instan.


"Masa sih? Apa tidak pedas pakai cabai?"


"Jangan satu kilo, Mas. Kalau dua biji, tidak akan pedas." Wulan makin membayang makanan itu ada didalam mulutnya sekarang.


"Air liur tuh, mau jatuh!" tegur Rio saat melihat mulut Wulan yang menganga. Wanita itu cepat-cepat menutup mulutnya dengan rapat, sebelum apa yang Rio katakan terjadi.


Rio terkekeh dan geleng-geleng kepala. Seketika ia mengingat pertemuan pertama mereka. Walau keduanya baru bertemu, tidak ada rasa kecanggungan. Namun berbeda saat mereka sudah menikah, Rio bahkan sangat membencinya tanpa alasan.


(Buat yang lupa pertemuan pertama Rio dan Wulan, kalian bisa baca di season 1. Bab 80, 81 dan 82)


"Yasudah, aku pesan lewat online saja mie yang sudah siap santap," ucap Rio.


"Kalau online nanti keburu melar mie-nya, Mas. Aku mau beli di warung saja, beli mentahannya."


"Mana ada warung disini? Lagian sudah malam dan juga hujan. Penjualnya pasti sudah tidur sehabis bercinta."


Bercinta lagi aja yang dibahas.

__ADS_1


"Mini market, Mas. Apa disini ada yang buka dua puluh empat jam?"


^^^Kata: 1124^^^


__ADS_2