
"Mah... Mamah..." Antoni benar-benar panik. Dia langsung mengangkat tubuh istrinya di atas kasur Indah.
"Vin... Kita ke rumah sakit." Ucap Antoni.
Antoni dan Vinno segera membawanya ke rumah sakit. Di tengah perjalanan Vinno menelepon polisi dan Mawan untuk melaporkan kejadian yang mereka alami.
***
Sampainya di rumah Rizky, Rendi dan Rizky langsung mengangkat tubuh ibu dan anak itu. Bayu juga ikutan tidur di mobil tadi. Mereka berdua merebahkan tubuh Indah dan Bayu di kamar yang Rendi tempati.
"Lu yakin Ren... Kira-kira Indah bakal percaya nggak?" tanya Rizky yang berdiri tepat di samping Rendi.
"Habis gue binggung Riz, dia susah gue ajak ngobrol berdua. Mungkin dengan begini dia akan mengerti." Ucap Rendi penuh harap, dengan tatapan penuh cinta yang ia lemparkan untuk istri dan anaknya itu.
"Mungkin besok kali ya Ren, terus sekarang ada lagi yang gue bantu?" tanya Rizky.
Rendi merangkul bahu temannya itu. "Tidak Riz, terima kasih lu sudah bantuin gue. Gue hutang nyawa sama lu." Rendi tersenyum begitu tulusnya.
"Ren... Biasa aja, lu kan temen gue. Lu juga sering kok bantu gue." Rizky membalasnya dengan senyuman lagi, "ya sudah gue mau tidur ya ngantuk. Silahkan lu temu kangen sama istri dan anak lu." Ucap Rizky seraya memegang gagang pintu.
"Jangan lupa matikan lampu Ren, takutnya Indah kaget pas sadar dan lihat wajah lu." Ucapan Rizky benar-benar membuat ide cemerlang untuk Rendi, seketika otak mesum Rendi langsung berkelana.
Rizky berjalan keluar kamar, Rendi langsung mengunci pintu dan mematikan tombol lampu. Namun tidak terlalu gelap. Agak samar-samar, karena di samping halaman rumah Rizky ada lampu. Tapi wajah baru Rendi tidak akan begitu terlihat.
Perlahan Rendi naik ke atas ranjang, dia menghampiri Bayu dengan posisi di tengah. Tangannya perlahan mengelus lembut pipi Bayu, dan mencium keningnya.
"Ayah sayang sama Bayu, maafkan Ayah sayang. Karena selama kamu lahir, Ayah baru menemui mu sekarang. Tapi Ayah sangat menyayangi mu, sebentar lagi. Sebenar lagi kita akan berkumpul bersama. Ayah, Bunda dan Bayu " Lirih Rendi pelan.
...🍁POV Indah🍁...
Perlahan aku membuka mataku, tapi kenapa begitu gelap? Aku mengejapkan kedua mataku dan mengusapnya, benar ini sungguh gelap. Tapi terasa begitu samar-samar.
"Aaww..." Aku memegangi kepalaku, kenapa terasa pusing dan nyut-nyutan.
Aku menoleh ke sisi kanan, ada anak kecil sedang tidur di sampingku. Aku mendekati tubuhnya dan mencium pucuk kepalanya, aromanya seperti Bayu. Iya dia pasti Bayu.
Tapi ini dimana? Bola mataku seakan berpencar tapi tidak terlihat apapun. Apa ini di kamarku? Tapi suasananya berbeda sekali. aku meraba kasur dan merasakannya, empuk! Ya namanya kan juga kasur. Tapi seperti bukan tempat tidurku.
Tiba-tiba aku mendengar suara dari arah gagang pintu, siapa yang akan datang? Aku langsung membenarkan posisi dan pura-pura tidur.
Ceklek....
Siapa dia? Dia sedang mengunci pintu. Aku memicingkan mataku sedikit, dari yang terlihat di mataku dia seperti seorang pria. Tinggi dan lumayan kekar, apa dia Vinno? Ngapain dia masuk ke kamarku. Apa dia mau berbuat macam-macam padaku?
Aku bangun dan menyenderkan punggungku di tepi kasur. "Kau siapa?! Kenapa masuk ke kamar ku?" Pekik ku.
__ADS_1
Dia berjalan mendekatiku.
"Sayang ini aku Mas Rendi....."
Deg.....
Apa katanya? Mas Rendi? Tidak mungkin. Apa aku sedang berhalusinasi? Atau ini mimpi. Aku menggelengkan kepalaku.
"Siapa kau! Jangan mendekat! Kalau tidak aku akan berteriak." Aku memojokkan tubuhku di tepi ranjang. Semoga Bayu tidak terisak dengan ucapan ku.
"Sayang... Percayalah, aku suamimu." Jawab pria itu yang makin lebih dekat padaku, bahkan dia sudah duduk di atas kasur. Di depanku.
Cup.....
Apa-apaan ini?! Dia tiba-tiba menyerobot mencium bibirku, tubuhnya begitu dekat dan menghimpit tubuhku di tepi ranjang. Kedua tanganku di pegang oleh tangannya, aku ingin menghindari ciumannya. Tapi kenapa begitu susah, ciumannya begitu dalam hingga masuk kedalam rongga mulutku.
Lama-lama kenapa rasanya begitu nikmat?! Aku sudah lama tidak merasakan hal seperti ini. Mulut dan bibirnya terasa begitu tak asing. Ciumannya begitu lembut dan membuatku melayang-layang.
Aku mencium aroma tubuhnya, dia seperti suamiku, apa mungkin aku sedang bermimpi bertemu dengan Mas Rendi? Kalau iya, biarkan saja lah. Aku juga rindu padanya. Aku mencoba membalas ciuman dan melu*at bibirnya, tapi tiba-tiba dia melepaskan permainannya. Kenapa? Padahal aku sedang menikmatinya.
"Sayang... Kamu percaya ini aku kan?" Dia langsung memeluk tubuhku dan mencium keningku.
Percaya katanya? Aku sendiri juga binggung.
Lenganku, ku angkat ke arah wajahnya. Aku ingin meraba wajah tampan suamiku.
Tapi tiba-tiba dia menghentikan tanganku yang belum sempat menyentuh kulit wajahnya.
"Kamu tidak bermimpi sayang ini aku Mas Rendi... Apa ciuman tadi kau rasa itu mimpi?" Dia membelai rambutku dengan mesra.
"Tapi kenapa di sini gelap? Dan ini di mana? Apa ini di kamarku? Apa ini di rumah Mamah Sarah?"
Banyak sekali pertanyaan dalam benak ku. Tunggu dulu, aku baru ingat kalau tadi ada dua orang yang menyelinap masuk ke dalam kamarku.
"Ini di rumah Rizky sayang, aku tinggal dengannya,"
Deg....
Rizky?! Mataku membulat. Apa jangan-jangan pria ini Rey... Rey yang mengaku-ngaku suamiku itu.
Aku langsung melepaskan pelukannya, aku berdiri dan berjalan mundur secara perlahan hingga punggungku menempel di tembok. "Apa kau... Kau Rey itu kan? Kau bukan suamiku! Kau hanya mengaku-ngaku!" Pekik ku.
Pria itu bangun dan memeluk tubuhku dengan erat, sangat-sangat erat. "Ya itu benar. Tapi ini aku sayang. Mas Rendi, wajahku memang berbeda kerena habis di operasi.... Tapi aku tetaplah suamimu."
Mataku terbelalak dan langsung mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Nyalakan lampunya!"
"Tapi sayang...."
"Aku bilang nyalakan lampunya!!!" Pekik ku.
"BUNDA....." Aku mendengar suara anakku, "Bunda.... Bayu atut... Heee... Heeee....." Dia seperti menanggis.
Pria itu berdiri lalu menyalakan tombol lampu dan akhirnya semuanya terang benderang. Aku langsung melihat kearah wajahnya dan ternyata benar dia adalah Rey.
Aku menghampiri anakku yang duduk sambil memegangi pipinya yang sudah basah, aku naik keatas kasur dan menyeka air matanya.
"Sayang tenang. Bunda di sini, lihat tidak gelap lagi kan?" Bayu mengangguk dan memeluk tubuhku.
"Bayu bobo lagi ya?" Ku ajak dia berbaring dan akupun ikut berbaring di samping Bayu. Ku elus-elus punggungnya supaya dia kembali tidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
^^^Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️^^^
__ADS_1