Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 160. Pendapat


__ADS_3

"Cucu cucu. Dulu saat aku mengumumkan Wulan hamil, Papah terlihat tidak senang! Papah juga sampai mengatakan mereka bukan anakku! Sekarang Papah bilang apa? Sayang katanya?" Rio mencebikkan bibirnya. "Dusta! Semua itu dusta! Papah melakukan hal ini karena takut diceraikan sama Mamah! Bukan karena sungguh-sungguh menyayangi aku dan anakku!" gerutu Rio dengan penuh kekesalan, rahang Rio tampak mengeras. Jangan lupakan dua kepalan tangannya juga. Jika ia tidak melihat Mawan masih berstatus suami mamahnya, Rio mungkin sudah menonjok wajahnya habis-habisan.


"Tidak, Rio. Sekarang Papah sadar kalau Papah--"


"Aaarrrgghhh!!" Rio mengerang dan memegangi dadanya, ia merasa jantungnya berdenyut kencang dan terasa sakit.


"Rio kau tidak apa-apa?" tanya Mawan cemas. Ia memegangi dada anaknya, sama halnya dengan Wulan.


"Apa yang sakit, Mas?"


"Pergi kau dari sini!" bentak Rio pada Mawan dengan nafas yang tersengal-sengal. "Kau ingin buat aku mati?" Mata Rio sudah melotot dan memerah, ia juga menahan sakit pada jantungnya.


"Papah, Papah keluar dulu saja, aku takut Mas Rio kenapa-kenapa." Wulan menarik lengan Mawan dengan pelan, Mawan mengangguk dan segera keluar dari kamar Rio.


"Obat! Berikan aku obat, Wulan!" pekik Rio seraya membaringkan tubuhnya secara perlahan, ia masih memegangi dadanya.


"Iya, Mas. Tunggu sebentar." Dengan rasa panik, Wulan buru-buru membuka lemari, ia menarik laci didalamnya untuk mengambil botol obat kaca. Kemudian, ia memberikan satu kapsul obat itu pada Rio beserta air minum yang baru saja ia tuangkan.


Wulan membantu Rio untuk bangun sedikit, supaya bisa menenggak obat itu. "Pelan-pelan minumnya, Mas."


Setelah berhasil, Wulan kembali membantu Rio berbaring dan menyelimuti tubuhnya sampai diatas dada. Tangannya kini mengusap-usap dada suaminya.


"Apa kita perlu ke Dokter, Mas?"


Rio menggelengkan kepalanya.


"Yasudah, Mas Rio tidur lagi."


Setelah menutup pintu, Wulan menghampiri Rio lagi. Ia naik keatas kasur dan berbaring disebelah, tangannya kembali mengusap-usap dada Rio. Pria tampan itu perlahan memejamkan matanya.


Kasihan Mas Rio, dia benar-benar sakit hati sampai tidak bisa memaafkan Papah. Tapi aku juga merasa kasihan sama Papah.


***


Pagi hari.


Seusai mandi, Wulan membuka lemari untuk mengambil pakaian. Ia sudah mengenakan pakaian dalam. Namun saat dirinya mencoba dress, rasanya sangat sempit dan enggap, apalagi pada daerah perut. Mungkin karena perutnya sekarang terlihat lebih besar.


Hampir semua pakaian yang ia pakai tidak muat, Wulan jadi binggung harus memakai apa. Ia kembali melilitkan handuk pada tubuhnya dan duduk di kasur.

__ADS_1


"Kau kenapa belum memakai pakaian? Tumben, mau mengajakku bercinta, iya?" goda Rio yang baru saja membuka mata. Ia menarik tubuhnya dan memeluk istrinya dari belakang.


"Bajuku sempit semua, Mas."


"Masa sih? Bajumu bukannya sekarang banyak?"


"Iya, tapi sempit semua. Apalagi pas bagian perutku." Wulan memegangi perutnya yang tengah di raba oleh Rio.


"Wah, tambah nakal juga si Entun kita. Dia membuat Bundanya kebinggungan memakai pakaian." Rio tersenyum dan mengecup bahu istrinya.


"Apa dada Mas Rio masih sakit?"


"Tidak. Eemm ... kita hari ini pulang ke rumah Ayah saja. Nanti sebelum pulang kita mampir ke Mall, beli baju baru untukmu."


"Terus sekarang aku pakai baju apa dong? Masa aku hanya pakai handuk?"


"Pakai bajuku saja."


"Baju Mas Rio? Kaos sama celana boxer? Masa aku pakai itu, Mas." Wulan menggeleng kepalanya. "Aku tidak mau."


"Coba kamu pinjam dulu sama Indah, tubuhmu sama dia 'kan sama. Mungkin ada yang muat."


"Iya, Mas."


***


Setelah Rio selesai mandi dan berpakaian, ia menuruni anak tangga menuju ruang makan. Tapi disana sepi tidak ada siapa-siapa, semua orang berada di ruang tamu.


"Rio! Kemari!" panggilan Reymond langsung membuat Rio menoleh.


Rio melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, ia melihat masih ada Mawan. Pria tua itu duduk di sofa single sambil memangku Bayu. Reymond, Santi dan Indah duduk di sofa panjang. Wulan juga tengah duduk di sofa panjang tapi sendiri, Rio menghampiri istrinya untuk ikut duduk bersama.


"Ada apa, Kak?" tanya Rio. Ia berpura-pura tidak menyadari kehadiran Mawan. Hatinya masih terasa jengkel.


"Kita ngobrol dulu masalah Mamah dan Papah," jawab Reymond.


"Ah, malas! Aku dan Wulan ingin pulang saja ke rumah Ayah." Rio bangun dan menarik lengan Wulan, hingga membuat istrinya ikut bangun.


"Sebentar saja, kita harus membahas masalah ini Rio." Reymond mencoba untuk menghentikan Rio yang baru saja melangkah.

__ADS_1


"Membahas apa? Tentang perceraian?" tanya Rio.


"Iya, kau duduk dulu."


"Kita duduk lagi saja, Mas." Wulan menarik lengan Rio mengajaknya untuk kembali duduk. Dengan berat hati Rio menurutinya.


"Bagaimana pendapatmu tentang Mamah dan Papah? Apa kau setuju Mamah dan Papah bercerai?" tanya Reymond pada Rio.


"Aku setuju, semua tergantung Mamah," jawab Rio.


"Kalau kau bagaimana, Wulan?" tanya Reymond, meminta pendapat.


"Aku tidak tau, Kak. Aku terserah Mamah dan Papah saja." Wulan sendiri binggung untuk mengungkapkan pendapatnya.


Reymond mengangguk, kini dirinya memegang tangan ibunya yang berada disebelahnya, menoleh padanya.


"Bagaimana menurut Mamah? Apa keputusan Mamah sampai sekarang?"


"Mamah tetap ingin bercerai dengan Papah."


Sekarang ia menoleh kearah Indah yang duduk didekat ibunya. Wanita cantik itu terlihat murung sedari tadi, bahkan sejak Reymond mengatakan ingin membahas masalah perceraian. Jujur, ia merasa tak rela jika Santi dan papahnya bercerai.


"Bagaimana pendapat kamu, Sayang?"


"Apa boleh jika aku bilang tidak setuju?" Indah berbalik tanya.


"Iya, boleh. Apa alasanmu?"


"Aku tidak rela, Mas. Aku mau Papah dan Mamah sama-sama." Indah memegang tangan Santi dengan lembut. "Mah ... apa Papah sama sekali tidak diberi satu kesempatan? Tolong maafkan Papah, Mah. Aku tidak mau Papah dan Mamah bercerai," ucapnya dengan nada memohon.


"Untuk apa dikasih kesempatan Indah?" Rio menyahutinya, karena merasa tak terima dengan ucapan dari Indah. "Aku tau kamu membelanya karena Papah adalah Papahmu, tapi kamu juga jangan lupakan semua kesalahannya selama ini. Padamu, padaku dan Kak Reymond!" tegurnya.


"Tapi Papah akan berubah Rio, Papah berjanji padamu." Mawan ikut menimpali, suaranya terdengar begitu pelan.


Rio hanya melihatnya sekilas pada Mawan, lalu kembali melihat pada ibunya.


"Eemm ... Sayang." Santi membalas genggaman tangan Indah. "Mamah bisa memaafkan Papah. Tapi keputusan Mamah sudah bulat, Mamah tetap ingin bercerai dengan Papah. Maafkan Mamah, ya?"


Indah mengangguk samar. "Iya, Mah. Aku mengerti."

__ADS_1


"Tapi Papah tidak mau bercerai dengan Mamah. Tolong jangan begini, Mah ... Rio." Mawan melihat pada Santi dan Rio silih berganti, bola matanya sudah berkaca-kaca. "Papah harus melakukan apa supaya perceraian ini tidak terjadi? Apa yang harus Papah buktikan pada kalian?"


Jangan lupa like 💕


__ADS_2