
Rio menelan salivanya kelat.
"Kamu masih ingin bercerai denganku, Mas ...?" tanya Wulan pelan.
Tetapi lagi-lagi Rio hanya diam. Pria itu membeku dengan tatapan nyalang. Mulutnya bungkam seperti enggan menjawab pertanyaan dari sang istri. Hatinya berkecamuk tak karuan, rasanya ia hampir gila karena keinginannya sendiri.
Padahal, seharusnya ia mengangguki saja pertanyaan itu.
Bukankah ini kemauannya sejak dulu(?)
Berpisah dari Wulan, wanita yang tidak ia cintai.
Namun, entah kenapa ia merasa berat sekali untuk menjawab pertanyaan Wulan. Rio seakan tidak rela mengiyakannya.
Wulan berjalan mundur, menjauh dari Rio yang tengah duduk disisi tempat tidur. Ia menyeka air matanya dengan kasar, hingga seluruh riasan wajahnya luntur.
"Semuanya terserah padamu, Mas. Kamu tinggal urus saja perceraian kita. Aku akan siap lahir dan bathin bercerai denganmu. Tapi kamu tenang saja, aku tidak akan meminta apapun darimu ...."
Wulan melangkahkan kakinya menuju pintu, ia menyempatkan menoleh sekilas dan tersenyum getir pada lelaki yang saat ini tak bergeming sedikitpun itu.
"Selamat tinggal, Mas. Semoga Mas Rio cepat sembuh dan hidup bahagia tanpaku ...." lirihnya sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu.
Ceklek~
Wulan membuka pintu itu dan langsung keluar meninggalkan Dido dan Rio.
Suara pintu pada akhirnya menyadarkan Rio. Netranya terbelalak seketika. Ia termangu sejenak mencoba mencerna apa yang ia dengar barusan kata-kata yang terlontar dari Wulan.
'Selamat tinggal ...? A-apa maksudnya? Apa dia akan meninggalkanku?' batinnya bertanya-tanya. Kata demi kata yang diucapkan Wulan terus menggema di telinganya.
Hingga seperkian detik Rio baru sadar apa dari kata tersebut.
Bergegas Rio terbangun sambil meneriaki nama istrinya.
"Wulan!" teriaknya.
Dalam keadaan panik, Rio secara tidak sadar mencabut paksa jarum infusan dari tangannya begitu saja. Lelaki itu langsung berlari meski langkahnya terombang-ambing bahkan terhuyung-huyung demi hanya mengejar wanita yang kini tengah berlari menuju lobby.
Tetapi, kenapa ia harus mengejarnya? Bukankah ini yang ia inginkan?
Batinnya masih berkecamuk dan bergejolak tak menentu. Rio ibarat orang linglung sekarang ini. Ia terus saja berlari tanpa memperdulikan keadaannya.
Ucapan Wulan terus terngiang ditelinga Rio bahkan hampir membuatnya gila.
"Wulan!" teriaknya sekali lagi sambil terus berlari.
'Kenapa dia bilang selamat tinggal?' batinnya masih bertanya-tanya sendiri.
"Wulan!"
Dido ikut mengejar Rio dari belakang, sedari tadi Rio berusaha menahan rasa pusing dan sakit pada perutnya, tangannya sudah bercucuran darah karena jarum infusan dan kini ia memeras perutnya sendiri. Menahan rasa sakit.
"Wulan!"
Kenapa dia begitu marah padaku dan mengucapkan selamat tinggal?! Padahal aku hanya menyuruhnya mengganti pakaian.
Batin Rio.
Wanita itu masih berlari dengan kencang, dia sama sekali tidak mendengar teriakkan dari Rio. Karena saat ini banyak sekali para perawat yang mendorong brankar dan troli. Suara bisingan itu sampai menelan suara gelegar Rio.
"Wulan! Kau ingin pergi kemana?!" tanya Rio berteriak.
__ADS_1
Tubuhnya sampai terpontang-panting, menabrak beberapa orang yang lewat dan menjatuhkan barang bawaan Suster. Tapi ia merasa tidak peduli, matanya hanya berfokus pada wanita yang sudah terlihat sangat jauh.
Tapi untung, pada akhirnya ia bisa mengikuti Wulan sampai halaman depan rumah sakit, Wanita itu tengah menoleh ke kanan dan ke kiri jalan raya, seperti mencari taksi.
Rio tak mampu menarik kakinya lagi, ia berdiri dengan tubuh lemas. Nafasnya ia atur naik turun dan kemudian kembali berteriak.
"Wulan!"
Uluran tangan Wulan yang sudah menyetop taksi langsung terhenti, ia menoleh kebelakang.
Pada sumber suara seseorang yang tengah memanggil namanya, tapi ia tidak melihat siapapun disana. Hanya orang-orang asing yang tengah lewat, masuk dan keluar dari rumah sakit.
Aku seperti mendengar suara Mas Rio memanggil namaku. Tapi tidak ada dia. Apa aku hanya salah dengar?
Ah iya, Mas Rio tidak mungkin memanggilku apa lagi sampai menghampiriku. Itu mustahil!
Dia sekarang pasti sedang berbaring dan tertawa bahagia.
Batin Wulan.
Tit ... tit ... tit.
Klakson mobil taksi itu berbunyi, sang sopir menurunkan kaca.
"Jadi naik atau tidak, Mbak?" tanyanya.
"Jadi, Pak," sahut Wulan seraya masuk kedalam mobil.
Ia duduk dan menyandarkan punggungnya.
"Kita kemana, Mbak?" tanya sopir itu seraya menyetir.
Mending aku pulang dulu ke rumah Mamah Santi. Iya, aku akan bawa Clara juga.
Batin Wulan.
"Baik."
***
...Di rumah Hermawan...
Reymond tengah duduk sofa ruang tamu sambil memangku tubuh Indah, ia mendekapnya dari belakang. Lidahnya menjilati seluruh tengkuk istrinya itu.
Hingga membuat Indah mend*sah, "Aaaahhhh ...."
Mereka tidak hanya berdua disana, ada Clara, Shelly dan Bayu. Tengah bermain di lantai beralaskan tikar.
Ketiga anak kecil itu hanya fokus bermain, tidak memperhatikan Reymond yang berbuat mesum pada istrinya.
"Sayang, kita tempur yuk!" ajak Reymond seraya berbisik.
Indah ingin pindah dari pangkuan Reymond, tapi dicegah oleh suaminya, "Kamu diam saja disini."
"Mas ... malu dilihat anak-anak."
"Mereka tidak melihat kok. Oya ... kita tempur yuk!" ajaknya lagi.
"Ini masih siang, Mas. Lagian kitakan disuruh Mamah jagain anak-anak," tolak Indah.
"Kita lakukan tugas negara dulu, habis itu kesini lagi."
__ADS_1
Reymond mengangkat bokong Indah supaya bangun, baru saja hendak mengendong istrinya tiba-tiba Santi datang. Ia tidak jadi melakukannya.
"Mamah, kok Mamah pulang? Bagaimana keadaan Rio?" tanya Indah.
"Rio baik-baik saja, dimana Bibi?" tanya Santi seraya berjalan menuju dapur.
Reymond dan Indah mengikuti langkah kaki Santi.
"Sakit apa si Rio, Mah?" tanya Reymond.
"Asam lambung."
Aku kira dia kenapa, ternyata hanya penyakit biasa.
Batin Reymond.
Santi menghampiri Bibi pembantu yang tengah mencuci piring.
"Bibi bisa tidak Bibi ajarkan aku cara membuat telur ceplok?" tanya Santi.
"Bisa, Bu."
Indah dan Reymond membelalakkan kedua matanya dan saling memandang.
"Mamah ... apa yang Mamah katakan? Mamah mau masak?!" tanya Reymond ragu-ragu.
"Iya, Mamah ingin buat telur ceplok buat Rio."
"Kenapa Mamah yang buat? Lebih baik Bibi saja, Mamah 'kan capek," cegah Reymond.
"Mamah tidak capek kok, lagian Rio sendiri yang minta di masakin sama Mamah. Mamah tidak tega menolaknya, Rey."
Bibi pembantu itu mengelap sisa air pada serbet, lalu membuka kulkas untuk mengambil beberapa telur.
"Rio ini manja sekali, aku jadi iri," ucap Reymond kesal.
Santi menoleh kearah Reymond dan mengelus pipi anaknya, "Iri kenapa? Kau ingin Mamah masakin telur ceplok juga?"
Pria tampan itu mengangguk cepat. "Iya, Mah. Mamah ingin buatkan untukku juga?"
"Aku juga pengen, Mah," ucap Indah yang ikut-ikutan, perutnya sudah ia usap-usap.
"Hahahaha ...." Santi bergelak tawa melihat ekspresi kedua anaknya itu. "Kalian ini, Mamah saja masih ragu bisa atau tidak membuatnya."
Indah memegangi tangan Santi dan mencium punggung tangannya.
"Mamah pasti bisa, Mamah ini wanita yang sempurna," pujinya dengan tulus.
Santi memeluk tubuh Indah dan mencium keningnya.
"Kamu ini bisa saja, jangan terlalu berlebihan memuji Mamah. Mamah takut telurnya jadi gagal. Hahahaha ...." Ia lagi-lagi tertawa.
"Nggak akan kok, Mah. Mamah pasti berhasil," jawab Reymond memberikan semangat.
"Yasudah, kalian tunggu di ruang tamu saja. Jangan melihat Mamah sedang masak, nanti grogi," usir Santi.
"Iya, iya deh. Kita pergi ... semoga berhasil ya, Mah ...," ucap Indah seraya berjalan menarik lengan Reymond untuk meninggalkan dapur.
Setelah beberapa kali dicoba, dan sempat menjerit karena percikan minyak panas mengenai kulit mulus Santi. Akhirnya ia berhasil membuat telur ceplok. Tiga untuk Rio, enam untuk Indah dan Reymond. Enam untuk ketiga anak kecil.
Tentunya keberhasilan Santi berkat bantuan Bibi pembantu juga.
__ADS_1
Seusai menyiapkan bekal makanan yang akan ia bawa untuk Rio. Santi juga menyuruh pembantunya untuk membawa beberapa pakaian ganti untuk dia, Mawan, Wulan dan Rio. Karena rencana Santi, ingin mereka bertiga menginap, menemani Rio di rumah sakit.
^^^Kata: 1182^^^