Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 147. Cucu kembar


__ADS_3

"Tidak apa-apa, aku kebelet pipis, Kak." Rio sudah berlari sambil memegangi miliknya, ia tak sabar ingin cepat-cepat menuju toilet.


Rizky bangun dari duduknya, ia baru saja melangkah beberapa langkah, ingin menyusul Rio. Namun tiba-tiba lengannya ada yang memegang, ia segera menoleh pada orang yang memegangi lengannya.


"Mau kemana?" tanya Mawan. Ya, ternyata orang itu adalah Mawan, ada Aji juga disampingnya.


"Om, tadi kok Rio seperti gelisah begitu, ya?" tanya Rizky menatap heran.


"Kan tadi dia bilang mau pipis. Sudah sana pulang, wanita pemuasmu sudah menunggu di luar, kasihan dia." Mawan melepaskan tangan Rizky.


"Eemm ... yasudah, deh. Aku pulang sekarang." Rizky memasukkan laptopnya kedalam tas jinjing miliknya, ia ingin membayar kopi itu, namun Mawan menolaknya, biarkan dirinya saja yang membayar.


Lantas, Rizky berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Sepeninggalan Rizky, Mawan dan Aji melangkahkan kakinya menuju toilet pria. Tapi mereka tidak tau Rio ada di toilet mana. Mereka berdua berjaga-jaga saja di luar toilet.


Rio yang didalam sana nampak kepanasan, pipinya sudah memerah dan keringatnya kini mengalir bukan hanya diarea wajah saja, tapi seluruh tubuhnya. Air kencingnya tadi tidak keluar banyak. Aslinya ia tidak benar-benar kebelet kencing, itu hanya pengaruh efek obat yang Aji berikan pada pelayan, untuk kopi milik Rio.


Rio juga memperhatikan miliknya yang begitu tegang dan mengeras, ia memaksakannya untuk segera masuk kedalam celana, walau rasanya sangat sesak dan tersiksa. Rio menarik kran wastafel, membasuh seluruh wajah dan leher, berusaha untuk menghilangkan rasa panas yang menjalar.


Rio mengamati wajahnya yang seperti udang rebus pada cermin didepan. "Kenapa wajahku merah begini? Apa aku alergi sesuatu?"


Rio menyandarkan punggungnya sebentar pada tembok, ia menelan ludahnya dengan kasar. Entah mengapa ia tiba-tiba membayangkan tubuh Wulan tanpa busana, itu membuat hasrat di dadanya kian naik, miliknya sudah meronta-ronta didalam celana, ingin bertemu sarangnya.


"Aku rindu sama Wulan, aku harus cepat-cepat pulang." Rio tidak mengelap sisa air pada leher dan wajahnya, ia membiarkannya supaya menghilangkan rasa panas, walaupun itu sama sekali tidak berefek.


Baru saja ia membuka pintu, tiba-tiba Mawan membungkam mulutnya dengan sapu tangan. Seketika itupun Rio terbelalak, namun ia segera memejamkan matanya, tubuhnya mulai ambruk, Mawan segera menopangnya dan mengangkat tubuhnya.


Mawan membawa Rio keluar dari Restoran itu ditemani oleh Aji, mereka langsung masuk kedalam mobil. Aji mengendarainya menuju Hotel.


Mawan yang duduk di kursi belakang, mendudukkan tubuh Rio disebelahnya sambil ia rangkul. Pria tampan itu jatuh pingsan karena pengaruh obat bius.


"Maafkan Papah, Rio. Papah mau kamu menuruti ucapan Papah. Tapi kamu malah susah diatur," kata Mawan sambil mengelap seluruh wajah Rio yang basah menggunakan tissu.


"Tadi Rio kita beri obat perangs*ng, sekarang di bius. Apa aman dengan kesehatannya, Ji? Aku takut Rio kenapa-kenapa." Tidak bisa dipungkiri, meskipun rencana itu berjalan dengan mulus, nyatanya perasaan Mawan tak tenang.

__ADS_1


"Rio akan baik-baik saja, Pak. Bapak tenang saja, 'kan kita juga belinya yang aman untuk kesehatan." Aji mencoba untuk menenangkan perasaan Mawan yang tengah gundah gulana, ia tak mau Mawan berubah pikiran.


Terdengar deringan ponsel milik Rio, suaranya begitu nyaring di telinga. Mawan mengambil ponsel itu pada kantong celana jeans Rio. Ia melihat layar ponsel itu yang bertuliskan nama 'Istriku Yang Manis' sudah bisa dipastikan itu adalah Wulan, ada fotonya juga disana, foto ketika Wulan habis Santi dandani.


Satu panggilan itu lolos begitu saja tanpa dijawab, Mawan juga tak mau mematikan telepon Rio karena takut Wulan menjadi curiga.


Setelah panggilan itu berakhir, kini bunyi notifikasi pesan masuk, dari Wulan juga. Entah mengapa, rasanya Mawan begitu penasaran. Jadi ia membuka pesan tersebut.


💬


Istriku Yang Manis


21.29 PM


Mas Rio, maaf aku menganggu. Apa aku boleh minta sesuatu sama Mas Rio? Kalau Mas Rio sudah pulang ... tolong belikan aku kebab ya, Mas. Satu bungkus saja, Mas. Di tempat kesukaanku, disana buka 24 jam. Boleh ya, Mas? Bukan aku yang pengen lho, Mas. Tapi si kembar, maaf aku merepotkan.


Deg!


"Jadi, Wulan hamil anak kembar?" Mawan bermonolog. Seketika itupun ia tertegun dalam hatinya, benaknya langsung tersirat bayangan tengah meminang dua cucu kembar, telinganya mendengar suara isakan tangisnya secara bersama dan mengajaknya bermain bersama.


Ia memang sudah mempunyai dua cucu, laki-laki dan perempuan, tapi itu cucu dari Reymond, bukan dari Rio. Bukankah mempunyai cucu kembar adalah sesuatu hal yang baru untuknya? Bukankah itu hal yang menyenangkan?


Kalau Rio tidur dengan Mitha, lalu aku memberitahu Wulan segalanya, Wulan pasti akan meminta bercerai dengan Rio.


Wulan juga akan sakit hati.


Tapi ... bagaimana dengan kandungannya?


Bagaimana jika dia keguguran lagi?


Lalu aku?


Aku tidak jadi mempunyai cucu kembar.

__ADS_1


Kalau Rio tidur dengan Mitha lalu Mitha hamil, apa Mitha bisa memberiku cucu kembar juga?


Mawan menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Tidak, tidak. Belum tentu itu terjadi, Wulan harus baik-baik saja. Ada cucu kembarku didalam perutnya.


"Aji! Hentikan mobilnya!" perintah Mawan.


Aji memberhentikan mobilnya langsung, karena mereka juga sudah sampai. Ia keluar dari mobil itu bersama dengan Mawan. Tapi Mawan tidak membawa Rio keluar, ia justru masuk kedalam kursi depan, memegang stir.


"Lho, kok Bapak masuk lagi? Kita sudah sampai, Pak," kata Aji seraya memegang jendela mobil Mawan.


"Rencana kita akhiri saja, Ji."


Deg!


"Lho, Pak. Kenapa? Tinggal selangkah lagi, kita hanya perlu membawa Rio ke Hotel dan bertemu Mitha!" tegur Aji.


Mawan membuang nafasnya dengan kasar. "Ternyata istrinya Rio hamil anak kembar, Ji. Aku tidak mau cucuku kenapa-kenapa, kalau sampai aku membuat ibunya menderita."


"Hanya itu alasan Bapak? Nanti Mitha akan kasih Rio keturunan juga, dia bisa melahirkan lebih dari satu anak, Pak. Ayok Bapak turun, rencana kita sebentar lagi akan berhasil. Kita akan jadi keluarga, Pak." Aji membukakan pintu mobil, tangannya menarik lengan Mawan untuk turun. Namun, tangan Aji segera Mawan tepis dengan kasar.


Mawan menggeleng cepat. "Tidak, Ji. Mitha memang bisa memberikan Rio keturunan. Tapi, apa kau bisa menjamin Mitha memberikanku cucu kembar?"


Deg!


Aji membeku di tempat, tentu saja ia tidak bisa menjamin, karena keturunan diberikan oleh sang maha pencipta. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa.


"Tidak bisa, kan?" tebak Mawan. "Aku ingin pulang saja. Aku ingin bawa Rio kembali pada istrinya."


"Tapi, Pak. Bukannya Bapak tidak suka dengan istrinya? Tidak suka dengan Ayahnya yang hanya penjual bakso? Bisa saja ... istrinya Rio bukan hamil anak Rio, dan bukan cucu Bapak!" sanggah Aji, ia tak mau rencana yang sudah tersusun rapih malah berakhir di tengah jalan, bahkan sebentar akan mencapai garis finish.


Jangan lupa like 💕

__ADS_1


__ADS_2