Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 91. Tidak Cocok


__ADS_3

Dia juga melihat golongan darah Bayu AB, dengan Reymond O. Kalaupun tidak sama dengan golongan darah, tapi setidaknya bisa sama dengan hasil tes yang lain. Mereka berdua bukan hanya mengetes darah saja, tapi saliva dan rambut. Namun disana juga tertera tulisan kata 'TIDAK COCOK'


Bola mata Santi masih bergerak-gerak, melihat kearah dua belah kertas itu.


Kenapa bisa seperti ini? Aku yakin sekali Reymond adalah Rendi putraku. Dia hanya berubah wajah saja, kan? Tapi darah, saliva dan rambut masih keturunan Mas Alex. Tapi kenapa bisa tidak cocok dengan Bayu yang satu darah juga?! Golongan darah O juga punya siapa?! Setahuku golongan darah Rendi dan Mas Alek sama-sama AB.


Batin Santi


Mawan merampas kertas itu dan membuangnya di bawah lantai. Dia menarik lengan Santi untuk ikut berdiri.


"Sudah kita pulang saja dari sini," pinta Mawan sambil emosi.


Langkah kaki mereka begitu cepat keluar dari rumah sakit. Lengan Mawan melambai pada taksi diseberang jalan.


Mereka menyebrang jalan raya dan masuk bersama ke dalam mobil.


"Mau kemana, Pak?" tanya sopir didepan.


"Kita ke jalan Xxx," sahut Mawan memberitahu alamat rumahnya.


"Baik."


Mawan menghela nafas secara perlahan dan meredakan sedikit emosi, kepalanya menoleh pada Santi yang sedang melamun memikirkan hasil tes itu. Tangannya perlahan mengenggam tangan sang istri.


"Mamah, maaf tadi Papah sangat emosi. Tapi Mamah harus jelasin, kenapa Mamah bisa melakukan ini semua?" tanya Mawan dengan nada lembut.


Santi menepis semua lamunan dalam otaknya, "Maaf, Pah. Tadinya Mamah pikir Reymond adalah Rendi ... Tapi Papah jangan emosi dulu ....," ucap Santi seraya mengerakkan tangannya.


Mawan menarik alis matanya keatas. "Kenapa Mamah mengira seperti itu? Mamah dan Indah sama saja, awalnya bilang Reymond adalah Rendi. Tapi ujung-ujungnya dia adalah orang lain, dia juga kenal dengan Rendi dan berteman. Masa dua orang yang berbeda bisa disamain begitu?!" wajahnya terlihat sangat tidak percaya.


"Iya, Pah. Mamah juga tau itu, tapi memangnya Papah sampai sekarang yakin kalau Rendi sudah tiada? Bahkan polisi saja sudah menutup pencariannya gara-gara Rendi menghilang di jurang itu. Mamah curiga saja, kalau Rendi masih hidup."


Deg.....


"Kalau dia masih hidup, harusnya Rendi kembali dong, Mah. Temui Indah dan Bayu, jangan buat istri dan anaknya sengsara. Dia dulu bilang sama Papah mau jagain Indah. Tapi mana buktinya?! Dia malah meninggalkan Indah. Otomatis Rendi sudah tiada, kan?"


"Bagaimana kalau misalkan Rendi itu merubah wajahnya, Pah. Bisa saja dulu dia di jebak lalu kecelakaan."


Mawan tersenyum miring. "Mamah ini mengarang saja, kalau memang itu benar-benar terjadi dan terbukti. Papah juga pasti tahu, tapi sampai sekarang Papah tidak tahu jejak apa-apa mengenai Rendi."


Kalau terus begini akan susah, Papah tetap tidak percaya kalau Reymond adalah Rendi.


Batin Santi.


"Memangnya Reymond pernah mengatakan dirinya, Rendi?" tanya Mawan.


Deg......


Mata Santi terbelalak. "Iya, Pah."

__ADS_1


"Lalu Mamah percaya?"


Santi mengangguk. "Iya, Pah."


"Berarti Reymond bukan hanya mencuci otak Indah, tapi Mamah juga." Mawan memalingkan wajahnya dan melepas genggaman tangannya pada Santi.


"Kalau saja Indah tidak tergila-gila sama Reymond. Papah sudah bunuh dia, Mah. Papah kesal padanya, mulutnya pintar sekali merayu wanita. Pertama Indah, lalu Siska, sekarang Mamah."


Santi meraih ponselnya pada tas untuk segera mengirim pesan pada Reymond, memberitahu hasil tes DNA.


"Lalu sekarang, Papah masih dendam dengan Reymond dan mau memisahkan mereka berdua lagi?" tanya Santi.


"Tidak. Hanya saja Papah takut dia menyakiti Indah, meskipun Papah tau Indah sekarang mencintai orang yang salah. Tapi setidaknya kalau Indah bahagia, Papah tak masalah. Papah setujui hubungan mereka dan mengizinkan Reymond tinggal bersama kita."


Mata Santi berbinar-binar dan menghela nafas dengan lega. "Bagus, Pah. Mamah sangat menghargai keputusan Papah."


"Tapi mulai sekarang jangan pernah menghubung-hubungkan antara Rendi dan Reymond didepan Papah, Mah. Papah tidak suka mendengarnya, mereka itu orang yang berbeda," ucap Mawan dengan suara datarnya.


"Iya, Pah."


****


Sementara itu, Reymond sudah memarkirkan mobilnya pada halaman rumah Rizky.


Mereka bertiga keluar dari mobil, lengannya mengendong Bayu. Indah menjinjing keranjang besar berisi buah strawberry.


"Sayang, kamu serius mau kasih itu buat Rizky? Nanti buat kamu dan Bayu bagaimana?" tanya Reymond.


"Iya, sayang," sahut Reymond seraya mengangguk.


"Yang catu uat Opa Onni, Bunda," ucap Bayu.


"Opa Antoni nggak suka buah strawberry sayang," jawab Indah.


"Cukanya apa? Kan enak, Bunda."


"Apa ya?! Bunda juga nggak tahu." Indah menggelengkan kepalanya. "Bunda juga lupa kasih Opa oleh-oleh, bagaimana ini?"


Reymond mengelus rambut Indah secara perlahan. "Nanti kita ke supermarket saja, borong semua buah untuk Papah Antoni, sayang."


"Iya, Mas."


Jari telunjuk Reymond memencet tombol bel pada pintu depan.


Ting ... Tong.


Tidak menunggu waktu yang lama, seorang wanita paruh baya membukakan pintu rumah. Dia adalah pembantu rumah Rizky.


"Oh, Pak Reymond. Silahkan masuk, Pak," ajak Bibi dengan sopan.

__ADS_1


Mereka langsung masuk dan duduk diatas sofa ruang tamu.


"Bi, ini. Taruh saja di kulkas, untuk Bibi dan Pak Rizky," ucap Indah seraya mengulurkan keranjang pada Bibi didepan.


"Terima kasih, Non." Dia langsung mengambilnya.


"Bapak, Nona dan Adek mau minum apa?"


"Kamu mau minum apa, sayang?" tanya Reymond kearah Indah disampingnya.


"Apa saja, Mas."


"Buatkan jus saja, Bi. Tiga jus mangga."


"Baik, tunggu sebentar." Bibi itu berjalan menuju dapur.


Tapi rumah Rizky seperti tak berpenghuni saja, begitu sepi, mata Indah dan Bayu berkeliling melihat isi rumah mewah itu.


"Ayah, Om Ikinya mana?" tanya Bayu.


"Iya, Mas. Apa Pak Rizky sedang ada di kantor? Aku ingin segera rebahan di kasurnya," pinta Indah seraya menyenderkan punggungnya di sofa.


"Sebentar, Ayah coba telepon orangnya." Reymond mencoba menelepon Rizky, tapi tidak diangkat sama sekali.


Tak lama Bibi itu datang dan membawa nampan berisi tiga gelas jus mangga, ia meletakkan diatas meja.


"Bi, dimana Rizky? Apa dia masih ada di kantor?" tanya Reymond.


"Pak Rizky ada di kamarnya, Pak."


Reymond segera bangkit dari duduknya seraya mengendong Bayu.


"Sebentar, ya sayang. Aku akan panggilkan Rizky supaya keluar kamar."


"Tapi, dia sedang bersama ....," Bibi tidak jadi meneruskan ucapannya, karena Reymond sudah naik ke lantai atas.


"Pak Rizky sedang bersama siapa, Bi? Apa ada tamu juga selain kami?" tanya Indah.


"Iya, Pak Rizky sedang bersama Nona Anna di kamar."


Deg......


"Anna? Apa dia pacarnya? Jadi aku dan Mas Reymond mengganggunya dong, ya?"


"Dia pacarnya, Non."


Tangan Reymond sudah mengepal dan terangkat menuju pintu kamar Rizky, niat hati ingin mengetuk pintu. Tapi tiba-tiba, kedua rongga telinganya mendengar suara.


Suara apakah yang di dengar oleh Reymond?

__ADS_1


^^^Kata: 1038^^^


__ADS_2