
Warning!!
Masih dengan kawasan dewasa! Yang masih dibawah umur dan tidak suka ... boleh di skip!
***
Ia segera mendekap tubuh Wulan dari belakang, tangannya menarik tangan Wulan yang sejak tadi menutupi mulutnya sendiri.
"Jangan ditutup dan jangan ditahan ... ucapkan saja, aku ingin mendengar suara seksi yang keluar dari mulut manismu itu ...," lirih Rio seraya berbisik.
Deg.....
Rio sudah mulai mengentak-hentakkan bokongnya dari belakang, kini tangannya sibuk mer*mas-r*mas gunung kembar itu.
"Aaahhh ...." Akhirnya suara des*han itu lolos di mulut Wulan, namun ia masih berusaha menahannya dengan mengigit bibir bawah.
"Ah! Mantap ... oh," racau Rio.
Rambut panjang Wulan sudah Rio geser pada bahu sebelahnya, kini perlahan lidah Rio menjilati leher, tengkuk dan telinga. Membuat wanita itu makin merinding.
Kenapa tubuhku tidak karuan begini?! Aku ingin pipis rasanya.
Batin Wulan dengan tangan yang sibuk memeras seprei.
Semakin lama hentakkan itu menjadi kasar, kedua tubuh itu saling bergetar.
"Mas ... aahhhh ...."
"Oh ... oh ... yes!" racau Rio.
Setelah beberapa menit Rio menubruk tubuh Wulan hingga tengkurap, juniornya langsung berdenyut hebat dan menyembur cairan putih untuk masuk kedalam terowongan.
"Aaahhhhh ...," desah Rio sekuat tenaga.
"Aaaahhh!"
Apa dia sudah keluar? Kenapa milikku ikut berdenyut juga?! Kali ini rasanya tidak sakit seperti waktu itu, tapi tetap saja, aku merasa aneh.
Batin Wulan.
Rio menciumi rambut Wulan dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Aku mencintaimu, Indah ...."
Ia mengucapkan kalimat dan langsung memejamkan mata, tubuhnya benar-benar sudah lemas.
Deg.....
Mata Wulan terbelalak kaget.
Apa? Indah?! Dia mengucapkan cinta pada Indah sehabis bercinta denganku? Apa jangan-jangan selama bercinta tadi, dia melihatku sebagai Indah?
Batin Wulan.
Perlahan air mata itu jatuh membasahi pipi, merasa ada yang sesak didalam dadanya.
Wulan membalikkan tubuhnya supaya Rio tidak terus menimpanya. Ia ingin segera bangun dan memungut pakaiannya di lantai, namun tiba-tiba lengan Rio memeluk perutnya dengan erat.
"Indah ... tetaplah disini," lirih Rio pelan.
Wanita itu menoleh kearah Rio, tapi suaminya masih memejamkan mata. Akhirnya ia mengurungkan niat untuk bangkit dari tempat tidur, ia kembali membaringkan tubuh yang masih di peluk erat oleh Rio.
Apa Mas Rio begitu dalam mencintai Indah?! Sampai dia mabuk saja memanggil namanya, iya ... harusnya aku sadar sejak tadi, tidak mungkin juga Mas Rio memujiku. Kenapa aku juga ikut terbuai. Harusnya aku juga sadar diri siapa aku ... aku bukanlah tipe wanita idamannya.
__ADS_1
Batin Wulan.
Tangannya menyeka air mata itu, tapi lagi-lagi air matanya berjatuhan. Seakan mengerti perasaan Wulan saat ini.
Kalau dia menghinaku aku masih bisa terima, tapi jika dia mengatakan nama wanita lain ... rasanya, hatiku ini benar-benar sakit.
Batin Wulan.
***
Keesokan harinya.
Rio membuka kedua mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya, masih sedikit terasa sakit namun tidak seberapa.
Ia langsung terbelalak kaget dan mengangkat tubuhnya untuk duduk, seakan tak menyangka dia ada di kamarnya sendiri. Matanya kini berkeliling pada ruangan itu.
"Serius aku ada di kamarku?" tanya Rio pada diri sendiri.
Matanya kembali terbelalak kala melihat tubuh sendiri polos, bahkan selimutnya ada di ujung kasur.
Tok ... tok ... tok.
Terdengar suara ketukan dari pintu, dengan cepat Rio menarik selimut sampai diatas perut.
"Siapa?!" tanya Rio dengan lantang.
"Wulan, Mas. Apa aku boleh masuk?"
Deg....
Ternyata benar ini kamarku, tapi perasaan semalam, aku dan Dimas ada di Bar. Aku juga tidak niat untuk pulang ke rumah. Kenapa tiba-tiba aku ada di kamar dan bertubuh polos begini?
Batin Rio, ia benar-benar tidak ingat dengan kejadian semalam.
"Mas ... apa aku tidak boleh masuk?" tanya Wulan dari balik pintu, dia belum mendapatkan jawaban dari dalam.
"Masuk!" pekik Rio.
Ceklek.....
Perlahan Wulan membuka pintu dan berjalan menghampiri Rio, ia menyelipkan rambutnya pada telinga kiri. Tapi kepalanya masih menunduk kebawah.
Rio lagi-lagi membelalakkan matanya kala melihat wanita didepan dengan rambut hitam terurai panjang.
Apa dia Wulan? Rambutnya panjang sekali. Tapi kenapa dia menunduk begitu, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Batin Rio menatap tajam pada wanita itu.
"Wulan ...," panggil Rio.
"Iya, Mas."
Ternyata benar dia Wulan.
Batin Rio.
"Coba lihat kearahku ...," pinta Rio.
Perlahan kepalanya ia luruskan dan saling menatap satu sama lain.
Mata Rio kembali terbelalak kaget.
Kenapa Mas Rio terlihat begitu kaget? Apa wajahku terlihat tidak berdandan lagi? Padahal aku sudah menghabiskan waktu satu jam setengah untuk make up seperti ini.
__ADS_1
Batin Wulan sambil menelan salivanya begitu kasar.
Rio mengusap-usap wajahnya dan memalingkan wajah.
"Kenapa aku ada di kamar? Seingatku, aku semalam belum pulang dan bersama temanku," ucap Rio.
Apa semalam dia benar-benar tidak ingat?
Batin Wulan.
"Semalam Mas Rio mabuk berat, Pak Rizky dan pacarnya kesini mengantar Mas Rio pulang," jelas Wulan.
Deg.....
Rio langsung menatap wajah Wulan lagi. "Pak Rizky?! Kak Rizky temannya Kak Ren ... Reymond maksudmu?"
Wulan mengangguk. "Iya, semalam dia bilang seperti itu."
Kak Rizky tau aku mabuk dan ada di Bar. Ini artinya aku dalam bahaya, bisa-bisa dia cerita pada Kak Reymond dan Mamah.
Batin Rio kelabakan.
Mata dan tangannya sibuk mencari-cari ponsel, namun dia lupa menaruhnya dimana.
"Ponselku ... dimana ponselku? Apa kau tau?"
Wulan segera menarik laci pada meja untuk mengambil ponsel milik Rio. "Ini, Mas."
Rio langsung mengambil ponsel itu dan mencoba untuk menelepon Rizky. Namun sudah beberapa kali di telepon tidak diangkat. Wajahnya terlihat begitu cemas.
"Mas Rio kenapa? Apa ada masalah?" tanya Wulan.
Rio kini mencoba menelepon lagi, tapi bukan menelepon Rizky. Melainkan Dimas, setelah tiga kali di telepon akhirnya diangkat.
"Halo, Mas. Lu ada dimana?" tanya Rio.
"Elu yang dimana bego! Pulang nggak bangunin gue! Gue kayak orang gila di Bar sampai pagi!" suara Dimas terdengar mendengkus kesal.
"Gue juga nggak tau. Tau-tau gue sekarang ada di rumah, Mas. Tapi kata Wulan ... semalam Kak Rizky yang nganterin gue pulang."
"Apa?!" pekik Dimas. "Serius lu? Kok bisa?"
"Gue juga nggak tau, tapi gue merasa nyawa gue terancam."
"Gue nggak ikut-ikutan ya, Rio," jawab Dimas.
Tut ... tut ... tut.
Sambungan telepon itu langsung di matikan sepihak oleh Dimas.
Nyawa terancam? Apa maksudnya? Apa Pak Rizky orang jahat? Tapi sepertinya tidak. Dia orang yang baik, buktinya semalam dia mengantarkan Mas Rio pulang.
Batin Wulan.
Bagaimana ini? Aku harus cepat-cepat ke rumahnya atau ke kantornya. Sebelum Kak Rizky mengadu pada Kak Reymond.
Batin Rio.
Ia melempar ponselnya diatas kasur, Ia langsung berlari menuju kamar mandi dengan tubuh polosnya. Ingin cepat-cepat mandi.
Sepeninggal Rio ke kamar mandi, kaki Wulan melangkah untuk membuka lemari, ia memilihkan pakaian kerja untuk Rio. Kali ini tidak lupa dengan CDnya, ia tak mau kejadian kemarin terulang.
^^^Kata: 1031^^^
__ADS_1