Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 88. Hermawan dan Indah


__ADS_3

"Lalu, Jalang dimana sekarang? Apa kamu sudah memenjarakannya?" tanya Santi.


"Dia sudah mati, Mah."


Deg......


Mata Santi dan Indah terbelalak. "Mati?! Meninggal maksudmu?" tanya Santi.


"Iya, memang apa bedanya. Kan sama-sama kehilangan nyawa?"


"Kamu membunuh dia, Mas?" tanya Indah pelan seraya menoleh pada wajah Reymond.


"Tidak, sayang." Reymond menggelengkan kepala. "Dia di tembak oleh seseorang, entah itu siapa. Intinya orang itu sudah tau aku Rendi," jelas Reymond.


Deg.....


Indah langsung memeluk tubuh Reymond begitu erat, "Itu sangat berbahaya untuk kamu, Mas. Nyawa kamu terancam. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi."


Lengan Reymond membalas pelukannya, "Tidak, sayang. Itu tidak akan terjadi lagi."


"Rey, apa kau jujur saja pada Papah?! Setidaknya kalau Papah tau, dia bisa melindungimu," ucap Santi memberikan ide.


"Cara meyakinkan Papah bagaimana, Mah? Aku terlanjur mengarang cerita. Lagian Papah juga tidak pernah sedikitpun mengingatku sebagai Rendi, tapi orang asing," keluh Reymond.


"Itu gampang, nanti Mamah berikan saja hasil tes DNA padanya, Papah akan percaya padamu nanti."


"Mamah sudah lihat hasilnya? Apa semuanya cocok antara aku dan Bayu?!" tanya Reymond.


"Belum. Hasilnya belum Mamah ambil, masih ada di rumah sakit. Nanti setelah kita pulang dari Bandung, Mamah akan memberikan tes itu langsung pada Papah."


Reymond mengangguk, dia melihat Indah sudah tertidur dalam pelukannya, ia mengangkat tubuh Indah untuk berbaring dan membenarkan posisi tidur. Supaya terasa nyaman.


"Mah, aku mau tidur disini bersama Indah. Bolehkan?"


"Memangnya cukup?" Santi memperhatikan tubuh Reymond dan tempat tidur Indah.


"Cukup. Papah mungkin sengaja pesan ukuran besar untuk aku ikut tidur disini. Hehehehe ....," ucap Reymond sambil cengengesan.


Ia langsung melepaskan Jas untuk jadikan menyangga kepala, tubuh kekarnya merosot dan berbaring. Tapi kali ini tidak memeluk Indah, karena takut terkena punggung tangan yang tersambung jarum infusan. Matanya terpejam dan tidur.


Santi juga ikut berbaring di bawah, sudah ada kasur, bantal dan selimut untuk dia beristirahat.

__ADS_1


***


Dua hari berlalu, kondisi Indah sudah makin pulih. Meskipun masih terasa lemas, tapi Dokter sudah mengizinkan dia pulang.


Semuanya sudah bersiap, Indah juga sudah mengganti pakaian. Mengenakan dress selutut berwarna biru.


Mawan masuk lagi kedalam ruangan Indah setelah selesai membayar biaya rumah sakit, ia menghampiri Indah yang tengah duduk diatas ranjang sambil memangku Bayu.


"Sayang ... Seperti ucapan Papah sebelumnya padamu. Kita akan liburan kesini, jadi hari ini kita jalan-jalan."


Indah tersenyum senang, tapi kepalanya masih menunduk. Tidak memandang wajah Mawan, hampir selama di rawat. Dia hanya berbicara seperlunya pada sang Ayah. Hatinya masih terasa kesal, dengan perlakuannya kemarin.


"Tapi kondisi kamu bagaimana? Apa masih perlu istrahat? Kalau tidak kuat, kita langsung pulang aja," ucap Mawan.


"Aku baik-baik saja, tapi aku mau jalan-jalan mengajak Mas Reymond juga."


Reymond dan Santi duduk diatas sofa, mereka diam sambil melihat percakapan Mawan dan Indah.


"Tentu saja, sekarang Reymond akan selalu di sisimu. Asalkan kau berjanji pada Papah," pinta Mawan seraya duduk di samping Indah, lengannya memeluk tubuh dan mencium kening.


"Apa? Syarat lagi?"


Apa Papah menyesal? Apa Papah yang diucapkan tadi tandanya Papah sudah merestui aku dan Mas Reymond?! Tidak. Aku tidak boleh langsung percaya saja, Papah sudah sering membohongiku. Bahkan air matanya saja aku sudah tak yakin, itu tulus atau tidak.


Batin Indah.


"Kamu jangan diemin Papah begini, sayang ... Papah tidak sanggup di perlakukan seperti ini padamu ....,"


Kedua tangannya memegangi kepala Indah, dia angkat sedikit. Supaya bisa saling memandang. Wajah Indah terlihat biasa saja, tapi lain halnya dengan Mawan. Wajahnya sudah becek karena air mata.


"Tatap mata Papah sayang?! Sampai kapan mata itu tidak memandangi Papah ....," pinta Mawan dengan memelas.


Manik mata Indah perlahan menuju manik mata Mawan, baru sebentar menatap dia ikut-ikutan menanggis. "Aku benci sama Papah ... Hik ... Hik ... Hik."


Reymond langsung mengambil tubuh Bayu dari pangkuan Indah dan mengajaknya keluar ruangan bersama Santi, mungkin mereka berdua butuh waktu.


"Tidak sayang, jangan ucapkan kata-kata itu lagi. Papah tidak ingin dengar," pinta Mawan, lengannya makin memeluk Indah.


Kepala Indah masuk kedalam jas dan menanggis disana.


"Dosa Papah terlalu banyak padamu ... Mungkin sampai matipun Papah tidak bisa menebusnya, sekarang Papah berjanji padamu ... Apapun yang kau mau dan kau katakan, Papah akan menurutinya, kali ini saja .... Percaya sama Papah .... Papah tidak mau jauh dari putri Papah satu-satunya, Papah hanya punya kamu dan Bayu di dunia ini."

__ADS_1


"Tapi .... Apa Papah akan menyayangi calon cucu Papah yang sekarang masih ada di perutku?"


Mawan meraba lembut perut Indah. "Tentu saja, Papah tidak akan membedakannya, meskipun Papah belum sepenuhnya ikhlas menerima ... Tapi dia juga cucu Papah juga, sayang."


Indah melepaskan pelukan dan menyeka air mata, "Yasudah, kita pergi sekarang jalan-jalan. Aku sudah tidak sabar."


Kaki Indah perlahan menginjak lantai, Mawan merangkul bahunya seiring berjalan keluar rumah sakit.


Kini mereka menaiki mobil Reymond. Reymond yang menyetir dengan Indah didepan dan Bayu, sedangkan Mawan dan Santi dibelakang. Mereka menikmati suasana sejuk pagi hari, di kota Bandung. Kaca mobil perlahan Indah turunkan, ingin menghirup udara segar. Mereka juga sudah menyusuri area perkebunan.


"Kita mau kemana ini, Mas?" tanya Indah, tapi matanya masih melihat pada jendela mobil


Bayu sudah berdiri, ikut melihat pemandangan di luar sana. Tangan kecilnya menunjuk-nunjuk pepohonan besar dipinggir jalan.


"Pohon apa itu bunda?" tanya Bayu.


"Bunda juga tidak tau sayang, pohon besar mungkin," jawab Indah sambil tertawa.


"Pohon becal. Hole ...," dia bertepuk tangan, wajahnya terlihat senang sekali.


"Kata Bayu, dia ingin ke kebun strawberry sayang. Tidak masalah, kan?" tanya Reymond seraya menyetir.


"Tidak, Mas. Aku juga suka buah strawberry. Tapi asam atau tidak?"


"Tidak. Papah sudah mencari kebun yang buahnya manis. Tapi sebelum kesana, kita sarapan dulu ... Apa perutmu sakit dan mual?" tanya Mawan.


"Tidak, Pah. Aku baik-baik saja," sahut Indah didepan.


"Bagaimana kalau kita makan didekat kebunnya saja, Pah ... Ah, maksudku Pak Mawan, disana juga ada Restoran terdekat," ucap Reymond mengusulkan.


Matanya masih fokus melihat Maps pada layar ponsel yang ia taruh didepan, supaya tidak nyasar ke lokasi.


Indah menoleh sekilas pada Reymond seraya berkata.


"Kamu boleh kok, menyebut Papah dengan sebutan Papah, Mas ... Iyakan, Pah?"


Indah seperti minta sang Ayah menyahutinya di belakang.


Mawan menghela nafas dengan gusar. "Iya, terserah kau saja Reymond! Mau memanggilku apa, Papah kek, Ayah kek, Daddy kek. Suka-suka kaulah. Aku tidak keberatan!" Gaya bicaranya saja sudah terdengar sangat terpaksa, iya! Dia benar-benar terpaksa demi Indah.


^^^Kata : 1036^^^

__ADS_1


__ADS_2